Ana mengedarkan pandangannya, melihat Arion yang baru saja memasuki ruangan. Dia menghela napas pelan, lalu tersenyum. "Makasih ya, lagi-lagi kamu nyelamatin aku," ujar Ana.
Arion mengusap kepala Ana. "Stt, udah ini kan kewajiban aku sebagai suami kamu," ujar Arion. Ana mengangguk, beruntung sekali dia bertemu dengan sosok pahlawan seperti Arion yang mau menjaga dirinya setiap saat seperti ini.
"Tapi, aca—"
"Stts, udah kamu mending istirahat aja dulu. Jangan mikirin itu, kamu fokus sama kesembuhan kamu," ujar Arion.
Dokter sempat memberitahu sesuatu hal, yang membuat Arion sendiri sedih. Namun karena Ana baru saja kehilangan janinnya dia terpaksa menutupi satu hal ini.
"Ana, gimana kalau kita besok jalan-jalan?" tanya Arion.
Ana menoleh. "Boleh, kemana?"
"Kamu maunya kemana?"
Awalnya Ana ingin ke dufan, tapi mengingat dirinya sudah bukan remaja lagi. Jadi, dia mengurungkan niatnya itu. "Kemana aja deh," ujarnya pasrah.
***
Malam ini Ana mencuci mukanya, dia menatap ke arah cermin. Jika seperti ini dirinya jauh lebih nyaman, karena statusnya sudah benar-benar sah bersama dengan Arion. Ditambah lagi, Arion adalah pria yang dia cintai, sebuah tangan melingkar di pinggangnya membuatnya terkejut lalu tersenyum.
"Hm?"
"Kamu lama banget ya cuci mukanya? Sampai aku rindu tau," ujar Arion.
"Astaga, Mas. Kamu ini." Ana berusaha melepas pelukan Arion dan memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Arion.
"Kita sholat yuk?" tawar Ana.
Arion mengangguk-angguk paham. "Tapi, sebelum itu kamu harus banyak ajarin aku mulai dari wudhu, sholat dan bacaan lainnya. Walaupun aku sudah paham, tapi kadang masih lupa," ujarnya disambut cengengesan.
"Yaudah, kamu wudhu dulu ya." Ana mendorong pelan tubuh Arion.
Ana mengamati Arion yang sudah bisa membaca doa sebelum wudhu, melakukan wudhu, dan doa setelah wudhu. Ana benar-benar merasa beruntung, Arion yang tak memaksa dirinya untuk mengikuti agamanya tapi malah dia yang mengikuti agama Ana.
Setelah itu, mereka memulai sholat berjamaah dengan Arion sebagai imam. Dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci al qur'an bersama-sama dilihat dari bacaan Arion masih banyak yang salah. Ana menutup Al Qur'an lalu menatap suaminya sambil tersenyum.
"Aku beruntung deh, punya suami kayak kamu. Aku berharap hubungan kita akan baik-baik saja ke depannya, dan maaf jika saja kecerobohanku membuat kamu merasa report seperti kemarin," ujar Ana.
Arion mencium kening Ana. "Iya, aku juga beruntung punya istri seperti kamu. Aku juga berharap sama seperti pengharapan kamu."
Arion menghela napasnya dan menggeleng pelan. "Ingat ya, jangan pernah kamu berpikir kalau kamu merepotkan diriku, ini tugasku sebagai suamimu. Aku harap kamu ngerti," ujar Arion.
Ana mengangguk pelan. "Maaf ...."
"Jangan minta maaf, tidak ada yang salah."
Ana tersenyum dia melirik jam, sudah menunjukkan pukul setengah 8 malam. "Yaudah aku mau masak dulu ya," ujar Ana.
"Eh jangan, kamu istirahat aja. Kita beli makanan online aja, kamu kan juga baru keluar rumah sakit."
"Ah jangan begitu deh, Mas. Aku baik-baik saja, lagian masaknya juga bentar banget kok. Kamu jangan khawatir gitu," ujar Ana tertawa melihat sikap suaminya yang sangat posesif dengan kesehatannya.
"Tapi, Na ...."
Ana mengelus pelan pipi Arion. "Udahlah, lagian kalau aku kenapa-kenapa kamu ada di rumah kan?" Ana menaikkan sebelah alisnya dengan senyum yang tak luput dari wajah cantiknya.
