Seperti kegiatan biasanya, Ana datang ke5 kampus untuk belajar namun hari ini ada yang aneh seperti ada orang yang membuntuti dirinya. Ana seringkali juga merasakan aneh, saat berada di kantin seperti ada sosok orang yang menatap dirinya dari kejauhan, namun Ana berusaha untuk berpikir positif dan tidak memikirkan aneh-aneh.
Tepat saat itu Gladys datang membawa 2 mangkok berisi bakso. Gladis menatap Ana yang bengong dari tadi, terlihat gadis itu sedikit khawatir karena mengusap belakang lehernya sambil menoleh ke sana kemari. Gladis menghela napasnya dan menyimpan sendoknya di mangkuk.
"Na, mau temenin aku buat beli hadiah buat Mama enggak?" tanya Gladis.
Ana masih tak berkutik.
"Na?"
Ana menoleh dan tersentak kecil. "Eh iya? Ngomong apa? Kenapa?" tanya Ana.
Gadis tersenyum tipis. "Mau temenin aku beli kado buat Mama aku enggak? Bentar lagi dia mau ulang tahun nih," ujar Gladis.
"Berhubung aku jarang banget pake hal-hal seperti cewek ya, jadi aku enggak tau banyak. Jadi aku butuh bantuan kamu, mau ya?" tanya Gladis dengan mata penuh permohonan.
"Kan bisa sama Dimas," ujar Ana.
"Ya dia kan cowok, lagian ya. Kalau sama dia aku itu enggak nyaman banget soalnya maksa pake baju kayak gini nih, kamu tau kan aku lebih nyaman pake baju yang ... you knowlah," ujar Gladis.
Ana mengangguk kecil. "Oke, tapi bentar aja ya? Soalnya kalau kemaleman entar suami aku marah lagi," ujar Ana.
"Kabarin aja bisa kan? Tanya deh, kalau enggak diijinin, aku engga bakal maksa kok."
Ana berpikir sejenak, mengangguk kecil. Tetapi dirinya tak akan memberitahu suaminya yang ada dia akan kena marah dan dampratnya, Arion susah sekali untuk ditolak. Jadi Ana harus pintar-pintar mencari alasan dan berbohong agar bisa keluar.
"Iya nanti aku tanyain."
"Sekarang."
"Bantaran aja, pasti dia setuju kok," ujar Ana.
Gladis mengangguk.
***
Sekitar jam 4 sore, Ana dan Gladis pun memutuskan untuk cabut dari kampus saat itu juga berharap pulang jam 5 atau jam 6, karena perjalanan cukup jauh dan melelahkan, untuk mereka yang baru pulang kuliah.
Dua puluh menit perjalanan mereka sampai di sebuah toko serba guna, di dalam toko ini tersedia berbagai barang-barang kebutuhan pokok, primer, sekunder dan lainnya.
Gladis menarik tangan Ana masuk ke sebuah toko perhiasan mewah yang berasal dari Inggris - London. Ana hanya pasrah ditarik oleh Gladis, karena menurutnya ini pertama kalinya dia pergi bersama Gladis untuk ke toko-toko membeli sesuatu, di sisi lain Ana senang karena Gladis mempercayai dirinya untuk menemaninya membeli kado untuk orang spesial seperti ibunya.
Grand Prix.
Ana sedikit bingung dengan Gladis yang langsung masuk ke salah satu outlet di sini, mungkin karena Gladis sudah sering membeli sesuatu di sini? Biasanya, Gladis memilih berkeliling dahulu baru dia memutuskan pilihannya. Ini terlihat jelas saat mereka ingin membeli buku di dekat kampus, Gladis berkeliling sepanjang ruangan dan ujung-ujungnya dia kembali dan membeli barang di tempat awal.
Ini seperti sesuatu yang sangat-sangat langkah untuk seorang Gladis. Ana hanya memandangi Gladis yang bertanya-tanya kepada beberapa orang-orang yang bekerja di sana. Toh, Ana hanya menemani saja jika Gladis bertanya baru Ana akan membuka suara.
"Na, kita bagusnya beliiin apa ya?" tanya Gladis.
