Tidak hanya lelah yang Arion rasakan, dia juga pusing memikirkan kemana seharusnya mencari Alfatar. Lelaki itu sangat licik dan licin. Dia bergerak cepat, bahkan histori pembelian tiketnya pun tak dapat dilacak.
Arion tak tau kenapa Alfatar berani berbuat nekat seperti itu, seharusnya dia bergerak jauh lebih cepat dari Alfatar.
Arion membuka handphonenya, hingga detik ini belum ada kabar dari Lexi. Dia mencoba memejamkan matanya, namun suara gaduh di kamar sebelah membuat dia terbangun. Arion segera bangkit dan menuju kamar Ana, tanpa mengetuk pintu Arion masuk dan menatap Ana yang jatuh terduduk. Dia segera membantunya untuk berdiri.
“Yaampun Ana, ada apa denganmu? Kenapa bisa jatuh begini?” tanya Alfatar lalu membawa Ana berjalan menuju pinggir ranjang. Gadis itu memegangi perutnya yang besar. Dia kesakitan karena kakinya terkilir.
“Ah enggak papa kok, ini hanya terkilir biasa, maaf aku jadi merepotkanmu,” ucap Ana dengan wajahnya yang bersalah. Dia merasa bersalah karena telah membangunkan Arion, malam begini harusnya dia tertidur, tapi malah membuat keributan seperti ini di rumah orang.
“Astaga, tapi ini merah seperti ini, bagaimana jika kita ke Rumah Sakit? Apa mau?” tanya Arion kepada Ana. Dia hanya ingin Ana merasa nyaman.
“E ... tidak, tidak perlu, ini hanya luka biasa,” ucap Ana tersenyum. Dia mengulurkan tangan untuk mengurut kakinya, namun Arion mencegahnya. Dia mengambil krim lalu mengoleskan ke kaki Ana, dia membantu Ana yang kesakitan. Ada debaran jantungnya yang tak karuan ketika dekat dengan Ana. Dia mencoba terus menghela nafas untuk menetralkan degup jantungnya. Perasaannya dengan Ana kian membesar, setiap detiknya selalu menyampaikan rasa cinta yang besar. Namun dia sendiri menahan lidahnya untuk tidak mengucapkan kalimat cinta untuk Ana. Gadis manis ini sangat memikat dan membuat dia terlena.
Wajahnya yang cantik nan polos membuat Arion rela menukar nyawa dengannya. Bahkan kini Arion telah jatuh hati padanya. Igin hati mengungkapkan, namun jika suasanan seperti ini rasanya tidak mungkin. Dia memilih untuk diam, memendam perasaannya. Sedangkan Ana, dia sendiri tak tau apakah boleh mencintai Arion? Lelaki yang baik dengannya dan tidak pernah membuat dia kecewa. Lelaki yang berhasil merebut hatinya. Ana menginginkan sosok lelaki yang bisa melindungi seperti Arion. Lelaki yang jauh lebih baik daripada suaminya sendiri. Ada harapan kecil di hati Ana, dia berharap Arion juga menyimpan rasa padanya. Sayangnya Ana juga tidak berani mengungkapkan perasaannya, dia masih sah istri Alfatar.
Ana menginginkan gugat cerai, mungkin besok dia akan meminta Arion mengantarkan dia ke kantor pengadilan untuk bercerai dengan Alfatar. Dia lelah dan ingin menyudahi hubungannya dengan Alfatar sesegera mungkin.
“Ana? Kamu yakin tidak apa-apa? Kenapa wajah kamu terlihat sedih? Apa yang sedang kamu pikirkan? Apakah terjadi sesuatu?” tanya Arion dengan tatapan bingung.
“Ah, tidak, hanya saja aku ingin menyudahi hubunganku dengan Alfatar, aku ingin bercerai dengannya. Tapi apa bisa menggugat cerai lelaki yang tidak ada di sampingku? Aku tidak tau dimana Alfatar saat ini,” ucap Ana dengan tatapan sendu. Arion sangat memahami perasaan Ana, dia lalu memberikan teh hagat kepada Ana agar gadis itu lebih tenang dan bisa tidur dengan nyenyak.