Arion tersenyum. "Kamu ini benar-benar keras kepala ya." Arion mengusap-usap kepala Ana.
Ana berdiri dan mengganti jilbabnya. Dia berjalan menuju dapur, mengambil bahan-bahan dan mulai memasak.
Akhirnya makan malas selesai juga. "Mas, ayo makan." Ana sedikit berteriak hingga ada respon dari sang suami.
"Hm, wangi ya. Kamu masak apa?" tanya Arion.
"Masa enggak tau sih?" tanya Ana sambil tersenyum.
"Aku cuman tau ini, gulai ayam." Arion menunjuk sebuah mangkuk berisi ayam.
"Ah sama ini, capcay goreng."
Ana mengangguk. "Iya, dan ini oseng kacang panjang."
"Selamat makan, jangan lupa berdoa ya." Ana menarik kursi dan mulai memimpin doa makan.
Arion mulai mencicipi satu persatu. "Masakan istri emang enggak ada yang kalau ya," puji Arion.
"Wajar kalau ibu bapaknya punya restauran. Anaknya pintar masak kayak gini, kalau setiap hari dimasakin kayak gini betah makan di rumah," ujar Arion.
"Bumbunya terasa banget ya."
Dan begitu banyak pujian dari Arion, Ana hanya membalas gelengan dengan senyum yang tak luput dari wajahnya. "Aku mau mulai buka toko kue ya, Mas?" tanya Ana hati-hati.
"Hm, untuk saat ini jangan dulu Ana. Kamu harus dengerin kata aku ya? Jangan dibantah, kalau kamu bosan di rumah kamu bisa ikut aku ke kantor dan temenin aku. Saat ini jangan kerja berat-berat dulu, imun kamu belum sepenuhnya baik," ujar Arion.
Ana menghela napasnya dan mengangguk. "Maaf ya kalau aku sering repotin kamu kayak gini," ujar Ana.
"Udah aku bilang kan? Jangan ngomong kayak gitu, aku ini suami kamu bukan orang lain lagi," jelas Arion.
"Iya mas, maaf." Ana menunduk.
Arion mengambil tangan Ana dan mengusap punggung tangan gadis itu dengan lembut. "Ana, aku sayang sama kamu. Aku janji akan terus jagain kamu," ujar Arion.
Ana tersenyum. "Makasih, Mas."
Makan malam yang penuh dengan cinta, yang Ana rasakan berbeda dari malam lainnya. Ana bersyukur kepada Allah SWT yang mengirimkan Arion sebagai pendamping yang selalu bisa menjaga diri, dan hati Ana.
Ana membereskan piring, dan mencucinya. Rumah ini cukup besar untuk mereka, sangat besar bagi Ana. Tapi untuk Arion ini biasa saja, jadi selera mereka memang berbeda, wajar kata Ana mereka dari kalangan yang berbeda. Ibu dan Bapaknya juga ada di Jakarta sekarang, jadi Ana merasa jauh lebih tenang daripada was-was dahulu.
Namun, masih satu hal yang mengganjal hatinya. Dia masih resmi menjadi pasangan Alfatar, dan Ana sama sekali tak pernah mendengar kabar pria itu lagi. Bersyukur sekali.
Ana masuk ke dalam kamarnya, suaminya ternyata sudah tidur dari tadi. Cepat sekali, mungkin karena dia kecapekan, Ana memperbaiki selimutnya, lalu mulai melepas hijabnya membiarkan rambut panjangnya tergerai. Rutinitas malam sebelum tidur Ana lakukan.
Ana mulai mengistirahatkan tubuhnya.
***
Pria dengan cekatan penuh dendam menatap foto yang membuat dirinya panas dingin saja. "Bodoh! Kalian semua bodoh!"
"Kenapa kalian main pergi gitu aja? Kenapa tidak melawan?!" tanya Alfatar sambil mencengkram kerah baju salah satu suruhannya.
"Maaf bos, mereka pake senjata."
"Kalian juga punya senjata kan?! Kalian lihat itu? Mereka resmi menikah!" kesal Alfatar.
Lebih tepatnya Dzaki, Alfatar yang sudah mengubah identitasnya menjadi Dzaki.
Alfatar melepas cengkramannya lalu memijat pangkal hidungnya. "Saya tidak mau tau, kalian cari tau sedalam-dalamnya soal Arion. Saya tunggu secepatnya!"
