“Daniyal! Alin!” Hardik Pak Ghufron marah melihat kelakuan dua mahasiswanya itu. Di hadapannya saat ini dia melihat Daniyal dan Alin tertidur dengan posisi duduk dan saling berpelukan. “Bangun kalian!”
Daniyal terusik dengan suara keras yang menggetarkan gendang telinganya. Matanya mengerjap berusaha mengembalikan kesadaran. Dadanya terasa hangat tetapi tangannya terasa pegal. Kepalanya yang semula mendongak dan bersandar di dinding ia tundukkan untuk melihat apa yang menimpa dadanya. Seketika di terkejut mendapati kepala siapa yang menempel pada dirinya. Keterkejutannya bertambah mengetahui di depannya ada tiga orang yang memandangnya marah salah satunya adalah Pak Ghufron.
Daniyal kemudian berusaha membangunkan Alin. Ditepuk-tepukkan tangannya yang sejak tadi berada di bahu Alin dan memanggil-manggil nama gadis itu lirih. Pandangannya masih terpaku pada ketiga orang di depannya karena tidak ada nyali untuk mengalihkan matanya barang sedetik. Meskipun dia merasa tidak bersalah, tetapi melihat posisinya dan Alin saat ini pasti membuat siapapun salah paham.
“Lin, Alin.” bisik Daniyal sambil menggoyang badan Alin lebih kuat agar gadis itu segera terbangun. Baru di panggilan ketiga Alin tersadar dari alam mimpinya. Sama dengan apa yang dirasakan Daniyal tadi, Alin pun dua kali terkejut mendapati kondisinya saat ini.
“Haaahhh.” Alin menutup mulut dengan kedua tangan untuk meredam teriakannya. Matanya terbelalak melihat siapa saja yang sekarang memergoki mereka di sini.
“Kalian berdua ikut ke ruangan saya!” kata Pak Ghufron menahan marah. Beliau kemudian berbalik dan berjalan menuju ruangan yang beliau maksud. Daniyal dan Alin yang panik juga takut bergegas berdiri mengikuti Pak Ghufron. Dua orang yang sedari tadi mendampingi Pak Ghufron adalah sekretaris jurusan dan petugas kebersihan yang pertama kali menemukan Alin dan Daniyal di toilet lantai sepuluh ini. Mereka membiarkan kedua mahasiswa itu mendahului kemudian berjalan di belakang untuk memastikan mereka mengikuti Pak Ghufron.
“Alasan apalagi yang mau kalian sampaikan sekarang?!” Kata Pak Ghufron saat mereka berlima sudah berada di ruangan yang biasanya digunakan untuk sidang skripsi. Beliau mengetuk-ngetukkan telunjuknya ke meja di depan Daniyal dan Alin. Keduanya hanya tertunduk dengan perasaan takut dan belum berani membuka suara.
“Kalian tahu kan kalau yang kalian lakukan ini adalah pelanggaran berat?” Tanya Pak Ghufron lagi tanpa menurunkan nada bicaranya.
“Jawab!!!” hardik Pak Ghufron sambil menggebrak meja karena masih tidak ada jawaban dari keduanya.
“Iya, Pak.”jawab Daniyal yang perasaannya sudah terkontrol.
“I Iya, Pak.” Alin menjawab dengan terbata karena sadar sepenuhnya jika ini adalah kesalahannya.
“Kalian juga tahu kan apa sanksi dari melakukan pelanggaran norma susila di lingkungan kampus?!” Tanya Pak Ghufron lagi.
“Paham, Pak. Tapi mohon maaf sebelumnya, Pak Ghufron, kami tidak melakukan pelanggaran seperti yang Bapak maksudkan. Kemarin ada yang mengirim pesan kepada saya bahwa ada teman yang terkunci di toliet itu. Jadi saya bergegas menuju ke sana untuk menolongnya, namun baru beberapa langkah saya masuk di lorong toilet tiba-tiba saya tidak sadarkan diri. Dan kesadaran saya kembali ketika kondisi sudah gelap dan ada Alin bersama saya di ruangan tersebut.” Kata Daniyal menjelaskan yang sebenarnya. Pak Ghufron mendengarkan sambil meneliti kejujuran Daniyal.
