Malam mulai datang, kedua orang tuanya tidak menerima jika Ana ingin berpisah dengan Alfatar mereka tak tau apa yang terjadi dan bagaimana kejadian yang sebenarnya. Alhasil membuat Ana semakin merasa di bawah seperti tidak ada dukungan sama sekali sama orang-orang di sekitarnya, hanya ada Arion.
Ana benar-benar berharap jika Arion ingin menolongnya dalam keadaan dilema seperti ini. "Arion, kamu satu-satunya harapan untuk aku." Arion dapat mendengar suara yang bergetar sepanjang dirinya menyetir mobil. Karena malam itu juga mereka bergegas pulang dari Surabaya menuju Jakarta.
"Tenanglah, Ana. Aku akan selalu ada membantumu dalam keadaan apa pun. Aku yakin apa yang kamu katakan itu benar adanya," ujar Arion yang masih fokus dengan setirannya.
Ana bersandar di kursi mobil sambil melihat ke arah kaca mobil. "Susah ya kalau nikah dengan status terpaksa kayak gini, bukan ke ridho-an yang didapat. Tapi, kesengsaraan," ujar Ana
*
Sepulang mereka dari Surabaya, Arion menyuruh Ana untuk tinggal di apartemen miliknya, dengan alasan Ana tetap aman jika dia tinggal di sini. Ana pun sudah tak mau tinggal bersama dengan Alfatar setinggi apa pun dorongan orang tuanya untuk mempertahankan pernikahan ini, tapi Ana tidak sanggup.
Biarlah untuk sementara waktu semuanya berjalan seperti ini, sampai kepada benar-benar membaik. Ana harus bisa bertahan dengan status yang digantung—tetap menjadi istri sah dari Alfatar.
"Apa pun yang terjadi aku tidak akan mau kembali tinggal bersama dengan Alfatar," ujar Ana.
Dirinya merasa sangat capek dan lemas, perutnya juga terasa sangat sakit sejak kemarin, dia ingin sekali mengeluh kepada ibunya namun percuma. Dia datang dan dapat semprotan karena ingin mengugat Alfatar cerai dan parahnya karena Ana datang bersama dengan Arion orang yang tidak mereka kenali.
Lalu Ana pergi bersama siapa lagi selain dari mereka? Ah kasian sekali hidup Ana kalau seperti ini. "Na, tenang. Cukup bawa santai aja dahulu," gumam Ana.
Ana meminum segelas s**u, setelah itu dia merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk itu dia menatap ke arah langit-langit.
*
Pagi kembali tiba, deringan terdengar di kamar milik Arion, kali ini bukan adik sepupunya yang membangunkan dirinya karena Debora memutuskan untuk nge-kos di dekat kampus miliknya.
"Halo?"
“Kesiangan lagi? Ini udah jam berapa woi!” Terdengar suara Natasya yang berteriak. Arion menguap.
"Hm."
“Ish, kamu lupa apa gimana? Ini ada meeting penting soal program kerja sama baru dengan pihak besar. Jangan disia-siakan.”
"Astaga, ini masih pagi Natasya aku pulang kemalaman dari nganterin Ana ke Surabaya. Bayangin satu hari bolak balik."
Terdengar helaan napas dari balik telfon. “Susah juga orang lagi bucin kayak kamu ini dimarah-marahin, ada aja alasannya. Cepetan deh ke sini, aku enggak mau nunggu lama!”
Telfon dimatikan sepihak. Arion mengusap wajahnya dia berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi, setelah mandi dia sedikit melakukan peregangan dan langsung memakai jas-nya.
Arion menarik kunci mobilnya, tidak ada waktu untuk sarapan. Yang ada hanya telat, telat bagi Natasya, Arion selalu saja telat memang gadis itu terlalu disiplin.
Tak memerlukan waktu yang lama Arion sampai di kantornya, dia melirik jam tangannya sekilas lalu masuk ke ruangannya. Dia langsung mendudukkan dirinya di kursi singgasananya.
"Baru nyampe?"
"Kebiasaan! Kalau masuk ngetuk dulu kek," kesal Arion.
"Astaga kayak enggak biasa aja. Aneh kalau aku ngetuk, udah kebiasaan soalnya."
"Makanya jangan dibiasakan kebiasaan buruk lo itu."
"Oke gue kalah debat kali ini, di mana Ana sekarang?" tanya Natasya mengalihkan pembicaraan.
Arion merubah raut wajahnya, sudah Natasya duga. "Hm, entahlah."
"Kok entah? Bukannya semalam samaan?" tanya Natasya.
"Iya aku suruh tinggal di apartemen," jawab Arion.