"Hm, kayaknya kalung cocok deh? Atau cincin? Perhiasan gitu?" tanya Ana.
"Ide bagus sih, cuman gue enggak tau mau milihnya gimana, bantu cari ya? Gue di sini lo liat di sana," ujar Gladis.
Ana menoleh ke arah tunjukan jari Gladis.
"Kalau ada yang bagus kasih tau gue." Ana mengangguk setuju dan pergi menuju tempat bagian sana.
Setelah 5 menit bertanya-tanya kepada pegawai di sana, serta melihat-lihat. Gladis langsung mengeluarkan dompetnya. Dia mengeluarkan beberapa uang kertas dan membereskan semua belanjaannya.
Selesai berurusan dengan kasir, Gladis menoleh ke Ana yang masih sibuk, senyumnya seketika terbit. Gladis berjalan menuju Ana. "Gimana udah ada?" tanya Gladis.
Ana menoleh. "Ini nih, ada liontinnya kamu bisa nyimpen foto di sana, yang berharga gitu. Dan cincin ini juga bagus," ujar Ana.
"Oke kita ambil dua-duanya." Gladis memberikannya kepada kasir dan membayar. Setelah berurusan dengan kasir keduanya keluar dari toko tersebut.
Sesampainya di luar, Gladis langsung memberi Ana dua box bewarna biru muda. "Ini gue beliin buat lo," ujar Gladis.
"Ya kalau pun enggak suka atau enggak bagus menurut lo, simpan aja sebagai kenang-kenangan dari gue ya," ujar Gladis.
Ana mengernyit. "Eh enggak usah, pake repot-repot segala."
"Kalau lo nolak gue bakal sedih nih, terima deh. Jarang-jarang soalnya gue kasih orang hadiah kayak gini, lo kayaknya orang pertama deh," ujar Gladis.
"Really?" tanya Ana.
"Orang pertama selama gue kuliah," jawabnya dengan cengiran handal. Ana tertawa. "Makasih ya," ujar Ana.
Gladis menarik Ana masuk ke sebuah Cafe, tak enak berbicara sembari berdiri. Dia kemudian memesan beberapa makanan dan juga 2 minuman untuk mengisi perbincangan mereka.
"Gue mau curhat boleh enggak sih?" tanya Gladis.
Ana mendongak dan mengangguk. "Iya boleh, kalau kamu percaya sama aku boleh saja."
"Oke karena gue percaya gue mau curhat. Sebelumnya gue enggak se emosional ini sih," ujar Gladis yang merasa heran dengan sikapnya sendiri.
"Kenapa?"
"Ini soal orang tua gue sih," ujar Gladis.
Ana menunggu penjelasan Gladis.
"Salah enggak sih? Kalau gue lebih nyaman sama apa yang gue pake, gue lakuin walau hal itu enggak bisa buat orang tua gue senang? Tapi malah sebaliknya?"
"Gue selalu dituntut untuk jadi seperti apa yang mereka mau. Mereka nggak pernah ngerti sama keadaan yang gue alamin karena mereka egois. Mereka selalu menganggap pendapat mereka adalah yang terbaik untuk gue ternyata semua itu salah malah itu yang menjadikan diri gue tertekan."
"Kalau gue tahu berbakti kepada orang tua itu adalah hal yang wajib gue lakuin sebagai anak. Tapi mereka juga harus ngerti, gimana keputusan dan perasaan gue sebagai anak." Gladis mulai tak tahan, rasanya ingin sekali menangis, namun melihat dirinya yang kuat merasa malu dengan diri sendiri.
"Nangis aja, enggak apa-apa." Ana mengusap punggung Gladis.
"Seperti apa yang kamu mau, seperti apa yang bisa buat kamu senang, maka lakukanlah. Walaupun orang di sekitar enggak suka," ujar Ana.
"Karena kamu berhak atas diri kamu sendiri. Aku juga pernah ngelawan orang tua, aku juga pernah enggak denger apa kata orang tua. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu selagi dirimu masih berada di jalan yang baik maka jalani."
"Kalau memang apa yang kamu sukai itu tidak membawa dampak positif bagi kamu, jangan."