Hari ini rasanya jadi salah satu hari paling bahagia bagi Alin selain hari ulang tahunnya. Hari pertama di semester baru ini sepertinya dia akan merasakan hasil kemenangan dari perjuangannya selama ini. Dia yakin tidak akan bertemu dengan Daniyal mulai hari ini. Entah laki-laki itu mengambil cuti atau langsung drop out karena apa yang Alin lakukan terakhir kali akan membuatnya tidak mampu membayar biaya kuliah.
Sepanjang perjalanan menuju ke kelas terlihat wajah Alin sangat ceria. Hampir setiap mahasiswa yang ia temui mendapat senyum manisnya. Ketika jam kuliah pertama dimulai pun masih tidak ada tanda-tanda keberadaan Daniyal di kelas. Hanya terlihat Hania yang duduk di deretan kursi paling belakang. Kebahagiaan Alin semakin membuncah karena apa yang ia pikirkan sejak tadi sudah terbukti.
“Sal, Ki. Nanti pulang kuliah aku traktir shopping ya.” Bisik Alin kepada kedua sahabatnya karena saat ini masih ada dosen di kelasnya.
“Yeyyy, dalam rangka apa nih?” tanya Salma ikut berbisik.
“Ada deh. Nanti aku ceritain.” Jawab Alin
“Asiik, kebetulan banget ada yang pingin banget aku beli.” Timpal Kiki
“Apa aja yang kalian mau belanja aja. Yang penting bisa memenuhi syarat.”
“Syarat apaan?” Tanya Kiki
“Belanjanya dikit aja, hihihi.”
“Siip, cuma satu aja kok tapi harganya lumayan.” Lanjut Kiki.
“He eh. Aku juga paling satu aja tapi berharga. Hihihi.” Kata Salma
“Kalian bertiga, kalau masih mau bergosip silahkan di luar saja. jangan mengganggu teman-teman kalian yang sungguh-sungguh belajar.” Tegur Pak Ali, dosen mereka hari ini, menyebabkan semua mata tertuju kepada tiga orang mahasiswi yang duduk di deretan tengah itu. Meskipun hanya sekedar berbisik tetapi karena mereka lakukan terus-menerus membuat suara mereka sampai hingga ke indra pendengar Pak Ali. Alin, Salma dan Kiki yang merasa sebagai mahasiswa siswa yang dimaksud Pak Ali terkejut dan segera meminta maaf.
“Maaf Pak.” Kata Alin mewakili.
Pak Ali hanya menghembuskan nafas keras dan menggelengkan kepala karena tingkah Alin dan kedua sahabatnya itu. Beliau kemudian melanjutkan kegiatan kuliah yang sempat terjeda.
Alin menjalani kuliah hari ini dengan bersemangat. Bahkan beberapa orang mahasiswa di kantin yang dia kenal ditraktir makan siang sebagai bentuk ungkapan rasa bahagia.
“Lin, thanks ya traktirannya. Besok lagi, hahaha. Kita duluan ya.” Kata Aldi yang menjadi salah satu mahasiswa beruntung siang ini. Dia dan enam orang mahasiswa lain yang bernasib sama mengucapkan terima kasih dan berpamitan karena Alin terlihat masih ingin berlama-lama di kantin bersama Salma dan Kiki.
“You’re welcome. Sip, doain aku selalu bahagia biar sering-sering pingin traktir kalian. Hahaha.” Kata Alin yang dijawab dua jempol oleh Aldi dan kawan-kawan.
“Lin, cerita dong. Apa yang bikin kamu bahagia?” tanya Salma yang sedari tadi menahan rasa penasarannya.
“Iya, Lin. Kayaknya habis dapat sesuatu yang istimewa. Ebes dapat proyek besar ya?” Tebak Kiki.
“Hahaha. Aku mana pernah tau urusan pekerjaan ebes, Ki.” Kata Alin menjawab tebakan Kiki. “Emmm, gini. Kalian hari lihat si Square Man ga?”
“Square Man?” Tanya Salma dan Kiki saling berpandangan. Mereka berdua baru mendengar nama itu hari ini dari Alin.
“Square Man siapa, Lin? Superhero baru?” tanya Kiki dengan wajah polos dan kebingungan. Ekspresi itu membuat Alin tak bisa menahan tawanya.
“Biasa aja kali, Ki, wajahnya. Ga usah bingung banget kayak gitu. Hihihi.” Kata Alin sambil menowel pipi Kiki. Kiki hanya cemberut menanggapi sikap Alin.”Square Man itu ya Daniyal. Mahasiswa teman sekelas kita yang tiap hari pakai kemeja kotak-kotak.” Kata Alin menjelaskan dengan detail siapa yang dia maksud beserta ciri-cirinya. Meskipun jika Alin menyebutkan namanya saja sudah pasti Salma dan Kiki tahu.
“Oooo. Hahaha.” Seru Salma dan Kiki bersamaan. Mereka tertawa karena sebutan yang Alin sematkan kepada Daniyal.
“Bisa-bisanya kamu panggil dia Square Man? Udah punya panggilan sayang aja nih.” Goda Salma di sela tawanya.
