Hal yang membuat Ana sangat nyaman kebaikan dan ketulusan Arion. Hingga kini lelaki itu masih setia di sampingnya. Tak banyak mengucap kata, namun Arion terus menjaganya. Bahkan ketika Ana meminta untuk pindah apartemen, Arion menolak. Sungguh beruntung Ana memiliki teman seperti Arion.
"Apa aku boleh membuka toko kue sekarang?" tanya Ana dengan menatap Arion dari samping. Arion menghela nafas mendengarnya, baru saja Ana selesai dari rumah sakit, sekarang sudah meminta kembali beraktivitas. Ana memang terbiasa bekerja keras. Seolah jemarinya tidak bisa diam. Seperti saat ini, Ana malah merajut, sembari menonton televisi. Tangannya begitu terampil. Arion lalu mendekat kepada Ana dan tersenyum.
"Lalu, kamu mau membuat kue apa?" Tanya Arion menatap Ana sungguh-sungguh. Gadis itu menyukai membuat kue kering. Dia sangat ingin bisa menjual kue kering. Castengel, nastar, kue bulan, lidah kucing, dia ingin membuat itu semua.
"Kue lebaran, boleh kan aku membuatnya. Aku berjanji tidak banyak yang aku buat, aku ingin mencoba menjualnya di toko online."
Ana menatap dengan tatapan memelas. Arion menghela nafasnya kasar, dia tidak menyangka jika Ana benar-benar ingin membuka toko kue. Melihat fisik Ana yang lemah, Arion sangat kasihan dengannya.
"Baiklah, kalau begitu aku izinkan kamu membuat kue. Dengan satu syarat. Kamu jangan sampai kelelahan."
Ana mengangguk senang mendengar Arion. Kelakuan mereka sudah seperti suami istri, namun sayangnya tidak ada status yang mengikat mereka. Ana berjanji ketika sidang perceraiannya dengan Alfatar telah usai, dia akan mencoba mengutarakan perasaannya kepada Arion. Sungguh tidak ada manusia yang bisa menahan besarnya perasaan cinta. Sudah pasti mereka ingin mengungkapkan perasaan cinta masing-masing. Tak terkecuali dengan Ana.
Ana meletakkan sulamannya yang hampir setengah jadi, sebuah baju rajut yang pas dengan ukuran Arion. Sengaja dia membuatkan untuk Arion.
Lelaki itu tak hanya diam, sesekali dia membantu Ana menguleni tepung, kue yang Ana buat kemarin belum habis, sesekali Arion menyemil kue itu. Dia tersenyum senang karena rasanya sangat enak.
"Kamu suka?" tanya Ana ketika Arion memakan castengel buatannya.
"Suka, sangat suka. Enak."
Ana tersenyum mendengarnya, tangannya begitu terampil membuat bulatan kue nastar, terakhir, dia olesi kue itu dengan putih telur lalu dia masukkan ke dalam oven.
Sambil menunggu, keduanya asik memakan mie instan. Hanya Arion yang memakan mie instan, sedangkan Ana memakan sayur yang tadi pagi Arion buatkan. Lambat laun semakin dekat mereka, semakin besar muncul dalam benak mereka, sebenarnya apa hubungan mereka berdua ini?
"Ana ...," panggil Arion lirih. Ana lalu memalingkan wajahnya dari televisi untuk menatap Arion.
"Ya?" ucap Ana dengan tatapan penuh tanya. Apa yang ingin Arion ucapkan. Dia menanti bibir itu bergerak.
"Kamu ... apa masih mencintai Alfatar?" tanya Arion sembari gugup setengah mati. Sedari awal sebenarnya Arion tidak mau mengganggu privasi Ana, dia hanya inginmembantu Ana dengan kesungguhan hati tanpa menanyakan privasi Ana.
Namun gadis itu terdiam sejenak, tidak tau harus mengucapkan apa, karena jika soal perasaan, tentu saja jawabannya hanya Arion. Sejak dulu hanya ada Arion.
