“Hai, Dan.” Sapa Alin yang tiba-tiba sudah berada di samping Daniyal. Tak tertinggal senyum dan ekspresi wajah manis selalu Alin berikan kepada Daniyal jika berada di tempat umum atau di sekitar banyak orang seperti ini.
“Hai juga, Lin.” Jawab Daniyal dengan senyum yang tak kalah manis. Dalam beberapa detik Alin tertegun melihat senyum Daniyal, ada rasa heran dan sedikit terpesona sebelum sadar akan tujuannya semula.
“Tumben sendirian. Mana cewek kamu?” tanya Alin menanyakan keberadaan Hania.
“Cewek?” tanya Daniyal bingung.
“Iya, cewek yang setiap hari selalu ada di samping kamu. Yang sama kupernya sama kamu.” Kata Alin lagi dengan nada biasa namun kata-katanya menusuk.
“Oh, itu. Ada nih sama aku. Dia lagi jalan di samping aku sekarang.” Daniyal mengatakannya dengan santai. Sudah pasti gadis yang Daniyal maksud saat ini adalah Alin. Karena saat ini yang berjalan di samping Daniyal hanya dirinya. Alin segera menoleh ke Daniyal dan memerikan tatapan tajam kepada pemuda itu. Sungguh di luar dugaan sikap yang diberikan Daniyal kepadanya. Hampir saja gadis itu marah dan memaki Daniyal. Tetapi dirinya segera tersadar agar tetap menjaga image sebagai gadis yang baik dan lembut seperti yang diketahui banyak orang.
“Mimpi kamu.” Hanya kata itu yang keluar dari mulut Alin. Gadis itu segera berlalu meninggalkan Daniyal dengan wajah cemberut. Ada rasa kesal karena Daniyal tidak terpancing emosinya seperti hari-hari sebelumnya.
Berbeda dengan Alin, Daniyal justru tersenyum lebar dalam hati. Dia mulai bisa mengimbangi cara Alin. Beberapa kali meladeni Alin dengan amarah ternyata justru berakibat buruk membuat Daniyal mengubah cara menghadapi Alin. Dan sepertinya hari ini Daniyal mulai bisa memberikan serangan balik kepada Alin dengan cara halus.
Sampai di kelas Alin masih terlihat sangat kesal. Tidak ada senyum yang ia tampakkan bahkan ketika bertemu kedua sahabatnya yang sudah terlebih dulu berada di dalam kelas.
“Kamu kenapa, Lin? Kusut amat itu muka. Ga dapat uang jajan ya dari ebes kamu?” goda Salma. Gadis itu memang hanya berniat menggoda, karena tidak mungkin seorang Alin yang anak tunggal pemilik perusahaan properti itu tidak mendapat uang saku dari ayahnya. Gadis itu bahkan diberi kartu kredit unlimited sehingga bisa belanja apa saja yang ia mau dan sudah pasti Salma juga Kiki sering mendapat traktiran belanja sepuasnya.
“Sebel banget aku. Ada cowok ga atau diri mau jadiin aku ceweknya. Emang di rumahnya ga ada kaca? Mana mau aku sama modelan cowok kayak gitu.” Gerutu Alin.
“Seriusan, Lin? Siapa orangnya?” tanya Salma penasaran. Kiki yang sedari tadi menyimak ikut terkejut.
“Mahasiswa sini?” tanya Kiki kemudian karena Alin tidak segera menjawab pertanyaan Salma.
“Udahlah, males banget bahas dia. Bikin tambah kesel aja.” Alin enggan memberi tahu kedua sahabatnya siapa laki-laki yang dia maksud.
“Nyebelin banget sih, Alin. Bikin kita penasaran aja.” Kata Salma sambil mengepalkan kedua tangannya di depan wajah tanda gemas dengan Alin.
Beberapa menit kemudian terlihat Daniyal masuk ke dalam kelas. Ketika tanpa sengaja pandangannya bertemu dengan Alin, pemuda itu memberikan senyum termanisnya. Sedangkan Alin justru dengan segera melengoskan kepalanya ke arah lain. Daniyal merasa bahagia sedangkan Alin kesal luar biasa.
Hingga sore selepas semua mata kuliah terlewati suasana hati Alin masih belum membaik. Apalagi sepanjang hari ini yang terlihat di mata Alin adalah Daniyal yang selalu bahagia. Otaknya mulai berpikir keras untuk melanjutkan misinya hingga berhasil.
