"Kamu tunggu di sana ya, saya mau ke toilet dulu!" ucap Dimas buru-buru sembari menunjuk sebuah bar yang dikerubungi orang-orang yang sedang berbincang satu sama lain dan meninggalkan Sasya sebelum Sasya menjawab ucapannya.
"Eh Om, Om mau ke mana?!" pekik Sasya. "Jangan tinggalin Sasya sendiri!"
Sasya mengerucutkan bibirnya mendapati Dimas yang sudah menghilang berbaur dengan manusia-manusia yang ada di sana. Ia menghentak-hentakan kakinya berjalan ke bar yang Dimas tunjuk lalu duduk di sana bersama orang-orang yang sama sekali tak dikenalnya.
Begitu bokongnya menyentuh kursi panjang itu orang-orang yang duduk di sekitarnya memandangnya dengan pandangan aneh, bagaimana tidak? Jika orang-orang mengenakan gaun-gaun cantik, mewah dan seksi ke tempat seperti ini sedangkan kamu hanya mengenakan pakaian tidur panjang bermotif doraemon tentu orang-orang akan mengataimu orang gila yang tersesat.
Sasya mengangkat bahunya tak acuh. Jadi gini ya kelabing itu? ucap batinnya.
Sasya mengedarkan pandangannya sembari mengangguk-anggukan kepalanya menikmati alunan musik yang menghentak-hentak, rasanya ia ingin menari-nari saat ini mendengar hentakan alunan musik itu.
"Maaf dek, apa kamu sedang tersesat?" Sasya menolehkan kepalanya kepada wanita yang bertanya kepadanya.
"Enggak kok Tante, saya emang mau ke sini," jawab Sasya sembari tersenyum konyol memandang wanita berparas seksi itu. Ia sampai membulatkan mata dan mulutnya sebegitu terpesonanya memandang wanita itu.
Wanita itu beroh ria sembari mengangguk-anggukan kepalanya. "Emangnya petugas keamanan di depan ngizinin kamu masuk?"
"Ngizinin kok soalnya tadi aku ke sini bareng sama Om aku, bukan Om aku beneran sih dia itu temennya papa aku," jawab Sasya lagi-lagi membuat wanita itu menganggukan kepalanya.
"Kenapa kamu mau di ajak ke sini?"
Sasya berdehem pelan memandang langit-langit yang dihiasi nyala lampu-lampu kecil berwarna-warni. "Sebenernya aku enggak tau kalau mau diajak ke sini, liat? Aku sampai salah kostum kayak begini," ucap Sasya sembari memperlihatkan pakaian yang dikenakannya.
Sasya meringis ketika wanita yang menurutnya mirip artis Lucinta Gua menyemburkan tawanya ketika memandang penampilannya. "Kamu lucu banget!" ucap wanita itu di sela-sela tawanya. "Usia kamu berapa sih?"
"21 tahun Tante!"
"Dua puluh satu tahun?" ulang wanita itu tak percaya lalu mengulurkan sebelah tangannya kepada Sasya yang segera disambut oleh Sasya. "Kenalkan, aku Regina panggil aja Gina jangan panggil aku tante karena umurku masih 25 tahun!
Mata Sasya membulat sempurna ketika wanita bernama Regina itu menyebutkan usianya, pada awalnya Sasya mengira wanita itu berusia tiga puluhan tapi ternyata hanya berbeda empat tahun dengannya mengingat jika dilihat penampilan Regina ini sangat ... sangat, ah Sasya tak bisa mendeskripaikannya atau hanya Sasya saja yang kekanakan sudah berusia dua puluh satu tapi tidak bisa berpakaian seperti itu.
"Kenapa kaget begitu?" tanya Gina memandang ekspresi Sasya yang segera Sasya ubah mimik mukanya.
"Enggak, Gina," jawab Sasya sembari menggelengkan kepalanya.
"Kaget ya ternyata usia kita enggak beda jauh? Sama sih aku juga, awalnya aku kira kamu remaja enam belas tahun yang nyasar ke klub," ucap Gina membuat Sasya meringis, apa ia terlihat seperti anak-anak?
"Siapa dia?" tiba-tiba seorang wanita berpenampilan serupa dengan Gina datang dan langsung bertanya.
