***
Karena bahan yang digunakan tidak cukup, Ana berinisiatif untuk membeli beberapa bahan. Menurutnya ini sudah sangat lama untuk dirinya yang tak pernah keluar untuk membeli sesuatu karena kekhawatiran suaminya.
Matanya terus mencari bahan-bahan di toko kue. Hanya beberapa saja, Ana tak mau membuat kue yang terlalu banyak hanya coba-coba saja, berhubung juga sudah mau bulan puasa.
Setelah selesai membeli kebutuhan untuk membuat kue, Ana pulang naik taksi. Masuknya di rumah dia mendapatkan telfon dari suaminya.
Telfon terhubung.
"Na, sekarang kamu di mana?"
"Assalamualaikum dulu, Mas. Kenapa emang?"
"Oh iya, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam."
"Kamu di mana sekarang?"
"Di rumah, kenapa?"
"Kamu udah minum obat? Gimana perutnya masih sering sakit nggak? Gimana kalau kita cek ke dokter aja. Takut ada apa-apa."
Ana menghela napas. "Nggak kok, ini sakitnya cuman biasa doang."
"Jangan dianggap sepele, Na. Takut itu berbahaya, kita cek ya?"
"Yaudah kapan?"
"Sekarang?"
"Aduh aku mau bikin kue."
"Yaudah aku pulang. Kamu buat kue, kalau udah buat kue kita pergi ya?"
"Oke."
Telfon dimatikan sepihak. Ana menyimpan bahan-bahannya lalu mulai memasak kue.
***
Kini mereka berdua berada di rumah sakit Malebu. Ana dan Arion menunggu hasil pemeriksaan Ana, berharap tidak terjadi apa-apa. Dokter datang dan memberikan selembar kertas kepada Arion. "Ada luka akibat benturan di perut istri Anda. Yang mengakibatkan dia selalu merasakan kesakitan, dan masih ada sisa jaringan janin di dalam perut ibu Ana," jelas Dokter.
"Jadi dok?"
Dokter menatap Ana. "Jadi akan sulit untuk mendapatkan anak kembali," jelas Dokter.
"Berapa persentase kemungkinan untuk saya punya anak lagi?" tanya Ana.
"30%"
Ana membulatkan matanya, Arion merasakan istrinya yang syok lalu berusaha untuk menenangkannya.
"Tapi bapak ibu tidak usah khawatir, masih ada kemungkinan untuk ibu Ana bisa kembali hamil. Ini hanya perlu proses saja, sering-sering konsultasi agar bu Ana tetap baik-baik saja untuk melahirkan."
"Satu lagi jangan banyak pikiran dan jangan terlalu capek, karena akibat keguguran pasca kemarin bu Ana mengalami penyakit Anemia, maka dari itu jaga kesehatan ibu," jelas Dokter.
Selepas dari itu Ana terus terdiam di dalam mobil tanpa mengajak atau merespon ucapan suaminya. Arion mengusap kepala Ana dan tersenyum. "Udah jangan dipikirin ya? Kata dokter kamu fokus aja dengan pemulihan kamu," ujar Arion.
"Gimana enggak kepikiran, Mas. Kemungkinan aku hamil cuman 30% gimana kalau aku beneran enggak bisa hamil? Gimana kalau aku enggak bisa kasih kamu keturunan? Gimana mas?" tanya Ana dengan histeris.
Arion mengusap tangan Ana. "Gimana? Enggak apa-apa Ana, bagi aku kesehatan kamu jauh lebih penting. Dokter bilang kamu masih bisa hamil kok," ujar Arion.
Ana menatap Arion, mereka sama-sama sakit, sama-sama sakit hati mendengarkan penuturan dokter. Ana tau bagaimana keadaan Arion saat ini, dirinya benar-benar merasa tidak ada gunanya jika seperti ini. "Aku tau kamu juga khawatir, kamu juga enggak tega kalau aku kayak gini."
"Ya gimana, Na? Ini sudah jadi takdir Allah, kita hanya menjalani saja," ujar Arion.
Ana terisak. "Maaf, Mas ... karena kecerobohan aku, semuanya jadi seperti ini."
Arion menggeleng. "Ini semua kecelakaan, ini semua bukan kita yang atur. Kita enggak ada yang mau ini terjadi. Jangan salahin diri kamu sendiri okey?" tanya Arion.