"Tidak tau, memangnya kenapa? Sejak awal aku hanya terpaksa, bahkan aku tidak menginginkan hamil anak ini. Namun bagaimana lagi? Apa aku harus menggugurkan bayi ini? Tidak mungkin kan? Cinta ataupun tidak aku harus mau menerima. Seharusnya kau tau aku tidak pernah cinta dengan Alfatar. Hanya wanita bodoh yang mau mencintai lelaki tak punya hati seperti dia."
Entah ada percikan bahagia di hati Arion, seolah semua ini adalah kode dari Ana jika sebenarnya Ana juga mencintainya. Arion meragu, apakah dugaannya benar atau tidak. Suara oven yang selesai memanggang kue Ana membuat keduanya menoleh ke arah dapur, Ana segera bangkit dan mengambil loyang itu. Tanpa sengaja tangannya terkena besi loyang. Dia mengaduh kesakitan.
Arion berlari kecil menghampiri Ana.
"Kenapa? Ada apa?"
Arion panik ketika melihat tangan Ana yang memerah, tanpa pikir panjang, dia langsung memasukkan jari Ana ke dalam mulutnya. Hal itu membuat sensasi aneh dalam diri Ana.
Seketika Ana lalu menarik tangannya lalu mencucinya.
"Mas, maaf. Kita bukan muhrim. Jadi mohon batasi jarak kita."
Ucapan Ana membuat hati Arion terasa tertampar.
Dia baru menyadari sulit baginya untuk membuat Ana nyaman dengannya. Dia juga baru ingat, Ana perempuan agamis yang tidak bisa asl dia sentuh.
"Ah, maaf." Arion tersenyum kecil dan dijawab dengan senyuman manis dan anggukan oleh Ana.
Sejujurnya Ana tidak mau berharap dengan Arion. Dia tidak mau hatinya semakin bertumbuh mencintai Arion. Perasaannya seharusnya tidak boleh tumbuh lebih cepat. Keputusan Ana sudah bulat, dia harus menciptakan jarak dan sekat antara dia dengan Arion. Apalagi jika lelaki itu tak memperbolehkan dia pindah apartemen, maka biar Ana sendiri yang memberi jarak.
Ana lalu meletakkan kue yang sudah jadi ke dalam toples.
"Besok biar kue ini aku jual ke teman kantorku, bagaimana?" tanya Arion. Ana menghela nafasnya, Arion selalu baik kepadanya namun hingga detik ini lelaki itu tak kunjung mengucap kalimat cinta.
"Tidak Mas, jangan memanjakan aku, biar aku mencari uang sendiri." Ana meminta dengan tersenyum manis. Arion menghela nafasnya kasar. Kenapa perkataan Ana seolah menolak dia secara terang-terangan. Arion tidak mengambil pusing, dia lalu mengangguk tersenyum dan kembali ke ruang kerjanya. Sebenarnya hati Ana juga sakit menolak bantuan dari Arion. Tapi dia juga tidak mau sampai terbawa perasaan lebih jauh. Sulit memang menjaga jarak dengan orang yang kita cintai.
***
Esok harinya, Ana bersiap mengumpulkan nyawanya dan mandi. Dia membuatkan sarapan untuk Arion. Seperti permimtaan Arion dan syarat Ana tinggal di sini. Membuatkan nasi goreng untuk Arion setiap hari. Bukan hal yang sulit bagi Ana.
Arion terbangun karena aroma nasi goreng sudah masuk ke dalam kamarnya dia segera bangkit mandi dan menggunakan pakaian kerja. Karena terburu-buru dia tidak menyadari dasinya miring. Arion berlari kecil ke dapur, menantikan Ana yang selesai memasak.