“Kalau kamu, Alin. Apa alasan kamu?” tanya Pak Ghufron beralih meminta penjelasan Alin. Pandangan tajam Pak Ghufron membuat nyalinya ciut.
“Ehhh, sama, Pak.” Jawab Alin gugup.
“Apanya yang sama?” selidik Pak Ghufron.
“Saya juga ke toilet itu untuk menolong teman karena ada yang memberi tahu saya tentang hal itu.” Jawab Alin berusaha tenang.
“Baiklah, kita akan buktikan kebenaran dari penjelasan kalian.” Setelah mengatakan hal tersebut, Pak Ghufron menuju tempat duduk Pak Bram yang merupakan sekretaris jurusan dan membisikkan sesuatu kepada beliau. Pak Bram terlihat mengangguk kemudian berdiri meninggalkan ruangan.
Setelah kepergian Pak Bram, Pak Ghufron mendekati Pak Manto. Dia adalah petugas kebersihan yang pertama kali menemukan Alin dan Daniyal. Pak Ghufron juga membisikkan sesuatu kepadanya, Pak Man yang juga paham dengan ucapan Pak Ghufron mengangguk kemudian memberikan ponselnya kepada Pak Ghufron. Setelah itu Pak Ghufron kembali lagi ke tempatnya pertama kali duduk tadi.
“Kalian tadi mengatakan mendapat pesan dari seseorang kan?” Tanya Pak Ghufron melanjutkan interogasinya.
“Betul, Pak.” Jawab Daniyal
“Iya, Pak.” Alin juga menjawab bersamaan dengan Daniyal.
“Pesan tertulis atau apa? Dan melalui apa?”
“Pesan tertulis melalui ponsel, Pak.” Daniyal menjawab terlebih dulu kemudian mengambil ponsel dari dalam tasnya. Dia membuka pesan pemberitahuan yang dikirimkan seseorang tanpa nama lalu menunjukkannya kepada Pak Ghufron.
“Pesan ini dikirimkan jam lima lewat empat puluh lima menit. Satu jam lebih dari berakhirnya kuliah. Seharusnya sudah tidak ada mahasiswa kan di gedung ini? Dan lagi lantai sepuluh ini kan tidak dipakai untuk kuliah reguler. Kenapa kamu percaya begitu saja? Apa kamu tidak curiga sama sekali?” cecar Pak Ghufron.
“Saya sebenarnya ragu, Pak. Tetapi saya juga khawatir jika itu benar, makanya saya segera menuju ke tempat yang dimaksud untuk memastikan. Ternyata sampai di tempat saya malah pingsan.” Jelas Daniyal.
“Baik. Kalau kamu Alin? apa juga sama dengan Daniyal?” Pak Ghufron beralih meminta penjelasan dari Alin. Gadis itu pun sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan tersebut.
“Kalau saya mendapat telepon dari seseorang, Pak. Suaranya terdengar panik, jadi saya tidak berpikir panjang dan segera menuju ke lantai sepuluh. Apalagi saat itu sudah hampir gelap. Saya khawatir jika saya tidak segera menolongnya dia akan terjebak lebih lama dan membahayakan fisik juga mentalnya. Oleh karena itu saya tidak sempat untuk merasakan kecurigaan, Pak.”
“Bisa lihat ponsel kamu juga?” Pinta Pak Ghufron kepada Alin.
“Buat apa ya, Pak? Sepertinya baterai ponsel saya habis.” Kilah Alin.
“Coba saya lihat.” Kata Pak Ghufron datar dan dengan tatapan tajam. Mau tak mau Alin menuruti permintaan beliau. “Ponsel kamu juga, Dan.” Daniyal pun segera menyerahkannya.
