"Ya untuk nambah-nambah aja."
"Kamu fokus sama kuliah kamu aja. Soal toko kue nanti aja, berhubung kamu juga ambil jurusan manajemen bisnis, kamu bisa kerja di kantor aku kan?" tanya Arion.
Ana mengangguk setuju. "Oke, sepakat."
Setelah menyelesaikan sarapannya, mereka berangkat menuju kampus Ana dan dilanjutkan Arion ke kantor. Rumah tetap dalam jagaan Aksan, Sigit dan Lukman. Ana menatap kampusnya dan tersenyum lega.
Dia berjalan menuju kelas yang sebelumnya sudah diberitahukan. Ana masuk ke kelas dengan sedikit rasa canggung dan beruntung di sini juga banyak yang mengenakan hijab sama seperti dirinya walau masih dominan orang-orang datang tanpa hijab sih.
Ana menyimpan tasnya dan memilih untuk membaca buku.
Suara sapaan membuatnya mendongak, gadis yang sebelas dua belas dengan dirinya. "Hai, Ana ya?" tanya gadis itu dibalas anggukan oleh Ana.
"Raihana. Kenalin aku Gladis," ujarnya sembari mengulurkan tangannya.
"Iya, salam kenal. Kamu tau nama aku darimana ya?" tanya Ana heran, padahal dirinya masih baru di sini.
"Yaelah. Dosen sini udah kasih tau kalau ada mahasiswa baru bakal datang dan dia sebut namanya," ujarnya terjawab.
Ana mengangguk paham. "Mulai sekarang kita berteman." Ana mengangguk setuju.
"Eh bagusnya kita pake lo-gue apa? Aku-kamu ya?"
"Senyaman kamu aja." Ana tersenyum.
"Yaudah deh pake aku-kamu aja. Btw mau nanya, kamu udah nikah ya?" Gladis memandangi jari manis Ana yang terpasang cincin.
Iya, bahkan udah dua kali.
"Iya udah."
"Ya enggak salah sih, udah banyak juga orang nikah sebelum atau sesudah kuliah." Gladis manggut-manggut paham.
"Dijodohin?" Ana menggeleng.
"Eh-eh aku banyak nanya ya? Sumpah aku orangnya emang gitu, jadi wajarin aja ya." Gladis tersenyum.
"Santai aja."
Cantik, sopan, dan baik. Bisa menggambarkan gadis seperti Ana, Gladis yang memandangi Ana cukup terpana, ini cewek yang mandang saja bisa terpana, bagaimana kalau cowok? Ana menyimpan bukunya dan menatap Gladis balik.
"Kenapa?" tanya Ana menaikkan kedua alisnya.
"Em, enggak. Kamu cantik tau," ujar Gladis.
Ana tertawa. "Semua perempuan itu cantik di mata orang yang tepat," jelas Ana.
Gladis mengangguk dan menatap ke depan. "Emang enak ya? Nikah di usia muda kayak gitu? Soalnya aku juga mau dinikahin, sayangnya perjodohan. Bukan aku yang milih," ujar Gladis.
"Hm, tergantung kamu untuk menjalaninya seperti apa. Mau perjodohan atau apa, kalau laki-lakinya baik, pasti enggak ada masalah."
Tidak seperti Alfatar, dia itu masalah serta penyakit bagi Ana.
"Iya sih. Btw udah mau kelas."
Ana mengangguk.
***
Arion mengambil berkasnya, Natasya tadi pagi memberikan dia sebuah file untuk persentasi tender bersama dengan pihak sebelah. Semoga saja kali ini dia menang. "Gimana?" tanya Natasya yang baru saja masuk.
"Mau dipuji nih? Emang enggak bosan?" tanya Arion.
Natasya tertawa. "Enggak gitu maksudnya, maksud aku itu udah pas apa gimana?"
"Udah pas lah." Arion menyandarkan tubuhnya di kursi.
Natasya duduk dan bermain handphone.
"Gimana keadaan Ana? Enggak kamu ajak ke sini? Buat sekadar jalan-jalan apa gitu? Emang dia enggak bosan di rumah?" tanya Natasya.
"Dia kuliah sekarang."
"Oh ya? Sejak kapan?"
"Pagi ini mulai masuk," jawab Arion.
Natasya mengangguk. "Oh ...."
