Setelah merasa baik setelah curhat dengan Lexi, Arion memilih untuk pulang dan beristirahat. Sampainya di rumah dia lupa kalau Ana masih ada di rumah ibunya, dia mengecek handphonenya dan mencoba mendiall nomor Ana.
Panggilan terhubung.
"Assalamualaikum, kamu masih di rumah ibu?"
"Wa'alaikumussalam, iya nih. Lagi buat kue, kamu sekarang di mana? Udah selesai urusan kantornya? Libur-libur gini emang bahas apa, Mas?"
Arion tersadar, bahwa alasan dirinya pergi dari rumah ibunya adalah untuk pergi ke kantor. "Oh iya, aku ngurus masalah kebakaran beberapa Minggu lalu. Sedikit dapat kerugian bagi pihak kantor," tutur Arion.
"Lalu, gimana dengan dana investasi milik orang lain? Aman?"
"Alhamdulillah kalau itu, masih aman kok."
"Kenapa bisa kebakaran sih, Mas? Penyebabnya apa? Kamu kok belum kasih tau aku ya?" Suara Ana berubah menjadi serius.
"Penyebabnya belum diketahui, tapi katanya ada penyusup yang bakar. Dan aku enggak tau pasti, polisi juga sudah berusaha menyelidiki namun ... hasilnya tidak memungkinkan. Seperti orang yang sulit buat ditangkap."
Setelah berbincang agak lama, Ana meminta dirinya untuk dijemput karena hari juga sudah sore. Besok Ana juga masih harus kuliah, dirinya harus benar-benar fokus untuk pendidikannya.
***
Malam ini, Ana menyiapkan sedikit makanan. Karena dirinya masih kenyang, Arion makan dan Ana sibuk dengan buku-bukunya. "Besok emang ada ujian? Sibuk banget kayaknya," ujar Arion.
"Enggak sih, cuman belajar aja." Ana masih fokus sama bukunya.
"Emang bukunya jauh lebih menarik dari aku?" goda Arion.
Ana tertawa. "Kayaknya, bukunya jauh lebih menarik dari kamu deh. Nih, buktinya aku nyaman bacanya."
"Emang kamu enggak nyaman liat muka aku?" tanya Arion tidak terima.
Ana mengangguk kecil. "Iya soalnya kalau aku liat muka kamu terus, bawaannya aneh."
"Aneh kenapa?"
"Suka blushing sendiri," jawab Ana.
Arion mencuil hidung Ana dengan gemas.
Malam yang singkat tapi punya makna sendiri. Kini mereka sibuk sama prioritas masing-masing, Ana dengan kuliah dan Arion dengan laptopnya. Malam itu candaan hilang sekejap karena sebuah kesibukan.
***
Pagi harinya Ana bersiap untuk berangkat, Arion mengantar dirinya. Ana menyimpan handphonenya di dalam tas, kemudian masuk ke dalam mobil. Tidak ada yang membuka suara di sepanjang perjalanan, hanya ada keheningan saja yang merajalela mereka.
Dan akhirnya Ana sampai di kampusnya. Menyalami suaminya dan keluar dari mobil, Arion menurunkan kaca mobil. "Nanti aku jemput," ujar Arion dibalas anggukan Ana.
Setelah mobil Arion sudah tak nampak dari tempat Ana berdiri. Gadis itu pergi masuk ke dalam kampus, dia melirik ke sana kemari sambil berjalan menuju kelasnya.
Ana sesekali menunduk melihat kakinya yang sedang berjalan hingga seseorang menabraknya. Orang yang menabrak Ana kebetulan membawa sebuah air, dan sialnya baju Ana terkena jus itu. Ada ya orang pagi-pagi sudah minum jus.
"Eh sorry, aku enggak sengaja." Ana mendongak melihat siapa pelakunya.
Pria dengan baju kasualnya. "Maaf." Dia mengulurkan tangannya sebagai permintaan maaf.
Ana menatap tangan itu dan mengangguk sebagai jawaban, toh. Dia bukan muhrim Ana. "Iya enggak apa-apa," ujar Ana. Pria itu menarik kembali tangannya.
Tangannya mengambil sebuah tisu basah di dalam tasnya. "Nih." Ana mengambilnya dan mulai membersihkan bajunya.
"Btw, kayaknya aku pernah liat kamu? Kamu anak jurusan manajemen bisnis kan?" tanyanya membuat Ana mendongak dan mengangguk.
