“Terasing”
MURAZ RIKSI
Manusia-manusia yang diasingkan dari perkumpulan
Adalah mereka yang tak punya pikiran
Bukan, maksudku mereka yang tak sejalan dalam menatap langit dan impian
Beranda kehidupan menyibak selera yang tajam
Para penikmat kopi duduk antri berpasang-pasangan
Bibir gelas dikecup lalu pahit ikut diseruput dan tertawa lepas goyangkan perut
Ada jendela yang dibicarakan
Terasing bukanlah diasingkan
Keduanya berbeda pemaknaan
Terasing adalah perbedaan dalam memahami arti kehidupan dan juga beda dalam memilih jalan impian
Diasingkan adalah pilihan,
Dimana ego lebih kuat merusak tema pembicaraan
Dikucilkan, dihinakan dan dijauhkan
Sedangkan terasing hanya karena pemahaman
Namun tidak pernah merubah hangatnya kebersamaan
Dalam tawa, canda dan bahkan kopi pun ikut menyaksikan
Adalah kita yang beda tapi ada untuk selalu bersama
Bireuen Partee, 15 Januari 2019
---
“Ssst, ssst. Tuh liat tuh. Anak manajemen yang kena labrak Alex gara-gara kirim surat cinta ke Angel.” Kata seorang mahasiswa kepada seorang temannya yang masih berada di parkiran setelah mereka selesai memarkirkan motornya. Kebetulan mahasiswa itu adalah teman Alex yang ikut melabrak Daniyal saat itu. Daniyal yang baru melepaskan helmnya memandang kepada dua orang mahasiswa yang tengah membicarakannya. Pemuda itu melanjutkan aktivitas memarkirkan motor bebeknya tanpa berniat menanggapi mereka.
“Hahaha, ya jauhlah sama Alex. Bebek kok mau lawan kuda hitam, mana ngejar?” timpal mahasiswa yang lain dengan suara nyaring. Daniyal hanya melirik sekilas tanpa berhenti. Tidak ada gunanya juga menjelaskan atau menanggapi hinaan mereka.
“Ini toh mahasiswa yang katanya nembak ceweknya Alex?” suara sumbang seorang mahasiswa sampai lagi di telinga Daniyal yang baru masuk gedung fakultas. Dia melihat sejenak ke arah orang yang mengatakannya, terlihat pandangan sinis dari mahasiswa tersebut juga beberapa mahasiswa lain yang berada bersamanya. Daniyal kemudian melanjutkan langkahnya mencoba untuk tidak peduli dengan gunjingan mereka meskipun masih terdengar beberapa komentar untuknya.
“Ihh, ga ngaca apa ya dia. Ga ada seujung kukunya Alex lah dia dilihat dari mana-mana.”
Berita bahwa Daniyal mengirim surat cinta kepada Karina dan Angel semakin menyebar. Karena memang kejadian Alex dan Salman yang memperingatkan Daniyal terjadi di tempat umum dan jam pulang kuliah sehingga banyak mahasiswa yang merekam kejadian itu dan mengunggah di sosial media masing-masing.
Saat Daniyal berada di dalam lift pun masih ada saja yang membicarakannya. Tepat di samping Daniyal ada dua mahasiswi yang sedang berbisik membicarakannya, mereka berbicara cukup pelan tapi masih bisa terdengar jelas oleh Daniyal karena jarak mereka yang sangat dekat.
“Dia mikir apa sih sampai berani nembak cewek setenar Angel? Mana pakai surat lagi, hihihi. Kampungan banget caranya.” Kata seorang mahasiswa
“Iya loh. Apa juga yang bisa dibanggain? Aku juga bakal langsung nolak lah kalau ditembak dia.” Kata mahasiswi yang lain.
“Eh, bukannya dia juga yang udah ngomong kasar ke Alin sampai cewek itu nangis kan ya?” Mahasiswa yang berada di depan mereka juga ikut bersuara.
“Masa?”
“Iya.”
“Maksudnya apa coba?”
“Cowok macam sih yang bisanya nyakitin cewek?”
“Gitu kok beraninya ngarepin Karina sama Angel.”
Semua mahasiswa yang berada di lift itu akhirnya menyumbangkan uneg-uneg mereka. Suara yang awalnya hanya berupa bisik-bisik berubah menjadi obrolan gosip. Daniyal hanya bisa menunduk dan menahan amarahnya kepada seseorang yang menyebabkan dirinya menjadi bahan pembicaraan di kampus.
