“Kamu –“ Daniyal melayangkan tinjunya ke dinding di belakang Alin karena sangat marah hingga menyebabkan posisi wajah mereka berdua sangat dekat saat ini. Jika dilihat dari jauh mereka terlihat seperti orang yang hendak berciuman.
“Hei! Apa yang kalian berdua lakukan di sana?!” mereka berdua dengan cepat menoleh ke sumber suara. Keduanya terkejut melihat siapa orang yang baru saja menegur mereka, Ghufron, ketua jurusan mereka. Di sekeliling Ghufron ternyata sudah berdiri beberapa mahasiswa yang juga fokus ke arah mereka. Mahasiswa – mahasiwa itu penasaran ketika melihat orang nomor satu di jurusan itu keluar tergesa – gesa dari ruangannya. Ternyata Salma dan Kiki melapor kepadanya selepas Daniyal membawa Alin secara paksa.
Daniyal segera menurunkan tangannya yang sejak tadi mengepal dan menempel di dinding belakang Alin. Baik Alin maupun Daniyal kemudian memutar tubuh agar bisa menghadap ke arah Ghufron dengan sempurna.
“Apa yang kalian berdua lakukan di sini?” Pak Ghufron mengulangi pertanyaannya dengan nada yang lebih lunak karena posisi mereka yang sudah lebih dekat. Namun dua mahasiswa yang saat ini sedang menjadi pusat perhatian itu terlihat gugup dan tidak segera menjawab pertanyaannya. Tiba-tiba terdengar Alin terisak.
“Hiks... hiks. Dia ... dia mau melecehkan saya.” Kata Alin dengan menundukkan kepala. Wajah terkejut tampak dari semua yang berada di sana tak terkecuali Daniyal. Kedua tangannya terkepal menahan amarah. Terdengar pula gumaman dari mahasiswa – mahasiswa yang berada di sekeliling Ghufron. Ada yang mencibir Daniyal tetapi ada pula yang tidak percaya jika pemuda itu melakukan hal itu. Pasalnya selama ini mereka mengenal Daniyal bukan mahasiswa mata keranjang.
“Apa?! Betul itu? emm siapa nama kamu?” tanya Ghufron dengan nada tidak suka.
“Saya Daniyal, Pak. Saya tidak melakukan apa yang Alin tuduhkan dan saya yakin Bapak sangat bijaksana sehingga tidak akan mengambil keputusan tanpa menerima penjelasan atau bukti yang kuat.” Kata Daniyal dengan penuh hormat berharap ketua jurusannya itu bersedia menerima penjelasannya.
“Baiklah, kalian berdua ikut saya. Kita bicarakan di kantor saya.” Kata Ghufron kemudian diikuti oleh Alin dan Daniyal. Mahasiswa yang tadi berkerumun pun hendak mengikuti mereka ke ruangan Ghufron karena penasaran namun segera dicegah oleh pria berusia lebih dari setengah abad itu.
“Kalian yang tidak berkepentingan silahkan bubar dan kembali ke kelas masing-masing.” Kata Ghufron sebelum pergi menuju ruangannya. Para mahasiswa itu pun menurut dan membubarkan diri meskipun dengan mendengungkan segala ucapan yang ada di pikiran mereka.
“Baik, silahkan siapa dulu yang mau menjelaskan?” Tanya Pak Ghufron ketika mereka bertiga sudah duduk di dalam ruangannya. Alin dan Daniyal duduk bersisian di depan Pak Ghufron.
“Mohon maaf, Pak-“
“Saya saja Pak yang menjelaskan.” Kata Alin memotong ucapan Daniyal yang hendak menjelaskan semuanya. Daniyal menoleh ke arah Alin kesal, tapi dia hanya menghela nafas karena tidak mungkin mereka berdebat di sini. Ghufron mengalihkan pandangan ke arah Alin.
“Baik. Silahkan, Alin.” Kata Ghufron memberi kesempatan. Alin memang termasuk mahasiswa yang aktif di jurusan. Beberapa kali dia diminta dosen untuk menjadi tim dalam penelitian yang mereka lakukan. Selain cerdas, Alin juga mahasiswa yang mudah bergaul. Oleh karena itu gadis ini cukup dikenal oleh para dosen termasuk Ghufron.
“Sebelumnya saya mohon maaf, Pak. Sepertinya di sini sepenuhnya adalah kesalahan saya.” Kata Alin dengan kepala tertunduk. Daniyal merasa terkejut mendengar Alin langsung mengakui kesalahan, dia pikir gadis itu akan membalikkan kata agar dia terbebas dari kesalahan. Apalagi tadi pagi jelas Alin mengatakan maksud perbuatannya kepada Daniyal terus terang.
