Setelah pulang dari rumah sakit, keduanya langsung bergegas untuk pulang. Arion terus bertanya-tanya tentang alasan kenapa Ana tak ingin kembali ke Alfatar, sedangkan anak yang dikandung Ana adalah Alfatar.
"Semuanya ada alasannya," ujar Ana.
"Apa?"
"Dia sering bermain tangan, aku capek. Dia bahkan nekat membunuh orang yang ikut campur tentang masalah kami," jelas Ana.
"Tidak ada wanita yang betah jika suaminya seperti itu, antara bersikap posesif atau punya maksud lain. Aku enggak perduli anak yang aku kandung ini punya dia, aku akan menjaganya sendiri tanpa Alfatar, anak ini bisa lahir." Ana menatap ke depan.
"Jadi yang Natasya bilang itu semua benar?"
Ana menoleh dan mengangguk sekilas. "Iya, Arion. Aku butuh bantuanmu, aku enggak mau kembali ke sana. Aku enggak mau tinggal sama dia lagi."
*
Arion sudah tidak tahan lagi dengan apa yang dilakukan alfatar. Dia begitu kejam dan sangat tidak berperikemanusiaan, lelaki itu sungguh seperti psychopath yang selalu mengejar-ngejar Ana. Sedangkan Alfatar dia sedang panik dia berusaha untuk melarikan diri dan pergi dari Jakarta. Dia sangat yakin jika Arion akan menangkapnya.
Alfatar segera membereskan semua perlengkapan dia dan juga perabotan yang dia miliki hanya perabotan berharga yang dia bawa. Benda-benda lainnya yang berharga seperti emas juga dia bawa. Selama ini Alfatar tidak hanya menyiksa Ana, tapi dia juga lakukan beberapa pencurian. Begitulah cara alfatar bertahan hidup, dia harus bertahan hidup untuk bisa menjadi orang kaya raya, Namun semua itu adalah perbuatan yang buruk.
Alfatar melirik jamnya, 1 jam lagi pesawatnya akan datang titik jadwal keberangkatannya sempat meleset, pesawat yang sempat delay selama 1 jam. Arion sangat kesal karena dia tidak kunjung menemukan Alfatar, berulang kali dia melewati dan menyusuri gang-gang kecil di tempat dia tinggal, namun dia juga tidak menemukan. Arion akhirnya memutuskan untuk mencari seseorang yang temannya yang merupakan pemilik perusahaan IT dan pengembang. Dia sangat yakin bahwa temannya pasti bisa akan menemukan keberadaan Avatar. Saat ini Avatar harus bisa dipenjara, orang seperti dia jangan sampai dibiarkan berkeliaran di kota ini. Arion khirnya memilih untuk membanting setirnya menuju kantor temannya itu, dia teman kuliahnya bernama Lexi, seorang keturunan Rusia-Jerman yang tinggal di Indonesia.
Lelaki tampan dan gagah yang memiliki mata berwarna hijau terang, Alisnya tebal serta hidungnya mancung. Saat tarian mendatangi kantor Lexi, dia disambut oleh dua pengawal. Tentu saja mereka menggiring harian langsung untuk ke ruangan Lexi, mereka adalah sahabat yang sangat dekat jadi ketua pengawal Leksi sudah hafal Bagaimana menyambut Arion.
Seketika Lexi tersenyum senang ketika melihat wajah Arion muncul lagi dihadapannya, kalau diingat-ingat lagi, mereka akhir-akhir ini jarang bertemu. Arion terlihat nampak lebih segar daripada sebelumnya, entah kenapa Lexi merasakan ada hal baru yang hadir di hidupnya sebuah perasaan yang tidak biasanya nya membuat wajah Arion terlihat lebih cerah seperti ini.
"Akhirnya kamu datang juga menghampiri aku, ada apa datang kemari? Tumben sekali, kalau mau mengajak aku mengopi bersama, di depan ada Cafe baru, mau mencobanya?" Arion menggeleng, wajahnya kini berubah menjadi tegang. Dia Berusaha menjelaskan kepada Lexi bahwa dia sebenarnya ingin menangkap seseorang yang telah menyiksa Ana.
"Tidak, aku ke sini karena membutuhkan bantuanmu, tolong bantu aku untuk mencari seseorang bernama Alfatar. Ini fotonya, aku harap kamu bisa menemukannya dengan cepat. Orang ini sangat berbahaya, dia telah menyiksa seseorang bahkan juga membuatnya hamil. Namun dia belum diketahui keberadaannya hingga kini, aku sudah berusaha mencari ke rumah dia Lalu mencari ke sekitar daerah Perumahan itu. Sayangnya dia sama sekali tidak aku temukan tolong bantu aku Lexi kali ini."
