“Jadi, Sal, aku butuh ruangan yang kayak aku sebutin syaratnya tadi karena aku mau melanjutkan misi aku.” Kata Alin ketika mereka bertiga selesai menikmati hidangan di cafe beberapa minggu lalu.
“Misi kamu ke si Square Man?” Tanya Salma memastikan. Alin mengangguk mengiyakan pertanyaan Salma.
“Misi apaan sih, Lin?” Tanya Kiki sambil mengunyah camilannya. Alin memberi kode kepada Salma dengan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Kiki.
“Emmm, sebenarnya ini misi rahasia, Ki. Jadi ga boleh diceritain di sembarang tempat. Ini kita masih mau bicarain caranya, nanti kalau udah fix aku cerita ke kamu ya. Kamu juga mau bantuin misi ini kan?” Salma mencoba menjelaskan sesederhana dan sehalus mungkin agar Kiki paham dan juga tidak tersinggung. Tidak bisa dipungkiri jika Kiki diajak berunding pasti tidak akan selesai pembahasannya.
“Gitu ya? Oke.” Salma dan Alin lega karena Kiki menerima begitu saja penjelasan Salma. Kiki kemudian memilih melanjutkan menghabiskan camilan sambil memainkan ponselnya.
“Oke, jadi apa rencana kamu, Lin?” tanya Salma.
“Ini baru yang aku pikirin ya, nanti kalau ada yang kurang boleh deh kasih saran. Jadi gini, misi aku biar si Square Man itu keluar kan belum pernah berhasil. Makanya aku kepikiran kenapa ga kita buat dia dikeluarkan oleh pihak kampus?” Kata Alin.
“Eh, iya ya. Terus gimana rencana kamu?” Salma menerima ide cemerlang Alin.
“Kamu tahu kan kalau salah satu pelanggaran berat buat mahasiswa adalah berbuat m***m di lingkungan kampus?” Salma mengangguk mengerti. “Nah rencanaku selanjutnya adalah bikin Square man sama sahabatnya seolah - olah melakukan hal itu. Kita buat mereka berdua aja berada dalam satu ruangan semalaman.”
“Kamu emang cerdas banget, Lin. Eh, tapi kenapa Hania diikutkan?” Tanya Salma. Pasalnya selama ini yang dia tahu sasaran Alin cuma Daniyal.
“Yah karena dia udah berani ngancam aku juga biar ga gangguin square man. Mana pake ceramah segala.” Kata Alin menjelaskan dengan wajah kesal mengingat pembicaraannya dengan Hania saat itu.
“Jadi, sekali tepuk dua lalat ya, Lin. Smart.” Puji Salma sambil menjentikkan jarinya. “Oke, besok kita coba cari tempat dan waktu yang tepat buat eksekusi.”
Dan hari inilah waktu yang tepat setelah beberapa hari lalu Alin dan Salma menemukan tempat yang cocok.
“Nanti sore siap ya, Sal?” tanya Alin ketika mereka baru bertemu di pagi itu.
“Siap banget, Lin. Rencananya tetep kayak kemarin kan?” Tanya Salma memastikan.
“Iya, sementara ga ada perubahan sambil liat situasi dan kondisi hari ini.” Jawab Alin.
“Tapi kamu beneran yakin nanti berani nunggu di lantai sepuluh sendirian?” Salma membayangkan kondisi lantai sepuluh yang jarang digunakan karena memang di sana hanya terdapat ruang pertemuan dan toilet.
“Yakinlah. Emang apa yang harus ditakutin? Setan?” Sepertinya memang tidak ada yang membuat Alin ciut nyalinya jika sudah memiliki ambisi. Salma yang pada dasarnya memang penakut bergidik mendengar nama makhluk yang baru saja disebutkan oleh Alin.
Setengah jam selepas jam kuliah berakhir Alin dan kedua sahabatnya mulai melaksanakan rencana yang sudah mereka susun sebelumnya. Salma dan Kiki bergerak untuk menyibukkan Hania sementara Alin mengirim pesan kepada Daniyal dengan nomor baru untuk memberitahu jika Hania terkunci di toilet gedung D lantai sepuluh. Awalnya Daniyal yang sudah berada di parkiran motor tidak percaya sehingga dia mencoba menelepon Hania untuk memastikan kebenarannya. Namun hingga lima kali panggilan tidak ada respon dari Hania. Daniyal pun segera berlari menuju tempat sesuai yang ada di pesan tadi sambil terus menelepon nomor Hania. Dia ingin memastikan kebenaran dari pesan yang diterimanya.