“Yeee, panggilan sayang apaan?” Kata Alin sambil menoyor kepala Salma pelan.
“Eh iya lho. Ga ada liat aku dari tadi. Sakit mungkin ya? Eh tapi kayaknya dia punya body yang selalu sehat. Apa dia ada keperluan ya? Atau tidak ada keterangan?” kata Kiki dengan khas wajah polosnya.
“Jangan-jangan ....” Tebak Salma ketika satu kemungkinan muncul di benaknya. Alin hanya tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala.
“Yup, misi berhasil.” Kata Alin menjentikkan jarinya. Senyum kemenangan tak pernah lepas dari wajah cantiknya.
“Misi apaan sih?” tanya Kiki bingung. Alin dan Salma hanya tertawa mendengar kepolosan Kiki. Bagaimana tidak lucu jika Kiki bertanya sesuatu yang sudah pernah mereka bahas dengan detail sebelumnya.
“Misi....Misi, Om.” Goda Alin lagi membuat Kiki cemberut karena merasa jadi bahan lelucon.
“Kalian nyebelin tau ga.” Kata Kiki kesal sambil memalingkan wajah dari kedua sahabatnya.
“Udah jangan ngambek. Ntar pipi kamu makin tembem kayak bakpao mau? Yuk ah ke kelas, udah mau masuk nih.”Kata Alin sambil melihat jam di pergelangan tangan kirinya. Mereka bertiga kemudian beranjak dari kursi masing-masing menuju lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai delapan tempat kelas kuliah selanjutnya berada.
Keluar dari lift di lantai delapan Alin dan kedua sahabatnya berbincang dengan semangat membicarakan rencana belanja mereka nantinya. Salma dan Kiki sudah mengutarakan barang apa yang ingin dibeli. Alin tidak masalah meskipun apa yang sahabatnya inginkan itu nominalnya enam digit karena dia sedang sangat bahagia. Lagipula uang jajan yang ayahnya berikan kepada Alin setiap minggunya senilai sebuah motor matic baru.
Saat baru masuk beberapa langkah ke dalam kelas kaki Alin terhenti. Dirinya terpaku melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Tiba-tiba keringat dingin bermunculan, suhu tubuhnya pun menjadi turun disertai wajah yang memucat. Salma yang melihat Alin tiba-tiba berhenti pun bertanya-tanya.
“Ada apa, Lin?” tanya Salma. Beberapa detik tidak ada jawaban dari mulut Alin. Salma juga mulai menyadari kondisi Alin yang terlihat shock seperti melihat sesuatu yang menyeramkan pun mengalihkan pandangan ke arah pandang Alin. Seketika dirinya ikut terkejut melihat apa yang dilihat Alin. pantas saja jika Alin menjadi seperti itu.
“Lin, Alin.” Kata Salma sambil menggoyangkan pundak Alin untuk menyadarkannya. Dua menit kemudian Alin baru tersadar dan menolehkan kepala ke arah Salma namun dengan pandangan kosong.
“Sal, itu...” Kata Alin lemah. Tangan kanannya menunjuk ke arah yang sejak tadi menjadi fokusnya. Salma mengangguk mengerti maksud Alin. Dia kemudian memberi tanda dengan gerakan kepala kepada Kiki untuk menuntun Alin menuju tempat duduk. Kiki yang awalnya bingung mengikuti saja arahan dari Salma.
“Alin...” panggil Salma ketika mereka bertiga sudah duduk. Posisi Alin berada diantara Salma dan Kiki. Salma yang sudah sangat mengenal Alin mengerti apa yang terjadi pada gadis itu saat ini. Meskipun Alin adalah gadis yang selalu ceria dan ambisius tetap saja memiliki sisi kelemahan. Ketika gadis itu menemui hal yang sangat mengejutkan dia akan mengalami shock pada sistem saraf pusat sehingga sejenak akan mengalami kelemahan ingatan sementara. Hal inilah menyebabkan pikirannya kosong sehingga tubuhnya seketika tidak bergerak atau bergerak mengikuti instruksi pertama yang masuk ke telinganya.
Panggilan ketiga dari Salma menyadarkan Alin dan mengembalikan kepada dirinya yang sebenarnya. Salma dan Kiki pun lega ketika Alin sudah berbicara seperti biasa.
“Kok bisa ya dia ada disini?” tanya Alin kemudian.”Tadi pagi dia beneran ga ada kan, Sal, Ki?”
“Iya, Lin. Aku juga yakin banget tadi dia ga ada ikut di kelas kita.” Kata Salma meyakinkan dirinya sendiri dan kedua sahabat yang duduk di sebelah kanannya.
“Iya, aku juga yakin.” Kiki ikut bersuara.
“Kita harus segera cari tau.” Kata Alin mengakhiri pembicaraan mereka karena dosen pengampu mata kuliah siang ini sudah hadir di kelas. Alin yang tadi pagi hingga siang sangat bersemangat mengikuti kuliah menjadi tidak fokus lagi menjalani sisa jam pembelajaran hari ini. Berbagai pikiran berkecamuk menganggu konsentrasinya.
