Dimas menggedor pintu berwarna hitam di depannya dengan keras sembari memanggil-manggil nama pemiliknya.
"Sasya!" panggil Dimas untuk entah yang keberapa kalinya sejak satu jam yang lalu responnya hanya satu, hening. Tak ada sahutan dari dalam seakan ia berilusi berharap akan ada jawaban dari seseorang yang dipanggilnya.
Dimas memandang pergelangan tangannya yang dilingkari oleh jam yang menunjukan waktu pukul sembilan malam pas, rasa khawatir menyelimuti hati Dimas mengingat gadis yang sedari tadi dipanggil-panggil namanya tak keluar-keluar dari kamarnya semenjak pulang kuliah tadi, yang artinya sudah lebih dari lima jam.
"Sasya!"
Panggilan disertai suara gedoran-gedoran itu membuat seorang gadis yang tengah bergelung di bawah selimutnya perlahan membuka matanya, ia menjengkitkan tubuhnya saat suasana gelap menyelimuti dirinya di dalam kamar, buru-buru ia menyalakan lampu kamarnya hingga terang benderang.
Sasya menyentuh pelipisnya sembari meringis ketika rasa sakit menghantam kepalanya, matanya terasa berat untuk dibuka. Setelah puas menangis meratapi nasib percintaannya tadi ia langsung ketiduran itulah yang mungkin menyebabkan rasa sakit pada kepalanya dan matanya susah dibuka.
"Sasya?!" suara itu lagi.
Gadis itu dengan susah payah menuruni ranjangnya dan berjalan terseok-seok menuju pintu kamarnya yang terus-menerus digedor.
"Ada apa Om?" tanya Sasya dengan suara serak khas bangun tidurnya tanpa repot-repot harus membuka pintu kamarnya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Dimas di balik pintu. "Buka pintunya Sasya!"
Sasya menyandarkan tubuhnya ke pintu, dipijatnya perlahan keningnya yang terasa sakit. "Sasya baik-baik aja kok Om! Om enggak usah khawatir! Sasya mau lanjut tidur lagi ya?!"
Di balik pintu Dimas mengacak rambutnya frustrasi karena tak kunjung mendapatkan informasi tentang keadaan gadis pembohong itu, ia sangat yakin kalau gadis itu tidak sedang baik-baik saja sekarang.
"Buka pintunya atau saya dobrak!" ancam Dimas membuat Sasya yang ada di dalam sana berdecak kesal lantas membuka kunci dan membuka pintunya hingga menampilkan sosok laki-laki berbadan tegap berdiri di hadapannya.
Dimas bernapas lega ketika memandang tubuh mungil di depannya. Namun, seketika mengerutkan keningnya saat melihat gadis itu terlihat kacau sekali, rambut acak-acakan dengan mata sembab terlihat sekali kalau gadis itu habis menangis.
"Apa yang terjadi dengan kamu?" tanya Dimas membuat Sasya buru-buru melongoskan wajahnya.
"Enggak ada apa pun yang terjadi sama Sasya, Om, Om jangan sok tau deh Sasya itukan habis tidur lama banget makanya bisa kayak gini bukan habis nangis," jawabnya kembali menyebalkan seperti semula.
Dimas menaikan sebelah alisnya. "Emang siapa yang bilang kalau kamu habis nangis?" tanya Dimas. "Oh berarti emang bener ya kalau kamu itu habis nangis?!"
"Enggak kok!"
"Dasar gadis pembohong!"
Sasya memelototkan matanya memandang Dimas kemudian berkacak pinggang. "Apa Om bilang?!"
Melihat kekesalan Sasya, Dimas terkekeh pelan. "Gadis pembohong!" ucapnya mengejek Sasya. Dimas berdehem untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering kemudia menatap wajah Sasya dengan serius, ia menggenggam kedua bahu Sasya dengan kudua tangannya agar gadis itu tetap menghadap tubuhnya.
"Katakan dengan jujur apa yang terjadi dengan kamu?!" tanya Dimas tegas. "Apa yang membuat kamu menangis seperti ini?"
Sasya melongoskan wajahnya menghindari tatapan Dimas. "Bukan urusan Om!" jawabnya membuat Dimas menggeram kesal.
