Dimas melirik gadis yang kini sedang duduk di sebelahnya dengen kening berkerut. Tumben dia diam saja, ucap batin Dimas.
Beberapa menit yang lalu ketika ia menjemput gadis itu dari kampusnya keadaannya memang sudah sepert ini, wajah tanpa ekspresi dan sedikit memucat juga mendadak menjadi pendiam tak berhasrat meladeni ejekannya.
Biasanya Sasya akan dengan senang hati mendebat apa yang diucapkannya tapi kali ini beda.
"Hei! Kenapa kamu jadi pendiam seperti ini?"
"Kepala kamu kejedot pintu ya?"
"Kenapa wajah kamu kusut begitu? Kayak benang jahit punya nenek saya!"
"Mulut kamu ke'lem ya? Dari tadi saya ajakin ngomong kok nggak nyahut-nyahut?"
Sasya menulikan telinganya dari ocehan laki-laki di sampingnya yang tengah menyetir, ia menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan pandangan kosong lurus ke depan. Ingatannya berputar ke kejadian beberapa saat yang lalu ketika Rendy berbicara penting kepadanya.
Sasya menolehkan kepalanya ke samping kiri, air matanya menetes tanpa diminta saat teringat pembicaraan penting yang dimaksud Rendy.
"Kita udah sama-sama saling tahu, udah sama-sama saling mengenal, lo tau kalau gue bukan orang yang romantis, lo juga udah tau kalau gue enggak bisa berbasa-basi."
"Lo maukan jadi pacar gue?"
Laki-laki itu menggenggam tangan Sasya yang kini basah oleh keringat dingin sembari memandang wajahnya, hati Sasya sungguh berbunga-bunga dengan kupu-kupu terasa berterbangan di perutnya.
Rendynya menyatakan cinta kepadanya!
Rasanya Sasya ingin berteriak untuk mengekspresikan kebahagiaannya, kebahagiaan yang mampu membuatnya seperti melambung ke atas awan.
Mulut Sasya terbuka untuk menjawab pernyataan Rendy ketika Rendy tiba-tiba melepaskan genggamannya sembari mengalihkan kembali tatapannya ke arah bunga-bunga berwarna-warni itu.
"Kalau gue nembak Vira dengan cara kayak gitu, gue bakal diterima enggak ya?" ucap Rendy yang tentu saja membuat jantung Sasya berhenti berdetak untuk beberapa saat.
Hatinya yang tengah melambung tinggi kini rasanya terhempas ke ladang penuh duri saat Rendy mengucapkan itu.
"Ma-maksud lo apa Ren?" tanya Sasya sedikit bergetar membuat Rendy menolehkan kembali ke arahnya.
"Gue suka sama Vira dan rencananya gue mau nembak dia besok, kira-kira dia bakal nerima gue enggak ya, eh iya lo jangan kasih tau Vira ya kalau gue mau nembak dia."
Tubuh Sasya menegang seketika, air mata telah menggenang di pelupuk matanya siap untuk meluncur. Namun, buru-buru ia singkirkan dengan tangannya sebelum Rendy melihat.
"Oh," ucap Sasya dengan bibir bergetar.
"Oh iya, lo udah enggak suka sama guekan Sya?" tanya Rendy penuh selidik membuat Sasya seketika menyembunyikan ekspresi kecewanya.
Gadis itu buru-buru menggeleng tegas. "E-enggak kok Ren gue udah enggak suka sama lo lo tenang aja semoga Vira nerima lo ya gue mau pulang dulu," ucap Sasya tanpa titik dan koma lalu buru-buru melangkah meninggalkan laki-laki itu.
Begitu mobil Dimas berhenti di halaman rumahnya, Sasya keluar dari dalam mobil Dimas dengan tergesa-gesa hingga tanpa sadar ia menutup pintu mobil itu dengan bantingan.
Dimas menggeleng-gelengkan kepalanya menyaksikan Sasya yang masuk ke dalam rumahnya dengan berlari-larian hingga gadis itu jatuh tengkurap di atas lantai.
Sasya mengaduh merasakan sakit menjalari kedua lututnya ketika lututnya sukses kencium lantai marmer rumahnya. Namun, tentu saja rasa sakit di lututnya tak sebanding dengan rasa sakit di hatinya ketika Rendy jelas-jelas mempermainkan perasaannya.
