Gladis menyimpan kadonya di dalam mobil, dan memakai sabuk pengamannya dan beralih menatap ke arah Ana. Setelah banyak sekali curhat, Gladis sedikit lega dan tenang karena Ana memberikan semangat dan dorongan serta saran untuk Gladis. Ana menoleh. "Kenapa?"
Gladis menggeleng pelan. "Thanks ya, Na. Karena mau nemenin dan juga dengerin curhat aku," ujar Gladis.
Ana mengangguk dan tersenyum. "Santai aja, kapan aja dan di mana aja. Kamu boleh curhat sepuasnya aku bakal dengerin," ujar Ana.
***
Arion pulang lebih awal dari biasanya, namun kehadirannya tak disambut oleh sang Istri padahal hari ini pikiran Arion sangat kacau dari beberapa pencapaian di dalam perusahaannya semuanya menurun drastis, Arion mengacak-acak rambutnya frustasi. Tak biasanya dia seperti ini.
Arion mencoba menelfon Ana, namun tak ada jawaban. Arion memilih untuk mandi dan tidur, sampai magrib datang.
Setelah mandi, Arion memakai bajunya dan membaringkan tubuhnya di kasur king-nya sambil menatap ke arah langit-langit kamarnya. Memikirkan kira-kira Ana sekarang berada di mana, dan sama siapa. Arion sempat-sempat mengkhawatirkan istrinya padahal dirinya juga sekarang sedang stress.
Telfonnya berdering membuat Arion yang tadinya memejamkan mata kini membuka matanya karena deringan telepon tersebut.
Arion dengan malasnya mengangkat telepon tersebut.
Telfon terhubung.
"Halo?"
"Ini aku Natasya."
"Kenapa?"
"Soal—"
"Kalau mau bahas soal perusahaan aku enggak bisa sekarang. Please lah, aku pulang cepat ya karena capek bahas hal itu, nanti aku pikir-pikir kembali bagaimana dan apa yang akan dilakukan ke depannya."
"Arion? Kamu ...." Natasya menggantungkan ucapannya. "Marah?"
Arion menghela napasnya pelan, dan mengusap wajahnya gusar. "Enggak. Cuman capek aja, Sya. Maaf kalau kasar atau gimana."
Terdengar suara tawa kecil dari sana. "Santai aja, kalau capek mending istirahat jangan banyak pikiran apalagi sampai marah kayak tadi. Lupain sejenak deh soal ini, nanti aku aja yang urus."
"Nanti aku bantu."
"Iy—"
Suara bel membuat Arion menjauhkan telfon itu dari telinganya. Kakinya melangkah menuju pintu untuk membuka pintu. Melihat Ana yang sedang berdiri dengan paper bag yang dibawa. "Darimana?" tanya Arion.
Ana tersenyum sekilas. "Assalamualaikum, kamu udah pulang, Mas?" tanya Ana lalu masuk ke dalam rumah dan tak lupa menyalami suaminya.
"Wa'alaikumussalam. Iya." Arion masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu.
Ana mengangguk dan masuk ke dalam kamar. Arion menyadarkan tubuhnya ke sofa dan bersantai sambil menonton tv tanpa niat sama sekali. Menunggu sekitar 20 menit Ana keluar dengan pakaian yang sudah berganti.
"Mas udah makan?" tanya Ana.
Arion menggeleng pelan. "Belum."
"Oh yaudah kita makan bareng yuk, bentar aku masak dulu." Ana berjalan menuju dapur.
Setelah memasak keduanya langsung melangsungkan makan-makan bersama kalau hanya berdua, anggap aja lagi kencan. Di sepanjang acara makan mereka tidak ada yang membuka suara sedikitpun mereka fokus pada makanan masing-masing.
Arion yang terlihat selesai makan memutuskan untuk pergi terlebih dahulu masuk ke dalam kamar hal itu tentu menjadi sorot perhatian Ana, gadis itu langsung membereskan piring-piring dan menyusul Arion menuju kamar.
"Mas? Kenapa?" tanya Ana duduk di samping Arion.
Pria itu menggeleng pelan. "Enggak apa-apa hanya sedikit capek."
"Beneran enggak apa-apa? Soalnya muka kamu kayak pucat gitu, gimana kalau kita ke rumah sakit aja?" tanya Ana khawatir.