Ana menggeleng. "Aku memang salah ...."
"Udah-udah, jangan salahin diri sendiri kayak gini," ujar Arion.
Ana mengusap air matanya, Arion membawa istrinya ke dalam pelukannya.
***
Setelah mendapatkan pemberitahuan bahwa Ana sulit untuk mendapatkan anak, Arion juga kepikiran, walau di depan Ana dia harus bisa memasang wajah biasa saja. Agar gadis itu tidak khawatir dan banyak pikiran.
"Kenapa?" tanya Natasya.
Arion tak menjawab.
"Hei?" Natasya menepuk pelan pundak Arion membuatnya menoleh.
"Hah?"
"Kenapa sih? Bengong aja kerjanya, kalau kurang sehat atau banyak pikiran jangan kerja dulu deh saranku, soalnya ini loh yang kamu buat acak-acakan," ujar Natasya marah.
"Maaf."
Natasya menggeleng pelan. "Kenapa emang? Kayaknya dari tadi bengong, dari kemarin susah banget diajak omong. Kalau ada masalah bagi-bagi," ujar Natasya.
"Apa tentang Ana? Kalau emang pribadi enggak papa sih, cuman kamu harus bisa imbangin mana tempat kerja mana situasi pribadi." Natasya duduk di depan Arion.
Bella datang dan menyimpan sebuah berkas lalu kakinya melangkah untuk pergi, namun panggilan Natasya membuatnya terhenti. "Bella?"
Bella menoleh. "Iya?"
"Kesini deh, kita bertiga udah lama enggak pernah ngomong kan? Sama Lexi juga ralat berempat ya," ujar Natasya.
"Sekarang kalian sibuk masing-masing samaa pasangan, cuman aku doang yang sibuk kerja, biasa tulang punggung rumah," ujar Natasya.
Bella tersenyum. "Ya, tapi kan aku belum nikah jadi enggak sibuk-sibuk amat."
"Enggak kayak itu." Bella menunjuk Arion dengan dagunya membuat sang empu menghela napas gusar.
"Hm, hm, hm."
"Ah ayolah, kita jalan-jalan apa gitu. Biar kalian enggak bosen, kalian bisa ajak pasangan kalian kok. Nanti aku yang traktir deh," ujar Natasya.
"Kayaknya enggak bisa deh, Ana harus banyak istirahat."
"Dia sakit lagi? Kenapa?" tanya Natasya.
"Em, dia itu ... kata dokter dia ...." Arion ragu sekali memberitahu teman-temannya.
"Kenapa? Hey kalau emang butuh istirahat enggak apa-apa sih, kan kita cuman jalan-jalan lagian kita pesan villa kok, ini wacana mulu loh, enggak pernah jadi-jadi," ujar Natasya.
"Kalau aku sih fleksibel kapan aja dan di mana aja, tapi soal bawa pasangan. Kayaknya aku enggak bisa deh, dia sibuk soalnya," ujar Bella.
"Nah tinggal kamu doang, Arion? Masa sih enggak mau? Nanti aku yang beritahu Lexi untuk ikut bersama kita," ujar Natasya.
"Yaudah nanti aku pikir."
Setelah membujuk Arion akhirnya ada jawaban, Natasya tersenyum puas lalu pergi meninggalkan ruangan Arion bersama dengan Bella, Arion menatap ke arah depan.
Di sisi lain Ana yang sibuk dengan bukunya, dikejutkan kedatangan Gladis dengan makanan yang dia bawa. "Hey ini udah jam istirahat sumpah ya, jangan mantengin buku mulu," ujar Gladis lalu menutup buku yang sedang dibaca Ana.
Gadis itu menoleh dan tersenyum lalu mengangguk. "Keenakan, soalnya enggak tau mau ngapain kalau di sini," jawab Ana.
"Oh ya perut kamu udah enggak sakit?" tanya Gladis.
Di sela makannya, Dimas datang dan langsung merebut roti yang ada di genggaman Gladis. Ana yang belum sempat menjawab pertanyaan Gladis terkejut melihat Dimas yang tiba-tiba datang.
"Ih anjir! Main ngambil aja lo," kesal Gladis.
"Laper." Dimas sibuk mengunyah sambil duduk di samping Gladis. Matanya menangkap gadis yang sedang menunduk sambil menyeruput minumannya.
