Lexi memandang Arion lekat menunggu sahabatnya ini melanjutkan ucapannya. Arion tertawa melihat ekspresi Lexi yang seperti itu. "Gini, aku tadi ngeliat Ana sama orang lain," tutur Arion.
"Terus?" Lexi menaikkan sebelah alisnya.
"Terus ya aku marahlah," ujar Arion.
"Lah kenapa marah coba? Wajar kan kalau dia punya teman atau semacamnya enggak harus sama kamu terus, Rion. Jangan ngebatas—"
"Dengerin dulu makanya," ujar Arion kesal.
"Yaudah iya, kamu sih potong-potong gitu ngomongnya." Lexi juga kesal.
"Dia berpelukan sama orang itu, cowok. Aku juga enggak tau dia siapa, mukanya sangat asing menurutku," ujar Arion.
Lexi nampak berpikir. "Positif thinking mungkin saja Ana hampir terjatuh dan lelaki itu yang menolongnya," jelas Lexi yang ingin sahabatnya tetap dalam keadaan dingin dan tidak panas.
Arion tertawa. "Kayak adegan film romantis gitu ya? Lucu ya, Lex." Terlihat raut wajah dan suara yang berbeda dari Arion.
"Cielah cemburu ya? Wajar sih kan kamu suaminya Ana," ujar Lexi.
"Tapi sebagai pasangan suami-istri yang harmonis kalian berdua harus membicarakan semuanya dengan baik-baik. Kalau kalian berdua sama-sama gengsi entar enggak bakal punya anak," ujar Lexi.
Arion mengetuk pelan dahi Lexi. "Asal ngomong ya, jangan gitulah."
"Yaudah baikan sana."
"Dia yang salah seharusnya dia yang dahulu minta maaf dan menjelaskan semuanya, Lexi." Arion tak mau membuka suara dahulu, takut Ana benar-benar punya hubungan dengan lelaki itu.
Apakah ... pernikahan yang dia inginkan seperti dahulu tak akan terjadi? Sungguh, Arion mau masa-masa seperti; menghabiskan waktu bersama dan banyak hal romantis lainnya walaupun Arion bukan orang yang romantis.
"Ini bukan perkara siapa salah siapa benar. Kalau kamu mau ini semua baik-baik saja mending bicara langsung sama istrimu itu, kamu bukan anak bujang lagi ya," ujar Lexi terkekeh.
"Serah."
"Ngambekan buset, ngapa sih? Emang mereka pelukannya kek gimana? Pas kamu tau dia pelukan, kamu diam aja gitu?" tanya Lexi penasaran.
Arion menggeleng. "Enggak, langsungku tinju mukanya," ujar Arion.
Lexi terkekeh sekaligus mendengus ngeri. "Kalau aku di posisinya pasti dapat pukulan panas dari Arion."
"Mungkin bakal lebih parah, jangan berani ngusik punyaku, kalau masih mau aman," jelas Arion.
"Kalem bro, emang ya auranya Ana emang beda. Ini aja si Arion bisa luluh dan jatuh cinta," ujar Lexi.
"Iya dia pake pelet kali ya?" tanya Arion disambut gelak tawa Lexi.
"b**o juga ya kamu," ujarnya.
Setelah merasa lebih baik karena lagi-lagi dirinya merepotkan sahabatnya ini yang bernama Lexi sekadar untuk berbincang masalah keluarga dan perusahaan. Lexi selalu saja ada di saat dirinya benar-benar butuh, Arion akan mengadu dan berkeluh kepada Lexi. Dengan senang hati pria itu membantu dirinya.
Saling membantu, mereka memang sering seperti itu. Arion enggan untuk pulang, walau sudah banyak sekali pesan SMS dan telfon dari Ana, tapi hati kecilnya enggan untuk melangkah pulang. "Beneran semarah itu? Liat deh dia udah call banyak banget, enggak kasian sama istrimu?" tanya Lexi.
"Kasian."
"Yaudah pulang sana dan bicara baik-baik," ujar Lexi.
"Ngusir nih?" tanya Arion.
"Ya bukan gitu bambang, cuman kan kalau permasalah kamu cepat selesai jauh lebih baik daripada kayak gini serius," ujar Lexi.