Dimas yang masih duduk di dalam mobilnya buru-buru melepaskan sabuk pengamannya dan keluar dari mobil untuk membantu Sasya yang masih tetap pada posisinya.
"Selain cerewet kamu juga ceroboh!" ucap Dimas sembari menarik tubuh Sasya hingga berdiri.
Sasya yang mengenakan rok sedikit di atas lutut membuat Dimas bisa melihat betapa parahnya luka di lutut Sasya. "Memar! Ayo saya obati!"
Sasya menggeleng pelan. "Enggak usah Sasya bisa sendiri, makasih Om." Sasya buru-buru berlari memasuki rumahnya, tak dipedulikannya rasa sakit yang menyerang lututnya ketika ia bergerak, yang diperlukannya saat ini hanyalah kamarnya.
Dimas memandang heran punggun gadis itu kemudiam menggedigkan bahunya. "Selain cerewet dan ceroboh, anakmu juga aneh Reg!" ucapnya kepada dirinya sendiri. Ia segera menyusul Sasya takut terjadi apa-apa dengan gadis itu. Pasalnya gadis itu telah bersikap aneh selama ia menjemputnya pulang tadi, ia bergidig ngeri kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk menimpa Sasya, bisa-bisa ia terkena imbasnya.
Sasya membatingkan tubuhnya ke atas ranjang ketika telah sampai di ruangan bernuansa pink itu, ia menenggelamkan wajah bersimbah air matanya di atas bantal, ia menangis sejadi-jadinya menumpahkan perasaan sesak yang memenuhi rongga dadanya.
Ia menyukai Rendy sudah sejak lima tahun yang lalu ketika memduduki bangku kelas dua SMA. Rendy adalah laki-laki pertama yang membuat jantungnya berdebar tak biasa, Rendy adalah laki-laki pertama yang telah merebut sebagian hatinya ketika dengan jelas laki-laki itu menaruh perhatian kepadanya, perhatian yang sama yang diberikan laki-laki itu kepada sahabatnya.
"Lo emang bodoh Sya! Udah tau Rendy enggak suka sama lo tapi lo masih aja pertahanin rasa suka lo ke dia!"
"Lo udah tau kalau lo akan sakit hati tapi masih aja bertahan sama rasa lo ke dia, lo emang bego Sya, lo emang cewek bego!"
Sasya meracau mengatai dirinya sendiri sebagai manusia bodoh yang bertahan mencintai orang yang tidak mencintainya, rasa sukanya kepada Rendy membuat Sasya layaknya orang gila yang sedang berbicara sembari menangis saat ini.
Huuaa!
Gadis itu kembali menangis.
"DASAR SASYA OGEB! KENAPA SIH LO BISA SUKA SAMA RENDY?!"
"RENDY KENAPA LO GAK PERNAH SEDIKIT PUN NGELIAT GUE?!"
AARRGH!
Sasya menjerit frustrasi membuat pintu kamarnya digedor oleh seseorang.
"Sasya, Kamu kenapa?!" tanya orang itu sembari masih menggedor pintu kamarnya membuat Sasya terdiam seketika.
Sasya bangkit dari tidurannya menghapus kasar air mata yang membanjiri pipinya kemudian berjalan ke arah pintu kamarnya dengan tertatih-tatih.
"Sasya enggak apa-apa Om, cuma sakit lutut aja," ucap Sasya dari balik pintu tanpa repot-repot membukanya.
"Jangan bohong!"
"Sasya enggak bohong kok, mendingan Om pulang deh Sasya enggak apa-apa sendiri di rumah."
"Saya tau kalau kamu bohong! Saya enggak akan pulang sebelum kamu kasih tau apa yang terjadi sama kamu!"
Sasya memutar kedua bola matanya malas. "Terserah Om aja! Sasya mau istirahat lagi!"
Sasya kembali ke ranjangnya mengabaikan Dimas yang masih berbicara kepadanya, melanjutkan acara menumpahkan patah hatinya dengan cara menangis sejadi-jadinya dan sepuas-puasnya meratapi nasib percintaannya yang tak sukses ini.