Ana terkejut bukan main mendengar ucapan Arion. Lelaki itu nampak sungguh-sungguh dengannya. Dia tidak menyangka Arion akan mengucapkan hal itu.
"Mas, pernikahan itu bukan hal yang main-main lo Mas. Kamu serius dengan apa yang kamu ucapkan?" tanya Ana.
Arion menepikan mobilnya ke pinggir, dekat dengan supermarket.
"Serius. Aku enggak pernah main-main sama ucapanku, aku cinta sama kamu Ana." Arion menatap Ana sungguh-sungguh. Akhirnya dia menyatakan perasaannya, dia merasa lega sekaligus bahagia bisa mengungkapkan langsung kepada Ana.
Ana tersenyum malu, terlihat wajahnya yang tersipu. Dia menunduk karena malu melihat Arion. Arion lalu kembali melajukan mobilnya, mengantarkan Ana pulang.
"Tunggu ya, aku akan segera melamarmu." Arion melambaikan tangannya lalu pulang ke apartemennnya. Dia sangat menyuka Ana, tanpa Arion sadari dia tidur sembari tersenyum.
***
Ana hari ini tidak diantar siapapun, orang tuanya sibuk mempersiapkan untuk dagangannya sendiri. Dia berjalan menuju halte dan duduk menunggu bus. Selang tiga puluh menit, bus itu datang, Ana segera naik ke atas dan duduk di barisan tengah.
Kalau dilihat lagi, perutnya sudah mulai membesar, usianya sudah hampir 2 bulan. Sesekali Ana mengusap perutnya karena keram, kandungan Ana lemah, dokter sudah mengatakan Ana tidak boleh bekerja terlalu berat. Namun bagaimana lagi? Dia harus mencari uang untuk menabung kuliah. Belum lagi nanti jika Arion melamarnya, sudah pasti dia juga mengumpulkan uang untuk pernikahan.
Kalau dipikir lagi, Ana merasa hidupnya melelahkan, di usianya yang muda dia malah harus menikah dengan seorang yang jahat dan tidak punya hati. Kini dia malah hamil sendirian. Sejenak Ana memejamkan mata, menempelkan kepalanya kepada jendela.
Suara kernet membangunkan Ana, dia terbangun dan berjalan sempoyongan karena masih mengantuk. Dia lalu berjalan menyadarkan pandangannya. Entah kenapa tiba-tiba buram. Dia berjalan bukannya ke kiri, namun ke kanan. Sebuah motor besar dengan kecepatan kencang tak mampu mengendalikan stirnya, dia menabrak Ana dari belakang.
Ana terlontar sekita dua meter, kepalanya terbentur aspal. Lelaki itu meninggalkan dia dan mengebut pergi. Beberapa orang langsung membantu Ana. Mata Ana terpejam, tergolek lemas dan tak sanggup berdiri lagi.
***
Arion segera berlari ke rumah sakit ketika mendapatkan telepon bahwa Ana kecelakaan dan pingsan. Untung saja rumah sakit itu tak jauh dari kantornya. Arion menyusuri lorong rumah sakit yang berbau obat, dia menuju ruang IGD. Arion segera membuka pintu IGD dan melihat keadaan Ana. Gadis itu tergeletak lemah, masih belum sadarkan diri.
"Bapak suaminya?" tanya seorang dokter. Arion mengangguk, dia lalu ikut dokter ke keluar. Dokter itu menatap Arion dengan serius.
"Pak, kami mohon maaf tidak bisa menyelamatkan bayi yang ada dalam kandungan ibu Ana, benturan sampai ke aspal membuat janin dalam kandungan ibu Ana tidak bisa bertahan. Dengan berat hati saya mengatakan ibu Ana keguguran."
Arion membulatkan matanya, dia terduduk lemas, tidak menyangka semua ini akan terjadi. Perempuan yang dia cintai mengalami keguguran. Arion menemani Ana saat dipindahkan ke ruang VIP. Orang tuanya menangis sejadi-jadinya melihat banyak tubuh Ana yang diperban dan dijahit.
"Kami benar-benar menyesal membiarkan Ana pergi sendiri. Seharusnya sebagai bapak, saya mengantar Ana, bukannya mementingkan restoran."
Arion menepuk pundak ayah Ana memberikan kekuatan kepadanya.
"Pak, jangan begitu. Ana sudah sangat bahagia bersama bapak."
Arion lalu memeluk ayah Ana dan menepuk pundaknya.
***
Alfatar menghela nafas kasar, orang suruhannya tidak menemukan Ana di rumahnya. Kemana perginya istrinya? Dia meremas pelan handphone di tangannya. Berulang kali dia menghembuskan nafas kasar dan hendak membanting handphone.
Alfatar melihat wajahnya pada pantulan kaca cermin. Seluruh wajahnya dipenuhi perban, pasca operasi plastik. Dia sengaja mengubah identitas serta mengubah total wajahnya.
