Ana mengernyit. "Maaf kenapa?" tanya Ana.
"Maaf karena aku lupa jemput kamu, handphone aku tadi kelupaan di kantor dan aku harus pergi ke perusahaan raksa dana untuk mengetahui keadaan abis kebakaran," jelas Arion.
"Loh? Kebakaran? Innalilahi ... iya enggak apa-apa, Mas. Aku ngerti kok," ujarnya tersenyum.
Melihat senyum itu, Arion bukannya tenang tapi lebih merasa bersalah. Bagaimana tidak seperti yang dikatakan oleh satpam Ana menunggu sendiri di halte bus sana, bisa dia rasakan bagaimana lelahnya menunggu. "Tapi—."
"Udahlah, Mas. Aku lagian aman kan? Kamu makan ya, terus lanjut tidur ya." Ana mengambilkan nasi dan menuangkan ke piring Arion.
Ana mengambil gelas dan menuangkan air, Arion memilih untuk makan. 20 menit makan, Arion dan Ana masuk ke kamar untuk beristirahat. Ana sampai lupa bertanya kenapa ketiga bodyguard Arion tidak ada di rumah. Ana melihat Arion yang baru saja ingin tidur.
"Oh ya, Mas. Bodyguard kamu udah enggak ngejaga lagi?" tanya Ana.
"Loh emang iya? Oh iya, mereka enggak ada ya?" tanya Arion.
Ana hanya mengangguk sekilas. "Nanti aku tanya besok," ujar Arion.
Ana mengangguk lagi, dia mematikan lampu dan memilih untuk tidur. Di sela itu hujan turun dengan derasnya, Ana mematikan AC.
***
Ana merasakan nyeri di bagian perutnya, lagi-lagi dia merasakannya kenapa bisa seperti ini? Dia tak mau memberitahu Arion karena takut, suaminya akan khawatir dengan dirinya. Ana akhir-akhir ini sering sekali sakit dan merepotkan suaminya.
Pagi sekali, setelah menyiapkan sarapan. Ana mencoba untuk olahraga dan menjaga pola makan dan kesehatannya, walau perutnya sering nyeri atau sakit, namun perlahan sakit itu menghilang saat Ana duduk sekitaran 15 menit.
Ana membaca beberapa artikel setelah keguguran apakah dampaknya, namun baru 3 baris membaca Arion datang membuat Ana mengurungkan niatnya untuk kembali membaca.
"Assalamualaikum, selamat pagi sayang." Arion mengusap pelan kepala Ana.
"Wa'alaikumussalam. Pagi juga, Mas." Ana menarik kursi mempersilahkan suaminya duduk.
"Oh ya, Mas. Nanti enggak usah jemput ya, aku bisa naik taksi kok, atau bus," ujar Ana.
Arion menoleh. "Kenapa?"
"Ya enggak apa-apa, aku fokus kuliah dan kamu fokus sama pekerjaan kamu. Takutnya pekerjaan kamu terbengkalai, apalagi pasca kebakaran tiba-tiba itu, pasti deh kerugiannya cukup banyak," ujar Ana.
Arion mengangguk setuju. "Tapi, kamu tetap jadi prioritas, aku sampai lupa nanya. Kemarin kamu pulang naik apa? Bukannya kamu belum tau jalan, Na?" tanya Arion.
"Hm, aku dianter sama temen aku. Untung aja deh," ujar Ana tersenyum.
"Cewek apa cowok?" selidik Arion.
Ana tertawa. "Cewek, Mas. Kalau cowok aku bakal nolak, soalnya lebih pilih kamu."
Arion tersenyum lalu mengusap kepala istrinya. Dia mulai memakan sarapan buatan istrinya, baginya masakan buatan Ana adalah masakan terbaik menurutnya tidak ada yang mengalahi. "Na, nanti kalau perusahaan ada acara, baiknya kamu yang masak. Enak soalnya," puji Arion.
Ana mengangguk setuju. "Iya, pengen deh. Emang ada acara? Kapan mas?" tanya Ana penasaran.
"Yah, mungkin perayaan kecil-kecilan aja. Baik peringatan hari kerja atau ... lainnya apa pun itu," ujar Arion.
Ana mengangguk lalu mengambil piring dan sarapan.