Beberapa orang langsung mengangguk paham dan pergi meninggalkan ruangan itu. Alfatar duduk sambil menatap ke arah depan dengan tatapan kosong, sudut bibirnya terangkat.
"Jangan main-main sama saya, Arion." Alfatar mengusap bibir bawahnya lalu tersenyum jahat.
Cukup berani, Ana meninggalkan dirinya begitu saja setelah prihal itu Alfatar tak mempermasalahkan lagi. Hanya saja, Ana masih resmi istrinya? Kan? Tidak ada surat perceraian dari mereka. Alfatar benar-benar tak tahan lagi, rasanya ingin menemui gadis itu dan menyeretnya kembali ke kehidupannya.
***
Pagi telah datang, Ana membereskan tempat tidurnya dan mulai melakukan aktivitas paginya. Dia sudah mandi, dan sudah berolahraga walau hanya sebentar, dia turun melihat Arion yang sudah mulai memakan sarapannya.
"Hei, enggak nungguin aku?" tanya Ana.
"Heh? Maaf Ana, sarapan pagi ini kelihatan enak. Nasi goreng buatanmu sangatlah enak melebihi masakan internasional," ujar Arion.
"Kamu ini selalu saja memuji seperti itu," ujarnya tertawa lalu mulai mengambil sendok dan mulai memakan sarapannya.
"Pagi ini aku pergi jam 8 pagi, kamu mau ikut apa di sini aja?"
"Tapi syarat jika kamu mau tinggal di rumah saja. Akan ada bodyguard yang menjaga, aku takut terjadi sesuatu seperti kemarin," ujar Arion.
Ana berpikir sejenak lalu mengangguk. "Aku di rumah aja. Selagi aman kan? Aku juga pasti bakal nganggur kalau aku ikut dengan dirimu," ujar Ana.
"Heh, aku enggak bakal bikin istri aku nganggur," ujar Arion mencubit kecil hidung Ana.
Ana tersenyum. "Aku tahu, tapi aku lagi mau di rumah saja. Aku mau beristirahat dan nyaman-nyaman di sini aja, aku akan menunggu dirimu pulang, Mas."
"Iya, ngomong-ngomong kamu mau kuliah lagi kan? Aku sampai lupa soal itu," ujar Arion.
Ana terdiam lalu mengangguk. "Tapi menurut aku udahlah enggak usah, aku fokus jadi ibu rumah tangga aja. Aku udah punya suami kayak kamu aja sudah cukup, Mas."
"Enggak, kalau kamu mau kuliah. Aku bakal ijinin, dan semuanya aku yang tanggung. Aku tau gimana kegigihan kamu ingin kuliah Ana," ujar Arion.
Ana tersenyum, suaminya memang sangat peka dan peduli pada dirinya. "Iya Mas, selagi kamu izinin, aku akan melaksanakannya."
"Kamu akan mulai kuliah kapan?" tanya Arion.
"Kapan aja, Mas." Ana membereskan piring-piring.
"Yang penting kamu tetap masakin aku ya," ujar Arion.
Ana tertawa. "Iya pastinya, Mas. Aku dahuluin suami dulu," ujar Ana.
***
Ana menyimpan beberapa bukunya lalu menatap ke arah rak yang tertata rapih di sana. Iya, itu berkas-berkas milik Arion, Ana melihat-lihat sekali-kali membacanya sekilas.
Sebuah foto terjatuh.
Ana mengernyit kaget, dia menunduk dan mengambil foto tersebut, foto Arion bersama dengan cewek lain? Sepertinya sudah lama ya? Terlihat dari kualitas foto itu. Ana mengusap pelan, dia tak perlu sakit hati kan?
Semuanya punya masa lalu. Ana pun begitu, dan Arion juga seperti itu. Ana menyimpan kembali dan mulai merapikan satu persatu, hingga matanya mendapat sebuah diary kecil. Ana meraihnya.
Membuka lembar pertengahan
*Dia itu spesial, bukan seperti martabak. Tapi spesial karena pandangan matanya hanya untuk diriku.*
Hingga Ana membuka lembaran terakhir.