Daniyal merasa semakin terasing. Teman-teman yang dulu menerimanya sekarang jadi berubah. Mereka jadi memandang Daniyal sebelah mata dan menganggapnya orang yang tidak tahu diri. Dalam pandangan mereka saat ini pemuda itu kuliah di kampus ini bukan karena ingin sungguh-sungguh belajar tapi hanya ingin memiliki teman atau pacar orang kaya yang bisa dimanfaatkan hartanya.
"Kamu kenapa lesu banget, Dan?" Tanya Hania yang saat ini duduk di samping Daniyal. Mereka sudah berada di kelas meskipun kuliah masih dimulai tiga puluh menit lagi. Baru beberapa mahasiswa saja yang sekarang ada di kelas termasuk Hania dan Daniyal. Biasanya kelas akan penuh lima menit sebelum jam masuk kuliah.
"Hhhh." Daniyal menghembuskan nafas kasar. "Kamu udah tau kan, Han berita tentang aku?"
"Iya, sebenarnya gimana sih Dan itu ceritanya? Kamu ga beneran melakukannya kan?" Tanya Hania memastikan
"Ya ga lah, Han. Ngapain juga aku nembak cewek kayak mereka. Aku juga tahu diri lah. Lagian aku pingin fokus nyelesein kuliah dulu baru mikir cewek."
"Yahhh, aku ga ada kesempatan dong.” Kata Hania dengan nada kecewa. Daniyal seketika menegakkan punggung dan menoleh kepada gadis itu.
“Maksud kamu, Han? Kamu mau jadi cewekku?” tanya Daniyal.
“Ya mau dong, Dan. Tapi cewek yang berstatus sahabat. Hahaha.” Sontak Daniyal ikut tertawa keras yang menarik perhatian mahasiswa lain.
“Hahaha. Kamu bikin aku GR aja, Han. Kirain kamu beneran naksir aku lho. Udah deg-degan banget ini aku. Hahaha” Canda Daniyal. “Kalau begitu aku harus bersyukur punya cewek kayak kamu yang sudah bersedia tetap menjadi sahabat dan selalu percaya sama aku.” Daniyal mengucapkannya dengan penuh ketulusan. Dia memang merasa sangat beruntung memiliki sahabat seperti Hania bahkan mungkin saat ini hanya Hania satu-satunya orang di kampus ini yang masih bersedia berteman dengannya.
“Gitu dong ketawa. Aku juga bersyukur punya sahabat yang tangguh kayak kamu. Udah ya, kamu ga usah lagi pikirin atau dengerin omongan jelek tentang kamu. Apapun yang mereka pikirkan tentang kamu itu hak mereka, yang penting kamu udah berusaha menjadi baik dan melakukan yang terbaik.” Hania terus menyemangati Daniyal.
Lima menit sebelum jam kuliah dimulai Alin baru masuk bersama kedua sahabatnya. Matanya mencari sosok Daniyal yang hanya dalam hitungan du detik sudah dia temukan keberadaannya.
“Eh, kita samperin Daniyal yuk.” Kata Alin mengajak Salma dan Kiki sambil menunjuk posisi Daniyal dengan dagunya.
“Ngapain sih, Lin? Kayak yang penting aja itu anak. Kamu ga ingat sikap dia ke kamu kayak gimana?” Salma berusaha menolak dan memperingatkan Alin.
“Iya nih, Alin. Udah ah ayo cari tempat duduk habis ini Pak Martin pasti masuk. Kita ga mau kan kena ceramah dosen killer itu.” Kiki juga setuju dengan Salma.
“Ayo sebentar aja.” Alin menarik tangan kedua temannya itu menuju tempat Daniyal. Pemuda masih terlihat berbincang santai dengan Hania. Raut kusut sudah tak nampak lagi di wajahnya.
“Hai, Dan.” Sapa Alin selalu dengan senyum termanisnya.
Daniyal yang sejak tadi bercanda dengan Hania menghentikan tawa ketika mendengar siapa yang menyapanya. Dia menoleh ke arah Alin dengan pandangan dingin dan tidak suka.
“Ada apa?” katanya kemudian. Salma dan Kiki yang melihat cara Daniyal menjawab sapaan Alin merasa semakin illfeel pada pemuda itu. Terlihat bibir mereka mencibir meskipun tidak mengeluarkan suara. Alin mendekat dan duduk berjongkok di samping kursi Daniyal, satu tangannya berada di pegangan kursi.