Rutinitas pagi setiap saatnya, walaupun keduanya sama-sama sibuk; Ana sibuk dengan kuliah dan Arion dengan pekerjaannya. Namun, mereka tetap meluangkan waktu satu sama lain misalnya mengobrol banyak seperti tak pernah kehabisan topik sama sekali. Ana menceritakan soal Gladis, teman barunya yang menurutnya sama seperti dirinya.
Ternyata ....
Gladis bukan hanya feminim, namun dia juga sedikit tomboy apalagi pakaian yang dikenakannya. Berbeda sekali dengan pakaian yang dia pakai untuk kuliah, seperti memiliki dua kepribadian yang nyata; satunya cewek manis dan feminim, satunya jago bela diri.
"Beneran dia ana muaythai?" tanya Arion tak percaya.
"Iya beneran, awalnya aku juga enggak percaya sih."
"Kamu makanya hati-hati Na, kayak kemarin jangan sampai terjadi lagi kalau saja tiba-tiba kamu di—"
"Stts, jangan mikir aneh-aneh ya, Mas? Aku baik-baik aja kok selagi ada Allah yang melindungi." Ana mengusap tangan Arion.
"Lain kali aku kenalin deh sama Gladis," ujar Ana.
Arion mengangguk pelan.
Karena sudah hampir jam 8, Arion mengantar Ana terlebih dahulu ke kampus. Sekitaran 20 menit mereka sampai di tempat tujuan, Ana menoleh kepada Arion. Arion mengecup kening Ana. "Take care. Oh ya jangan lupa ya, makan obatnya? Dan aku akan kabarin kamu untuk dijemput. Kali ini aku beneran jemput, jangan kemana-mana ya?" pesan Arion.
Ana mengangguk sambil tersenyum. "Iya, Mas. Terimakasih, aku duluan ya! Semangat buat kerjanya." Ana menyalami Arion.
Gadis itu keluar dari mobil. Arion melambaikan tangannya, Ana pun melakukan hal yang sama. Ana terus mengamati mobil Arion hingga sampai di tikungan jalan dan tak terlihat. Ana masuk ke kampus menuju kelasnya.
Setibanya di sana sudah ada Gladis, dengan tampang feminim dan manis sedang membaca buku sambil melirik handphonenya, gadis multitasking. Ana menepuk pelan pundak Gladis membuat gadis itu mendongak dan tersenyum.
"Hei."
Ana duduk di kursinya. "Kayaknya kamu paling cepet ya datangnya? Btw soal kemarin—"
Gladis menutup mulut Ana. "Jangan bahas hal itu di sini ya? Takut didenger sama kakak sepupu aku, tuh." Gladis menunjuk dengan dagunya, Ana menoleh melihat seorang pria dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku yang sibuk berbincang dengan temannya.
"Namanya Dimas," ujar Gladis.
"Dia itu suka sekali mengusik hidupku, dia selalu saja memberitahu ibu dan ayahku soal kelakuan aku di kampus, dan soal kemarin itu nanti aku jelasin ya?" tanya Gladis.
Ana mengangguk. "Oke."
***
Ana membuka rotinya dan mulai memakannya, kantin sangat ramai sampai dirinya juga hampir tidak mendapatkan tempat untung saja Gladis ada, jadi dia dapat tempat. Gladis datang membawa dua mangkuk berisi bakso, dia berikan satu kepada Ana.
"Na, banyak antrian maaf kalau lama."
"Heh? Kenapa repot-repot? Aku kan bawa bekal nih." Ana menyodorkan sebuah Tupperware berwarna hijau.
Gladis menepuk dahinya. "Astagfirullah, gue enggak tau sorry."
"Eh enggak apa-apa, makasih loh. Nih aku bawa nasi sama ayam, sekalian kita makan bareng," ujar Ana.
Gladis tersenyum, rasanya masih seperti masa SMP dan SMA, dirinya sangat merindukan saat-saat remajanya yang hampir saja terenggut. "Kenapa bengong? Yuk makan!" ujar Ana membuyarkan lamunan Gladis.
"Kita kayak anak SMP, SMA tau enggak?" ujar Gladis disambut kekehan dan tawa dari Ana.
"Engga apa-apa sekali-kali loh, biar aura remajanya masih nempel," ujar Ana.
"Unik ya lo, pasti siapa aja di dekat lo pasti bakal nyaman," ujar Gladis.
Ana tersenyum. "Dih malah muji, makan nih. Keburu dingin."
