***
Ana berada di kelas sendirian, sudah tidak ada orang lagi. Karena memang Ana mendapatkan sebuah bimbingan awal karena dirinya masih baru di sini, sekaligus mengisi semua materi yang kosong sebelumnya. Ana menatap bukunya dengan tatapan kosong hingga sebuah botol mineral membuatnya terkejut.
Dia mendongak.
Lagi-lagi, dia Dzaki. Ana tersenyum sekilas, Dzaki duduk di samping Ana. "Ngapain di sini? Enggak pulang?" tanya Ana.
"Lagi dapat bimbingan. Soalnya banyak materi yang aku lewati sebelumnya," jawabnya.
Oh iya, Ana lupa kalau Dzaki adalah murid baru di kelas ini sama seperti dirinya. Ana mengangguk Dan kembali membaca buku, Dzaki pun melakukan hal yang sama.
Kesunyian mengisi mereka berdua.
***
Arion sudah menunggu 20 menit yang lalu di depan kampus ini, kenapa Ana belum keluar juga? Itu yang selalu dia pikirkan. Arion memilih untuk masuk ke dalam dan berjalan menuju kelas Ana.
Yang ada dia hanya mendapatkan pemandangan yang menurutnya tidak wajar untuk istrinya lakukan. Arion mengepalkan tangannya. Kakinya melangkah maju, dia langsung meninju rahang pria yang berani memegang istrinya sembarangan.
"Kau siapa hah?" Ana terkejut saat melihat Dzaki terhuyung ke belakang karena bogeman yang diberikan oleh Arion.
Arion menarik kerah baju Dzaki. "Siapa kamu hah? Berani-beraninya memeluk istriku seperti itu!" tanya Arion dengan tatapan nyalang.
Ana berusaha memisahkan Arion dan Dzaki. "Mas!" bentak Ana.
"Dia itu c*m—"
"Cuman apa Ana? Kalian berduaan di sini, semua orang sudah pada pulang. Aku nungguin kamu di parkiran sudah 20 menit Ana," ujar Arion dengan napas yang tersengal-sengal.
Arion menarik tangan Ana. "Ayo pulang."
"Tapi Mas aku mas—"
Arion melepaskan tangan Ana, memandang istrinya lekat. Lalu beralih kepada Dzaki yang sedang mengusap bibirnya, Arion langsung berjalan keluar kelas meninggalkan Ana dan lelaki yang tak dikenalnya itu. Arion menoleh saat dia sudah di pintu, Ana sepertinya khawatir dengan pria itu. Arion mengusap wajahnya, dia kembali pergi ke parkiran.
Siapa lelaki itu? Ah! Sepertinya Ana lebih banyak mempunyai teman jika dia kuliah seperti ini. Arion cemburu, dia marah, istrinya yang katanya setia dan patut dipandang sebagai istri yang baik—sedang berpelukan di dekapan orang lain.
Yang Arion sendiri tak tau orangnya siapa.
Arion menyalakan mesin mobilnya dan pergi meninggalkan kampus Ana.
Di sisi lain, Ana yang membantu Dzaki duduk. "Maaf ya, mungkin dia hanya salah paham," ujar Ana merasa tidak enak karena suaminya datang-datang dan langsung memukul Dzaki seperti ini.
Dzaki tersenyum. "Enggak apa-apa. Santai." Dia mengusap bibir bawahnya.
Ana mengambil sapu tangan dan membasahinya dan membersihkan luka Dzaki. Dzaki yang sibuk memandang Ana yang membersihkan lukanya, ternyata istrinya sekarang lebih cantik.
***
Arion berada di rumah Lexi, dia tak mau pulang. Entah kenapa dirinya sedang marah dan perasaannya tak karuan, bahkan tangannya saja masih mengepal kuat saking kesalnya dia. Lexi memandang sahabatnya dengan heran. "Kenapa woi?" tanya Lexi sambil menepuk pelan pundak Arion.
Arion tak menjawab, sepertinya jawabannya bisa didapatkan dari melihat raut wajah Arion; marah, kesal dan kecewa. Namun, Lexi tak tau penyebab Arion bisa seperti itu. "Yaudah tenangin diri dulu. Aku mau ambilin jus leci dulu," ujarnya.
