Semisal ada seseorang yang memiliki dua buah permen di saku bajunya. Satu permen sudah tidak berbungkus dan satu permen lagi masih terbungkus rapi. Dia ingin memberikan salah satu permen tersebut kepadamu, kira-kira permen mana yang kamu pilih?
Sebagian besar atau bahkan mungkin semua orang akan memilih permen yang masih berbungkus. Kenapa? Bukannya lebih baik yang sudah tidak terbungkus jadi tinggal makan? Apalagi bungkus dari permen yang akan kita makan pasti akhirnya dibuang kan?
Itulah kita. Kita sebenarnya mau isi dari permen itu, tidak mau bungkusnya. Tapi kalau tidak ada bungkusnya juga tidak mau terima. Ketika menerima paket kiriman juga begitu, isinya dibungkus rapi degan kardus yang rapat. Kalau tidak ada bungkusnya kita malah protes ke pengirimnya. Ketika menerima hadiah di hari spesial kita, jika ada yang berikan tanpa bungkus kado, sahabat yang berikan hadiah itu malah minta maaf, “Maaf ya gak dibungkus, gak sempet...” kata sahabat kita.
Begitu juga Allah. Dia yang Maha Pemberi Rezeki dengan cara yang selama ini tidak kita ketahui, makanya menjadi rahasia bagi banyak orang. Allah berikan rezeki dengan membungkusnya rapat-rapat dengan sesuatu yang malah tidak kita butuhkan. Tidak kita suka.
Apa yang tidak kita sukai itu? Dialah masalah kehidupan kita. Cobaan-cobaan yang kita tidak suka. Padahal dibalik hal yang tidak kita sukai itu, Allah menyimpan rezeki-Nya yang sangat indah. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi SAW:
Man yuridillahu bihi khoiron yushib minhu – Sesiapa yang ingin diberikan kebaikan oleh Allah, akan diberi musibah terlebih dahulu. (HR Bukhari Muslim).
Daniyal mengingat salah satu isi dari buku “Rahasia Magnet Rezeki” karya Ustadz Nasrullah yang pernah dibacanya. Sepertinya itulah yang sedang dialaminya saat ini. Senyum kelegaan dan penuh syukur ia sunggingkan mengingat apa yang terjadi beberapa minggu ini.
Saat itu setelah menghadap Pak Ghofur karena masalahnya dengan Alin, malam harinya Daniyal mengecek website universitas sesuai saran Pak Ghofur. Dia mencari informasi penerima beasiswa setelah pulang bekerja di tempat bimbingan belajar. Hampir setengah jam lamanya dia meneliti nama-nama mahasiswa penerima beasiswa tahun ini. Rasa bahagia luar biasa dia rasakan ketika namanya ada diantara ratusan mahasiswa penerima beasiswa. Dengan segera dia melakukan sujud syukur atas rezeki tak terduga yang selama ini hampir tidak pernah diharapkan karena pengajuannya dua tahun lalu tidak berhasil.
“Sebentar, apa mungkin dua tahun lalu aku juga dapat ya?” tiba-tiba pemikiran itu terlintas di benak Daniyal mengingat dirinya tidak pernah melakukan pengecekan informasi ini di website universitas. Akhirnya dia berselancar lagi mencari informasi penerima beasiswa dimulai tahun pengajuannya.
“Alhamdulillah.” Daniyal mengusap wajahnya bersyukur atas kenikmatan besar yang diterimanya. Semua pengajuannya selama ini ternyata lolos. Akan tetapi beasiswa dua tahun lalu akan segera hangus jika tidak dikonfirmasi dalam waktu tiga hari ke depan.
Tak ingin menyia-nyiakan apa yang telah dikaruniakan kepadanya Daniyal segera mengkonfirmasi pengambilan beasiswa esok harinya. Selepas kuliah Daniyal segera menuju gedung rektorat tepatnya ke divisi keuangan untuk mengajukan proses pencairan beasiswa. Namun karena ada dua beasiswa Daniyal yang terlalu lama tidak dicairkan, dia diminta untuk mengumpulkan beberapa berkas yang harus dikumpulkan dalam waktu dua hari.