"Wah, aromanya luar biasa. I really love it. Kali ini nasi goreng apa?" tanya Arion. Baru kali ini dia melihat Ana menyerut jagung dan memotong sawi. Dia tak pernah terbayang ada nasi goreng dengan jagung.
Ana tidak menjawab hanya mengatakan rahasia. Arion tertawa kecil. Tak lama, setelah selang beberapa menit, nasi goreng buatan Ana sudah jadi. Bentuknya sangat menarik, warnanya menggiurkan. Arion langsung melahapnya.
"Wah enak. Namanya nasi goreng jagung?" tanya Arion. Ana mengangguk dengan mantap. Ana risih melihat dasi Arion yang masih terpasang miring. Dia lalu melangkah memutar mendekat kepada Arion dan membenahinya. Seketika nafad Arion tercekat karena mereka berdua sangat dekat. Detak jantungnya tak karuan, aliran darahnya serasa mengalir begitu deras. Rasanya Arion sudah tak sanggup lagi menahan perasaannya.
Arion berdehem, dia lalu melanjutkan makannya sembari dengan jantung yang berdebar kencang, dia lalu pamit untuk berangkat kerja.
Sudah jam sembilan, Ana merasa bosan hany duduk termenung di rumah, dia memilih untuk pergi. Seketika terlintas ide di kepalanya untuk menjual lima toples kue yang kemarin dia buat. Dia membawa tas, tak lupa dia juga membawa kotak untuk tester.
Kaki Ana tertuju pada universitas di dekat apartemen Arion. Dia sangat ingin bisa kuliah di sana. Ana sangat ingin menemba ilmu sampai sarjana.
"Maaf, mbak ada keperluan apa?" tanya seorang satpam yang memperhatikan Ana sejak tadi. Ana terlihat seperti orang yang linglung mencari sesuatu.
"Oh, endak Pak. Saya cuma mau tanya berapa ya biayanya untuk kuliah di sini?" tanya Ana.
"Kalau mbak mau daftar, bisa masuk ke ruangan tata usaha mbak, nanti silahkan tanya biaya dan syaratnya di sana."
Satpam itu menunjuk ruangan gedung bertuliskan A1, Ana lalu mengangguk dan masuk. Sungguh dia sangat ini kuliah di sini. Kampus terlihat apik dan juga banyak yang berhijab sama dengannya.
"Assalamualaikum, permisi." Ana mengetuk pintu tata usaha. Seorang perempuan membuka pintunya.
"Waalaikumsalam, silahkan masuk mbak."
Ana tersenyum lalu masuk sembari membawa kue kering yang dia bawa. Dia lalu mulai menanyakan syarat untuk kuliah di sini. Ternyata mereka juga menyediakan beasiswa. Sungguh Ana sangat senang mendengarnya. Namun satu halangan yang membuat dia kecewa, salah satu syarat beasiswa itu tidak boleh menikah ataupun hamil semasa kuliah.
Ana meneguk ludahnya, dia tidak mungkin bisa kuliah di sini. Dia lalu menunduk lemas dan pamit untuk keluar. Namun perempuan penjaga TU itu mencegah Ana.
"Maaf Mbak, itu bawa apa kemari? Saya lirik tadi sepertinya banyak kue kering. Mbak jualan kue kering atau barusan beli? Saya soalnya disuruh Mama saya untuk mencari kue kering."
Ana tersenyum lalu mengeluarkan kue kering buatannya.
"Saya enggak beli mbak, saya membuatnya sendiri. Kalau mbak mau silahkan mbak dicoba." Ana meletakkan kotak tester di depan perempuan yang jelas tertera name tagnya 'Anggrita Puspita'
"Wah enak mbak," puji Anggi.
Ana senang ada orang lain yang memuji enaknya rasa kue buatannya.
"Saya beli semua ya Mbak kalau begitu. Nanti sore ada arisan soalnya di rumah saya. Oh ya mbak punya kartu nama atau nomor telepon? Nanti bisa saya promosikan ke ibu-ibu arisan."