***
Arion mengambil berkas yang sempat dia lupa di ruangan Bella. Selepas itu kakinya melangkah menuju ruangannya. "Gimana Ana kemarin? Dia pulang bareng siapa?" tanya Natasya saat Arion tiba di ruangannya.
"Dia dianter sama temannya sih, syukur deh. Setidaknya dia baik-baik aja," ujar Arion.
Natasya mengangguk paham, dirinya sekilas membaca pesan yang tiba-tiba muncul di layar handphonenya. "Mending suruh Ana download aplikasi chat deh, jadi kalau tiba-tiba emang enggak ada nomer kan bisa dichat dari sana."
Arion menggeleng. "Ana enggak bakal mau lah." Walaupun baru sebulan setelah mereka menikah, Ana memang lebih nyaman menelfon daripada bermain sosial media.
"Buat jaga-jaga aja sih. Tapi kalau emang enggak mau yaudah engga apa-apa, hanya saran." Natasya mengambil satu berkas dan pergi meninggalkan ruangan Arion.
***
Hari ini mata pelajaran Ana cukup simpel dan mudah dipahami, sedari tadi dirinya dan Gladis tak henti-hentinya untuk berbincang baik masalah pribadi, atau hal-hal mengenai apa yang tak mereka suka. Saling menukar cerita biar enggak boring-boring amat.
Ana kembali merasakan nyeri di bagian perutnya. "Aww!" ringisnya membuat Gladis menoleh dengan khawatir.
"Kenapa? Kenapa?"
"Perut-perut, aku sakit," keluhnya dengan tangan yang masih berada perut.
"Aduh-aduh! Kita ke UKS ya?" tanya Gladis, Ana mengangguk lemas.
Gladis menggiring Ana untuk ke UKS kampus yang jaraknya cukup jauh dari kelas mereka. Ana terus menahan sakitnya, hingga tubuhnya tak lagi bisa berdiri, untung saja Gladis tetap setia memegangnya jadi, tubuh Ana tidak jatuh menyentuh lantai.
"DIMAS! BANTUIN!" teriak Gladis saat melihat Bisma yang baru saja keluar dari kelas.
Lelaki yang bernama Dimas itu menoleh sambil mengernyit bingung, langkahnya dipercepat saat melihat seorang gadis yang sedang merintih kesakitan. "Kenapa?" tanya Dimas bingung.
"Bawa ke UKS!" Bisma mengangguk, tanpa basa basi langsung menggendong dan membawanya menuju UKS.
Ana sudah tak sadarkan diri. Kini dia berada di UKS yang masih ditemani oleh Gladis dan Dimas, Gladis sayup-sayup menatap wajah Ana yang tenang. "Kenapa, bu?" tanya Gladis.
"Kayaknya ada benturan di bagian perutnya, saya sarankan untuk langsung dibawa ke rumah sakit saja."
Gladis mengangguk-angguk paham. "Dia siapa sih?" tanya Dimas.
"Ck, dia temen baru gue. Lo enggak liat apa kemarin dia baru masuk?" tanya Gladis.
"Galak bener. Cuman nanya juga, oh gitu."
"Cantik ya," gumam Dimas.
"Dih."
Ana mulai terusik, perlahan membuka matanya dan melihat langit-langit ruangan yang belum pernah dia lihat. "Aku di mana?" tanya Ana sambil berusaha duduk.
Gladis membantu Ana. "Di UKS. Tadi kamu pingsan, perutnya masih sakit?" tanya Gladis.
Ana mengangguk pelan. "Iya sedikit." Ana beralih menatap sosok lelaki yang juga sedang menatapnya.
"Dia Dimas, sepupu gue." Ana mengangguk.
"Makasih ya, udah bantuin aku ke sini."
"Iya, Na. Sebelumnya kamu pernah kecelakaan enggak? Ketabrak atau apa?" tanya Gladis.
Ana berpikir lalu mengangguk. "Astagfirullah, yaudah nanti kamu pergi cek ke rumah sakit ya? Kata ibu UKS tadi ada luka di bagian perut dalam kamu," ujar Gladis.
Ana mengangguk pelan.
***
Seusai pulang dari kampus, Ana tak langsung memberitahukan Arion soal kejadian tadi. Bisa-bisa suaminya itu malah marah dan menyuruh agar Ana beristirahat di rumah, dan kalau perlu pasti belajar di rumah.