“Jadi dua hari yang lalu saya meminta teman-teman membuat kejutan di kantin karena Daniyal sedang berulang tahun. Setelah itu saya mewakili Daniyal menyampaikan teman-teman jika mereka ditraktir. Ternyata saya salah, Pak, yang ulang tahun ternyata teman saya yang lain dan bukan Daniyal. Dan saya baru tahu hari ini mengenai hal tersebut. Dan untuk kejadian tadi pagi sebenarnya Daniyal hanya ingin memperjelas kejadian kemarin, tapi karena tadi posisi kami terlalu dekat saya menjadi ingat kejadian dulu yang membuat saya trauma. Saya hanya merasa takut Daniyal melakukan sesuatu kepada saya. Tapi ternyata Daniyal hanya meluapkan kekesalan pada dinding di belakang saya. Sekali lagi saya minta maaf kepada Daniyal juga Bapak karena kesalahpahaman ini. Dan mohon maaf juga karena saya menyebabkan keributan di kampus pagi ini.” Jelas Alin
“Baik, Alin. Daniyal bagaimana ada yang perlu disampaikan? Apa yang disampaikan Alin tadi benar?” Tanya Ghufron kepada Daniyal.
“Betul, Pak. Sebenarnya saya tadi pagi memang ingin konfirmasi masalah dua hari lalu kepada Alin. Makanya tadi saya mengajak Alin bicara berdua agar bisa segera terselesaikan. Jujur masalah itu memang mengejutkan, apalagi biaya kuliah untuk semester depan yang selama ini saya kumpulkan jadi habis terpakai untuk membayar tagihan dari kantin.” Kata Daniyal jujur.
“Lalu apa kamu mau minta ganti rugi sama Alin?”
“Saya tidak terpikir ke arah itu, Pak. Saya hanya berharap di kemudian hari Alin bisa lebih berhati-hati lagi.” Entah apa yang dipikirkan Daniyal sehingga dirinya berbicara demikian padahal ada kemungkinan masalah biaya kuliahnya bisa teratasi jika dia bisa membuat Alin membayar kesalahannya. Sayangnya memang itu yang ada di pikiran Daniyal dan diucapkannya begitu saja.
“Kenapa kamu tidak mengajukan beasiswa saja, Daniyal?” Tanya Ghufron
“Sudah tiap tahun saya mengajukan, tetapi sepertinya belum rezeki saya, Pak.”
“Ah, masa? Selama ini jika ada mahasiswa yang mengajukan beasiswa kemungkinan besar akan lolos. Apalagi kalau mahasiswa itu punya prestasi baik akademik maupun non akademik. Berapa IPK rata – rata kamu sampai semester yang lalu?”
“Sekitar 3,4, Pak.”
“Nah apalagi rata – rata IPK kamu segitu. Kemungkinan besar kamu bisa dapat beasiswa untuk biaya kuliah juga biaya hidup. Coba kamu nanti cek web kampus, siapa tahu ada nama kamu di daftar penerima beasiswa.” Saran Ghufron menimbulkan harapan baru bagi Daniyal. Seketika wajahnya berbinar. Namun bertolak belakang dengan yang Alin rasakan, karena jika sampai Daniyal benar – benar mendapatkan beasiswa itu maka dia akan tetap bisa bertahan kuliah di sini.
“Baik, Pak. Terima kasih banyak.”
“Sama-sama. Ada lagi yang perlu kalian sampaikan?”
“Tidak, Pak.” Jawab Alin dan Daniyal hampir bersamaan. Ghufron tersenyum lega karena masalah yang terjadi tidak terlalu berat. Apalagi baik Daniyal maupun Alin bisa diajak bekerja sama karena mereka berdua berani mengakui kesalahan tanpa harus dipaksa atau berkelit.
“Baiklah, saya rasa masalah ini sudah selesai. Saya hanya mengingatkan kepada kalian berdua untuk lebih berhati-hati dan jangan pergi berduaan saja jika di lingkungan kampus. Kalian pasti sudah paham kan aturan penting di kampus kita?” mereka berdua hanya mengangguk saja. Kampus ini memang sangat ketat untuk masalah penampilan dan sikap mahasiswanya karena memang mereka dididik untuk menjadi seorang pebisnis. Sehingga penampilan mereka diatur agar berpakaian sopan dan dilarang berbuat m***m apalagi melanggar norma susila terutama di lingkungan kampus.
