“Masih kurang satu juta lagi.” Daniyal meneliti buku rekening tabungannya. Bulan depan sudah saatnya membayar biaya semester, biasanya universitas memberi rentang waktu dua minggu untuk mahasiswa yang akan melanjutkan kuliah di semester selanjutnya.
“Bismillah, semoga bisa.” Lanjutnya memotivasi diri sendiri. Lelah sebenarnya menjalani kuliah tapi juga harus bekerja demi bisa menyelesaikannya. Namun, tidak ada pilihan bagi Daniyal karena memang ini adalah jalan yang dipilihnya. Meminta bantuan kedua orang tua untuk membiayai kuliah menjadi pilihan terakhir yang ingin dia ambil karena dia merasa masih bisa berusaha dengan tenaga dan pikirannya. Sebenarnya setiap tahun dia selalu mengajukan beasiswa ke kampus. Tapi mungkin memang belum jadi rezekinya karena hingga tahun ketiga ini namanya belum pernah tercantum di papan pengumuman penerima beasiswa kuliah.
Saat ini Daniyal harus menjalani tiga pekerjaan sekaligus di luar jam kuliahnya, menjadi tukang ojek selepas subuh hingga dua jam sebelum kuliah dimulai, menjadi tentor di sebuah lembaga bimbingan belajar, dan di akhir pekan dia akan memproduksi dan mendistribusikan keripik pedas buatannya. Dari sinilah dia bisa membayar biaya kuliah dua semester terakhir, karena biaya tiga semester awal masih bisa dibiayai dari hasil kerja selama dua tahun selepas SMA dulu.
Umumnya mahasiswa strata satu perlu menghabiskan delapan semester untuk menyelesaikan studinya. Namun Daniyal berharap bisa menyelesaikan dalam waktu tujuh semester saja, dan untuk mewujudkannya dia masih perlu melalui dua semester lagi.
“Lah udah jam segini aja.” Daniyal melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit. Itu artinya kuliah akan dimulai satu jam lagi, sedangkan dirinya masih belum bersiap untuk berangkat. Daniyal beranjak dari tempat duduknya kemudian mengambil kemeja kotak-kotak berwarna biru tua di lemari untuk dipakainya kuliah hari ini. Seperti biasa pemuda itu hanya akan sarapan air madu hangat untuk sumber energinya pagi ini hingga siang nanti.
Daniyal melajukan motor bebeknya lebih cepat dari biasanya karena dia keluar dari kos terlalu siang. Selama di perjalanan entah mengapa ada perasaan kurang nyaman di hati Daniyal. Seperti ada sesuatu yang tertinggal atau hal kurang baik yang akan terjadi. Batin Daniyal mengatakan jika mungkin Alin akan berulah lagi. Pemikirannya itu membuat Daniyal menjadi lebih tenang karena selama ini pemuda itu sudah mulai bisa mengimbangi permainan Alin. Kecerdikan Alin untuk membullynya secara halus sudah bisa dia lawan dengan cara yang halus pula. Bahkan beberapa kali justru Alin yang dibuat kesal karena gagal melakukan niatnya.
Kuliah hari ini dirasakan Daniyal benar-benar lancar. Tidak ada tanda-tanda Alin berulah mulai masuk kelas hingga istirahat siang ini. Hingga tiba-tiba seorang mahasiswa berlari dengan tergesa ke arah Daniyal.
“Hhh...hhh...hhh. Dan, kamu...” dengan nafas masih terengah-engah mahasiswa bernama Doni itu berusaha berbicara kepada Daniyal yang saat itu masih berada di dalam kelas dan merapikan buku-bukunya.
“Kamu kenapa, Don? Sini duduk dulu.” Tanya Daniyal bingung melihat Doni yang terlihat panik. Doni menurut untuk duduk. Pemuda itu kemudian menghabiskan air minum yang disodorkan Daniyal kepadanya.
“Gawat, Dan. Gawat banget. Di kantin ada banyak mahasiswa yang kumpul rame-rame. Waktu aku tanya ada apa kata mereka ini ada hubungannya sama kamu. Jadi aku mereka suruh ngajakin kamu ke sana.” Jelas Doni.
