Ana termenung sendiri di ruangan apartemen Arion sesekali dia sangat senang jika ada kucing ataupun burung yang melewati kaca jendela apartemennya. Dia sangat senang seperti memiliki teman walaupun hanya bisa melihat dia dari dalam apartemen.
Ana tinggal di ruang apartemen Arion ini sangat mewah, dia tidak terbiasa hidup dalam kemewahan tapi dia merasa nyaman di sini karena ini adalah tempat tinggal orang yang dia sukai Anna mengelilingi ruang buku bacaan Arion. Berpindah dalam benaknya untuk ingin melanjutkan kuliah kembali tapi dia tidak memiliki biaya yang banyak. Arion tidak hanya memberikan dia apartemen untuk tinggal tapi Arion juga memberikan sejumlah uang dan kartu kredit untuk mencukupi kebutuhan hariannya. Bagi Ana memang terlalu berlebihan kebaikan-kebaikan Arion membuat dia berharap lebih.
Apakah wajar memberikan kebaikan sampai seperti ini jika hubungan mereka hanya sebatas teman tidak Ana tidak mau berharap lebih jauh, tapi dia juga ingin Arion ada di sampingnya. Bukankah memang perasaan Ana sangat egois dan ingin memiliki Arion seutuhnya. Terkadang Ana juga merasa tidak pantas untuk Arion yang sangat berkarisma dan tampan, seorang Arion yang benar-benar seperti Malaikat bermata Ana.
Lelaki begitu tampan dan baik hati, Apakah Arion memang pantas untuk dia? Ana berjalan dan mengambil ke rak buku sisi kiri, dia mengambil salah satu buku dan membacanya perlahan baginya setiap kali membuka lembaran pertama buku adalah menyelami dunia fantasi.
Buku seolah sudah menjadi nyawa kehidupan Ana, buku apapun itu anak sangat menyukainya termasuk buku bisnis yang dia pada saat ini. Setelah dia membaca buku hingga sampai Tengah halaman, berpindah dalam pikirannya untuk membangun toko roti kecil-kecilan.
Dia lalu menuju dapur dan tersenyum senang saat oven milik Arion masih berfungsi dengan baik, Ana lalu menguleni tepung dengan telur dan mencampurnya dengan mentega pekerjaan ini sangat mudah baginya, tapi entah kenapa saat selesai membuat kue kering dia merasa lemas.
Mungkin ini karena dia sedang mengandung tidak merasakan pusing dan lemas setelah dia perlahan membereskan dapur dia berjalan menuju ruang tamu tapi sedetik kemudian seketika pandangannya menggelap dan dia terbaring lemah di lantai begitu saja. Terakhir kali yang Ana rasakan adalah lantai dingin yang menyentuh kulitnya. Arion merenggangkan tubuhnya dan tersenyum puas dengan pekerjaannya hari ini. Dia berhasil memperoleh profit yang besar hari ini atas penjualan saham.
Arion lalu pulang ke apartemennya dengan membawa dua kotak fried chicken kesukaan Ana. Dia sudah membayangkan bagaimana wajah Ana yang bahagia memakan makanan ini. Saat membuka pintu apartemen dia meneriakkan nama Ana, memanggil seseorang yang dia cintai. Namun tidak ada jawaban, Arion lalu cepat-cepat melepas sepatunya dan masuk ke dalam apartemen. Dia sangat terkejut ketika melihat anak yang tergeletak di atas lantai yang dingin Arion segera menggendong anaknya dan membawanya ke dalam mobil. Arion membawa anak ke rumah sakit, Gadis itu seolah tergeletak tak bernyawa. Arian sangat khawatir dengannya berulang kali Arian menepuk pipi anak di jalan untuk bangunkan Ana, sayangnya hingga detik ini gadis itu tidak menjawab.