"Katakan atau saya telpon ayah kamu agar segera pulang!"
"Dasar Om-Om tua tukang mengancam!"
"Apa kamu bilang?!"
"Om-Om tua tukang ancam!" ulang Sasya sembari memandang Dimas sengit.
"Sasya!" geram Dimas.
"Apa?!"
"Kamu itu lebih muda dari saya! Bisa tidak kalau kamu sopan sedikit!"
Sasya mengabaikan ucapan laki-laki itu, gadis itu malah menjulurkan lidahnya sembari menjulingkan matanya mengejek Dimas. Dimas hendak berbicara kembali namun diurungkannya ketika mendengar suara auman perut seseorang.
Sasya mencebikan bibirnya memandang wajah Dimas, diusapnya perutnya yang berbunyi keras itu. "Om, Sasya laper," ucap gadis itu lirih membuat laki-laki yang berdiri di hadapannya itu menyemburkan tawanya.
"Ya sudah! Ayo kita makan!"
"Tunggu dulu, Sasya mau mandi dulu ya!" ucapnya sembari membalikan tubuhnya masuk ke dalam kamar dan menutup pintu tepat di depan wajah Dimas membuat Dimas berdecak kesal.
"Lain kali saya akan menghukum kamu Sasya!" gumam laki-laki itu sembari membalikan tubuhnya melenggang dengan kedua tangan dimasukan ke dalam saku celananya.
Dimas menata makanan yang sempat dibelinya tadi di restoran ketika Sasya mengurung dirinya sendiri di kamar, laki-laki itu memang sempat pulang ke rumahnya terlebih dahulu untuk membawa pakaiannya ke rumah Rega, rencananya ia akan menginap di rumah milik sahabatnya ini untuk menemani Sasya atas permintaan kakek tiri gadis itu.
Beberapa menit kemudian Sasya keluar dari kamarnya menyusul Dimas yang sudah duduk di meja makan di ruang makan. Gadis itu menggunakan piama celana panjang berlengan pendek bermotif doraemon kesukaannya, rambutnya yang disanggul di atas kepala memperlihatkan leher putih jenjangnya. Ia berjalan terseok-seok di bawah tatapan mata Dimas.
Tanpa mempedulikan tatapan Dimas, Sasya langsung duduk di hadapan laki-laki itu dan mulai memindah-mindahkan seluruh makanan yang ada di meja makan ke piringnya, memakannya dengan lahap seakan tak ada kejadian apa pun yang menimpanya siang tadi.
Urusan makan memang nomor satu bagi Sasya, di mana pun kapan pun apa pun keadaannya mengisi perut adalah prioritasnya selama ia hidup di muka bumi ini.
"Om enggak makan?" tanya Sasya sembari menyelidik wajah Dimas yang sedari tadi terus menatap wajahnya.
Laki-laki itu menggelengkan kepalanya. "Kamu aja yang makan, biar pipi kamu tambah gendut," ucap Dimas membuat Sasya mengerucutkan bibirnya sembari mengucek-ucek pipinya dengan kedua tangannya sendiri. Sasya memang tipe orang yang suka makan tapi badannya tidak gemuk, yang gemuk itu hanya kedua pipinya saja.
"Kenapa?!" tanya Sasya membelalakan mata bulatnya. "Takut gendut ya? Ish kayak cewek aja!"
"Saya hanya menjaga kesehatan saya saja! Sudah, jangan mendebat saya terus, lanjutkan makanmu."
"Iya-iya," ucap Sasya malas sembari menyuapkan banyak-banyak makanan ke dalam mulutnya hingga pipinya menggembung.
Dimas hanya menggeleng-gelengkan kepala menyaksikannya. "Apa yang membuatmu bersedih tadi?" tanyanya membuat Sasya seketika menghentikan kunyahannya. Sasya mendorong piring di hadapannya sembari menatap Dimas dengan wajah memelasnya membuat Dimas menaikan sebelas alisnya.
"Kenapa om nanyain itu lagi? Sasya kan jadi keinget lagi!"
Sasya menutup wajahnya dengan kedua tangannya, badannya sedikit bergetar karena menangis.
"Cengeng!"