Terjadi keheningan di antara mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing, Arion dengan laptopnya dan Natasya dengan handphonenya. Tiba-tiba alarm berbunyi membuat mereka berdua langsung terlonjak kaget.
Keduanya langsung berlari keluar untuk mencari tau. Tiba-tiba handphone Natasya berdering.
"Halo?"
"Iya halo, Ini Andre. Aku nelfon nomornya Arion dia enggak aktif." Terdengar beberapa suara teriakan dari sana membuat Natasya mengernyit.
"Kenapa?"
"Iya. Di sini terjadi kebakaran di bagian perusahaan bagian reksa dana."
Natasya membulatkan matanya. "WHAT?! KOK BISA?"
"Wait, kita juga lagi cari tau siapa yang berani melakukan ini. Cuman itu yang mau aku kasih tau, tolong sampaikan ke Arion."
Panggilan dimatikan.
Natasya menatap ke arah Arion dengan wajah yang penuh tanya. "Kenapa? Ada apa? Kenapa alarm berbunyi?"
"Terjadi kebakaran di perusahaan bagian reksa dana," jawab Natasya.
Arion menutup matanya lalu mengusap wajahnya. "Kok bisa sih?!"
"Mereka juga enggak tau. Lagi cari tau," ujar Natasya.
"Astaga!"
Arion langsung berlari masuk ke dalam ruangannya mengambil kunci mobil. Natasya menahan Arion. "Mau kemana?"
"Kita harus ke sana."
"Lumayan jauh oi, kamu enggak mikirin apa?" tanya Natasya.
Arion menghela napasnya. "Enggak. Ini kan penting." Arion berusaha pergi.
"Aku ikut."
Arion mengangguk. Keduanya memutuskan untuk pergi, lumayan jauh memerlukan waktu 1 jam jika saja mereka tidak terkena macet. Jika saja macet? Kemungkinan 2 jam perjalanan. Dari Jakarta Selatan menuju Jakarta Pusat.
Arion sibuk mengendarai mobil dan Natasya yang sibuk mengumpulkan informasi tentang kebakaran itu. "Kamu enggak mau hubungin Ana dulu?"
Arion berdecak, dia lupa. "Hape ada di kantor. Kamu punya nomornya?"
"Wait coba aku liat dulu." Natasya mulai mencari nama Ana di kontaknya.
"Nih ada. Cuman dapat yang lama, dia masih pake yang lama?" tanya Natasya.
Arion menggeleng. "Enggak. Dia ganti nomor."
Natasya menggeleng. "Berarti enggak punya."
Arion jadi seceroboh ini, lupa handphone saking paniknya mengetahui bahwa salah satu perusahaannya terbakar. Siapa yang berani melakukan ini? Arion tak bisa memikirkannya dahulu, karena dia tak boleh asal menuduh orang. Lagian, pebisnis di dunia ini banyak.
"Macet," gumam Natasya.
"Gimana? Si Andre ngasih kabar lagi?" tanya Arion.
Natasya menggeleng. "Enggak, kayaknya dia sibuk deh urus hal-hal di sana," ujar Natasya.
***
Ana menyimpan bukunya di dalam tas, dia melirik jam sudah sore hari. Tangannya sedang mencari handphone di dalam tasnya, mencoba menghubungi Arion. Dia berjalan keluar, menunggu di halte.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.
Ana menghela napas, dia kembali menelfon Arion. Namun tak ada jawaban, jam segini sulit sekali menemukan bis atau angkutan umum, sudah hampir magrib. Ana mencoba menelfon Arion lagi, hingga berpuluh-puluh kali namun nihil sama saja.
Namun terakhir dia menelfon. Pulsa Anda tidak cukup untuk melakukan panggilan ini, silahkan isi ulang pulsa.
Ana lupa kalau lupa isi pulsa, berjalan-jalan mungkin jauh lebih baik sambil melihat-lihat apakah ada konter di sini. Ana berjalan di tepi hingga satu motor berhenti di sampingnya. "Ojek?"
Ana menggeleng.
"Udah mulai malam, beneran?" Ana menaikkan alisnya lalu menggeleng.
"Enggak apa-apa mbak, gratis untuk mbak." Orang yang mengaku dirinya tukang ojek menarik tangan Ana membuat Ana meronta-ronta meminta tolong.