"Enggak apa-apa, Ana. Kamu jangan khawatir kayak gitu. Udahlah," ujar Arion lalu menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
Ana mengangguk pelan, lalu keluar dan membuat kopi untuk suaminya. Ana benar-benar tidak enak karena Arion datang lebih dulu daripada dirinya, dan mana tadi Ana tidak menjawab pertanyaan Arion, apakah pria itu sedang marah padanya? Tapi kenapa?
Ah pikiran Ana jadi melayang-layang. Perutnya bahkan kembali sakit, dirinya meringis sambil mengerang sakit. Ana mencoba menahan sakit itu dengan tumpuan tangan berada di kursi. Arion datang dengan khawatir. "Kenapa, Na?" tanya Arion menggiring istrinya duduk.
"Perut kamu sakit lagi? Makanya jangan capek-capek, dokter kan sudah bilang." Arion mengusap-usap punggung tangan Ana.
Ana tersenyum. "Aku enggak apa-apa kok, udah baikan juga. Cuman datang-datang langsung sakit, dan tiba-tiba pergi gitu aja. Perginya pas kamu datang," ujar Ana.
Arion mengetuk dahi Ana membuat gadis itu meringis kesakitan. "Kamu ini, lain kali kalau emang capek jangan paksain diri buat kerja atau pergi."
"Iya, Mas. Enggak kok."
"Terus tadi kamu pergi kemana? Katanya kampusnya selesai siang?" tanya Arion lalu duduk di samping Ana sambil menyeruput buatan Ana.
"Oh iya, aku tadi belajar ekstra soalnya aku anak baru lumayan ketinggalan pelajaran," ujar Ana.
"Bohong?"
Ana menggeleng. "Enggak, bener kok." Ana mengalihkan pandangannya ke arah lain, parah kalau suaminya tau kalau dirinya berbohong, padahal benar-benar berbohong Ana pergi bersama dengan Gladis takut Arion marah dan tak mengijinkan Ana untuk pergi-pergi selain ke kampus dengan alasan kesehatan Ana akan terganggu.
"Yaudah." Arion berlalu pergi, Ana menatap cengo suaminya. Kenapa dia jadi ngambekan kayak gini? Ana jadi tak abis pikir. Mungkin selama mereka menikah, Arion akan memperlihatkan wujud aslinya, Ana tersenyum.
Telfon berdering. Ana menoleh dan melihat telfon Arion di meja, pria itu lupa membawanya. Ana melihat tertera nama Natasya di sana, jarinya menggeser tombol hijau dan mendekatkan telfon pada telinganya.
"Halo?"
"Assalamualaikum, Natasya. Apa kabar?"
"Eh, wa'alaikumussalam. Alhamdulillah baik, gimana dengan kamu?"
"Baik juga. Oh ya maaf aku yang angkat soalnya Mas Arion lagi di kamar, dia lagi ngambek." Ana tertawa kecil.
"Hah? Ngambek? Kenapa?"
"Aku juga enggak tau nih, kayaknya dia sensi sedari tadi. Semuanya baik-baik aja, Natasya? Apakah ada sesuatu yang buat dia begitu di kantor?"
Terjadi keheningan sesaat di seberang sana. Ana kembali menyahut. "Natasya? Masih di sana?"
"Hah, iya-iya masih kok. Enggak ada masalah kok di sini, semuanya baik-baik aja. Arion emang suka ngambekan. Dan kalau marah tuh suka diem-dieman daripada harus berterus terang. Jadi, ya gitu deh."
Ana tertawa. "Setuju. Arion melebihi cewek kalau ngambek ya?"
"Bener."
"Kamu mau ngomong sama dia? Aku panggilin nih."
"Eh-eh enggak usah, biar dia istirahat aja. Aku tutup ya?"
"Oh gitu, iya kalau ada yang penting telfon aja lagi nanti aku sampein ke Mas Arion."
"Enggak ada sih ...."
"Oh oke, udah ya aku tutup? Sampai jumpa, Sya. Byee."
"Bye."
Telfon dimatikan oleh Ana dia menyimpannya, dan kembali membereskan rumah. Setelah selesai dia masuk ke dalam kamar melihat suaminya yang menutupi tubuhnya dengan selimut besar. Ana tertawa kecil dan menyimpan handphone Arion.
"Mas, tadi Natasya telfon."