"Gimana Na?" tanya Gladis lagi membuat Ana mendongak kaget. "Hah apa?"
"Soal perut kamu, kenapa? Udah enggak apa-apa? Udah dicek?" tanya Gladis.
"Kepo banget lo ya," sahut Dimas.
"Dih ini namanya perhatian, sekaligus nanyain keadaan sahabat sendiri, emang salah? Lo sewot banget kayaknya," ujar Gladis memutar bola matanya malas.
"Suka-suka gue lah."
Gladis tak meladeni. Dia menatap ke arah Ana. "Hm, itu katanya engga apa-apa cuman sakit biasa doang," ujar Ana.
"Yakin?" tanya Gladis.
"Iya."
"Tapi dokter kemarin bilang kalau perut lo ada luka katanya," timpal Dimas langsung mendapatkan tatapan dari keduanya.
"Iya." Gladis mengangguk setuju.
"Iya, dulu sempat kecelakaan," ujar Ana.
"Jadi, sekarang?"
"Tinggal pemulihan, makan obat dan banyak istirahat," jelas Ana membuat Gladis mengangguk-angguk mengerti.
Bel berbunyi nyaring, membuat ketiganya menoleh bersamaan. Karena waktu istirahat telah usai, mereka bertiga berjalan menuju kelas. Tanpa Ana sadari ada sosok dari jauh sedang menatap dirinya.
***
Alfatar berjalan dengan kacamata hitam, melihat sebuah gedung yang menjulang tinggi. Garis bibirnya muncul, langkah kakinya masuk ke dalam sebuah kampus, yang diyakini adalah kampus di mana Ana kuliah.
Dia berjalan menuju kantor kepala dosen. Dia melihat gadis yang sedang dia cari sedang berbincang bersama dengan orang yang tak dia kenali, gadis yang sebelas dua belas dengan Ana.
Alfatar memilih untuk mengurus sesuatu dahulu. "Siapa namamu? Kamu yang akan mendaftar di sini kan?" tanya seorang pria paruh baya.
Alfatar mengangguk. "Nama saya Dzaki Pratama," ujarnya.
Sekarang kita memanggil orang yang diyakini sebagai Alfatar adalah Dzaki Pratama. "Saya mengambil jurusan management bisnis."
Setelah usai mengisi segala macam formulir, dan sudah mendaftar dari dua hari yang lalu Alfatar datang sebagai Dzaki dengan wajah yang berbeda. Dia beranjak dari kursi dan masuk ke dalam kelas, dari depan sini dapat dia lihat gadis yang sedang sibuk membaca buku.
Dalam benaknya, jika dilihat-lihat Ana sangat cantik, dan dia itu adalah istrinya.
Dzaki duduk, dengan tatapannya yang belum terlepas dari Ana.
Usai sudah pelajaran berakhir, kelas mulai kosong dan tersisa hanya Ana, Gladis dan Dzaki saja di ruang kelas. Ana tak sengaja menjatuhkan bukunya saat Dzaki melewati kursinya. Ana yang ingin meraih buku itu lebih dulu diraih oleh Dzaki. "Makasih." Ana mengambil buku dari tangan Dzaki.
Ana kemudian berjalan keluar bersama dengan Gladis, sambil menelfon suaminya untuk menjemput dirinya.
Di halte bus, Ana menunggu sendirian, dia sudah menyuruh Gladis untuk pulang dahulu dan tak perlu khawatir akan dirinya. Karena hal itu Gladis pulang dahulu, tak lama kemudian sebuah mobil berwarna putih datang dengan suara klakson. Jendela kaca terbuka menampakkan Arion dengan senyum khas dermawannya.
"Masuk tuan putri," ujar Arion. Ana tertawa lalu masuk ke dalam mobil.
"Gimana kuliahnya?" tanya Arion.
"Baik seperti biasa."
"Punya berapa teman di kampus?" tanya Arion sesekali menoleh ke arah Ana dan tetap fokus dengan setirannya.
"Satu doang. Itu cuman Gladis, dia gadis yang baik yang udah nolong dan anter aku pulang dulu," ujar Ana.
"Nolong? Nolong gimana?" tanya Arion.
Ana mengerjap terkejut, dia keceplosan. "Oh ya, nolong aku pas nyari kelas awal-awal kan aku belum tau. Aku ketemu dia," alibi Ana.
Arion mengangguk.