Selepas kuliah berakhir Alin yang sudah tidak sabar segera menghampiri seseorang yang sejak tadi siang mengalihkan seluruh perhatiannya. Ketika dirasa kelas mulai sepi gadis itu segera mengeluarkan uneg-unegnya
“Hei, kenapa kamu ada di sini? Bukannya uang kuliah kamu udah kepake ya?” tanya Alin to the point. Seseorang yang merasa ditanya oleh Alin itu menoleh dan memandang Alin dengan tatapan dingin.
“Betul, berkat bantuan kamu kan? Lalu apa masih ada masalah?” Jawab orang itu. Yup, dia adalah Daniyal. Mahasiswa yang Alin sebut sebagai Square Man dan dianggapnya tidak lagi mengikuti kuliah.
“Ya jelas ada masalah dong. Gimana caranya kamu masih bisa lanjut kuliah semester ini? Dapat uang darimana kamu? Maling ya?” tanya Alin tajam. Emosi Daniyal mulai terpancing begitupun Hania yang saat ini berada di samping Daniyal. Namun pemuda itu masih bisa menahannya, berbeda dengan Hania yang kemudian menyanggah Alin.
“Kamu jahat banget sih, Lin!?” kata Hania dengan nada tinggi karena tidak terima dengan tuduhan Alin kepada Daniyal. Gadis itu terlihat akan melanjutkan pembelaannya namun dicegah oleh Daniyal.
“Udah yuk, Han. Ga penting banget kan kita ladeni dia?” Kata Daniyal sambil menarik lengan Hania untuk mengajaknya keluar dari kelas. Namun langkah mereka segera terhenti karena Alin menghadang Daniyal dengan berdiri tepat di depannya.
“Aku belum selesai ngomong. Kamu pasti pakai cara ga bener kan biar dapat uang buat biaya kuliah? Atau jangan-jangan kamu minat uang dari Hania?” Tanya Alin sambil memandang sinis ke arah Hania. Hania membelalakkan mata mendengar ucapan Alin. Dia tidak menyangka Alin bisa berkata yang sangat merendahkan Daniyal. Gadis kemudian menoleh dan meneliti wajah Daniyal untuk melihat ekspresi sahabatnya tersebut. Sayangnya yang dilihat saat ini tetap wajah datar. Padahal Hania sudah berharap Daniyal akan melawan Alin dan mengatakan yang sebenarnya.
“Sepenting itukah aku buat kamu sampai-sampai kamu perhatian banget sama kelanjutan kuliahku?” Tanya Daniyal datar namun mampu membuat Alin semakin emosi.
“Kamu-“ Alin tak melanjutkan kata-katanya karena kemarahan yang menguasainya seolah membuat otaknya menjadi tidak bekerja.
“Kenapa?” tanya Daniyal lagi. Dia akhirnya melanjutkan niat keluar dari kelas karena Alin tak juga menjawab pertanyaannya. Hania mengikuti Daniyal dengan sekilas melayangkan pandangan marah kepada Alin sebelum mengikuti Daniyal.
“Aahhhh, nyebelin!!!!” Teriak Alin. Seketika moodnya anjlok. Salma dan Kiki yang sedari tadi melihat interaksi Alin dan Daniyal sejak tadi pun menghampirinya.
“Tenang ya, Lin. Nanti kita cari cara lagi.” Kata Salma berusaha menenangkan Alin. Gadis itu hanya mendengarkan tanpa berniat merespon.
“Cara apa, Sal?” tanya Kiki
“Ada deh, Ki. Kamu itu, pelupa sama lemotnya dikurangin dikit kenapa? Kamu ga liat ini Alin lagi emosi? Bukannya dihibur malah tanya sesuatu yang udah pernah kita bahas sebelumnya.” Salma kesal juga dengan sikap Kiki yang seringkali terlalu polos.
“Iya, maaf. Ya udah kita berangkat sekarang aja ya kalau gitu. Biar Alin juga terhibur.” Kata Kiki kemudian.
“Berangkat kemana?” tanya Salma.
“Nah kan, gantian kamu yang sekarang pelupa.” Kata Kiki membalas Salma. ”Kan tadi pagi Alin udah bilang kalau mau traktir kita belanja.”
“Kiikkiii.” Kata Salma geram. Bisa-bisanya sahabatnya yang satu ini masih terpikir masalah itu dalam kondisi seperti ini.
“Udah, udah. Jangan ribut terus bikin tambah pusing aja. Aku mau langsung pulang aja. Belanjanya batal!!!” kata Alin sedikit berteriak. Kekesalannya bertambah mendengar Salma dan Kiki berdebat.
“Ya udah. Kita antar ya, Lin.” tawar Salma. Alin mengangguk menerima niat baiknya.
“Loh, Lin-“ Kiki belum bisa menerima pembatalan rencana mereka. Dia terlanjur bahagia akan mendapatkan apa dia idam-idamkan.
“Ssst, udah, Ki. Ayok.” Salma segera menghentikan Kiki sebelum dia membuat Alin semakin emosi.
Mereka bertiga akhirnya memutuskan pulang karena kebahagiaan yang mereka rasakan ternyata semu.