*Janji itu ditepati, bukan diingkari. Setelah kepergian sang kekasih, saya merasa hati ini menjadi sakit. Belajar move on, dari situasi ini benar-benar sulit, karena dia sudah terlalu mengisi hati ini. Hingga rasa kehilangan menjadi sebuah penyakit.*
Ana mulai paham, bagaimana cara Arion mencintai seseorang itu benar-benar tulus. Ana sampai terbawa suasana dan hatinya seperti menghangat walau catatan itu bukan untuknya, dilihat dari tanggal dan tahunnya berbeda 2 tahun.
Ana tau, Arion sudah seutuhnya menjadi pasangan hidupnya. Ana hanya masih ragu saja, entah kenapa. Tapi kenapa? Ana menggeleng pelan lalu menyimpan diary kecil itu di tempatnya.
Bahkan Ana tak pernah memiliki catatan kecil seperti itu. Ana juga tak pernah jatuh cinta sedalam ini, selain daripada Arion. Alfatar yang sempat dia kenal sungguh, melukai dirinya secara fisik dan batin. Ana mengambil handphonenya yang berdering.
"Assalamualaikum." Terdengar dari sana suara Arion yang tampak ceria.
"Wa'alaikumussalam. Kenapa Mas? Ini masih siang aja udah nelfon, kamu sekarang di mana?" tanya Ana
"Aku ada di ruang, lagi istirahat makan siang. Sayangnya aku cuman pengen makan masakan kamu doang," ujarnya dari sebrang sana.
Ana tertawa. "Oh kalau gitu besok aku bawain, kalau sekarang enggak bisa."
"Kenapa?" suara itu berubah.
"Hahaha, enggak apa-apa. Cuman aku belum beli bahan-bahannya nanti kalau aku beli baru aku bawain ke kamu."
"Jangan, jangan, Na. Kamu enggak boleh keluar rumah untuk saat ini dulu, aku belum yakin dengan keadaan luar."
Ana mengerti kekhawatiran suaminya. "Tenang aja, Mas. Aku kan ditemenin sama bodyguard kamu? Lupa ya?"
"Enggak, jangan pokoknya. Kamu jangan pergi kalau bukan sama aku, aku khawatir."
"Mas ...."
"Ana, dengerin aku. Jangan bantah ya sayang, kamu itu sekarang jadi yang paling berharga dalam hidupku. Aku enggak mau sampai kamu diculik kayak kemarin," ujarnya penuh penekanan.
Ana tersenyum. "Iya deh iya, kamu mah selalu menang. Jadi aku ngapain nih? Tadinya mau beli bahan-bahannya sekaligus jalan-jalan. Tapi suaminya ngelarang."
Terdengar suara tertawa dari sana. "Nanti aku yang beli."
"Emang kamu tau apa aja yang harus dibeli?" tanya Ana.
"Ya kamu kasih tau lah."
"Oke catat ya,"
"Bentar."
"Oke, apa?"
"Karena semalam kita makan ayam, jadi ganti lagi deh. Ikan tuna, sayur-sayuran intinya jenis apa aja ya, semuanya mulai dari tomat, wortel, brokoli, terong, jagung, sama ...."
"Ah bawang merah dan putih, sama merica, lada, dan ..."
"Eh stop-stop aku enggak tau."
Ana tertawa. "Nah makanya, yaudah nanti aku beli sama penjual yang sering lewat di depan rumah ya. Biasanya ada tuh, semoga aja sore ini ada."
"Hati-hati aja ya."
"Iya, Mas. Lagian cuman di depan rumah doang kok. Kamu jangan khawatir," ujar Ana.
"Yasudah, aku tutup ya? Pulang cepat hari ini kok."
"Iya."
Telfon dimatikan sepihak, Ana menghela napasnya dan tersenyum. Dirinya sangat lega setelah berbincang-bincang bersama dengan suaminya, seperti sebuah obat.
Ana duduk di tepi ranjang, dia melihat sekeliling lalu keluar dari kamar. Dia melihat bodyguard Arion yang terus berdiri di luar. Pasti mereka capek.
"Assalamualaikum."
3 bodyguard itu langsung menoleh dan tersenyum. "Wa'alaikumussalam mbak Ana. Butuh sesuatu?"
Ana menggeleng dan tersenyum. "Enggak kok, kalian mending duduk aja. Jangan berdiri kayak gitu, capek kan? Itu kan ada kursi."
"Wah-wah pantas aja si bos Arion betah ya? Orang bidadarinya sebaik ini."
Ana tertawa.