“Hei, melamun aja.” Salma menyenggol pundak Alin membuat gadis itu tersadar dari pikirannya.
“Masih mikirin cowok itu?”
“Entahlah, suntuk banget aku hari ini.” Jawab Alin. “Hangout yuk, kita coba cafe baru dekat kos kamu itu.”
“Ayo, traktir ya tapi. Hehehe.” Kata Salma. Seperti biasa jika mereka keluar bertiga pasti Alin yang sering mengeluarkan dana.
“Eh, ikut juga ya.” Kiki pun tidak mau ketinggalan untuk sesuatu yang berbau gratisan atau traktiran. Salma dan Kiki sebenarnya juga anak orang berada. Namun, mereka berdua termasuk mahasiswi yang selalu memanfaatkan kesempatan yang menguntungkan.
“Kalian memang sahabat paling rajin kalau urusan belanja sama nongkrong. Coba aja urusan tugas kuliah pasti nomor satu dari belakang ngumpulinnya.” Cibir Alin. Salma dan Kiki hanya nyengir mendengar kata-kata Alin yang seratus persen benar.
---
“Aahhh.” Daniyal terkejut karena tiba-tiba ada air yang tumpah di makalah yang sedang dipelajarinya. Makalah yang ia cetak semalam itu pun menjadi luntur di beberapa bagian yang terkena air. Seingatnya tadi dia tidak membawa air minum bahkan meletakkannya di meja. Pemuda itu menoleh ke kanan dan kirinya, tidak ada siapapun berada di dekatnya. Seseorang yang dia curigai juga berada jauh dari tempatnya dan sedang asik berbincang dengan teman-temannya.
Di bagian belakang kelas Alin tersenyum puas melihat Daniyal yang kebingungan dengan makalah luntur yang ada di tangannya. Tidak salah memang Alin lah yang menyebabkan pemuda itu mengalaminya. Tadi saat masuk kelas dilihatnya Daniyal sedang fokus mempelajari makalah yang ada di kedua tangannya karena hari ini adalah jadwal pemuda itu presentasi. Seketika otak cerdik Alin terpikir ide untuk mengerjai Daniyal lagi. Ketika melewati tempat duduk Daniyal, dengan sengaja Alin meletakkan botol air mineral yang terbuka di meja pemuda itu tanpa berhenti berjalan. Bukan rencana yang sempurna memang, karena kemungkinan berhasil hanya lima puluh persen. Daniyal yang saat itu tertunduk pada lembaran yang dibacanya menjadi tidak mengetahui hal tersebut.
Saat Daniyal bergerak untuk memperbaiki duduk, tangannya juga ikut bergerak dan tanpa sengaja menyenggol botol air minum yang ada di mejanya. Saat itu juga air dalam botol tersebut tumpah dan mengenai makalah Daniyal. Pemuda itu refleks berteriak terkejut. Hanya selang beberapa menit kemudian Pak Ali selaku dosen pengampu mata kuliah pagi itu masuk ke kelas. Setelah membuka kuliah beliau kemudian meminta mahasiswa yang mendapat tugas presentasi untuk bersiap dan mengumpulkan makalah yang akan disampaikan. Daniyal sudah terlihat gugup di tempatnya.
Alin melihat Daniyal maju membawa makalah yang sudah rusak di tangannya. Alin yakin jika pemuda itu akan mendapat teguran bahkan sanksi dari Pak Ali mengingat beliau adalah dosen yang perfeksionis. Senyum Alin melebar melihat Pak Ali berbicara dengan ekspresi tidak suka kepada Daniyal. Pemuda itu terlihat membungkukkan badan beberapa kali sebagai tanda permintaan maaf. Beberapa saat kemudian dia berbalik menuju tempat duduknya untuk mengambil sesuatu di dalam tasnya yang berupa tumpukan kertas. Daniyal maju lagi ke meja Pak Ali dan menyerahkan berkas tersebut dan kemudian kegiatan pembelajaran segera dilanjutkan.
Senyum Alin seketika memudar ketika Daniyal memulai presentasinya dengan lancar. Ternyata apa yang dia harapkan tidak terjadi. Gadis itu mengepalkan kedua tangan kuat di atas pahanya. Dirinya kesal luar biasa, padahal hanya tinggal sedikit lagi mungkin akan ada tontonan yang membahagiakan.
