Pagi ini, pagi yang sangat cerah untuk Ana dan Arion keduanya melakukan aktivitas olahraga bersama di halaman depan rumah yang sangat luas. Berbincang dan bersantai kebetulan hari ini adalah hari Minggu mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama-sama.
Kalau Ana pikir-pikir selama dia menikah, dia lebih banyak berbohong agar suaminya tidak marah dan khawatir padanya. Ana bingung harus seperti apa, takut ke depannya dia malah menjadi-jadi berbohong kepada suaminya. "Kenapa, Na?"
"Ah enggak." Ana menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Cukup lama berbincang bersama keduanya memutuskan untuk masuk ke rumah, Ana menyiapkan makanan, dan Arion menyegarkan tubuhnya dengan mandi. Langkahnya cukup tenang, sampai masuk ke dalam kamar mandi.
***
Seorang gadis menatap dirinya di cermin, dia melihat sebuah arloji di tangannya. Gadis itu menyisir rambutnya dan mengikatnya hingga berbentuk kucir kuda. Dengan baju kasual gadis itu keluar dari kamarnya dengan tas yang dia gendong di belakang. "Ma, Gladis mau pergi."
"Kemana lagi? Kamu selalu aja pergi, jarang banget tinggal di rumah. Mama eng—"
"Ma, Gladis kan enggak balap-balapan. Ini cuman mau ke rumah Ana buat kerja tugas," alibi gadis itu. Dalam hatinya dia berucap; Aku meminjam namamu Ana.
"Tugas apa?"
"Tugas kuliah, aku pulang sore," ujar Gladis.
"Kenapa lama sekali? Kita mau ke makam kakek dan nenekmu, dan juga kakakmu," ujar Sherin—Mama Gladis.
"Bukannya Minggu lalu udah, Ma?" tanya Gladis, bukan dirinya tak mau menjenguk kakaknya dan kakek neneknya. Hanya saja jika dia ke sana, Gladis merasa sangat terluka. Karena wajah kakaknya itu sangat mirip dengannya, pasca dahulu kakaknya tewas. Gladis merasa kesepian dan memutuskan untuk ikut geng-geng motor sekolahnya, yang bukan hanya terlibat cowok tapi cewek juga banyak.
Gladis kesepian.
Dia butuh kakaknya kembali.
Hanya itu yang Gladis minta.
Sejak kepergian kakaknya, Mama dan Papanya selalu melarang Gladis ini itu dan lain sebagainya dengan alasan monoton bahwa tak mau mengulang kesalahan yang sama seperti yang terjadi pada Gianna, padahal umur tidak ada yang tau? Kenapa Mama dan Papanya sangat posesif.
Dan yang paling Gladis benci adalah, jika dirinya terus diawasi dengan Dimas. Pria yang baik dan selalu membuat Gladis tersenyum, tapi itu dulu saat Gianna—kakaknya masih ada. Rasanya semua tawa serasa hilang saat kakaknya pergi, bahkan sikap Mama dan Papanya yang dulu sudah hilang seperti ditelan bumi begitu saja. Gladis bingung.
Bingung sama kenyataan pahit ini.
Yang memaksa dirinya untuk terus berdiri dengan tumpuan kaki penuh luka, dengan bahu yang seberat orang mendudukinya. Gladis meraih tangan ibunya dan pergi meninggalkan rumah, dia memakai motor besarnya namun pergerakan dia berhenti saat sang Ayah menegur dirinya. "Kamu mau kerja tugas, tapi kenapa harus pake motor gede. Kan ada mobil kakakmu, dia udah enggak bisa pake lagi. Jadi kamu aja yang pake," ujar seorang lelaki paruh baya dengan koran di tangannya.
Ah, kesal rasanya. Padahal Gladis ingin bersenang-senang di weekend kali ini namun, orang tuanya selalu aja menuntut dirinya untuk mengikuti apa yang mereka mau. Gladis kesal, itu hal wajar kan?
"Tapi Ayah, Gladis lebih suka naik motor daripada naik mobil. Kali ini aja," ujar Gladis memohon.