“Kalau begitu silahkan kalian melanjutkan kuliah kalian.” Kata Ghufron sambil merentangkan tangannya ke depan memperilahkan mereka keluar.
“Ck, makasih loh ya kamu ga nuntut. Kamu memang manusia berhati malaikat.” Sindir Alin ketika mereka baru saja keluar dari ruangan Ghufron.
“Sama – sama. Itu Cuma peringatan buat kamu untuk bertindak lebih hati – hati agar tidak merugikan orang lain.” Kata Daniyal dingin.
“Oke aku paham. Tapi untuk kamu itu pengecualian. Aku ga akan biarin kamu kuliah dengan tenang di sini.”
“Kita lihat saja seberapa mampu kamu bikin aku ga tenang.” Api permusuhan masih saja berkobar diantara mereka berdua. Daniyal sendiri sebenarnya lelah jika hampir setiap hari mendapat pandangan atau perkataan yang merendahkannya akibat ulah Alin. Namun apapun yang dia lakukan sepertinya tidak menyurutkan niat Alin untuk membuatnya berhenti kuliah.
Sore hari selepas kuliah Hania menemui Alin dan mengajaknya bicara berdua. Hania berharap setelah ini Alin tidak lagi mengganggu Daniyal.
“Lin, bisa ngobrol sebentar?” Tanya Hania saat Alin sudah bersiap pergi bersama Kiki.
“Ada apa, Han?” Tanya Alin heran. Dia merasa tidak pernah memiliki urusan yang cukup penting dengan sahabat musuhnya itu.
“Ada hal yang perlu aku bicarakan berdua sama kamu. Bisa kan, Lin?” Alin berpikir sejenak kemudian mengiyakan. Mereka berdua kemudian menuju kursi taman yang terdekat dengan gedung kuliah mereka. Sebelumnya Alin meminta Kiki untuk pulang lebih dulu tanpa perlu menunggunya selesai berbicara dengan Hania.
“Mau ngomong apa, Han?” tanya Alin to the point saat mereka sudah duduk dengan nyaman.
“Soal Daniyal.” Hania menjeda ucapannya. “Kamu mau sampai kapan ngerjain dia, Lin? Apa Daniyal punya salah sama kamu?” Hania pun langsung ke pokok tujuan.
“Jadi kamu ngajak aku bicara di sini cuma untuk ngomongin masalah dia?” Tanya Alin sinis.
“Bisa dibilang begitu. Aku cuma ga habis pikir kenapa kamu sampai sebenci itu sama dia. Kamu tau ga, Lin, gimana perjuangan Daniyal untuk bisa kuliah di sini?” Hania mencoba menyentuh sisi kewanitaan Alin yang lebih mengedepankan perasaan daripada pemikiran.
“Salahnya dia itu sok kepedean kuliah di sini. Kalau mau tanya sampai kapan, aku jawab sampai dia keluar dari kampus ini.” Kata Alin. “Kalau memang perjuangan dia bisa kuliah di sini berat kenapa ga berhenti aja. Kenapa juga harus maksain diri?” Ternyata ucapan Hania tadi belum mampu membuat Alin tersentuh.
“Dia mau berjuang karena dia punya impian.” Jelas Hania.
“Aku ga ada urusan sama impian atau apapun harapannya. Kamu juga sebagai sahabat harusnya ngingetin kekurangan dia, bukannya memaksa dia bertahan untuk sesuatu yang tidak sanggup dia pertahankan.” Kata Alin berusaha mempertahankan argumennya. “Udahlah kayaknya ga perlu kita bahas masalah dia.” Kata Alin lagi sambil berdiri. Dia enggan melanjutkan pembicaraan ini, karena apapun yang terjadi dia tidak akan berhenti sebelum berhasil. Hania memegang tangan Alin mencegah gadis itu pergi.
“Oke, terserah kamu sih. Tapi aku tau sekuat apa Daniyal. dia ga akan menyerah untuk mewujudkan impiannya. ”Alin menoleh mendengar pertanyaan Hania. Dia tersenyum sinis.
“Dan aku juga ga akan menyerah sampai impiannya itu hanya akan jadi sekedar mimpi.” Kata Alin penuh keyakinan.
“Yaahhh, aku juga cuma mau ngingetin kalau setiap perbuatan pasti ada balasannya.” Hania ikut berdiri juga dan tersenyum menatap Alin. Gadis itu kemudian pergi begitu saja meninggalkan Alin dengan kekesalannya.
“Berani – beraninya dia ceramahin aku dan pergi lebih dulu.” Kata Alin. “Kayaknya kamu juga perlu diberi peringatan.” Alin tersenyum penuh arti.