Tok tok tok
“Lin, Alin.” Meilani mengetuk pintu kamar Alin. Tidak biasanya Alin masih berada di kamar jam segini. Biasanya gadis itu sudah berangkat ke kampus pukul delapan pagi. Namun hingga jam sembilan Alin belum juga turun dan membuat ibunya khawatir.
“Ya, Mes?” Jawab Alin dengan suara serak.
“Kamu ga kuliah, Lin?” tanya Meilani masih dari luar kamar karena Alin tidak juga membuka pintu kamar yang saat ini terkunci.
“Ga, Mes. Alin pusing.” Jawab Alin.
“Kamu sakit? Buka dong pintunya. Masa emes dibiarin ngomong sambil berdiri di luar kayak gini?” Selama beberapa detik tidak ada jawaban dari Alin namun beberapa saat kemudian terdengar suara anak kunci yang sedang diputar dan pintu terbuka. Setelah membuka pintu Alin berbalik dan berjalan kembali menuju tempat tidurnya dengan langkah gontai. Meilani mengikuti Alin yang kembali merebahkan diri di kasur kesayangannya kemudian duduk di sampingnya. Wanita paruh baya itu menyentuhkan punggung tangannya di kening Alin, meraba sejenak untuk mengecek suhu tubuh putri tersayangnya itu.
“Ga panas. Kamu kenapa sebenarnya? Ada masalah? Coba cerita ke Emes?” Meilani hapal betul jika melihat kondisi Alin sekarang pasti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Mengunci pintu kamar, rambut acak-acakan, mengurung diri di bawah selimut dan bermalas-malasan. Seperti biasa Alin hanya akan menggeleng atau mengangguk jika ibunya menginterogasi.
Meilani mengusap lembut kepala Alin dengan penuh kasih sayang. Dia sadar putri kecilnya itu sudah dewasa yang kadang lebih memilih menceritakan masalahnya kepada sahabat ketimbang ibunya. Mungkin ini disebabkan karena separuh kromosom Alin berasal darinya sehingga diantara mereka bisa muncul kesamaan yang justru dapat membuat mereka saling bertolak belakang seperti dua kutub magnet sejenis. Bisa juga terkadang sebagai seorang ibu dia merasa jauh lebih berpengalaman dan lebih banyak mengetahui sesuatu dari Alin sehingga kadang dia cepat menyampaikan pendapat sebelum Alin selesai menceritakan masalahnya. Inilah yang menyebabkan beberapa kali mereka justru berdebat ketika Alin menceritakan masalah dan berharap mendapat solusi. Sehingga sekarang Alin lebih menyaring masalah apa saja yang bisa dia ceritakan ke Meilani dan mana yang tidak.
“Masalah di kampus ya? Sama temen? Atau sama dosen?” tanya Meilani lagi. Dan lagi-lagi Alin menggeleng. “Ya udah kalau belum mau cerita ke Emes. Emes tunggu sampai kamu siap cerita.” Kata Meilani masih dengan mengusap kepala Alin. Belaian yang diberikan Meilani lama-lama membuat Alin terbuai dan menimbulkan rasa nyaman.
“Alin cuma capek kuliah, Mes. Hari ini pingin istirahat dulu biar besok bisa fresh lagi.” Kata Alin sambil tersenyum meskipun matanya memandang dengan sayu. Meilani pun ikut tersenyum lega meskipun dalam hati meragukan alasan Alin tidak masuk kuliah karena ini baru hari kedua gadisnya masuk kuliah setelah libur semester. Apalagi kemarin Alin sangat bersemangat saat berangkat kuliah, jadi aneh rasanya kalau hari ini sudah mengeluh capek.
“Iyalah hari ini istirahat dulu kuliahnya biar besok semangat lagi. Sekarang kamu mandi terus sarapan dulu ya biar seger badannya. Emes turun dulu ya.” Meilani tak ingin lagi memaksa Alin untuk bercerita. Dia ikuti saja keinginan Alin untuk tidak masuk kuliah hari ini. Meilani yakin putrinya bisa dipercaya. Meskipun gadis itu sering semaunya sendiri tetapi untuk urusan pendidikan dia sangat bertanggung jawab. Meilani kemudian meninggalkan kamar Alin untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Sedangkan Alin masih dengan sisa rasa malasnya beranjak ke kamar mandi mengikuti saran ibunya.
Setelah sarapan Alin kembali ke kamar lagi untuk melanjutkan rencananya bermalas-malasan sepanjang hari ini. Kejadian kemarin dimana dia mengetahui jika Daniyal masih bisa melanjutkan kuliah membuat moodnya sangat anjlok. Semangat menjalani kuliah hilang begitu saja mendapati rencananya tidak berhasil lagi. Alin manjatuhkan lagi tubuhnya ke kasur yang masih berantakan karena memang tidak ingin dia rapikan. Matanya memandang langit – langit kamarnya sambil berpikir kenapa Daniyal masih bisa melanjutkan kuliah.