Ana sangat senang mendengarnya, ini seperti keberuntumgan bagi Ana. Seolah Allah memberinya jalan untuk mengais rezeki dari menjual kue. Ana lalu memberikan sederet nomornya kepada Anggi.
"Berapa mbak harga semua kue ini? Wah keliatannya ini enak."
"Berapa ya, saya belum menentukan harga mbak," ucap Ana.
Gadis itu terkejut dengan ucapan Ana, bagaimana bisa dia menjual kue tanpa menentukan harga. Anggi lalu mengambil dompetnya dan mengeluarkan uang enam ratus ribu.
"Ini untuk mbak semuanya, nanti kalau saya pesan lagi tinggal telepon ya mbak."
Ana mengangguk senang mendengarnya. Baru kali ini dia menghasilkan uang sendiri. Ana tersenyum senang mendapatkan uang, dia lalu pulang ke apartemen untuk salat duha. Sembari memohon doa dan bersyukur kepada Allah.
Dia tidak menyangka akan secepat ini dia bisa mendapatkan uang. Semua ini karena kuasa Allah.
Malam harinya, Anggi menelpon Ana. Dia mengatakan ingin memesan sepuluh castengel dan sepuluh nastar untuk tiga hari lagi. Katanya, ibu-ibu arisan memesannya karena rasanya enak dan berbeda dengan yang lainnya.
Malam itu juga ditemani Arion, Ana membeli bahan-bahan.
"Wah hebat ya kamu, punya jiwa dagang. Saya salut sama kamu Ana," ucap Arion tersenyum.
"Alhamdulillah Mas, ini semua karena Allah. Kalau begini saya bisa cari tempat tinggal sendiri Mas."
Arion tersenyum mengangguk, biarlah Ana melakukan apapun yang dia inginkan. Kali ini Arion tidak akan menahannya, namun dia akan menjaganya dari kejauhan.
Sudah pukul dua belas malam, Ana tak kunjung selesai berkutat di dapur. Rasa lelahnya tergantikan dengan kebahagiaan dalam dirinya. Namun dia lupa fisiknya tidak sekuat dulu. Dia sedang mengandung. Ketika terasa nyeri perut bagian bawahnya, Ana menghentikan aktivitasnya lalu tidur. Dia sudah tidak lagi kuat untuk bangun.
Ana terbangun karena suara telepon, masih subuh. Sejenak dia melirik layar handphonenya, telepon dari orang tuanya. Ana lalu mengangkatnya.
"Assalamualaikum, Iya bu?" Jawab Ana sopan.
"Nduk, kamu ini kok tumben ndak ke rumah bapak sama ibu. Kamu sudah lupa to sama kita?" Ucap orang tua Ana.
"Mboten bu, cuma ...," ucap Ana menggantung. Dia meremas ujung bajunya, bingung harus menjawab apa. Dia tidak mungkin mengatakan jika telah berpisah dengan Alfatar.
"Cuma opo nduk?" tanya ibunya. Ana gelagapan dan bingung harus menjawab apa. Dia menghela nafasnya, mengatur emosinya untuk tidak meluap. Saat ini yang Ana bisa lakukan hanya bersabar dan pasrah.
"Begini bu, aku ini lagi buka usaha bikin kue kering, jadi lagi agak sibuk Bu."
Ibunya lalu memberi semangat dan rangkaian doa kepada Ana. Tentu saja Ana sangat senang mendengar ibunya bangga kepadanya. Ketika mereka usai saling berkabar, Ana salat subuh dan kembali berkutat di dapur.
"Bau kuenya sangat enak, nanti aku antar ya ke rumah orangnya." Ana sebenarnya hendak menolak, tapi uangnya hanya tinggal 300 ribu karena terpakai membeli bahan. Mau tidak mau dia menerima tawaran Arion.
"Iya baik Mas, terima kasih ya Mas."