Arion semakin khawatir dibuatnya titik begitu sampai di rumah sakit, dia segera menggendong anak dan berlari membawanya ke UGD seorang dokter langsung datang dan menanganinya. "Pak, istri bapak ini kelelahanz di kehamilan usia muda tidak seharusnya Ibu Ana bekerja terlalu berat. Saya minta bapak mengerti, saya akan memberikan beberapa vitamin untuk menguatkan kandungan Ibu Ana. "
Arion mengangguk mengerti untuk saat ini dia memang mengakui jika anak adalah istrinya di depan dokter "Bak dokter, saya akan menjaga istri saya."
Dokter itu tersenyum lalu menuliskan resep, Arion menatap Ana yang terbaring lemah dengan selang infus di tangannya, dia duduk di samping ranjang Ana. Dia merapikan jilbab Ana dan mengusap pipinya pelan di "Ana, cepatlah bangun, saya harap kamu tidak meninggalkan dunia ini, ada aku yang membutuhkan kamu saya harap kamu cepat sembuh, saya belum sempat mengungkapkan perasaan saya selama ini. Saya benar-benar cinta dengan kamu ana. "
Arion merenggangkan tubuhnya karena dia kelelahan bahkan perutnya terasa sangat lapar, namun rasa lapar di perutnya perlahan menghilang tergantikan oleh rasa khawatir. Hingga malam Ana juga belum juga sadar, tapi dokter mengatakan itu adalah hal yang wajar. Akhirnya Arion memilih untuk istirahat di sofa sembari memandang Ana. Matanya tidak pernah lepas menatap Ana, dia sangat khawatir kepada Ana, namun rasa lelahnya membuat dia perlahan menutup mata.
Saat dia terbangun, Ana merasakan kedinginan karena AC ruangan, dia merapatkan selimutnya dan menoleh ke samping sudah pasti dia ini di rumah sakit, dia sudah mengunjungi rumah sakit sampai dia hafal ruangan ini, di sana dia melihat Arion dan tersenyum ternyata yang menyelamatkan Dia adalah orang yang dia cintai terbesit rasa bahagia dalam hati Ana.
" Mas, Terima kasih ya sudah mau menolong aku, aku merasa banyak berhutang Budi kepada Mu. " Arian menatap membuka matanya dan menatap mana dia lalu bangkit dan duduk di pinggir ranjang Ana. Arion mengusap pundak Ana dan senyum. "Jangan pernah merasa berutang budi kepada aku Ana, aku melakukan semua ini dengan ikhlas, ya walaupun aku tahu semua ini berat untuk kamu setidaknya aku sebagai manusia juga harus saling membantu titik Aku harap kamu selalu bisa menjaga diri kamu dan kandungan kamu."
Ana senang mendengar ucapan Arion, dia tidak menyangka Arion akan bisa berbuat baik seperti ini. Arion bahkan tidak hanya memberikan tempat tinggal yang nyaman bagi Ana, tetapi Arion juga memberikan seolah teman hidup baginya. "Iya Mas, terima kasih atas semua ini, kalau tidak ada kamu mungkin aku sudah bunuh diri di tempat lain bagi aku aku sangat berat menjalani hidup yang seperti ini. Aku tidak pernah menyangka jika masa depanku akan begini, "ucap Ana sembari menangis suaranya bergetar ada sesak di dalam dadanya yang tidak bisa dia keluarkan.
"Ana, jangan pernah bilang seperti itu. Jika kamu tidak memiliki masalah ini mungkin bisa saja Kamu tidak akan bertemu dengan aku titik "
Arion lalu mengambil makanan yang ada di meja makan, dia mengaduk bubur untuk anak lalu menyebabkan kepada Ana. Beberapa suster yang tanpa sengaja melihat dari jendela kamar tersenyum mereka nampak seperti sepasang suami istri yang serasi namun kenyataannya mereka berdua hanyalah masih teman. Keduanya masih saling memendam perasaan keduanya masih saling memendam Gejolak perasaan di setiap kali bertemu, mereka Kedua benar-benar memelihara rasa cinta yang tulus di dalam hati mereka.