Arion menyematkan cincin di jari manis Ana. Kini keduanya telah sah menjadi suami istri. Terlihat sinar kebahagiaan dalam wajah Ana. Sama halnya dengan orang tuanya juga bahagia Ana kembali membuka lembaran baru atas kehidupan yang pernah dia jalani penuh penderitaan. Dia sangat bahagia bisa menikah dengan orang yang dia cintai. Arion lelaki yang tepat untuk Ana. Keduanya saling mencintai dan mengasihi.
"Alhamdullillah, sah."
Semua para saksi dan tamu undangan tersenyum bahagia melihat keduanya telah sah menikah secara agama dan hukum.
Tanpa mereka sadari, beberapa padang mata tajam menatap mereka dengan tatapan kebencian. Mereka lelaki orang suruhan Alfatar yang menggunakan jas hitam dan kacamata hitam. Terlihat menyeramkan. Mereka duduk diantara para tamu undangan. Bisa dibilang pesta mereka begitu mewah, di gedung besar. Arion mengundang beberapa teman kantor dan kerabat terdekat. Ana tak kuasa menahan rasa ingin buang air. Dia lalu pamit turun dari pelaminan dan menuju kamar mandi. Awalnya ibunya memberikan tawaran untuk menemani dia, namun dia enggak melakukannya karena dia merasa mampu melakukan sendiri.
Saat Ana masuk kamar mandi, beberapa laki-laki membuntutinya dari belakang, mereka membius Ana dan membuat Ana pingsan. Semuanya lalu membawa Ana menuju mobil dan membawanya kabur.
Salah seorang perias melihat kejadian itu dan melaporkannya kepada Arion. Lelaki itu terkejut bukan main saat tau Ana diculik. Perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya. Mendadak suasana menjadi mencekam dan tegang. Arion berlari keluar dan menyetir dengan mobilnya mengejar Ana. Dia tidak tau apa yang harus dia lakukan saat ini. Yang jelas, dia kehilangan jejak Ana.
Lexi, satu satunya yang bisa membantu hanyalah Lexi. Temannya menawarkan bantuan kepada Arion untuk melacak keberadaan Ana. Semua orang panik, para tamu undangan ikut panik. Pesta pernikahan terpaksa ditunda. Namun untungnya mereka telah sah menjadi suami istri. Lexi lalu membawa Arion ke rumahnya. Dengan langkah besar dan tergesa-gesa, Lexi setengah membanting pintu ruang kerjanya dan mencari laptobnya. Mecari benda paling berharga miliknya untuk melacak keberadaan orang. Lexi lalu melakukan scanning pada foto Ana. Dengan kecepatan kilat, dia berhasil menemukan keberadaan Ana dengan bantuan alat pencariannya. Mereka berdua didampingi oleh bodyguard Lexi berangkat ke tempat lokasi Ana berada. Ana dibawa menuju hotel bintang lima.
"Gila, siapa yang berani menculik istrimu?" ucap Lexi kesal sembari menyetir dengan mengebut, dia bahkan menembus lampu merah. Tidak peduli lagi surat tilang yang alan menghampirinya, bagi Lexi keselamatan istri temannya lebih penting. Dia tidak ingin Arion sedih dengan menghilangnya Ana.
"Aku tidak tau, yang jelas orang ini nekat. Pastinya ada oranf yang sudah mengincar kami sejak lama. Aku bisa pastikan ini perbuatan Alfatar."
Jalanan kota Jakarta macet, gedung tinggal sepuluh meter lagi. Mereka terpaksa memakirkan mobil ke indomaret dan berlari menuju hotel itu. Sungguh Arion sangat takut sesuatu terjadi dengan Ana. Dia tidak mau sampai sesuatu terjadi dengan istrinya. Sedangkan bodyguard Lexi menyusul dari belakang. Salah satunya ikut berlari, namun dia berlari lebih cepat melewati Lexi dan Arion. Dia memasuki hotel. Nafasnya memburu, dia melihat para penculik itu memasukkan Ana ke kamar nomor 362, diam-diam dia mengikuti dari belakang.
Bodyguard Lexi yang berjumlah lima orang diam-diam menatap pintu nomor 362 itu, tidak lama seorang lelaki dengan topeng di wajahnya terlihat seperti bos yang memerintahkan anak buahnya, dia memerintahkan para penculik itu untuk pergi.
Saat para penculik itu telah pergi, para bodyguard Lexi segera beraksi. Mereka mengeluarkan pistol dari balik jas hitam mereka, bersiap menodongkan kepada orang bertopeng itu. Salah satu dari mereka menjadi umpan. Dia memencet bel kamar, mengetuk pintunya. Tak lama orang bertopeng itu keluar, saat itulah mereka menyerang bersama. Defron, salah satu bodyguard dengan keahlian bela diri yang paling tinggi segera meringkus lelaki bertopeng itu. Dia menghabisinya tanpa ampun.