Meskipun seperti dikejar waktu Daniyal tidak akan mengeluh ataupun menyerah. Apa yang perlu diusahakan tidak sebanding dengan apa yang akan dia dapatkan. Jadi rasanya pengorbanan yang dilakukan terlalu kecil dibandingkan kebahagiaan yang akan dia dapatkan.
Akhirnya setelah perjuangan kesana kemari mengumpulkan berkas pencairan beasiswa Daniyal bisa mengumpulkannya di jam terakhir batas waktu pengumpulan. Dan benar saja jika apa yang dia usahakan itu membuahkan hasil karena tujuh hari kemudian besiswanya tiga tahun ini sudah masuk rekening.
“Kayak ada yang bahagia nih. Seminggu ini selalu menghilang habis kuliah ngapain aja? Punya gebetan ya?” tanya Hania yang baru hari ini bisa menyapa Daniyal karena beberapa hari terakhir memang Daniyal selalu datang mendekati jam masuk dan langsung pulang setelah kelas berakhir. Mereka berdua hanya berkomunikasi lewat pesan dari aplikasi chatting di ponsel mereka.
“Hahaha, udah ga usah cemburu. Aku cuma padamu kok.” Jawab Daniyal bercanda.
“Elehh gombal. Mana ada cuma padaku tapi aku ga dikasih cerita tentang kamu.” Cibir Hania.
“Hahaha. Nanti pulang kuliah aku traktir sambil cerita ya.”
“Beneran ya, tapi aku ga mau ditraktir bakso lagi ya. Maunya cilok.” Kata Hania menimbulkan tawa bagi keduanya.
“Ssst, berisik!” Kata seseorang yang duduk di belakang mereka. Keduanya menoleh ke belakang untuk mengetahui siapa yang menegur mereka. Ternyata dia adalah Alin yang saat ini memandang mereka dengan tatapan penuh rasa tidak suka. Daniyal dan Hania menolehkan kepala ke depan lagi kemudian menahan tawa mereka. Alin yang melihat itu melalui gestur mereka dari belakang semakin kesak dan benci kepada mereka berdua. Rasanya tidak sabar menunggu sebulan lagi untuk memastikan pemuda di depannya itu keluar dari kampus karena tidak bisa membayar uang kuliah.
‘Sabar, sabar Alin. tinggal tunggu waktu aja sampai cowok ini ga ada lagi di sini.’ Kata Alin dalam hati berusaha menenangkan emosinya. Dirinya sudah sampai merendahkan diri untuk meminta maaf kepada Daniyal di hadapan ketua jurusannya demi melanjutkan misi yang sudah dimulainya tiga tahun lalu. Jadi dia tidak ingin lagi merendahkan diri di hadapan mahasiswa lain karena tidak dapat menahan emosinya.
Sesuai janjinya tadi pagi. Siang ini Daniyal mengajak Hania ke salah satu cafe di dekat kampus. Hanya cafe sederhana memang tetapi lebih mewah dari tempat mereka biasa makan berdua. Bagi Hania tempat seperti sudah biasa dia kunjungi karena dia termasuk anak dari keluarga berada. Meskipun demikian Hania tidak masalah jika teman-temannya mengajak makan di warung pinggir jalan. Gadis itu merasa lebih nyaman berteman dengan orang dari keluarga sederhana dibandingkan membatasi pertemanan dengan yang secara kemampuan ekonomi setara dengan dirinya. Daniyal adalah salah satunya bahkan bisa dibilang satu-satunya di kelasnya saat ini.
“Kenapa kita kesini, Dan?” tanya Hania saat baru saja turun dari motor Daniyal yang saat ini sedang berada di parkiran cafe.
“Sekali-kali aja, Han.” Kata Daniyal memberikan senyum teduh kepada sahabatnya itu. “Udah yuk masuk.”
“Kamu yakin?” Tanya Hania masih belum percaya. Hania masih ingat jelas apa yang menimpa Daniyal beberapa minggu lalu yang menyebabkan pemuda itu sempat tertekan dan bingung karena uang kuliahnya terpakai karena keisengan Alin.
“Seratus persen.” Kata Daniyal meyakinkan. ”Ayo masuk.” Pemuda yang hari ini memakai kemeja kotak-kotak berwarna coklat kombinasi hitam itu pun berjalan mendahului Hania memasuki caffe. Hania yang masih ragu namun penasaran akhirnya mengikuti Daniyal.