"Kamu peduli ke dia karena ...."
"Karena aku kasian sama dia," ujar Arion.
"Alah jangan boong."
"Mau bahas pekerjaan atau apa? Langsung aja jangan basa basi aku enggak suka."
"Hm oke, jadi ini aku nawarin sebuah perusahaan besar untuk menjadi partner kita dalam sebuah bisnis ya kan, hasilnya besar dan menguntungkan." Natasya memperlihatkan beberapa berkas yang sempat dia bawa.
*
Jam sudah menunjukkan pukul 14:00.
Ana merasakan kepalanya semakin berat saja mungkin karena dia tidak makan malam? Dan langsung tidur begitu saja. Ana mencoba mencari makanan di lemari, dan berhasil mendapatkan roti.
Namun seolah tak mempan, sama saja bahkan untuk makan saja dia tak berselera. Dia berharap dirinya akan tetap sehat, beban pikiran yang Ana tampung cukup banyak saat ini. Ana mengusap wajahnya pelan.
Teringat sebuah hal, Alfatar. Pasti pria itu sedang mencari dirinya bukan sekali atau dua kali Ana sudah sering kali mendapatkan pukulan dari tangan kasar Alfatar entah apa yang dipikirkan oleh pria itu sampai tega berbuat seperti itu.
Bel berbunyi membuatnya langsung menoleh dan sedikit was-was, antara takut itu Alfatar atau suruhannya. Ana mulai berjalan mendekat, berusaha menenangkan dirinya yang takut dan khawatir.
"Ana, ini aku Natasya!" Ana mendengar itu langsung menghela napasnya lega.
"Oh iya, Natasya. Tunggu sebentar." Ana berjalan dan membuka pintu, bukan hanya Natasya bahkan Arion juga datang.
"Silahkan." Natasya tersenyum.
Beralih ke ruang tamu, Natasya dapat melihat wajah pucat dari Ana. "Kenapa, Na? Sakit?" Natasya mengecek kening Ana dengan punggung tangannya.
"Enggak demam, tapi kamu pucat."
"Kenapa, Na?" Pertanyaan yang sama, namun Arion yang bertanya.
"Ah enggak apa-apa, cuman kecapean aja kali. Soalnya semalam kan, perjalanannya cukup jauh."
"Kalau gitu istirahat aja," ujar Natasya.
"Enggak apa-apa. Kalian jadi tamu di sini, masa aku istirahat." Ana terkekeh.
Natasya tersenyum simpul, Ana berdiri dan berniat untuk membuatkan minuman untuk keduanya. Natasya menyusul membiarkan Arion sendiri, Natasya melihat pergerakan Ana yang sedikit aneh.
"Na? Beneran enggak apa-apa?" tanya Natasya memastikan.
Ana mengangguk. "Iya."
Tangan Ana beralih ke sebuah gelas, seketika tubuhnya linglung hingga gelas yang sempat dia genggam jatuh dan pecah menimbulkan suara yang cukup keras membuat Arion langsung menoleh ke arah dapur.
"Na?" Natasya menahan Ana yang sudah tak sadarkan diri.
"ARION!!" Arion datang dengan paniknya, langsung membopong tubuh Ana untuk dibawa ke rumah sakit.
Natasya mengikuti langkah Arion.
*
Kini mereka sampai di rumah sakit, Ana sudah dicek menunggu hasil saja. Natasya sudah pergi karena ada keperluan mendadak dari kantor, dan Arion yang menyuruhnya.
Arion membuka pintu, melihat wajah Ana yang begitu polos tanpa make up sedikit pun. Ini sudah sangat cantik, bagaimana jika gadis ini memakai make up? Mungkin cantiknya akan berlebih.
Ana mulai membuka matanya. "Eugh ...." Ana memegang kepalanya.
"Di mana?" Ana mengedarkan pandangannya.
"Di rumah sakit, Na. Kamu pingsan tadi, mending kamu istirahat dulu jangan banyak pikiran lupain sementara masalah-masalah yang ada," ujar Arion.
Ana mengangguk pelan, pintu terbuka bersamaan dengan itu mata keduanya menoleh melihat dokter dengan kertas yang ada di tangannya.
"Permisi."
"Ini istri bapak?" tanya Dokter.
Ana menggeleng. "Bukan dok, dia teman saya," jawab Ana spontan tentunya dia merasa tidak nyaman.
"Oh, selamat ya bu, ibu akan segera manjadi ibu." Ana langsung terkejut, Arion jauh lebih terkejut.
"Ini hasilnya, kalau begitu saja permisi." Dokter itu tersenyum sekilas lalu pergi meninggalkan ruangan.