“Aku ngapain? Apa hubungannya sama aku? Aku aja ga pernah makan di kantin.” Daniyal masih bingung dengan ucapan Doni.
“Aduhh bingung jelasinnya. Ikut aja langsung yuk biar kamu tau.” Doni berdiri dan menarik tangan Daniyal untuk bergegas mengikutinya. Hania bertanya ‘ada apa?’ saat mereka berdua melewatinya. Daniyal hanya mengangkat bahunya tanda tidak mengerti mengapa Doni menariknya ke kantin. Hania yang tidak mendapat jawaban akhirnya mengikuti kedua temannya itu.
Sesampainya Daniyal dan Doni di kantin tiba-tiba semua yang ada di sana menoleh kepada mereka berdua. Kemudian terdengar sebuah suara yang tak asing bagi Daniyal dari tengah ruangan kantin.
“Nah, ini dia yang punya acara sudah datang.” Alin berkata sambil berdiri sehingga perhatian menjadi beralih kepadanya. “Teman-teman, kalian semua yang sekarang berada di sini adalah orang-orang yang beruntung. Kenapa? Karena hari ini teman kita Daniyal sedang ulang tahun, jadi kalian dipersilahkan untuk makan dan minum sepuasnya. Dan semuanya ditraktir sama Daniyal.” Kata Alin menjelaskan dengan lantang dan antusias. Seketika terdengar suara riuh kebahagiaan dari semua mahasiswa yang ada di sana. Beberapa bahkan bertepuk tangan dan mengucapkan terima kasih kepada pemuda itu.
“Eh, tapi-“. Kedua tangan Daniyal terangkat ke depan d**a dan digerakkannya ke kanan dan kiri untuk menyanggah ucapan Alin. Sayangnya mereka semua tidak ada yang memperhatikan karena sudah sibuk memilih menu makan dan minum di gerai-gerai yang tersedia di kantin tersebut. Doni yang tadi berada di samping Daniyal juga ternyata sudah menghilang di antara mahasiswa lainnya.
“Dan, ini beneran kamu traktir mereka semua? Bukannya ulang tahun kamu udah lewat tiga bulan lalu ya?” Hania yang tadi mengikuti Doni dan Daniyal sudah berada di samping Daniyal. Gadis itu tercengang melihat kejadian yang dilihatnya saat ini. Ada keraguan jika Daniyal melakukan ini semua karena dia tahu persis bagaimana kondisi finansial sahabatnya itu.
Daniyal masih terbengong karena shock dan hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Hania. Pemuda itu tiba-tiba terpikir sesuatu, matanya memandang sekeliling untuk mencari seseorang yang harus bertanggung jawab atas kejadian ini. Daniyal berjalan ke tengah kantin tempat Alin tadi berada. Namun yang ditemukannya hanya Salma dan Kiki, sahabat Alin yang sedang menikmati makanan mereka.
“Hai, Dan. Makasih banget loh traktirannya. Ga nyangka kamu bisa rayain ulang tahun kamu kayak gini. Aku kira kamu cuma mahasiswa m*skin yang cari gebetan orang kaya.” Kata Salma ketika menyadari ada Daniyal di dekat mereka. Daniyal cukup tersinggung dengan ucapan Salma, tapi dia memilih untuk melaksanakan niatnya ketimbang meladeni ucapan Salma.
“Mana Alin?” Kata Daniyal dingin dan dengan menyimpan amarah. Salma dan Kiki hanya mengedikkan bahu.
“Ga tau, lagi pesen makanan kali.” Jawab Salma cuek. Daniyal lalu berjalan berkeliling sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin untuk mencari keberadaan Alin namun tidak juga ditemukannya gadis itu di sana. Daniyal memutuskan keluar dari kantin untuk mencari kemanapun agar bisa menemukan Alin. Akan tetapi ketika dia melewati kasir, penjaganya memanggil Daniyal untuk mengkonfirmasi tentang pembayaran.
“Mas Daniyal.” Panggil penjaga kasir yang membuat Daniyal berhenti dan menghampirinya.
“Ya, Mbak?”
“Ini, Mas Daniyal kata Mbak Alin tadi bener kan kalau Mas Daniyal yang bayarin makan mereka semua?”
