“Aliinnn...” Teriak Kiki dari pintu masuk kelas sambil berlari ke tempat duduk Alin dan memeluk sahabat yang tidak ditemuinya kemarin. Dia begitu saja memeluk Alin dengan erat seolah beberapa tahun tidak bertemu. Alin yang dipeluk hanya meringis kemudian menertawakan tingkah Kiki yang berlebihan.
“Apaan sih, Kiki. Kayak kita sepuluh tahun ga ketemu.” Kata Alin yang hari ini datang lebih dulu dibandingkan Salma dan Kiki.
“Kangen tau. Ga ada kamu hidup kita hampa.” Lagi-lagi Alin tertawa. Sahabatnya satu ini meskipun polos tapi paling perhatian kepada yang lain. Jika salah satu dari mereka bertiga ada yang mengalami masalah pasti Kiki yang paling dulu panik dan menanyakan kondisi. Yah, meskipun tidak jarang dia pula yang paling lama memahami penjelasan.
“Lebay. Salma belum datang, Ki?” tanya Alin
“Belum. Tadi dia kirim pesan katanya mobil dia tiba-tiba mogok, jadi harus berangkat pakai taksi online. Kamu gimana keadaannya? Sakit apa sih, Lin, sampai ga bisa masuk kuliah?” tanya Kiki padahal kemarin Alin sudah mengirimkan pesan mengenai keadaannya.
“Kiki...” ucap Alin penuh penekanan. Sahabatnya satu ini memang menggemaskan sampai sering membuat Alin juga Salma emosi. “Kan kemarin udah aku kasih tau aku kenapa.”
“Eh, udah ya?” Cengir Kiki sambil menggaruk kepalanya yang tertutup rambut lurus sebahu.
“Hhhh, dasar.” Cibir Alin.
“Tapi sekarang kamu kondisi kamu gimana? Udah beneran baik?” Alin mengangguk.
“Udah. Sangat baik malah.” Jawab Alin dengan senyum lebar.
Beberapa menit kemudian terdengar teriakan dari Salma. Dia melakukan hal yang sama persis dengan Kiki tadi. Alin memutar bola mata sambil menghembuskan nafas pelan. Kedua sahabatnya ini ternyata kompak banget.
“Hhhh. Ternyata kamu sama lebay nya sama Kiki.” Kata Alin.
“Ihh, mana ada aku lebay. Lagian aku jangan disamain sama Kiki yah.” Kata Salma dengan wajah kesal. Kiki yang mendengar dan melihat ekspresi Salma jadi ikut kesal.
“Salma ihh, segitunya kamu sama aku.” Kata Kiki memajukan bibir bawahnya. Alin dan Salma tertawa melihat mimik lucu Kiki.
“Udah - udah. Baru juga sehari kita ga ketemu udah heboh. Gimana nanti kalau kita udah pada nikah dan ikut suami masing-masing ya? Ha ha ha.” Canda Alin membuat kedua gadis di sampingnya menoleh seketika. Mereka melongo mendengar ucapan Alin mengenai suami. Sungguh hal yang tidak pernah terpikir sama sekali bagi mereka untuk memilikinya dalam waktu dekat. Rasanya masih banyak hal yang ingin mereka lakukan dan miliki sebelum terikat dalam sebuah pernikahan. Alin tertawa lagi melihat Salma dan Kiki melongo.
“Emang kamu udah mau nikah, Lin?” tanya Kiki dengan polosnya.
“Ya maulah, Ki. Emang ada ya cewek yang ga mau nikah?” Tanya Alin menggoda Kiki.
“Beneran, Lin? Kamu mau nikah sama siapa?” Kiki mencecar lagi.
“Ya sama cowok, Lin. Aku kan masih normal.”
“Iya, tapi siapa orangnya?”
“Ada deh. Mau tau aja kamu.”
“Kamu nyebelin banget sih, Lin. Main rahasia – rahasiaan sama kita. Atau jangan – jangan kemarin yang kamu ga masuk itu karena tunangan ya atau bahkan udah nikahan. Iiihh Alin tega banget ga ngasih tau kita.” Kata – kata Kiki yang panjang dan lebar membuat Alin dan Salma tertawa karena kepolosan gadis itu yang tidak menyadari jika dirinya hanya dikerjai.
“Kalian kok malah ketawa. Apanya yang lucu coba. Kamu juga, Salma. Jangan – jangan kamu juga udah tau kalau Alin nikah tapi ga kasih tau aku?” Kata Kiki kesal.
“Eh, jangan nuduh sembarangan dong, Ki. Aku juga ga tau kapan Alin nikah.” Kata Salma mengelak.
“Udah – udah, Ki. Aku cuma bercanda. Mana mungkin aku ga kasih tau kalian kalau aku nikah. Kalian kan sahabat terbaik aku.” Kata Alin kemudian memeluk kedua sahabatnya.