Hania tidak tahu jika Daniyal khawatir dan meneleponnya berkali-kali karena dirinya saat ini dimintai tolong oleh Kiki untuk mengajarinya menyelesaikan soal di kelas. Kiki menarik tangan Hania agar mereka berpindah tempat duduk dengan cepat hingga Hania tidak sempat membawa tas maupun ponsel yang saat ini ada di dalamnya. Hania tadi memang sudah siap untuk pulang sebelum Kiki meminta bantuan.
Sekitar sepuluh menit kemudian Alin menghubungi Salma dan memberitahukan jika Daniyal sudah berhasil masuk ke perangkap mereka. Sekarang giliran Hania.
“Han, sorry ganggu. Ini dari tadi ponsel kamu kayaknya bergetar, mungkin ada telepon penting.” Salma yang sedari tadi duduk di dekat tas Hania membawakan tas gadis itu kepadanya.
“Oh, iyakah? Makasih ya Sal.” Kata Hania tulus. Ada perasaan tidak tega sebenarnya kepada Hania yang termasuk teman yang baik. Tapi biar bagaimanapun Salma harus tetap mendukung Alin, sahabat yang selalu membantunya juga selama ini.
“Daniyal?” kata Hania lirih melihat ada sepuluh panggilan tak terjawab dari Daniyal. Dia segera menelepon balik ke nomor sahabatnya itu karena khawatir. Sampai panggilan ketiga teleponnya tidak juga diangkat membuat gadis itu semakin panik. Selang beberapa detik kemudian ada panggilan masuk dari nomor tak dikenal.
[Halo] kata Hania.
[Halo. Ini betul Mbak Hania temannya Mas Daniyal] kata seorang perempuan yang menelepon Hania. Nada bicaranya terdengar panik membuat Hania juga ikut panik.
[Iya betul. Ini siapa ya? Kenal sama Daniyal juga?]
[Saya Marni, Mbak. Cleaning service gedung D. Ini saya kebetulan di lantai 10. Saya baru selesai bersih-bersih di sini tiba-tiba saya dengar ada orang minta tolong di toilet. Ternyata ada mahasiswa yang terjatuh bernama Daniyal. Dia minta saya telepon Mbak Hania]
[Daniyalnya sekarang mana, Mbak?]
[Mas Daniyalnya pingsan, Mbak. Mbak Hania segera kesini ya, saya takut masnya ini kenapa-napa]
[Iya, Mbak. Tolong dijaga sebentar ya.]
Hania memutuskan sambungan telepon kemudian berlari menuju lift dan segera menuju lantai sepuluh. Dia tidak peduli meskipun hari beranjak senja. Dirinya benar-benar panik sekarang hingga rasanya sangat lama sekali lift ini bergerak. Sekitar sepuluh menit kemudian lift sudah sampai di lantai sepuluh karena memang tidak ada pengguna lain selain dirinya. Saat dia baru keluar dia bisa melihat di depan toilet ada seorang wanita. Mungkin itu Mbak Marni yang tadi meneleponnya, pikir Hania. Tetapi seketika gadis itu menyadari bahwa wanita itu tidak memakai seragam cleaning service seperti biasanya. Hania mulai waspada.
“Alin?” tanya Hania ketika posisinya sudah dekat dengan wanita yang sejak tadi diamatinya. Meskipun gadis itu saat ini mengenakan masker Hania tetap bisa mengenali jika itu adalah Alin.
“Han, kamu di sini juga?” Tanya Alin. Hania mengangguk.
“Tadi ada cleaning service namanya Mbak Marni telepon aku katanya Daniyal pingsan di sini.” Kata Hania masih dengan nada panik.
“Eh, aku juga.”
“Mbak Marninya kemana sekarang?”
“Tadi dia turun waktu aku baru nyampe katanya mau cari bantuan karena teman-temannya yang laki-laki ga ada yang angkat teleponnya. Daniyal di dalam, aku mau masuk ga berani.” Jelas Alin juga dengan menunjukkan wajah panik. “Apa kita liat bareng aja ya, Han?”
Hania hendak mengikuti saran Alin namun dia ingat jika suara penelepon tadi sama dengan suara Alin yang sedang bermasker itu. Hania curiga dan bimbang tapi dia juga butuh memastikan apakah benar ada Daniyal atau tidak di dalam. Gadis itu pun mengangguk.