"Oh berarti sama dong. Kenalin, aku Dzaki Pramata," ujarnya.
"Iya. Aku Raihana, panggil aja Ana," balas Ana.
"Mau ke kelas? Bareng mau?" tawarnya.
"Enggak usah, kamu duluan aja." Ana menolak.
"Hm, kenapa?"
"Enggak apa-apa, cuman masih mau bersihin ini di kamar mandi. Kamu duluan, nanti aku nyusul," ujar Ana lalu pergi meninggalkan Dzaki yang sedang tersenyum menatap kepergiannya.
Ana, Ana yang masih berstatus sebagai istrinya itu. Kapan dia akan menyadari kalau Dzaki adalah Alfatar? Ah. Sepertinya cara ini jauh lebih baik untuk mendapatkan Ana kembali, merebutnya kembali dari Arion. Lelaki b******k yang sibuk mengurusi kehidupannya bersama dengan Ana.
Ana mendengus pelan dan menatap dirinya di cermin. "Hm, baru pagi loh. Jangan emosi, Ana. Dia itu teman satu kelas kamu, jadi kamu harus bisa nahan diri, datang ke sini untuk belajar bukan mencari musuh, okey?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Ana merapikan bajunya dan mengelapnya dengan tisu kering. Ana menghela napas pelan dan berjalan kembali ke kelas, hari yang baik harus diawali dengan kebaikan.
***
Sepanjang materi yang disampaikan, Ana melihat Dzaki yang cukup pintar dan pandai dalam menjawab beberapa soal. Bahkan Ana saja kalah, Ana salut dan bangga. Padahal mereka baru saja bertemu. Mungkin mereka akan menjadi teman yang baik, untuk ke depannya kan?
Ana menyimpan bukunya, dan pergi ke kantin bersama dengan Gladis. Sesampainya di sana semua tempat penuh, Ana mengedarkan pandangannya dan melihat sebuah meja yang masih kosong. Baru saja dirinya ingin melangkah, sudah ada orang yang mengambilnya.
Dzaki. Dia juga menoleh ke arah Ana. Ana memalingkan wajahnya. "Enggak ada tempat lagi, Na. Kita makan di luar aja deh," ujar Gladis.
"Kalian bareng aku aja," suara itu membuat mereka berdua menoleh.
"Dzaki? Dzaki kan?" tanya Gladis.
Pria itu mengangguk sambil tersenyum kemudian melirik Ana yang acuh dan menunduk. "Gimana? Mau?" tanya Dzaki.
Gladis mengangguk setuju. "Yuk Na!" Gladis menarik Ana dan duduk di depan Dzaki.
"Btw aku lihat-lihat ya, kamu tuh pintar. Bisalah ngajar aku," ujar Gladis.
Pasalnya, Gladis selalu saja dibanding-bandingkan dengan keluarganya bersama dengan kakaknya. Kakaknya, Gianna memang pintar dan berbakat dalam segala urusan. Dan Gladis mengerti itu, sayangnya dirinya tak bisa menjadi seperti kakaknya yang selalu hebat di mata orang tuanya.
"Boleh-boleh aja." Dzaki mulai memakan makanannya.
Ana hanya memakan siomay saja, dari semalam dirinya seperti tak mood untuk makan. Rasanya semua makanan hambar dan tidak cocok di dalam perutnya, Ana pun sudah mencampur kecap dan cabai yang banyak ke dalam siomaynya, yang ada dirinya jadi enek.
"Na, sehat Na? Kenapa makannya kayak gitu?" tanya Gladis, Dzaki memandang Ana.
Ana menoleh, mengangguk dan tersenyum sekilas. "Enggak apa-apa, cuman lagi enggak mood makan, enggak tau kenapa," ujar Ana.
"Ih makan ih, nih." Gladis menggeser mangkuk berisi bakso.
"Entar kenapa-kenapa lagi, entar pingsan dan riweh. Aku enggak bisa gendong kamu ke UKS," ujar Gladis.
Ana tertawa. "Iya tapi aku enggak lapar," jawabnya lagi.
"Kenapa?"
"Enggak. Kan udah dibilang, aku enggak mood makan aja." Ana seberusaha mungkin untuk tidak menatap mata Dzaki.
Dzaki menyodorkan air mineral. "Coba aja minum dulu, terus doa. Baru makan," ujarnya.
Ana mendongak sesaat, terdiam sesaat lalu mengangguk.