“Duh kayak seneng banget anak emes nih?” tanya Meilani, mama Alin, melihat anak semata wayangnya itu senyum-senyum sejak dari pintu masuk rumah tadi.
“Seneng banget, Mes.” Kata Alin sambil mencium tangan Meilani. Mereka berdua kemudian duduk di meja makan sambil melanjutkan obrolan.
“Seneng kenapa emang? Dapat hadiah gerak jalan? Atau ketemu calon suami ganteng?” goda Meilani.
“Ih, Emes. Apaan sih? Emang mau ya kalau Alin nikah muda?” kata Alin dengan cemberut.
“Ya ga apa-apa sih, Lin, yang penting calon suami kamu orangnya bertanggung jawab dan sayang sama kamu. Emes sih rela nikahin kamu. Biar kamu juga jadi lebih dewasa. Ga masalah kan menikah saat kuliah?”
“Emes ihhh. Jadi bikin Alin ga mood aja.” Kata Alin merajuk.
“Hehehe, iya maaf. Cerita deh kenapa seneng banget kayak gitu?” Kata Meilani melihat Alin yang cemberut kayak anak kecil. Meskipun usia anak gadisnya itu sudah hampir 22 tahun, tetapi kalau kesal masih seperi anak-anak.
“Tadi tuh di kampus ada temen yang lagi ulang tahun, terus dia traktir semua mahasiswa yang ada di kantin, Mes.” Alin bercerita dengan antusias. Sayangnya Meilani belum bisa menangkap bagian mana yang membuat Alin bahagia.
“Oke, terus apa yang bikin kamu bahagia kayak gini? Bukannya udah biasa ya kalau ulang tahun terus traktir temen di kantin?”
“Iya, Emes. Biasa banget kalau buat orang kayak kita traktiran waktu ulang tahun. Tapi kalau buat dia, aku yakin pasti luar biasa.”
“Kenapa gitu?”
“Temen sekelas yang aku ceritain ini beda banget sama aku dan sebagian besar mahasiswa di kampusku. Dia tuh anak orang biasa, bajunya aja ya Mes itu mulai awal kuliah dulu sampai sekarang itu kayak ga pernah ganti. Kemeja kotak-kotak terus, keliatan banget kan kalau dia bukan anak orang kaya?” Alin menjeda ceritanya.
“Tapi dia mampu traktir semua mahasiswa di kantin?” Tanya Meilani masih mencoba meraba-raba maksud Alin.
“Iya, Mes.”
“Emes masih bingung lho, Lin. Bagusnya dimana?”
“Jadi gini, Mes. Emes tahu kan kampus tempat Alin itu kayak gimana?” Meilani mengangguk saja mendengar pertanyaan Alin. “Nah, menurut Emes pantes ga ada orang biasa yang kuliah di sana?”
“Menurut Emes sih ga masalah selama dia diterima dengan cara yang benar dan dia mampu menjalani kuliah dengan benar juga. Apa salahnya? Kan kampus kamu juga mensyaratkan mahasiswanya berasal dari orang kaya dan anak pengusaha saja kan?”
“Iya sih, Mes. Tapi menurutku tetap ga cocok kalau ada mahasiswa kayak dia kuliah di sana. Makanya aku bantuin dia biar sadar kalau sebenarnya dia ga mungkin sanggup menyelesaikan kuliah di sana.”
“Gimana maksudnya?”
“Ya gitu aku bikin dia bayarin anak-anak makan di kantin biar dia sadar kalau dia ga mungkinlah bisa selevel sama mahasiswa sana. Hahaha.”
“Jadi kamu kerjain dia? Gitu, Lin?” tanya Meilani dengan nada tidak suka. Alin yang ditanya hanya mengangguk dan terus tertawa.”Kamu tega banget, Lin. Emang dia pernah ada salah sama kamu?”
“Ga ada sih, Mes. Tapi aku ga suka aja punya temen kayak dia.”
“K amu ga suka bukan berarti kamu harus buat masalah sama dia kan, Lin? Emes ga habis pikir sama kamu. Emes kecewa sama kamu kalau sampai bisa berbuat buruk sama orang yang ga salah.” Meilani meninggalkan Alin, raut kecewa jelas terlihat di wajahnya.
“Loh, Mes. Kok-“ Alin bingung melihat mamanya pergi dengan kecewa.
