***
Motor Gladis berhenti di depan rumah yang dihiasi dengan beberapa coret-coretan dengan lampu yang redup. Di sini adalah tempat di mana dirinya dan teman-temannya berkumpul, saling berbincang dan beradu nasib.
Gladis masuk, dan sudah banyak temannya di sana sedang duduk dan berbincang santai. Gladis mengganti pakaiannya. "Enggak capek, Dis? Kayak gitu setiap saat dan setiap hari?" tanya salah satu temannya.
"Ya mau gimana lagi, membahagiakan kedua orang tua juga kewajiban seorang anak."
"Tapi kan lo juga berhak bahagia," celetuk temannya lagi.
"Iya. Tapi kebahagiaan mereka jauh lebih penting sekalipun gue harus mati kalau itu buat mereka bahagia akan gue lakuin, lagian mereka juga kek gini karena merasa kakak gue kehilangan karena motor besar yang pernah dipakai untuk pergi ...."
Teman-temannya sudah duga kalau Gladis akan kembali mengingat kakaknya yang tewas karena berusaha mengendarai motor besar milik Gladis. "Tapi kan, Kak Gianna dulu emang enggak bisa naik motor. Beda lagi kalau sama lo," ujar Dina—salah satu teman Gladis.
"Hm. Apanya yang beda, gue juga dulu pas belajar naik itu hampir mati." Gladis tertawa lalu masuk ke dalam ruang makan dan mengambil air minum.
Teman-temannya turut prihatin dengan Gladis, orang tuanya antara wajar dan enggak wajar memperlakukan Gladis seperti ini.
***
Darto menyimpan cangkulnya dan masuk ke dalam rumah, dia melihat sebuah surat yang berada di meja teras. Dia mengambil kertas tersebut, hanya berisi beberapa kata yang menurut Darto itu tidak penting.
Ana yang baru saja keluar dari rumah melirik ke arah bapaknya yang sedang membuang sesuatu ke tempat sampah. "Bapak udah makan belum? Kalau belum sini yuk makan bareng di dalam," ujar Ana.
Darto menoleh. "Eh iya, bapak rindu sekali masakan kamu. Ayo-ayo." Darto merangkul anaknya dan masuk ke dalam rumah.
Mereka makan dengan tenang dan tanpa suara. Selesai makan, Arion membuka handphonenya banyak sekali pesan dari Hendra, teman kantornya. "Na, aku mau nelfon bentar ya."
Ana mengangguk sebagai jawaban.
Arion berjalan menuju luar dan men-diall nomor Hendra. "Halo? Kenapa?"
"Aku telfon daritadi, baru dijawab?"
"Sorry, lagi anterin Ana ke supermarket dan enggak ngecek handphone, ada apa?"
"Ada pembobolan data, di raksa dana dan perusahaan bagian kantormu. Kamu sudah dapat kabar dari Natasya?"
Arion tersentak sesaat lalu dia berusaha untuk menenangkan dirinya. "Enggak. Kapan?"
"Malam tadi."
Arion terdiam, kenapa banyak sekali masalah yang terjadi di kantornya belakangan ini serasa ada yang mengganjal namun Arion tidak tahu apa yang mengganjal tersebut. Terdengar suara Hendra yang menyahut membuat Arion tersadar. "Oh iya sorry."
"Kamu harus kembali fokus sama perusahaan investasi ini. Takut ada hal-hal yang lebih penting terjadi di kantor ini karena kelalaian dari dirimu. Aku bukan bermaksud untuk menyalahkanmu, tapi lihat kondisi sekarang kau ini adalah pemimpin. Kau yang sepatutnya ada di saag seperti ini."
"Maaf, aku tau. Aku juga berusaha memikirkan ini tapi aku enggak bisa berpikir dengan jernih." Arion mengusap wajahnya pelan.
"Yaudah, kalau gitu besok kamu datang ke kantor dan kita bincangkan hal ini bersama dengan Bella, dan Natasya."
"Iya."
Telfon dimatikan sepihak. Arion berdecak kesal, siapa yang melakukan ini pada kantornya? Benar-benar mencari perkara kepada Arion. Ana menepuk pelan pundak Arion. "Kenapa Mas? Kok cemas gitu?" tanya Ana.
"Enggak apa-apa, Na." Ana meragukan jawaban Arion melihat raut wajah suaminya yang terlihat pucat dari biasanya.
"Yakin?" tanya Ana lagi.
