"Aduh! Aw! Sssshh! Aaah! Ouch! Oooh! Sssshh! S-sakith Om! Aduh! Aaaah! Huhuhu. Hiks! Pelan-pelan Om! Hiks-hiks, Sasya enggak tahan!" Sasya menangis, menjerit, merintih dan mengaduh tatkala Dimas menekan sebuah haduk basah hangat ke lututnya yang mengungu.
Dimas tak menghiraukan racauan mulut Sasya, ia semakin menekan handuk itu mengenai lutut Sasya hingga gadis itu berteriak nyaring. "Jangan lebay!"
"Siapa yang lebay sih?! Ini tuh beneran sakit tau, huhuhu." Sasya menangis tersedu-sedu. "Nasib Sasya kok gini amat ya? Ditinggal sekeluarga bulan madu, cowok yang disuka cuma jadiin bahan percobaan doang, dititipin sama om-om tua nyebelin pula!"
Dimas menekan keras lutut Sasya ketika ia mengatainya om-om tua hingga gadis itu berteriak kesakitan. "Om Dimas, sakit tau! Coba deh kalau Om Dimas ada di posisi Sasya pasti Om Dimas juga bakal kesakitan kayak gini!" teriak Sasya kesal.
"Apa salah Sasya di masa lalu sampai Sasya dilimpahi nasib sial bertubi-tubi begini?!" teriak gadis itu frustrasi.
"Bisa enggak kalau kamu enggak berisik?!" bentak Dimas.
"Enggak!!" Sasya balas membentak.
Dimas berdecak kesal sembari menempelkan plester ke kedua lutut Sasya, laki-laki berusia 38 tahun itu manarik wajah gadis berusia 21 tahun yang duduk di hadapannya hingga wajah cantik itu berhadapan langsung dengan wajah tampannya.
Sasya menahan napas seketika saat wajahnya begitu dekat dengan wajah Dimas ketika Dimas menempelkan plester di dagunya. Setelah selesai tatapan mereka bertemu untuk benerapa detik sebelum Sasya mengalihkan wajahnya yang mendadak merah merona.
"Lutut kamu dagu kamu semuanya memar, kenapa enggak langsung diobatin?" tanya Dimas sembari menjauhkan wajahnya dari wajah Sasya. Ia mendorong kening gadis itu dengan jari telunjuknya. "Makanya jangan ceroboh, cinta aja kamu urusin masa badan sendiri kamu cuekin!"
Sasya mengerucutkan bibirnya, ia memang sudah menceritakan semuanya kepada Dimas soal Rendy yang hanya menjadikannya sebagai kelinci percobaan untuk menembak seseorang yang disukainya yang menyebabkan ia menangis selama berjam-jam sampai ketiduran. "Aduh Om, Om udah kayak papa aja deh! Sasya itu lagi patah hati Om, enggak usah diceramahin bisa enggak?!"
"Enggak bisa!"
"Tapi Sasya lagi patah hati Om, rasanya Sasya udah enggak punya semangat hidup lagi sekarang!"
Dimas mendelik mendengar penuturan Sasya, menurutnya anak dari sahabatnya ini sangat lebay dan tidak patut untuk dicontoh. "Dasar kids zaman now!"
Sasya menggerutu-gerutu tak jelas membuat Dimas merasa sangat terganggu.
HHHUUUAAA
"Berisik Sya!"
"Sakit hati Om!"
"Mending kita jalan-jalan!" usul Dimas membuat Sasya berhenti merengek seperti anak kecil.
"Jalan-jalan ke mana? Ini udah malem Om, udah jam dua-dua kosong-kosong!" ucap Sasya sembari melongokan kepalanya ke layar ponselnya yang di taruh di atas meja.
"Kemana saja yang penting kamu enggak rewel seperti ini!"
"Rewel? Emangnya Sasya bocah apa?!"
"Mau ikut saya jalan-jalan atau enggak, kalau enggak ya sudah sana cuci kaki cuci tangan terus bobo!" ucap Dimas sembari bangkit dari duduknya dan hendak melangkah sebelum Sasya menarik tangannya.
"Ikut!" seru gadis itu sembari berjalan mendahului Dimas.
"Sasya! Kamu harus ganti baju dulu!"
"Enggak usah ganti baju segalalah Om, Sasya tetep cantik kok walau pake piama doraemon kayak gini!"
"Ta—"
"Udah Om jangan Rewel deh, ayo jalan!" tukas Sasya yang sudah berdiri di hadapan mobil Dimas yang terparkir di halaman rumahnya.
Dimas menarik napas lalu membuangnya secara perlahan kemudian memasuki mobilnya diikuti oleh Sasya. "Om! Buka itunya dong," pinta Sasya sembari menunjuk-nunjuk ke atas mobil Dimas.
Dimas segera menuruti permintaan Sasya dengan memencet sesuatu di mobilnya, lalu dengan perlahan mobil itu terbuka atapnya membuat Sasya tertawa senang sembari mengangkat kedua tangannya ke udara.