Mereka memilih duduk di kursi dekat kaca agar bisa menikmati pemandangan taman yang disajikan di bagian belakang cafe. Saat pelayan menghampiri, mereka memesan makanan dan minuman yang hanya akan ditemui di cafe ini.
“Dan, bisa mulai penjelasan kamu sekarang?” todong Hania ketika pelayan sudah meninggalkan mereka.
“Ga sabar banget ya. Hahaha.” Kata Daniyal
“Udah, ga pake ketawa langsung cerita aja.” Hania tidak ikut tertawa tetapi juga tidak tersinggung karena ditertawakan karena rasa penasarannya sekarang lebih besar dibandingkan perasaan yang lainnya.
“Hmm, mulai deh keponya maksimal.” Daniyal masih berusaha menggoda Hania akan tetapi gadis di depannya justru memasang wajah datar.” Oke, oke aku cerita ya. Aku habis dapat permen dari Allah.”
“Maksudnya?” Hania belum bisa menangkap maksud Daniyal.
Daniyal kemudian menceritakan semuanya mulai dari hari di mana dia dipanggil Pak Ghofar sampai dengan apa yang sudah dia dapatkan hari ini. Cerita Daniyal sempat terjeda ketika pelayan cafe mengantarkan pesanan mereka. Selama Daniyal bercerita Hania fokus mendengarkan dengan sesekali bertanya untuk meyakinkan apa yang dia pikirkan.
“Jadi gitu, Han. Makanya hari ini aku ngajak kamu ke tmapat yang agak spesial kayak gini karena kenikmatan yang baru aku dapatkan juga istimewa. Yah, bisa dibilang ini bentuk syukur aku dan juga rasa terima kasih karena kamu adalah sahabat terbaik yang selalu memahami kondisiku selama ini. Kamu juga yang tetap selalu percaya dan support saat Alin berusaha menjatuhkan aku.” Hania berkaca-kaca mendengar kalimat penutup cerita Daniyal. Dia terharu dengan ucapan terima kasih dari pemuda itu.
“Loh kenapa nangis, Lin?” Daniya panik melihat Hania yang meneteskan air mata. Dia khawatir apa yang diucapkannya menyakiti Hania.
“Aku terharu.” Kata Hania dengan nada manja membuat hati Daniyal berdesir. Dia tidak memungkiri jika memiliki perasaan lebih kepada gadis cantik yang sejak awal dengan rendah hati bersedia menjadi sahabatnya. Namun Daniyal sadar siapa dirinya apalagi setelah tahu Hania sudah memiliki seseorang yang didamba meskipun belum bisa dimiliki. Dan Daniyal tahu betul siapa orangnya. Oleh karena itu Daniyal sebisa mungkin tidak memupuk perasaannya dengan berharap yang berlebihan atas perasaan Hania kepadanya.
“Terharu kenapa? Emang kata-kataku seindah itu ya sampai bisa bikin kamu terharu. Belum juga aku nulis puisi cinta buat kamu. Hahaha.” Kata Daniyal berusaha menetralkan lagi perasaannya.
“Kamu tuh ya. Apapun itu aku ikut seneng, Dan. Kamu memang layak dapat permen yang manis.”
“Amin. Aku juga kayaknya harus bilang terima kasih ke Alin karena udah bungkus permen aku sama ide-idenya.”
“Eh, iya bener-bener. Asalkan kamu siap dapat cabe atau pelototan dia kayak tadi pagi. Hehehe.” Mereka berdua tertawa mengingat kejadian di kelas tadi pagi. Perbincangan mereka berdua kemudian diakhiri dengan kegiatan menghabiskan sajian yang sudah hampir dingin di depan mereka. Tiga puluh menit kemudian mereka memilih mengakhiri acara syukuran Daniyal hari ini. Pemuda itu kemudian menunggu sampai taksi online yang dipesan datang karena dia tidak bisa mengantarnya sampai rumah hari ini. Daniyal ada jadwal mengajar sore di tempat bimbingan belajar.
Setelah kepergian taksi yang membawa Hania, Daniyal pun segera meluncur meninggalkan cafe menuju ke tempat kos untuk mandi dan ganti baju. Selama perjalanan hati Daniyal tak hentinya bersyukur atas manisnya ‘permen’ yang sedang dinikmatinya saat ini.