"Lepasin ih! Kok maksa?!" tanya Ana berusaha melepas cekalan tangannya.
Mana jalanan sepi.
"Ayo, enggak usah bayar."
"Enggak. Suami saya mau jemput kok."
Pria itu tetap menarik tangan Ana, Ana dengan cepat menendang motornya membuat motor itu hampir terjatuh. Ana langsung berlari saat cekalan tangannya terlepas. Ana dengan napas tak karuan tetap berlari, pria itu tetap mengikuti dirinya dengan menggunakan motor.
Hingga Ana kembali dihadang. "Saya nawarin baik-baik."
"Ya saya juga tolaknya baik-baik, saya enggak mau naik motor kamu. Kenapa maksa?" tanya Ana.
"Naik aja." Pria itu kembali turun.
Bruk!
Pria itu langsung tergeletak. "Lo mau apain sahabat gue njir?!" tanya Gladis. Dia langsung menarik kerah baju pria itu dan meninju rahangnya hingga lelaki itu kembali terhuyung. Lelaki itu langsung berlari menuju motornya dan pergi.
Ana terbengong melihat aksi Gladis yang cukup brutal. Gladis tertawa. "Kamu enggak apa-apa, Na? Kamu kenapa masih di sini sih? Ini udah mau malam," ujar Gladis.
Ana masih terdiam, masih kaget dengan apa yang dilakukan Gladis tadi. "Kenapa? Kaget ya, oh aku lupa. Aku ini anak muaythai santai aja kali," ujar Gladis.
"Aku masih enggak nyangka," ujar Ana disambut dengan tawa keduanya.
"Emangnya suami kamu enggak jemput?"
"Mungkin dia ada urusan dan lupa ngasih tau, oh ya makasih tadi ya. Kalau kamu enggak ada tadi ak-"
"Udahlah, Na. Kita kan temen? Aku antar aja ya? Takut ada apa-apa lagi," ujar Gladis.
Ana mengangguk setuju. "Kamu naik apa?"
Mendengar itu Gladis langsung menepuk pelan dahinya. "Na, aku pake motor ini. Bisa enggak?"
Gladis menunjuk motor besar berwarna merah dengan mereka BMW membuat Ana sempat terkaget, namun dengan segera dia mengubah ekspresinya menjadi biasa kembali. Ana menggeleng, lalu tersenyum. "Enggak apa-apa sih, cuman bawanya hati-hati soalnya aku pake gamis gini," ujar Ana.
"Santai aja, mau duduk kek gimana pun bisa." Gladis langsung naik ke atas motornya. "Yuk."
Ana terlebih dahulu menyimpan semua buku-bukunya di dalam tas, lalu naik dengan duduk menyamping. Gladis langsung menancapkan gas saat Ana bilang siap. Di perjalanan terjadi keheningan,
"Gladis."
"Hm?"
"Sumpah tadi aku heran deh, bisa-bisa ya kamu nonjok orang tadi," ujarnya disambut kekehan.
"Banyak yang enggak nyangka emang. Btw ini rumah kamu di mana deh?" tanya Gladis.
"Di jalan Perumahan Pertama Indah," ujar Ana.
"Nanti tinggal lurus, nanti aku tunjukin."
"Btw udah lama tinggal di sana?"
"Em, baru 2 bulan sih."
"Lo, maksud gue. Kamu udah tau jalanan di bagian sana?" tanya Gladis.
"Santai aja kali, kamu maunya pake lo-gue atau aku-kamu senyaman aja, Gladis. Kalau soal udah tau jalan sini, sih lumayan, cuman kadang lupa jalannya," jelas Ana.
"Nah di sini." Ana menunjuk rumah besar, bertingkat dua.
Gladis mengangguk paham. "Oke, udah." Ana turun dari motor.
"Sumpah, makasih banyak ya, Gladis. Kalau enggak ada kamu, entah aku udah kayak gimana tadi."
"Iya, gue sahabat lo kan? Jadi anggap aja seperti nolong sahabat sendiri," ujar Gladis.
Ana tersenyum.
"Yaudah gue pulang dulu ya?" Ana mengangguk-angguk sebagai jawaban.