Ada benarnya juga, Arion cemburu? Wajarkan? Siapa sih yang rela melihat istri kesayangannya berpelukan dengan pria lain? Mungkin ada, pria gila mah itu. Karena beberapa pertimbangan di hati dan di otak Arion akhirnya memilih untuk pulang.
Dia menyalakan mesin mobilnya dan melintasi jalanan yang lumayan sepi, mobilnya mengarah menuju rumahnya.
10 menit perjalanan dirinya sampai, turun dan masuk ke dalam rumah. Namun, tidak ada orang di rumah, rumah juga masih tertutup. Arion mengernyit heran, terus? Kenapa Ana men-call dirinya sebanyak ini?
Arion berbalik saat melihat sebuah motor berhenti di depan gerbang rumahnya yang masih terbuka lebar. Ana dengan pria tadi, boncengan? Hatinya seperti terbakar api. Arion menatap Ana dan lelaki yang diyakini sebagai Dzaki itu.
Ana menoleh ke arah Arion, Arion nampak kesal namun seperti awal dirinya bertemu dengan Arion—lelaki yang terlihat akan kewibawaannya dengan wajah yang dingin dan tampan. Arion memilih masuk saat Ana berjalan menuju dirinya.
Ana menggerutu pelan, banyak yang harus dia pikirkan soal ini. Dan bagaimana caranya menjelaskan kepada suaminya soal ini semua? Tinggal menjelaskan, hanya butuh kekuatan bila Arion tiba-tiba marah dan membentak dirinya, namun Arion sebelumnya tak pernah seperti itu.
"Mas?" Ana mengetuk pintu kamar namun tak ada jawaban. Dia membukanya namun tidak ada Arion di sana.
Arion keluar dari kamar mandi, melihat Ana yang sedang menatap dirinya. Arion mengalihkan pandangannya dan keluar dari kamar. Ana sungguh sangat bersalah jika Arion seperti ini. "Mas?" panggil Ana.
Arion menghentikan langkahnya, beberapa detik setelahnya dia kembali berjalan meninggalkan Ana. Arion melangkah menuju ruang kerjanya, lagian masih banyak sekali yang harus dia kerjakan daripada sibuk memikirkan permasalahan soal Ana dan lelaki yang tadi, yang Arion sendiri tak tau siapa lelaki itu. Ana sama sekali tak mau memberitahu dirinya? Seolah semuanya tak pernah terjadi.
Ana mengusap wajahnya pelan dan memilih untuk mandi, setelah mandi Ana masuk ke dapur dan memasak untuk Arion.
20 menit dirinya memasak semuanya sudah selesai, makanan kesukaan Arion juga sudah ada di meja. Dirinya tersenyum, lalu memilih memanggil suaminya berharap jika sudah makan mereka akan membicarakan kesalahan pahaman soal ini kepada Arion.
Arion sedang sibuk di ruang kerjanya menatap laptop dengan tangan yang sangat lihai mengetik. "Mas, ayo makan dulu," ujar Ana.
"Mas?"
Arion menoleh sekilas. "Udah kenyang."
"Loh makan apa? Di mana?" tanya Ana.
"Di kantor." Arion menjawab tanpa menoleh ke Ana.
Ana menghela napas pelan. "Dikit aja ayo, aku udah masak makanan kesukaan kamu loh," ujar Ana membujuk.
"Aku ada pekerjaan, Ana," jawab Arion dengan nada dingin.
Ana tersentak kecil. "Maaf—'
"Aku mau kerja.dulu, kamu makan sana."
Ana menghela napas, lalu berbalik dengan raut wajah sedih dengan wajah yang memelas seolah butuh Arion yang kemarin-kemarin saat dirinya memasak Arion sangat bersemangat dengan makanan itu. Namun, untuk pertama kalinya lelaki itu bersikap seperti ini pada Ana.
Ana duduk di kursi menatap makanan yang sangat banyak namun, jika dirinya yang makan sendiri ini sangat banyak dan rasanya Ana tak berselera melihat makanan buatannya sendiri, karena niat awalnya untuk Arion, suaminya saja. Ana menutup matanya dan mengambil beberapa tempat dan memasukkan masakannya. Berniat membaginya dengan orang sekitar.
Mungkin jauh lebih baik, daripada tidak ada yang mau makan. Ana juga sudah tak berselera padahal tadi dirinya sangat lapar, seketika lapar itu hilang.