Ana mengganti pakaiannya. Telfon berbunyi.
"Assalamualaikum, kamu udah pulang?"
"Iya, Mas. Aku udah di rumah tadi naik taksi," ujar Ana.
"Loh kenapa enggak bilang buat dijemput?"
Ana terkekeh. "Nggak papa. Kamu pasti sibuk kan ya? Capek juga? Aku bisa pulang sendiri kok, Mas. Kamu tenang aja."
"Jangan gitu lah, Na. Nanti ada apa-apa kan enggak lucu."
"Iya mas, aku selalu hati-hati kok. Jadi kamu tenang aja."
"Yaudah, kamu jangan lupa minum obat dan istirahat ya. Jangan terlalu capek dan banyak pikiran."
Ana tersenyum. "Iya, Mas. Kamu juga jangan lupa makan ya."
"Iya. Yaudah aku tutup."
"Iya.."
Telfon dimatikan sepihak. Ana menyimpan handphonenya dan mengusap perutnya yang sedikit nyeri, Ana mencoba untuk berbaring sejenak melepas penatnya. Namun lama-kelamaan Ana semakin bosan saja jika rutinitasnya hanya belajar.
Dia bangkit dan mencoba membuat kue kembali. Ana memang suka sekali melakukan hal jika boring seperti ini, Ana mengambil beberapa bahan untuk membuat kue kering.
Di sisi lain, Alfatar yang sedang memasang rencana tertawa puas karena berhasil meluncurkan aksinya. "Bagus. Kerja kalian bagus," ujar Alfatar.
"Oh ya, berhubung kamu di sini. Ada kerja yang bagus buat kamu," ujar Alfatar sambil menatap gadis yang sedang sibuk meminum sodanya.
"Apa lagi? Hayolah, aku baru aja sampai. Dan kau sudah kembali memberikan aku tugas? Aku ini pacar apa babu?" tanyanya sarkas.
Alfatar tertawa lalu mengelus pelan pucuk kepala gadis itu. "Yaudah."
Alfatar tak mau mengganggu pacarnya yang sedang sibuk dengan aktivitasnya dia memilih untuk kembali melihat beberapa berkas yang gadisnya itu bawa padanya. "Aku pastikan, semuanya akan berjalan lancar. Awalnya hanya Ana yang menjadi sasaran, tapi karena Arion adalah suami Ana. Maka dia berhak mendapatkan perlakuan yang sama," ujar Alfatar disambut tawa khas jahatnya.
Alfatar belum sempat bermain sejauh ini, namun keadaan yang memaksa dirinya untuk bisa mengikuti arahan dan jejak yang jauh ini. "Udah, kamu mau ngapain sekarang? Dendam apa yang kamu punya sih sampai mau ngelakuin ini?" tanya Alfatar.
"Rahasia. Nanti aku akan memberitahumu, dan soal tugas baru aku mau kamu mengambil semua berkas-berkas penting yang ada di perusahaan milik Arion, jangan sampai kamu dicurigai. Hati-hati lah, yang penting membuahkan hasil."
Gadis dengan rambut dikuncir itu mengangguk. "Tapi ada jatah kan?" tanyanya.
Alfatar tertawa. "Jelas, jauh lebih banyak kali ini. Kalau kamu berhasil," ujarnya.
Gadis itu mengangguk sekilas lalu pergi dari ruangan Alfatar. "Keluar sebagai Dzaki adalah perkara buruk bukan? Arion sudah tau siapa nama Dzaki. Namun, dia belum tau nama lengkapnya."
"Dzaki di dunia ini banyak. Bukan cuman nama samaran aku aja kan?" Terlintas senyum smirk di wajahnya. Dia mengambil sebuah foto, di mana di sana ada gambar Ana dengan riasan pengantin yang sangat cantik.
"Cantik sih, tapi nakal," gumam Alfatar lalu membakar foto itu, dengan sisa yang sedikit dia merobek dan membuangnya sembarangan.
"Tunggu saja tanggal mainnya, kesalahan fatal berhubungan dengan saya, Raihana," ujar Alfatar.
Gadis yang sedari tadi keluar dari ruangan Alfatar kini beranjak masuk ke dalam mobilnya, melanjutkan perjalanan ke perusahaan milik Arion, yang cukup jauh dari sini, memerlukan waktu 30 menit perjalanan dari sini ke sana.