“Lah tadi kamu bilang?” Kiki masih juga tidak puas dengan jawaban Alin.
“Iya bener aku mau nikah, tapi ga sekarang. Nanti kalau udah ketemu pangeran tampan dan kaya yang melamar aku, baru aku menikah. Ha ha ha.” Kata Alin menjelaskan.
“Huhh dasar kamu, Lin.” Kata Kiki membuat Salma dan Alin menertwakannya lagi.
Pembicaraan mereka harus terhenti karena kuliah sudah dimulai. Hari ini pun sepertinya Daniyal tidak ada lagi di kelas. Alin dan kawan-kawan masih belum menemukan alasannya hingga hari ini.
“Eh, Lin. Aku baru dapat informasi tentang Square Man kamu.” Kata Salma saat mereka beres-beres buku dan alat tulis selesai kuliah sore ini.
“Huu, enak aja Square Man ku.” Kata Alin sambil memukulkan bolpoin yang masih dipegangnya ke kepala Salma. “Informasi apaan emang?”
“Mau tau aja apa mau tau banget nih?” goda Salma.
“Udah deh, ga pake lama. Langsung cerita.” Alin melotot mengancam Salma. Tetapi yang diancam justru tertawa.
“Serem amat. Kemarin sih aku denger dia ngobrol sama Hania katanya semester ini dia cuma ambil tiga mata kuliah selain skripsi karena mata kuliah lain udah dia ambil di semester-semester kemarin. Makanya waktu jam pagi hari senin kemarin kita ga liat dia di kelas. Kayaknya ini semester terkhirnya deh.” Akhirnya Salma menjelaskan kepada Alin.
“Oh, gitu.” kata Alin datar memasang ekspresi tidak peduli. Akan tetapi hatinya berkata lain. Dirinya tidak rela jika Daniyal keluar dari kampus ini dengan membawa ijazah S1. Dia harus bertindak cepat agar misinya kali ini berhasil.
“Kok cuma gitu aja tanggapannya.” Tanya Salma heran karena ternyata tanggapan Alin di luar ekspektasinya.
“Lah, emang harus gimana? Bahagia? Atau sedih?”
“Kamu sedih lagi, Lin? Ada masalah apa?” Kiki ikut bersuara. Salma dan Alin refleks menoleh kemudian tertawa bersamaan. “Kalian kok malah ketawa? Katanya tadi Alin sedih?” tanya Kiki polos.
“Iya, Kiki sayang. Aku emang sedih banget kemarin. Tapi hari ini udah ga lagi, apalagi setelah ngobrol sama kalian. Yuk ah kita nongkrong bentar di tempat biasa. Anggap aja sebagai permitaan maaf karena aku ga jadi traktir kalian belanja.” Kata Alin sambil beranjak dari tempat duduknya.
“Siap, Alin, sayang.” Kata Kiki penuh semangat dan bergegas mengikuti Alin.
“Kalau urusan beginian aja nyambung banget kamu, Ki.” Salma menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Kiki. Ia pun ikut menyusul kedua sahabatnya itu.
“Emmm, sebenernya selain sebagai bentuk permintaan maaf aku juga mau minta tolong sih ke kalian berdua.” Kata Alin setelah mereka bertiga sampai di tempat mereka biasa menghabiskan waktu bersama setelah kuliah.
“Mau minta tolong apa sih, Lin? Kayak ke siapa aja sih kamu, mau minta tolong aja pakai segala traktir kayak gini? Kita kan jadi seneng. Hahaha.” Goda Salma sambil menyerahkan buku menu kepada pelayan yang sudah selesai mencatat pesanan mereka.
“Itulah makanya, biar kalian nolongnya ikhlas jadi aku traktir dulu.” Alin pun menanggapi candaan Salma.
“Mau minta tolong apa, Lin? Kita pasti siap bantu kata Kiki meyakinkan Alin jika berdua bisa diandalkan.
“Thanks ya, Sal, Ki. Aku mau minta tolong carikan informasi ruangan di kampus yang memenuhi syarat ini.” Kata Alin kemudian menyebutkan syarat dari tempat yang ia butuhkan.
“Buat apaan emang, Lin?” tanya Salma penasaran.
“Buat menyelesaikan misi.” Kata Alin dengan senyumnya yang terlihat menyembunyikan makna menakutkan.
“Caranya gimana?” tanya Salma lagi masih penasaran.
“Caranya adalah... Kapan-kapan aja ya aku cerita. Sekarang kita makan dulu.” Kata Alin saat semua pesanan mereka sudah siap di meja.
“Dasar nyebelin.” Cibir Salma membuat Alin tertawa bahagia.