“Emm gini, Mbak. Sebenarnya ini rencana Alin, jadi saya ga tau tentang ini. Saya masih mau cari Alin untuk menanyakan masalah ini.”
“Tadi Mbak Alin buru-buru pulang, Mas. Katanya ada urusan penting di rumahnya. Kata Mbak Alin, Mas Daniyal yang nanti beresin masalah pembayaran.”
“Gitu ya , Mbak? Tapi beneran saya ga ngerti masalah ini. Lagipula saya ga ada uang buat bayarin mereka semua.” Daniyal terlihat frustasi. Darimana dia dapat uang buat bayar makanan mereka, uang kuliah saja masih kurang.
“Lah, gimana lagi Mas? Terus siapa yang mau bayar ini semua. Masa iya Mas Daniyal tega ibu-ibu kantin itu makanannya ga dibayar.” Kasir itu terus mendesak Daniyal. Dia juga tidak mungkin membiarkan makanan di kantin itu tidak terbayar. Daniyal akhirnya mengalah, tidak mungkin dia mengorbankan para penjual di kantin karena masalahnya dengan Alin.
“Baik, Mbak. Saya yang akan bayar. Berapa total semuanya, Mbak?” Kasir kantin itu lega mendengar kesanggupan Daniyal. Dia kemudian menunjukkan nota penjualan kepada Daniyal. Pemuda itu terbelalak memandang nominal yang harus dia bayar di dalam nota tersebut.
“Ini beneran segini, Mbak?” Daniyal masih tidak percaya dengan apa yang dibacanya. Jumlah yang harus dia bayar hampir senilai biaya kuliah satu semester. Daniyal tahu memang berapa harga makanan di kantin kampus ini. Dia pernah sekali makan di sini dan rasanya sangat menyesal karena harga satu porsi makanan di kantin hampir sama dengan tiga bungkus nasi rames di warung langganannya.
“Iya, Mas Daniyal. Gimana Mas? Mau dibayar tunai atau pakai kartu kredit?”
“Saya bayar tunai ya Mbak. Tapi saya mau ambil uangnya dulu di ATM. Saya permisi dulu ya Mbak.”
“Eh, sebentar Mas. Bukannya saya ga percaya sama Mas Daniyal. Tapi saya minta KTM nya Mas ya buat jaminan.”
“Baik, Mbak.” Daniyal mengeluarkan kartu tanda mahasiswa dari dompetnya. Salah satu kartu penting bagi semua mahasiswa karena semua fasilitas umum di kampus kecuali tolilet hanya bisa diakses dengan kartu tersebut. Daniyal kemudian meninggalkan kantin untuk mencari ATM dan mengambil uang tabungan yang selama ini ia kumpulkan untuk membayar biaya kuliah. Dia bahkan melupakan Hania yang sedari tadi menunggunya di salah satu meja di kantin karena saking bingung dan terkejut. Daniyal baru ingat keberadaan Hania saat ia antri di depan mesin ATM.
[Halo, Han. Sorry aku lupa ngasih tau kamu. Aku sekarang masih antri di ATM, mau ambil uang buat bayar makanan di kantin] Kata Daniyal di telepon.
[Kamu beneran ini yang traktir mereka?] tanya Hania meyakinkan.
[Nanti aja ya kalau ketemu aku cerita. Sumpek banget ini rasanya. Kamu kalau mau pulang duluan aja. Aku juga mau langsung ke kosan habis beresin masalah ini.]
[Ya, udah aku pulang duluan. Kamu kalau butuh apa-apa jangan sungkan ya] Hania memutuskan pulang dan akan menunggu penjelasan langsung dari Daniyal ketika mereka ketemu nanti.
[Makasih banyak ya, Han. Tapi insyaAllah masih bisa aku atasi] Daniyal menutup panggilannya dengan Hania.
Daniyal segera menuju kantin setelah mengambil uang dari ATM sejumlah tagihan yang harus dia bayar ditambah kebutuhannya selama seminggu ke depan. Dia tidak ingin kartu ATM nya ditahan terlalu lama karena akan menghambat aktivitas belajarnya di kampus.
Kasir kantin memberikan nota yang sudah dibayar kepada Daniyal. Pemuda itu memandang setiap angka di kertas itu. Rasanya ini adalah ulang tahun paling mengejutkan seumur hidupnya