Perlahan mobil itu melaju keluar dari kediaman Alexander. "Titip rumah ya Pak!" seru Sasya kepada satpam yang membukakan pintu gerbang rumahnya ketika berpapasan.
Pihak keamana berbadan tegap itu hanya mengangguk dengan wajah datar andalannya. "Dadah Bapak!" ucap Sasya sembari melambaikan tangannya kepada laki-laki berwajah seram itu.
"Kaku banget sih kayak kanebo!" gerutu Sasya setelah agak jauh dari kediamannya.
"Sudah disetting begitu Sya."
"Makanya! Enggak asik!" ucap Sasya. Ia kembali mengangkat kedua tangannya ke udara saat mobil Dimas melaju membelah kota metropolitan itu dengan kecepatan di atas rata-rata.
"Ternyata asyik juga ya jalan-jalan malam-malam kayak gini, jalanan masih rame banyak lampu-lampu yang nyala warna-warni juga!" ucap Sasya sembari mengedarkan pandangannya ke sana ke mari memandamg kendaran yang berlalu lalang.
"Mau siang mau malam semuanya sama aja, emangnya kamu enggak pernah keluar malem apa?" tanya Dimas sembari menolehkan kepalanya memandang Sasya sebentar.
Sasya menggelengkan kepalanya. "Enggak pernah Om, Sasya enggak pernah jalan-jalan malem sebelumnya, dilarang sama papa!" jawabnya membuat Dimas menyemburkan tawanya.
"Are you serious, Sasya?" tanya Dimas dengan nada tak percaya. "Kamu itu udah dua puluh satu tahun, masih aja nurutin apa kata Papa!" Sasya mengerucutkan bibirnya saat dengan jelas Dimas mengejeknya.
"Dengerin saya Sya, kamu itu sudah besar sudah harus punya yang namanya pendirian sendiri, jangan apa-apa kata papa ini itu kata papa apa-apa terserah papa!" ucap Dimas sembari fokus mengemudikan mobilnya.
"Ya ampun Om nista banget sih ngajarin anak kecil yang enggak-enggak, dosa tau Om!"
"Saya itu mengajarkan kebenaran Sasya! Entah kamu mau turutin atau enggak itu terserah kamu, yang penting saya udah kasih tau kalau kita itu harus punya pendirian!"
"Iyain aja Om biar cepet!"
"Dasar anak kecil!"
"Sasya bukan anak kecil!"
"Kan kamu tadi yang bilang kalau kamu itu anak kecil, dasar enggak punya pendirian!"
"Biarin, wleek!" Sasya menjulurkan lidahnya mengejek Dimas yang tak dihiraukan oleh laki-laki itu.
"BTW kita mau kemana Om?" tanya Sasya setelah hening beberapa saat.
"Sebentar lagi kita sampai."
Benar saja setelah Dimas mengucapka itu mobil yang ditumpangi Sasya masuk ke sebuah tempat parkir atau apalag itu. Setelah Dimas memarkirkan mobilnya ia keluar dari mobil itu diikuti oleh Sasya.
Sasya mengekori Dimas sembari memandang sebuah gedung yang sepertinya ingin Dimas masuki. "Ini tempat apa Om?" tanya Sasya ketika Dimas berhenti berjalan ia ikut berhenti untuk memperhatikan Dimas yang sedang menyodorkan sebuah benda berbentuk kartu kepada seseorang yang diyakini Sasya sebagai petugas keamanan dilihat dari parasnya yang sama seperti paras satpamnya di rumah.
"Clubing," jawab Dimas begitu pihak kemanan itu selesai memeriksanya. Ia melenggang melewati para pria bertubuh kekar itu meninggalkan Sasya.
"Kambing?" tanya Sasya sembari hendak mengekori Dimas namun lengannya ditahan oleh orang yang berbicara dengan Dimas. "Maaf dik, Anda dilarang masuk!" ucap laki-laki yang menurut Sasya berwajah hulk itu sembari memandang penampilannya dari atas ke bawah dengan pandangan aneh.
Dimas yang tidak merasakan seseorang mengikutinya pun menolehkan kepalanya kebelakang, ia menepuk keningnya saat melihat Sasya ditahan oleh pihak keamanan. Dimas berlari menghampiri Sasya. "Maaf Pak dia datang bersama saya," ucapnya sembari menarik pergelangan tangan Sasya untuk mengikutinya dan petugas keamanan itu pun membiarkan Sasya mengikuti Dimas.
"Orang tadi kok serem banget sih Om!" bisik Sasya setelah agak jauh sembari bergidig ngeri.
"Ssst, nanti kamu digigit!" ucap Dimas membuat Sasya kian bergidig. "Om, Om belum jawab ini tempat apa, masa namanya kambing!"
Dimas tertawa. "Clubing Sasya bukan kambing!"
"Clubing?!" tanya Sasya tak percaya sampai matanya membulat sempurna. "Kok Om enggak ngasih tau sih kalau kita mau clubing? Tau gitu Sasya tadi ganti baju dulu deh sama baju yang sesuai, kapan lagi cobakan Sasya clubing kalau bukan hari ini!!"