“Ayo.” Kata Hania.
“Kamu yang di depan ya, Han. Aku takut.” Kata Alin sambil bergidik ngeri. Lagi-lagi Hania mengangguk. Alin tersenyum di balik maskernya saat tangan Hania sudah memegang handle pintu. Hania semakin curiga. Saat pintu terbuka setengah, Alin mendorong Hania namun sayangnya Hania cukup sigap untuk bergeser sehingga Alinlah yang terdorong masuk hingga tersungkur. Melihat kondisi Alin, Hania segera menutup pintu dan menguncinya. Hania mencabut kunci itu dan membuangnya ke sembarang tempat. Dia yakin jika Alin telah merencanakan untuk menjebak dia di sini, apalagi sekilas dia mencium aroma gas obat bius dari dalam toilet. Gas yang terlanjur masuk ke indra penciumannya meskipun hanya sedikit itu nyatanya sudah memberi dampak pada sarafnya. Hania merasa sedikit pusing. Dia pun segera menuju ke lift agar bisa segera pulang. Apalagi biasanya beberapa menit lagi beberapa aliran listrik akan dipadamkan, Hania tidak ingin terjebak di sini hingga pagi. Mengenai Daniyal dia akan segera mencari informasi lagi begitu kondisinya pulih.
Di dalam toilet saat ini Alin sudah pingsan di dekat karena menghirup gas bius yang juga sudah membuat Daniyal tidak sadar di tempat yang sama. Meskipun dia sudah memakai masker nyatanya gas tetap mampu menembus tiga lapis kain yang menutupi hidungnya. Gas itu baru benar-benar hilang dua jam kemudian melewati lubang-lubang angin kecil di dinding toilet.
Lewat tengah malam Daniyal mulai sadar, namun tubuhnya terlalu lemas untuk berdiri. Dia mengerjapkan mata beberapa kali sambil berusaha mengenali ruangan dengan pencahayaan yang temaram. Di saat bersamaan telinganya samar mendengar suara seseorang sedang menggigil. Digerakkan kepalanya agar wajahnya bisa melihat ke arah sumber suara. Dengan matanya yang masih berat untuk terbuka dia melihat seorang wanita bermasker sedang meringkuk kedinginan berada di sebelah kirinya. Tangan Daniyal yang juga masih lemah dipaksakan bergerak membuka masker untuk melihat wajah wanita itu.
“Alin.” Kata Daniyal dengan suara lirih dan serak. Daniyal menggoyangkan pundak Alin berusaha membangunkan gadis itu. Tetapi kondisinya tak jauh dengan Daniyal, sama-sama lemas. Mata Alin tidak juga membuka, tetapi mulutnya berbicara dengan terbata-bata.
“Di..ngin.” Kata Alin. Kedua tangannya saling memeluk.
Daniyal yang melihat kondisi Alin mencoba duduk dan mencari sandaran untuk punggungnya. Kakinya tetap diselonjorkan. Dia kemudian berusaha sekuat tenaga menarik Alin untuk duduk seperti dirinya agar tubuh bagian atas gadis itu tidak lagi menyentuh lantai. Dengan posisi tersebut Daniyal berharap Alin tidak lagi kedinginan. Namun hingga beberapa saat gadis itu masih terus saja menggigil. Bahkan kepalanya sudah bersandar lemas di pundak Daniyal.
Dalam kelemahan fisiknya Daniyal berusaha menghangatkan Alin dengan cara menggosok tangan Alin yang dingin dengan kedua tangannya. Sekian menit cara tersebut belum juga membuat Alin berhenti menggigil Alin malah dirinya semakin tidak berenergi. Ragu-ragu Daniyal mencoba cara terakhir yang mungkin bisa berhasil. Pria itu menarik Alin agar lebih dekat lagi kemudian memeluknya. Kepala Alin disandarkan di dadanya dan kedua tangannya dilingkarkan ke punggung Alin. Untungnya cara ini berhasil karena Alin tidak lagi menggigil begitu pun tubuh Daniyal yang ikut menghangat. Mereka pun terlelap kembali dalam kenyamanan hingga pagi menjelang dan tersadar dengan hadirnya tiga orang berwajah menakutkan di hadapan mereka.
“Daniyal! Alin!”
“Bangun kalian!”