Lexi tersenyum senang dia seperti memiliki misi hari ini.
" Baiklah kemarikan foto itu, biar aku mencarinya dalam sistem."
Lexi lalu mengambil laptopnya yang ada di laci, dia Lalu menyalakan alat-alat yang sudah ada tertata rapi di samping mejanya. Arion tidak tahu alat-alat apa itu, tapi yang jelas terlihat sangat canggih dan bisa mendeteksi keberadaan seseorang walau hanya dari foto saja.
"Aku minta maaf padamu lihatlah, hasilnya nihil, yang jelas ada dua kemungkinan jika hasilnya nihil. Orang ini tidak ada lagi di Indonesia, atau orang ini telah mengubah wajahnya. Alat yang aku miliki ini adalah alat yang bisa mencari orang hanya dari foto semua kamera CCTV yang terpasang akan bisa membantu mencari jawabannya, namun jika hasilnya nihil itu berarti orang ini sudah tidak ada lagi di Indonesia."
Arion mengernyitkan dahinya, baru saja kemarin dia bertemu dengan Ana. gadis itu mengatakan bahwa Alfatar masih berada dirumahnya. Tidak mungkin jika secepat itu Alfatar bisa kabur. Arion akhirnya memilih untuk mencarinya sendiri, namun saat ia bangkit lagi, Lexi mencegahnya.
"Tidak perlu kamu meragukan kecanggihan teknologi. Kamu tahu kan siapa aku? Aku adalah pemilik perusahaan pengembang nomor satu di dunia, percayalah kepadaku. Percuma saja kamu mengelilingi kota Jakarta. Kamu tidak akan menemukan dia, orang ini ini sudah pergi ke luar negeri titik kalau kamu tidak percaya kita cek jadwal keberangkatan dan siapa saja yang memesan tiket hari ini. "Arion akhirnya kembali duduk dia memijat pelipisnya. Dia sangat bingung harus bagaimana, Karena dia sangat yakin jika Alfatar saat ini juga harus dimasukkan ke kantor polisi. Arion yakin jeruji besi adalah tempat yang paling tepat untuk Alfatar tinggal selain neraka.
"Baiklah , kalau begitu aku minta bantuanmu untuk menyelidiki keberadaan orang ini. "Lexi mengangguk, dia Lalu menyuruh salah satu bodyguardnya untuk menyediakan makanan Arion untuk. Sedaritadi Lexi mendengarkan suara perut Arion yang keroncongan. Dia sangat yakin jika Arion belum sarapan. Dengan tingkat fokus yang tinggi.
Ana sedari tadi bingung harus bagaimana, dia mondar mandir kesana kemari, sudah menjelam petang namun Arion tak kunjung pulang. Ana bingung harus bagaimana, jika menelpon Arion dia sangat khawatir akan mengganggunya. Ana memilih duduk dan masuk ke ruang perpustakaan Arion. Tidak begitu besar, namun semua bukunya tersusun rapi di dalam rak kaca. Ana sangat suka membaca, dia bahkan suka sekali dengan novel yang dimiliki Arion. Saat dia membaca buku tentang bisnis, Ana sangat takjub, dia sangat asik sampai tidak menyadari jika Arion telah pulang.
“Sedang membaca apa?” bisik Arion. Ana terkejut sampai hampir saja menjatuhkan bukunya. Dia lalu menutup buku itu dan meletakkannya kembali ke rak buku.
“A-aku hanya meminjam buku ini se-sebentar,” jawab Ana takut-takut melihat Arion. Dia seperti pencuri yang tertangkap basah.
“Tak apa, santai saja saja. Baca saja lagi, jika ada yang membuatmu tidak paham, akan aku ajarkan. Kamu sangat suka ya membaca?” tanya Arion sembari mengeluarkan makanan dari kantung plastik yang dia bawa. Arion memesankan makanan sehat untuk Ana. Sejak tau Ana hamil, dia jadi ingin membantunya.
“Iya, aku suka. Oh ya aku tadi belum paham, sebenarnya, kau bekerja di bidang apa?” tanya Ana sembari berterima kasih dan mengambil makanan dari Arion. Dia melahapnya dengan sangat banyak. Sungguh Ana sangat lapar saat ini.