“Kamu yang sabar ya. Ga usah dengerin omongan orang-orang yang menghina kamu. Aku yakin kalau kamu ga seperti yang mereka bilang.” Kata Alin dengan penuh simpati. Hania terkejut mendengar ucapan Alin. Dia tak menyangka ternyata Alin mengucapkan hal itu. Hania hanya diam mendengarkan, dirinya jadi dilema antara percaya kepada Daniyal atau Alin. Pasalnya Alin juga selalu bersikap baik kepadanya selama ini.
Daniyal melengoskan kepala ke arah lain. Dia kemudian tersenyum sinis dan memandang lagi kepada gadis itu dengan tatapan marah.
“Kamu ga usah sok peduli ya, Lin. Ini kan memang yang kamu mau?”
“Kamu ngomong apa sih, Dan? Kenapa kamu nuduh aku kayak gitu?” mata Alin mulai berkaca-kaca. Daniyal mengangkat kedua tangannya sebagai tanda kepada Alin untuk menghentikan pembicaraan diantara mereka berdua.
“Kamu tuh ya, Dan. Bukannya terima kasih karena Alin udah perhatian sama masalah kamu malah nuduh yang ngga ngga!” Salma sudah geram melihat sikap Daniyal tidak bisa menahan emosinya. Suara keras Salma menarik perhatian setiap orang yang berada di ruangan itu.
Beberapa mahasiswa terlihat mendekati tempat mereka untuk mengetahui apa yang terjadi.
“Ada apa ini, Sal?” tanya salah satu dari mereka.
“Ini nih, Daniyal. Sombong banget. Alin udah baik mau simpati, eh malah dituduh macem-macem.” Jelas Salma tanpa menurunkan nada suaranya. Daniyal mulai tersulut emosinya berdiri untuk mengimbangi posisi Salma.
“Kamu kalau ga tau apa-apa ga usah komen deh. Kamu ga tau kan selicik apa teman kamu ini?” Kata Daniyal sambil menunjuk Alin dengan mata melotot. Gadis yang ditunjuknya itu terlihat sudah mulai menangis di pelukan Kiki.
“Daniyal!” tiba-tiba suara lantang seseorang yang berada di depan kelas menghentikan perdebatan mereka. Suara dosen yang akan mengajar di kelas itu seketika membuat kelas menjadi hening.
“Ada apa ini? Kenapa kalian membuat keributan di kelas saya pagi-pagi begini?” Tanya Pak Martin yang sudah berada di dekat kerumunan tempat pusat masalah terjadi. Daniyal sudah hendak membuka suara untuk menjelaskan, namun kalah cepat dengan Alin.
“Mohon maaf, Pak. Jika kami membuat keributan di kelas Bapak. Saya hanya ingin menyemangati Daniyal karena masalahnya akhir-akhir ini, tapi sepertinya keadaan Daniyal sedang kurang baik jadi dia salah paham dengan maksud saya.” Kata Alin menjelaskan. Salma dan Kiki geregetan dengan ucapan Alin yang masih saja terkesan membela Daniyal. Begitu pun Daniyal yang masih saja terkejut ketika Alin menunjukkan sikap yang sebenarnya sudah diketahuinya.
“Betul seperti itu, Daniyal?” Pak Martin mencoba klarifikasi kepada Daniyal agar tidak terjadi pembelaan sepihak.
“Mohon maaf, Pak.” Hanya itu kata yang bisa Daniyal ucapkan. Menurutnya akan percuma jika menjelaskan kondisi sebenarnya karena tidak ada hal yang bisa menguatkan penjelasannya.
“Daniyal, berusahalah untuk berpikir positif. Jangan mudah terpancing emosi, ya?” Nasihat Pak Martin diangguki saja oleh Daniyal. Dosen itu kemudian meminta semua mahasiswa untuk kembali ke tempat duduk masing-masing karena kuliah akan segera dilanjutkan. Semua mahasiswa menuruti perintah Pak Martin dengan menyisakan gumaman ejekan untuk Daniyal untuk beberapa saat yang baru benar-benar berhenti ketika Pak Martin mengabsen mereka.
Air mata Alin sudah berhenti. Kedua sahabatnya, Salma dan Kiki sudah berhasil menenangkannya. Wajah gadis itu masih terlihat sendu, namun dalam hatinya dia berteriak gembira karena usahanya beberapa minggu lalu mulai menunjukkan hasil. Alin yakin sebentar lagi Daniyal akan menyerah dan keluar dari kampus ini.
Daniyal duduk di tempatnya dengan kepala yang mulai pening karena menahan emosi dan segala rasa yang dia rasakan akibat ulah Alin. Dia sama sekali tidak ingin menanggapi atau melawan. Akan tetapi sikap yang dia ambil itu ternyata tak membuat Alin berhenti justru membuatnya semakin terasing.