"Iya."
Karena tak mau memperpanjang Ana mengangguk paham. Mungkin memang ada, tapi suaminya tidak mau memberitahunya pasti ada alasan dan Ana tak tau alasannya apa.
"Kalau gitu kamu duduk dulu, aku mau buatin kopi." Ana yang hendak pergi, lengannya ditahan oleh Arion.
"Kayaknya enggak usah deh, kita bisa pulang sekarang?" tanya Arion.
"Tapikan kita baru 1 jam di sini, Mas."
"Iya ... tapi aku ada urusan," ujar Arion.
"Urusan apa? Di mana?"
Arion menatap Ana. "Di kantor."
"Yaudah, kamu ke kantor aja. Aku masih mau di sini, lagi rindu sama ibu soalnya."
Arion menghela napasnya pelan dia pamit kepada ibu dan bapak mertuanya dan pergi meninggalkan rumah Rina dan Darto. Ana menatap sayu kepergian mobil Arion, padahal ini hari Minggu Ana bukannya melarang tapi hari ini adalah waktunya untuk duduk dan bersantai bersama.
Kapan lagi kan mereka seperti ini?
Ana sampai bingung harus ngomong kayak gimana.
Arion menatap serius jalanan di depan, padahal Arion ingin meminta saran Ana. Arion sedikit malu jika curhat di rumah mertuanya, dia ingin jika bersama Ana saja. Rasanya lebih leluasa. Arion menghentikan mobilnya di depan cafe.
Dia masuk dan menelfon Lexi untuk datang, banyak yang ingin Arion bicarakan dengan sahabatnya.
15 menit menunggu, Lexi datang dan duduk di depan Arion. "Kenapa? Mukanya ditekuk kayak begitu? Ada masalah lagi?" tanya Lexi. Dia tau betul jika Arion dalam masalah atau ada yang mengganjal hatinya.
"Hm."
"Cerita aja, eh sebelum itu pesen minum dulu ya haus soalnya. Naik motor," ujar Lexi membuat Arion mengangguk.
Lexi memesan jus alpukat dan jus sirsak.
"Nah cerita." Lexi duduk manis menunggu Arion berbicara.
"Ini soal perusahaan sih sebenarnya dan entah kenapa akhir-akhir ini aku jadi susah bagi waktu dan kebanyakan ceroboh," ujar Arion.
"Lanjut." Lexi mendengarkan sesekali menyeruput minumannya.
"Ya gitu, aku enggak tau alasannya kenapa. Kayak aneh aja seperti bukan diri aku sendiri gitu," ujar Arion lagi. Dia meminum minumannya.
"Hm, ceroboh gimana maksudnya?"
"Kerja enggak fokus, dan terlalu sering melakukan kesalahan."
"Susah bagi waktu antara apa?" tanya Lexi, sebenarnya dia bisa saja menebak-nebak cuman lebih baik lagi kalau Arion langsung ngomong.
"Antara keluarga sama perusahaan. Sumpah bingung yang mana penting, menurutku keduanya penting."
"Nah tuh tau, gini ya. Kalau tau keduanya sama-sama penting, kamu seharusnya enggak ceroboh saat jam kerja. Dan tidak membahas pekerjaan saat bersama keluarga, semua ada tempatnya. Jika kamu kerja, itu waktunya kamu kerja. Jika kamu bersama dengan keluarga, jangan pentingin kerja."
"Tapi lebih dominan keluarga. Tapi aku yakin deh keluarga yang baik adalah keluarga yang memahami semua anggota keluarga yang ada di dalam keluarga itu," ujar Lexi.
"Mereka tau kamu sibuk, jadi enggak membebankan dirimu. Teman kerjamu tau kalau keluarga kamu penting makanya dia nggak mau ganggu jika kamu bersama mau dengan istri atau kedua orang tuamu."
"Namun perlu kamu tahu, kalau semua orang enggak tau dan enggak selamanya bisa ngertiin keadaan kamu," jelas Lexi.
Arion menghela napasnya pelan. Lexi memang pandai jika menasehati Arion, ini alasan kenapa dirinya jauh lebih nyaman berbincang dengan Lexi. Karena pasti ada pesan dan solusi di dalamnya.
"Makasih, Xi."
"Yoi bro! Kalem, kapan aja kamu butuh. Nih bahu ada buatmu." Lexi tersenyum dan menepuk-nepuk pundak Arion.