Ana menatap Gladis yang memutar arah motornya, klaskon berbunyi. Ana tersenyum sekilas sambil memandangi Gladis yang sangat lihai dalam menaiki motor yang besar itu, Ana menghela napasnya dan masuk ke dalam rumah.
Rumahnya terlihat sepi sekali, bahkan bodyguard dari Arion juga tidak ada di rumah ini. Ana masuk ke dalam rumah, dia menyalakan lampu, dan membersihkan dirinya.
"Mas Arion belum pulang?" tanya Ana pada dirinya sendiri.
Setelah mandi dan melakukan rutinitas dan kewajibannya, Ana memutuskan untuk makan. Melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah 10 malam. Namun, Arion belum pulang, Ana juga bingung harus menghubungi siapa.
***
Arion dengan cemasnya berjalan keluar dari sebuah perusahaan yang sempat terbakar, dan hanya tersisa bagian kecil saja. Baru saja selesai melakukan evakuasi dengan barang-barang yang sangat penting di sini. Arion melirik jam tangannya sudah menunjukkan pukul 11 malam, dirinya terlalu lama di sini.
"Udah pulang aja, semuanya udah kelar kok. Ini tinggal bersih-bersih aja, nanti sementara kita simpan di perusahaan pusat," jelas Andre.
Arion mengangguk setuju. "Ini jangan sampai terjadi lagi, kita harus benar-benar siaga dengan penjagaan yang ketat," jelas Arion dibalas anggukan oleh semua petugas.
Natasya datang. "Udah malam banget, kita pulang deh? Adik aku juga udah nelfon," ujar Natasya.
Arion mengangguk dia masuk ke dalam mobil disusul oleh Natasya. "Arion, enggak ngabarin istri kamu apa? Dia khawatir pasti," ujar Natasya.
Arion mengusap wajahnya gusar. "Iya, lupa juga kalau dia sekarang kuliah. Dia pulang sama siapa ya?" Arion langsung menancapkan gas.
40 menit perjalanan, Arion mengambil handphonenya terlebih dahulu. Natasya, berhubung mobilnya ada di kantor jadi Arion mengantar Natasya ke kantor sekalian mengambil handphonenya. Banyak sekali panggilan dari Ana namun dia tak menjawab. Ada 30 kali.
Arion bergegas masuk ke dalam mobilnya dan mencoba menelfon Ana. Namun, tak ada jawaban, Arion bingung dia harus ke kampus dulu, takut Ana benar-benar masih menunggu di sana. Apalagi dia belum tau jalan di bagian sini.
"Bodoh banget ya Arion," decaknya pada dirinya sendiri.
Dia keluar saat sampai di kampus Ana. Melihat ke sana kemari sayangnya gerbangnya sudah tutup, dan tersisa hanya satpam saja. "Pak, bapak liat anak kampus pake hijab, dan pakai gamis enggak nunggu di sini?" tanya Arion.
"Wah, di sini banyak mas. Banyak yang pake hijab sama gamis," ujarnya membuat Arion frustasi.
Arion mengambil handphonenya dan menunjukkan foto Ana. "Ini, Pak."
"Oh ini, tadi saya liat dia nunggu di halte sana. Cuman dia udah pergi jalan, karena enggak ada jemputan mungkin," ujar Pak Satpam seadanya.
"Oh begitu pak, yaudah makasih infonya." Arion langsung masuk ke dalam mobilnya dan mengarah ke rumahnya berharap Ana sekarang ada di rumah.
20 menit, karena ngebut. Arion datang dengan lari yang cepat memencet bel beberapa kali, hingga pintu terbuka menampakkan Ana dengan wajah kantuknya.
"Eh mas," ujarnya sambil menyalami Arion dan menggiringnya masuk.
"Mas kok lama banget pulangnya?" Ana melirik jam sudah jam 1 malam.
"Maaf Na," ucapnya lirih.
"Ada kerjaan mas? Yaudah kamu bersih-bersih engga usah mandi, udah malam banget ini. Terus kamu makan ya, aku mau siapin dulu," ujar Ana lalu masuk ke dapur.
Arion menghela napasnya dan berjalan menuju kamar mandi, membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya. Dia melirik sekilas meja belajar Ana, rapih sekali.
Arion keluar dan melihat istrinya yang sibuk menyiapkan makanan di meja makan. Arion menarik kursi dan duduk. "Na, maaf ya."