Arion mengusap wajahnya kasar, dia menghela napasnya dan menyadarkan kepalanya di sofa sambil menutup matanya. "Heung ...."
Lexi menatap sahabatnya dari jarak yang cukup jauh. Raut wajah ketika melihat Arion kecewa dengan seseorang; marah; dan berputus asa. Bercampur aduk seperti gado-gado, situasi seperti ini Lexi hanya bisa menenangkan saja susah untuk memberikan saran apalagi solusi.
Arion orang yang bijak dan memiliki jiwa kepemimpinan, sudah tentu dia bisa mengatasi segala masalahnya. Sebab, Tuhan tak akan menguji hambanya, jika hambanya tak mampu menjalani ujian tersebut.
"Nih, kalau perlu mandi gih. Pake baju aku dulu," ujar Lexi sambil memasang gaya andalannya dengan kaki diangkat dan bertumpu pada paha kaki satunya.
"Hm." Arion bergegas pergi dari sana dan masuk ke dalam kamar Lexi.
Lexi melirik sebentar handphone Arion yang sedari tadi mendapatkan notifikasi telfon dan pesan dari Ana. Lexi sudah tau, pasti terjadi kesalahpahaman antara mereka berdua.
20 menit setelah mandi, Arion datang dengan baju kasualnya—baju milik Lexi. "Gimana? Udah sedikit dingin tuh kepala? Kalau enggak, nih ac-nya aku kasih paling dingin," ujar Lexi.
Arion berdecak. "Mau bantu apa mau bunuh?" tanyanya kesal.
"Yaelah sensi amat kamu," ujar Lexi dengan tampang khasnya.
"Eh btw, lagi masalah sama si ono? Enggak mau cerita? Kali aja lebih ten—"
"Selalu aja ngomong kayak gitu kalau ada masalah. Sebenarnya iya, cuman saat ini aku belum mau kasih tau apa yang terjadi, mengingat dan membayangkan hal itu saja aku jijik sendiri," ujar Arion.
"Waduh parah nih, gimana dong? Kayaknya enggak bisa dapat pertolongan, mending langsung ke rumah sakit aja biar diperiksa dan dikasih obat," ujar Lexi.
Arion menatap Lexi dengan tatapan tajam. "Aku enggak lagi bercanda."
"Iya tau kok, bukan bercanda tapi b******a. Ini mah masalah cinta atuh bang, cinta itu sederhana sumpah cuman dua insan aja yang ribet," ujar Lexi.
"Ck."
Lexi tertawa, susah memang kalau Arion sudah marah seperti ini beda lagi kalau pria itu sedang ada masalah perkantoran atau kesalahannya bak seperti bayi kecil yang ingin s**u dari Lexi. "Kalem bro, semuanya ada jalannya masing-masing. Aku yakin kok, semuanya akan baik-baik aja."
"Gimana kamu tau?" Arion menatap lekat Lexi.
"Sebenarnya enggak tau sih, makanya atuh cerita. Susah banget kayaknya cerita, kayak orang baru pacaran aja kita, kan kita udah 2 tahun pacaran, kamu lupa?" tanya Lexi.
Arion menoyor kepala Lexi. "Geli anying."
"Eh kasar banget itu mulut. Udah-udah jadi cerita enggak nih? Kalau enggak aku pulang nih buang-buang waktu," ujar Lexi berlagak ingin pergi dari sana.
"Ini rumah kamu ege!" Arion menjitak kepala Lexi membuatnya meringis.
"Aduh sensian amat, bahaya nih bahaya. Masalahnya sama istri eh malah pacarnya yang kena. Padahal aku enggak ada salah sama istri kamu kok, kamu aja yang selingkuhin dia. Eh ralat deh, kan kita pacaran kamu nikahnya sama dia," ujar Lexi.
Arion memutar bola matanya malas. "Sumpah aku jijik dengernya, jujur."
"Aelah! Jujur amat bro." Lexi memukul lengan Arion.
"Yaudah deh serius. Kenapa dengan Ana? Dia call tuh, banyak kali, mungkin ratusan bahkan ribuan, mungkin jutaan sampai milyaran," ujar Lexi.
"Lebay."
"Dih sensi. Cerita cepet." Lexi sampai geram sendiri sama orang di depannya ini.
"Jadi tuh gini ...."