“Hai, Alin, Salma, Kiki” Sapa Daniyal ketika melewati Alin yang sedang duduk bersama kedua sahabatnya di lorong.
“Hai, Dan.” Senyum lebar Daniyal hanya dibalas senyum singkat oleh Alin, sedangkan Sama dan Kiki hanya diam terbengong melihat kejadian di depan mereka. Daniyal tersenyum senang ketika Alin dan kawan-kawan sudah berada di belakang mereka. Hania yang sejak tadi berada di sampingnya hanya terheran-heran melihat tingkah Daniyal.
“Lin, itu anak tadi kenapa ya pakai nyapa kita sambil senyum-senyum gitu?” Tanya Salsa setelah keterkejutannya hilang.
“Iya nih. Mana ternyata senyumnya manis banget lagi.” Tambah Kiki yang memancing pelototan Alin dan Salsa. “Kalian ngapain melotot gitu? Aku ada salah ngomong kah?”
“Salah banget, Ki.” Kata Salma sambil memukulkan pelan buku yang dipegangnya karena gemas.
“Kamu ada apa sama tuh cowok, Lin?” Salma melanjutkan interogasinya.
“Apaan sih, Sal?”
“Lah itu tadi apa? Kamu pernah kasih harapan ya sama dia?”
“Menurut kamu mungkin ga sih ada apa-apa antara aku sama dia?”
“Mungkin aja sih. Hahaha.”
“Kamu tau banget aku kayak gimana kan?”
“Tau banget lah. Makanya aku heran kemarin-kemarin kamu kayak yang perhatian banget sama dia. Aku pikir kamu udah berubah haluan”
“Hhhh. Aku tuh kayak gitu sebenarnya ada misi tau ga?”
“Misi apa?” Kiki yang sedari tadi diam ikut bertanya.
“Menurut kalian, cowok kayak dia tuh pantes ga sih kuliah di sini?”
“Gimana ya? Sebenarnya dari penampilan dan kemampuan ekonomi ga cocok banget dia kuliah di kampus elit kayak gini. Tapi secara otak, dia pinter banget.” Salma mencoba menimbang-nimbang.
“Ih, ga pantes bangetlah, Sal. Makanya dari dulu itu aku pingin banget bikin dia ga betah kuliah di sini dan akhirnya keluar dengan sendirinya.”
“Oh, gitu.”
“Iya, padahal aku udah berhasil bikin dia kesel bahkan sampai ga disukai hampir semua orang sefakultas. Tapi kenapa dia masih betah kuliah di sini coba? Belum lagi akhir-akhir ini rencanaku buat dia pergi bukannya berhasil malah kayaknya dia yang bikin aku kesel.”
“Oh, jadi itu misi kamu? Kenapa ga pernah bilang sih. Kita kan siap juga kalau kamu butuh bantuan.”
“Yah, aku pikir aku udah hampir berhasil. Ternyata jadi kayak gini.”
“Ya udah sih, Lin. Nanti kita pikirin lagi caranya.” Akhirnya Salma hanya bisa berusaha mendukung dan menenangkan Alin.
“Iya, Lin. Kita pasti bakal selalu dukung kamu. Karena kamu adalah teman baik yang selalu traktir kita. Hehehe.” Kata Kiki tanpa sungkan.
“Dasar.” Kata Salma dan Alin bersamaan.
Mereka bertiga akhirnya berpelukan saling menguatkan.
“Kamu kenapa sih, Dan senyum-senyum sendiri. Seneng banget ya habis nyapa cewek cantik?” tanya Hania curiga. Daniyal yang mendengar pertanyaan Hania justru tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha. Seneng banget lah, Han. Kamu liat kan tadi wajah Alin kayak gimana?”
“Iya, Alin cantik.”
“Bukan itu, kamu liat kan kayak yang dia agak kesel gitu?”
“Masa sih?”
“Hahaha, ya udahlah ga usah dibahas. Makan bakso di depan aja yuk.” Ajak Daniyal akhirnya karena merasa Hania tidak mengerti dengan apa yang diucapkannya sejak tadi. Hania hanya geleng-geleng melihat tingkah Daniyal, gadis itu menurut saja saat Daniyal mengajaknya menuju warung bakso l*ngganan mereka.