“Apa jangan – jangan dia beneran dapat beasiswa seperti kata Pak Ghufron. Kalau bener, berarti satu tahun ke depan anak itu kemungkinan masih bisa bayar kuliah.” Alin bermonolog.
“Aaahhhhh. Keseelllllll.” Kata Alin sambil mengacak – acak rambut yang sebelumnya sudah dia sisir dengan rapi. “Kok bisa dia selalu beruntung kayak gini. Punya jampi – jampi apa dia sampai bisa bikin rencanaku selalu gagal.” Ketidaksukaan Alin sepertinya sudah berubah menjadi obsesi. Padahal sudah jelas jika apa yang dilakukannya pada Daniyal tidak hanya menyakiti Daniyal tetapi juga membuat dirinya sendiri tersiksa hanya karena melihat pria itu bahagia.
“Mau pakai cara gimana lagi ya bikin dia pergi. Mana si Hania juga jadi berani lagi sama aku. Kayaknya dia juga perlu dikasih pelajaran juga. Tapi gimanaaa????” Alin semakin kesal.
Untuk mengalihkan pikirannya sejenak ia membuka ponsel untuk mengecek pesan masuk. Ternyata ada beberapa pesan pribadi dari Salma dan Kiki yang menanyakan keberadaannya. Sejak pulang dari kampus kemarin suasana hati Alin memang memburuk. Setelah makan malam, Alin memilih untuk langsung tidur tanpa menghiraukan apapun termasuk ponselnya. Hingga tadi pagi dia bangun pun Alin tidak ingat untuk menghubungi kedua sahabatnya terkait kealpaannya kuliah. Jadi wajar jika Salma dan Kiki tidak menemukan Alin di kampus hingga siang ini. Setelah membalas pesan dari kedua sahabatnya itu, Alin kemudian membuka pesan dari grup kelasnya untuk mengecek siapa tahu ada tugas yang perlu dikerjakan.
Beberapa menit menyusuri pesan yang sudah mencapai lima ratusan chat sejak ia tinggalkan ponselnya semalam hanya ada informasi tentang pembagian dosen pembimbing skripsi untuk beberapa mahasiswa yang mencantumkan mata kuliah tersebut di kartu rencana studi semester ini. Nama Alin tercantum di lembar file informasi tersebut. Dengan malas gadis itu kemudian membuka website resmi universitas untuk mempelajari lebih lanjut aturan pengerjaan skripsi yang benar. Dia ragu jika bisa menyelesaikan skripsi tepat waktu jika moodnya tidak segera membaik. Tapi dia mengingatkan diri sendiri untuk bisa lulus tepat waktu. Dia pasti tidak ingin mempermalukan diri dengan lulus sarjana lebih dari delapan semester. Apalagi selama ini dia juga sudah sekuat tenaga dan pikiran agar bisa mempertahankan predikat cumlaude.
Saat berselancar mencari informasi itu mata Alin melihat tulisan peraturan akademik kampus. Di dalam informasi tersebut tertulis aturan yang harus dipatuhi dan larangan yang harus dihindari beserta sanksi jika terjadi pelanggaran. Ibu jari Alin iseng menekan pilihan itu karena selama dia kuliah di sini dirinya tidak benar-benar tahu seluruh peraturan yang harus dipatuhi mahasiswa.
Mata Alin seketika berbinar membaca sebuah poin yang selama ini dia tahu tetapi tidak pernah berpikir jika akan sangat berguna baginya saat ini. Senyum Alin tersungging saat ada ide cemerlang terlintas di pikirannya.
“Kenapa ga pernah kepikiran sebelumnya ya?” Kata Alin bermonolog. “Kalau aku ga bisa bikin dia keluar kenapa ga aku coba bikin dia dikeluarkan? Hahaha. Bahkan rencanaku kali ini tidak hanya bikin Square Man dikeluakan tapi juga sekaligus si Hania. Aihhh, pinter banget sih kamu, Lin?” kata Alin tertawa karena memuji diri sendiri.
Alin kemudian membuka laptopnya untuk berselancar mencari informasi yang bisa mendukung keberhasilan ide cemerlangnya.
“Emmm, kayaknya bisa kayak gini.”
“Eh kalau gini sebaiknya pakai apa ya?”
“Misal pakai aman ga ya?”
“Oke, deh kayaknya nanti mau aku buat seperti ini. Kira – kira siapa aja ya yang nanti bisa bantu?”
Hingga beberapa jam dia mencari dan akhirnya tersusunlah sebuah rencana yang dia yakin pasti kali ini akan membuat Daniyal dan Hania dikeluarkan dari kampus. Alin tersenyum puas dengan ide cemerlangnya.
“Selamat tinggal Square Man.”