Handphonenya berdering, orang suruhannya kembali menelponnya, memberi kabar bahwa Ana mengalami kecelakaan dan kini di rawat inap di rumah sakit. Mendengar kabar itu Alfatar segera bangkit. Sayangnya dia masih masa pemulihan, tidak bisa pulang saat ini. Dia menggerutu kesal dan gelisah, kenapa bisa Ana mengalami kecelakaan. Bahkan kabarnya dia keguguran. Alfatar mengambil vas bunga dan menghancurkannya. Rencananya semua berantakan. Semua ini pasti karena Arion.
Alfatar menghubungi kembali orang suruhannya, dia meminta kepadanya untuk mengawasi Arion. Tidak hanya sekedar mengawasi, dia meminta orang suruhannya untuk menghabisi nyawa Arion.
Dia begitu membenci Arion, orang yang selalu menggagalkan rencananya.
***
Ana melenguh kesakitan, dia terbangun dan merasakan sakit dalam perutnya. Ibunya segera mendekat dan membantunya untuk bangun. Arion lalu menngambilkan air untuk Ana minum.
"Aku kenapa bisa di rumah sakit?" tanya Ana bingung. Seingatmya dia baru saja turun dari bus dan tak sengaja ditabrak oleh seseorang pengendara motor.
"Kamu kecelakaan," ucap Arion lirih. Keluarga Ana menatap Ana penuh tatapan sendu. Mereka tidak sampai hati menyampaikan jika Ana keguguran. Perlahar ibunya mengusap halus tangan putrinya dan tersenyum, seketika suasana menjadi mencekam. Ana memperhatikan wajah satu persatu orang yang ada di ruangan ini. Entah kenapa menatapnya dengan tatapan bingung. Seolah mereka tak sampai hati menyampaikan sesuatu. Ana semakin penasaran dibuatnya dan membuat ekspresi penuh tanya. Dia tidak tau harus bagaimana.
"Lalu ada apa dengan wajah kalian? Kenapa terlihat aneh?" tanya Ana bingung. Dia merasa gelisah.
Ibu Ana mengusap kepala anaknya dan mencium puncak kepala Ana. Tak sampai hati mengucapkan semua ini. Bagaimanapun juga Ana harus tau apa yang sedang terjadi.
"Nak, kamu keguguran." Ibu Ana mengucapkan perlahan dengan hati-hati. Diluar dugaan Ana malah tersenyum.
"Ya Allah alhamdulillah, ini bukan anak yang aku harapkan pak, bu. Ya Allah terima kasih."
Mereka semua tersenyum, walau tak sepenuhnya memahami Ana, tapi melihat wajah Ana yang bahagia saat keguguran, orang tuanya memahami satu hal, sejak dulu Ana tidak pernah bahagia dengan Alfatar. Ana tersiksa baik fisik maupun batinnya. Dia menderita selama ini. Orang tuanya merasa menyesal menikahkan putri semata wayangnya kepada orang yang tidak bertanggung jawab.
Orang tua Ana lalu pamit untuk pergi ke restauran. Mereka kembali membuka restoran karena ada yang reservasi.
"Nak Arion, kami minta tolong jaga Ana untuk hari ini ya," ucap bapak Ana. Arion mengangguk setuju. Dia dengan senang hati akan menjaga Ana.
Walau begitu sebenarnya hati ayah dan ibu Ana masih meragu jika Arion memiliki cinta yang tulus untuk Ana. Mereka sangat takut jika anaknya akan menikah dengan orang yang salah lagi. Namun melihat kebaikan Arion dan wajah bahagia Ana saat berdua dengan Arion membuat mereka perlahan yakin jika Ana dan Arion saling mencintai.
"Kamu mau makan? Biar aku suapin."
Arion mengambil bubur yang ada di meja, dia mengaduknya perlahan, masih agak panas, terlihat asap transparan keluar dari bubur. Aromanya membuat Ana kelaparan.
"Maaf ya aku selalu merepotkan."
Ana meminta maaf kepada Arion dan menunduk. Dia tidak menyangka akan merepotkan Arion seperti ini.
"Tak apa, dengan senang hati aku akan melakukan apapun untukmu. Cinta itu perihal pengorbanan dan ketulusan. Sungguh aku mencintai kamu Ana."
Arion hendak mengusap pundak Ana, namun dia menyadari jika Ana bukan muhrimnya.
"Cepat sembuh ya, aku akan segera meminangmu," ucap Arion tersenyum. Senyuman Arion membuat debaran halus di hati Ana, dia berdoa semoga Arion adalah pelabuhan terakhir baginya. Rumah yang nyaman yang selama ini dia cari. Serpihan belahan dirinya yang dia cari untuk menjadikannya sempurna.