Beberapa saat Pak Ghufron mungutak - atik ponsel Daniyal juga Alin. Kedua benda itu bisa menyala, Pak Ghufron menggelengkan kepala kepada Alin karena dianggap berbohong mengatakan ponselnya habis baterai. Pria yang berusia hampir enam puluh tahun itu meminta pemilik ponsel untuk membuka passwordnya agar bisa di cek isi ponselnya. Dua menit kemudian terdengar suara ponsel berdering dari tas Alin.
“Itu kamu ada ponsel lagi?” tanya Pak Ghufron kepada Alin. Gadis menjawab dengan anggukan ragu kepala tanpa bersuara. Pak Ghufron menengadahkan tangan bermaksud meminta ponsel Alin yang berbunyi itu. Tak ingin memperkeruh keadaan Alin segera menurutinya. Pak Ghufron mengecek juga ponsel tersebut dan ternyata nomor ponsel kedua Alin itulah yang mengirimkan pesan ke Daniyal.
Daniyal sudah tidak terkejut lagi jika memang seperti itu kebenarannya mengingat apa yang sudah dilakukan gadis itu kepadanya selama ini. Akan tetapi yang tidak dia mengerti mengapa Alin membiarkan dirinya berada dalam jebakan yang ia buat ini.
“Bisa kamu jelaskan, Alin? Kenapa nomor pengirim pesan ke Daniyal sama dengan nomor ponsel kamu ini?” Suara Pak Ghufron tenang tetapi terdengar menakutkan di telinga Alin. Tetapi gadis itu mencoba bersikap tenang.
“Betul, Pak. Saya memang yang mengirimkan pesan ke Daniyal. Jadi begini Pak yang sebenarnya.” Alin menjeda penjelasannya. “ Ada seseorang yang menelepon saya dengan menangis dan panik. Dia memberitahu jika ada teman sekelas saya yang terkunci di toilet. Nah karena teman saya yang dimaksud penelepon tadi adalah teman dekat Daniyal jadi saya segera mengirimkan pesan ke Daniyal.” Jelas Alin dengan setenang mungkin.
Daniyal sempat terperangah mendengar penjelasan Alin yang meyakinkan. Sayangnya dia sama sekali tidak percaya jika seperti itu kejadiannya. Seandainya saat ini ada pemilihan aktris terbaik, Daniyal yakin jika Alin lah yang akan menjadi pemenangnya.
Ketika Alin selesai menjelaskan bersamaan juga Pak Bram masuk lagi ke dalam ruangan dengan membawa laptop yang sudah menyala dan meminta Pak Ghufron berpindah ke meja Pak Bram. Selama beberapa menit Daniyal juga Alin bisa melihat kedua pejabat jurusan itu mengamati dengan serius apa yang ditampilkan di layar laptop itu. Sesekali Pak Bram memberikan penjelasan sambil menunjuk ke layar.
“Akting kamu bagus banget. Sangat pantas mendapatkan penghargaan.” Kata Daniyal lirih kepada Alin saat mereka hanya berdua saja di ruang sidang skripsi itu. Alin menoleh tidak suka mendengar sindiran Daniyal.
“Apa maksud kamu?” Tanya Alin ketus.
“Cih. Pakai pura – pura lagi. Kamu pikir Pak Ghufron akan percaya begitu saja dengan penjelasan aneh kamu tadi?” Daniyal tersenyum sinis.
“Aku ga ngerti ya maksud kamu.”
“Hahh. Masih pura – pura.”
Pak Ghufron yang kembali ke ruang sidang membuat pembicaraan mereka berdua terhenti. Wajah Pak Ghufron kali ini lebih menyeramkan dibandingkan sebelumnya. Dia menatap tajam ke arah Alin lama sebelum berpindah memandang ke arah Daniyal.
“Panggil orang tua kalian kemari sekarang juga!” kata Pak Ghufron geram.
“Tapi, Pak-“ Kata Alin dan Daniyal bersamaan.
“Tidak ada tapi. Telepon mereka sekarang dan minta menghadap saya. Masalah ini harus selesai hari ini juga!”