"Enggak. Kamu tetap pake mobil, kamu itu berhijab jangan mau rendahin hijab kamu karena motor besar yang kamu pake itu," ujar sang Ayah.
Gladis berdecak kesal, dia menyalakan mesin motornya dan langsung menancapkan gas dan pergi meninggalkan rumahnya tak peduli dengan Ayahnya yang sudah memanggil dirinya. Gladis benar-benar tak habis pikir dengan pola pikir orang tuanya.
Dia dan Gianna itu berbeda.
Jangan disama-samakan, apalagi dibeda-bedakan.
Keduanya memiliki prinsip dan kesukaan yang berbeda. Gladis ingin kakaknya kembali, agar dia bisa kembali seperti dulu bebas karena Gianna selalu ada membantu dirinya mulai dari pergi malam, nongkrong dan lain sebagainya. Kini, Gladis harus mendudukki dua posisi sekaligus, sebagai kakaknya dan sebagai dirinya sendiri.
"Kak, Gladis rindu," gumam gadis itu.
****
Ana pagi ini ke supermarket untuk membeli bahan-bahan bulanan makanan, sekalian mampir di rumah ayah dan ibunya bersama dengan Arion. Gadis itu sedari tadi senyum, membuat Arion juga turut senang. "Senang banget kayaknya? Karena mau belanja atau mau ketemu orang tua?" tanya Arion.
"Em, dua-duanya sih. Soalnya aku suka belanja bahan-bahan dan aku rindu sama kedua orang tuaku," ujar Ana.
Setelah sampai di supermarket, Ana keluar dan mulai berbelanja sedangkan Arion memilih untuk menunggu saja di mobil, di bagian sana pasti rata-rata perempuan semua. Ana juga melarang takut suaminya dilirik dan digoda orang lain.
Ana yang sibuk memilih dari tadi, mengambil beberapa sayuran, dan lauk pauk. Belanjaan Ana cukup banyak.
Setelah berbelanja hampir setengah jam, Ana kembali dengan menenteng kantung-kantung yang dia bawa. Dia masukkannya ke dalam mobil. "Nunggu lama ya? Ini aku beliin minum," ujar Ana.
"Lumayan lama sih," ujar Arion lalu meraih minuman yang dibawa Ana.
Setelah cukup minum, Arion menancapkan gasnya dan pergi meninggalkan halaman supermarket dan menuju ke rumah Ayah dan Ibu Ana. Ini masih jam 11:00 ibunya pasti masih ada di rumah, karena kalau hari Minggu, restauran hanya dibuka dari sore sampai malam hari.
Ana turun saat mobil Arion berhenti di depan rumah ibu dan ayahnya. Ana mengambil satu kantung berisi kue dan buah-buahan untuk orang tuanya. Berjalan beriringan dan disambut dengan hangat oleh sang Ibu.
"Eh kalian," ujar Rina lalu mempersilahkan keduanya masuk.
"Kalian udah lama enggak main ya? Rindu sama ibu ya?" tanya Rina.
Ana tertawa lalu duduk di kursi. "Bapak di mana?" tanya Ana.
"Di kebun lagi ngambil sayur-sayuran," ujar Rina.
"Gimana keadaan kalian berdua?" tanya Rina.
"Alhamdulillah baik, kami berdua baik bu. Gimana keadaan ibu?" tanya Arion balik.
"Alhamdulillah baik juga, restauran yang ibu bapak bina juga semakin berkembang. Syukur Alhamdulillah, kalian kalau ada acara atau hal lainnya, mending di restauran ibu bapak aja ya? Gratis," ujar Rina.
Arion tertawa dan mengangguk setuju. Mereka pun berbincang cukup banyak mulai dari Ana kuliah, dan semua yang berkaitan dengan keseharian Ana dan Arion. Ana sedari tadi melihat Arion yang berbincang dengan ibunya, Ana sangat sayang pada Arion semoga saja tidak ada yang bisa mengambil Arion dari dirinya. Ana sangat berharap dan sungguh berharap.
Darto datang dengan sarung tangan yang masih melekat di tangannya. Hendak memeluk Ana namun dicegah oleh Rina. "Bapak cuci tangan dulu ih, nanti ada kumannya lagi," ujar Rina.