Saat topengnya dibuka, dia tidak mengenali siapa lelaki di hadapannya. Sangat berbeda dengan Alfatar.
Dia lalu mengikat orang itu, sedangkan bodygurad Lexi yang lain menyelamatkan Ana. Mereka membawa Ana pulang ke pelukan Arion. Mereka semua lalu pulang menuju kembali ke gedung. Sedangkan penculik itu disekap oleh Lexi di rumahnya.
Lexi sangat heran, bagaimana bisa ada orang nekat membayar orang untuk menculik pengantin wanita di saat genting seperti ini. Apalagi di acara pernikahan besar. Untung saja sejak awal Lexi telah menyiapkan semuanya. Dia telah menyiapkan semua untuk mencegah hal seperti ini terjadi.
Di tangan Lexi ada tongkat kasti yang terbuat dari besi. Bukan untuk berolahraga, namun sebenarnya untuk hiasan sekaligus menjadi senjata Lexi saat ini. Dia memukul-mukul tongkat itu ke lantai dan menatap lelaki di hadapannya. Lexi memperhatikan dengan seksama. Seingat dia Arion tidak memiliki musuh kecuali Alfatar.
"Jadi, kamu siapa?" tanya Lexi. Alafatar yanf telah merubah wajahnya, dia menatap Lexi dengan tajam. Dia benar-benar merasa kesal dengan lelaki di hadapannnya. Lelaki ini menghancurkan semua rencananya. Alfatar kini telah mengubah identitasnya menjadi Dzaki. Dia membuat identitas palsu untuk menyelamatkan dirinya dan masuk kembali ke kehidupan Ana. Namun kini malah hancur karena Lexi.
"Aku? Kau tanya siapa aku? Hanya orang bodoh yang menjawabnya." Alfatar tersenyum miring menatap Lexi, menatap dia dengan tatapan menantang. Sungguh dia benar-benar mengesalkan hati Lexi. Tanpa basa-basi, Lexi segera memukul Alfatar dengan tobgkat besi itu.
Alfatar berteriak kesakitan, namun sama sekali tidak Lexi hiraukan. Sampai akhirnya Alfatar merasakan remuk di beberapa bagian tubuhnya. Dia pasrah dan mengalah.
"Dzaki, namaku Dzaki." Alfatar mengucapkab dengan nafas tersengal setenfah rasanya ingin mati saja. Namun sekelibat bayangan wajah Ana membuat ambisinya kembali hidup. Dia bersumpah akan kabur dari sini.
Setelah mendapatkan jawaban namanya, Lexi lalu keluar ruangan dan membiarkan Alfatar sendiri. Dia lupa memerintahkan bodyguardnya untuk menjaga Alfatar.
Tanpa Lexi tau, tangan Alfatar bergerak gerak untuk melepaskan ikatan. Selang beberapa menit, ikatan tali tambang itu lepas dari tangannya. Dia melepaskan ikatan kakinya. Ruangan ini gelap, semua tebal dengan dinding. Hanya ada satu cara untuk kabur bagi Alfatar, jendela di sisi kiri. Perlagan dia membuka jendela dan membuka tralis.
Tanpa suara, Alfatar menyelinap keluar, dia melompat ke bawah. Tububbya semua terasa sakit karena dipukuli Lexi. Namun dia tidak mau menyerah, Alfatar berjalan dengan tertatih keluar dari rumah ini. Setelah dia berhasil keluar, dia memanggil taksi dan memintanya mengantarkan ke apartemennya.
Siapapun yang melihat Alfatar saat ini pasti tidak menyangka jika dia ini adalah Alfatar. Wajahnya berbeda karena hasil operasi plastik. Alfatar menggerutu kesal karena dia gagal menculik Ana. Dia mengepalkan tangannya, kegagalannya kali ini tidak akan membuat dia berhenti menggagu Ana besok hari.
***
Ana terbangun mencium aroma minyak aroma terapi, kepalanya terasa pening. Dia melihat sekeliling dia ada di ruang rias gedung. Orang tua dan suaminya Arion ada di sana. Dia lalu terbangun dan menatap mereka.
"Ada apa? Kenapa aku pusing?" tanya Ana memijat pelipisnya. Ayah Ana lalu membantu putrinya untuk duduk.
"Enggak ada apa-apa, kamu hanya pingsan. Tadi kamu diculik, tapi sekarang kamu aman nak," ucap Ayahnya memeluk Ana.
"Syukurlah kalau kamu sudah sadar," ucap Arion tersrnyum lalu memberikan air putih kepada Ana.
Acara pesta pernikahan mereka terpaksa ditunda, tidak mungkim jika dilanjutkan saat ini. Tubuh Ana baru saja pulih dari pingsan.