“Gimana, Sal? Sukses?” Setelah kepergian Meilani, Alin memilih untuk masuk ke dalam kamar dan menelepon Salma untuk menanyakan keberhasilan rencananya tadi.
[Sukses dong. Kamu harusnya liat gimana shock dan bingungnya dia tadi. Dia juga sempat nyariin kamu loh]
“Iya? Untung aku segera cabut. Hahaha”
He em. Tadi kayaknya mau cari kamu keluar tapi dipanggil sama kasir buat pastiin kalau dia yang bayar semua.]
“Hahaha. Ide kamu emang mantap, Sal.”
[Ya iyalah, Salma gitu loh. Makanya lain kali kalau ada apa-apa cerita ke aku biar dapat solusi yang mantap juga. Hahaha]
“Siip. Aku yakin dia bakal keluar dari kampus kali ini karena ga bisa bayar kuliah. Hahaha. Udah dulu ya, Sal. Mau mandi”
[Oke. Eh jangan lupa bonus keberhasilan rencana kita lho ya]
“Beres. Atur aja kapan dan dimana ya.”
[Oke]
Alin merebahkan diri di kasur empuknya, menikmati kebahagiaan yang dia dapatkan hari ini. Meskipun kekecewaan Meilani tadi sempat terlintas di pikirannya, namun ternyata tidak mengurangi suka cita di hatinya.
Esoknya pagi-pagi sekali Daniyal sudah datang dan duduk di depan gedung kuliah karena menunggu seseorang. Siapa lagi kalau bukan Alin, gadis yang menyebabkan dirinya tiba-tiba ulang tahun kemarin. Hampir tiga puluh menit Daniyal itu menunggu namun belum juga melihat gadis itu datang. Pemuda itu tidak ingin kecolongan seperti kemarin jadi ia berusaha tetap bertahan di tempatnya.
Akhirnya penantian pemuda itu tidak sia-sia. Lima belas menit sebelum jam masuk kuliah, Alin terlihat berjalan dari taman depan gedung kuliah bersama kedua sahabatnya. Mereka bertiga terlihat bercanda dan tertawa dengan gembira. Daniyal dengan segera menghampiri ketiganya. Dia kemudian menarik Alin dan membawanya ke tempat yang lebih sepi agar bisa leluasa bicara berdua. Teriakan Salma dan Kiki yang berusaha mencegah Daniyal membawa Alin tak sanggup melawan tatapan tajam Daniyal kepada mereka berdua. Kedua gadis terdiam gentar dan memilih untuk membiarkan Alin dibawa oleh Daniyal.
“Ahh. Apaan sih kamu, Dan? Sakit tau” Kata Alin sambil mengusap pergelangan tangannya yang tadi dicengkeram Daniyal. Gadis itu saat ini terhimpit diantara Daniyal dan dinding. Sengaja Daniyal menyudutkan posisi Alin agar gadis itu tidak kemana-mana sebelum menyelesaikan urusan dengannya.
“Kamu yang apa-apaan? Apa maksud kamu kemarin bilang ke anak-anak kalau aku ulang tahun dan traktir mereka?” Tanya Daniyal penuh penekanan dan dengan tatapan yang tajam. Namun Alin terlihat tidak gentar sama sekali.
“Bukannya kamu udah tahu maksudnya? Aku kan sudah sering bilang baik-baik ke kamu. Lagipula aku cuma bikin kamu segera sadar kalau kamu sama sekali ga pantes berada di sini. Baru juga traktir mahasiswa sekantin udah segini galaunya. Ketahuan banget kalau kamu ga level sama kita.” Kata Alin dengan yang tak kalah tajam.
“Aku mau kuliah di sini atau ga itu sama sekali ga ada hubungannya sama kamu ya. Lagipula aku salah apa sih sama kamu sampai kamu benci banget sama aku?”
“Keberadaan kamu di sini itu merusak pemandangan tau?! Penampilan sama sekali ga keren, tampang biasa, gaya sok pinter dan banyak lagi kekurangan yang bikin kamu ga level sama kita. Jadi sebaiknya kamu segera pergi dari sini”
“Kamu –“ Daniyal melayangkan tinjunya ke dinding di belakang Alin karena sangat marah hingga menyebabkan posisi wajah mereka berdua sangat dekat saat ini.
“Hei! Apa yang kalian berdua lakukan di sini?!”