Ana bingung, dia tidak memiliki tempat tinggal saat ini. Terbesit dalam hatinya ingin menggugurkan anak dalam kandungannya ini. Sungguh, dia bukan anak yang Ana harapkan, dia tidak pernah ingin hamil anak Alfatar. Lelaki kejam yang tak berperasaan, dia disiksa, disakiti. Tidak hanya hatinya yang hancur, namun juga fisiknya yang terluka. Ana kini tidak tau akan tinggal dimana, orang tuanya sudah tidak bisa lagi dia percaya. Bahkan orang tuanya seolah menurut dengan semua perkataan Alfatar karena harta yang diberkan dari Alfatar. Ana sungguh terluka dan kini tidak memiliki siapa-siapa. Beruntungnya masih ada satu orang yang masih mau peduli dengannya. Tapi tetap saja, Ana tidak mungkin bisa bergantung pada Arion selamanya. Dia pasti harus bisa hidup mandiri demi dia sendiri dan anaknya.
Ana keluar menuju balkon apartemen, dia melihat bintang yang begitu indah. Pemandangan kota sangat berbeda dengan di desa. Kini dia merindukan anak-anak yang dulu dia ajari tentang membaca AL Quran. Dia rindu suara mereka yang melantunkan bacaan ayat suci yang begitu indah. Arion berjalan menuju Ana, dia memberikan baju muslim yang tadi dia beli dengan handuk serta pakaian dalam.
“I-ini untuk apa?” tanya Ana gugup. Dia menerima pakaian itu.
“Kamu malam ini bisa tinggal di sini dulu, besok silahkan ikut aku untuk mencari apartemen baru.” Alfatar mengucapkan dengan tatapan sungguh-sungguh. Dia sangat khawatir dengan kehidupan Ana saat ini. Belum lagi Alfatar belum ditemukan keberadaannya, sebenarnya yang paling aman Ana berada di samping Alfatar. Sungguh sangat membahayakan bagi Ana berkeliaran malam begini. Awalnya Ana bahkan berniat menginap di hotel atau menyewa kos-kosan di dekat sini. Tapi Arion mencegahnya, dia khawatir Alfatar akan berulah lagi.
“Ah maaf, aku merepotkanmu,” ucap Ana menunduk. Dia meremas ujung bajunya yang tak bersalah, memilinnya karena gugup. Dia lalu mengambil pakaian yang dibelikan Arion. Lucunya, pakaian dalam yang diberikan Arion bisa pas di dalam tubuhnya.
“Tidak, jangan mengucapkan kamu merepotkan aku,” ucap Arion tersenyum lalu dia kembali ke ruang kerjanya. Semenjak keberadaan Ana, Arion sungguh sangat bahagia menatapnya. Dia senang Ana ada di sampingnya. Ingin rasanya mengucapkan kembali perasaannya secara langsung. Namun rasanya saat ini bukan waktu yang tepat. Ana begitu bahagia menatap Arion yang perhatian dengannya. Setidaknya masih ada lelaki di dunia ini yang masih baik hati dengannya.
Sakit hati perlahan mulai menghilang dari dirinya. Ana dan Arion kini sedang di ruang perpustakaan, keduanya sedang asik membaca buku yang mereka baca. Ana sangat senang bisa mempelajari bisnis seperti ini. Dia ingin kuliah, ingin rasanya melanjutkan kuliah, namun semua mimpinya harus dia kubur saat ini karena dia hamil. Sesekali Arion mencuri pandang, menatap Ana yang sangat serius membaca buku bisnis, dia bisa menangkap ekspresi Ana yang sangat bahagia dan serius membaca buku itu. Bahkan kini sudah hampir dari setengah buku Ana telah baca.
“Kau sudah tau belum? Tadi aku mencoba mencari Alfatar, namun lelaki itu sudah tidak ada lagi di Indonesia.”
Ana terkejut dengan ucapan Arion, dia tidak menyangka jika Arion begitu perhatian dengannya, benar-benar mau mencari Alfatar. Bukan hal yang mudah bagi Arion, dia sangat paham jika kini Arion terlihat lemas.
“Arion, istirahatlah, aku minta maaf karena aku, kamu jadi kelelahan begini. Oh ya, aku janji akan segera pindah dari sini setelah mendapat tempat baru,” ucap Ana.
“Iya, sudah pakai saja apartemen ini, jangan sungkan-sungkan. Buat apartemen ini seperti rumahmu sendiri.” Arion tersenyum lalu melambaikan tangannya, dia lalu masuk ke dalam kamar. Tidak hanya lelah yang Arion rasakan, dia juga pusing memikirkan kemana seharusnya mencari Alfatar. Lelaki itu sangat licik dan licin. Dia bergerak cepat, bahkan histori pembelian tiketnya pun tak dapat dilacak.
Arion tak tau kenapa Alfatar berani berbuat nekat seperti itu, seharusnya dia bergerak jauh lebih cepat dari Alfatar.