Sasya dan Gina sama-sama menolehkan kepalanya memandang seorang wanita yang datang bersama seorang pria. "Roy!" pekik Gina memandang laki-laki itu sembari menghampirinya dan langsung menciumnya membuat Sasya mengerutkan kening, berciuman di tempat umum? Seketika Sasya lebih jauh mengedarkan pandangannya, ternyata banyak sekali orang yang sedang melakukan hal yang sama sepergi Gina dan laki-laki bernama Roy itu, Sasya bergidig ngeri. Astaga mata gue udah enggak perawan!!!
"Kenalan sendiri ya gue sama Roy mau ke tempat lain!" ucap Gina sembari berlalu meninggalkan Sasya bersama wanita yang kini duduk di sebelahnya.
Wanita itu memandang Sasya tepat dengan Sasya yang juga sedang memandangnya. Kenapa banyak Lucinta Gua - Lucinta Gue di sini? Batin Sasya bertanya.
"Kamu nyasar atau bagaimana?" tanya wanita itu dengan mimik heran ketika memandang penampilan Sasya yang sangat unyuk.
Mulut Sasya terbuka hendak menjawab pertanyaan wanita itu ketika tiba-tiba laki-laki yang sedari tadi ditungguinya datang dan langsung menyapa wanita yang tadi bertanya kepadanya yang ternyata bernama Rossa.
"Hei Dim!" sapa balik wanita itu dengan suara manja berlebihan membuat perut Sasya tiba-tiba bergejolak. Wanita itu berdiri menghadap Dimas dan langsung bercipika-cipiki ria, Sasya bergidig ngeri ketika melihat wanita itu sepertinya dengan sengaja menempelkan dua aset gunung miliknya ke d**a bidang Dimas.
Mereka berbincang-bincang sebentar sebelum wanita itu pergi meninggalkan Dimas.
"Om ngapain aja sih di toilet kok lama banget?!" tanya Sasya kesal ketika b****g Dimas menyentuh kursi di sebelahnya.
"Ya kalau di toilet harus lama dong Sya, udah jangan protes mulu emang kamu enggak haus apa?!"
"Haus sih Om, teraktir minum ya?" pinta Sasya.
"Ya udah pesen!"
Sasya tersenyum senang, kini pandangannya beralih kepada seorang laki-laki yang sedang memainkan termos kecil di tangannya meracik minuman. "Menu minuman favorit di sini apa, Mas?" tanyanyak.
"Ada vodka, ada cocktail, ada--"
"s**u coklat ada Mas?" potong Sasya buru-buru karena laki-laki itu tidak menyebutkan jenis minuman yang dikenalinya.
Pertanyaan Sasya sontak membuat Dimas dan bartender itu tertawa. "Enggak ada Dek!"
"Kasih dia minuman apa pun kecuali yang mengandung alkohol!" pinta Dimas.
"Oke." bartender itu mulai meracik minuman tanpa alkohol untuk Sasya. "Anak bocah siapa yang lo culik ke tempat ginian malem-malem Dim?" tanya bartender itu kepada Dimas sembari menyerahkan segelas minuman kepada Sasya, sepertinya mereka sudah saling mengenal.
Sasya menerima gelas itu dengan senang hati kemudian meminumnya, rasa segar menyelimuti tenggorokannya ketika minuman itu mengalir menuju perutnya.
"Dia rewel terus makanya gue bawa ke sini, orang tuanya lagi bulan madu."
Bartender itu hanya menangguk lalu melanjutkan pekerjaannya. Malam semakin larut dan musik pun kian menghentak keras, Sasya sangat menikmatinya.
"Om kita joged yuk!" ajak Sasya menginterupsi Dimas yang sedang mengobrol entah dengan siapa.
Dimas berbicara sebentar dengan lawan bicaranya sebelum mengiyakan ajakan Sasya, mereka kemudian turun ke lantai dansa berbaur dengan yang lainnya.
Dimas hanya menonton Sasya yang sedang menari, bagaimanapun juga ia yang mengajak gadis itu datang ke sini jadi ia harus menjaganya dengan baik.
"Ayo Om joged Om!" ajak Sasya sembari menggoyangkan badannya berbeda dengan orang lain, ia berjoged layaknya sedang mendengar musik dangdut bukan musik DJ.
Dimas yang melihat itu tertawa sampai ke matanya. "Dasar gadis aneh!"
"Ayo Om joged!" ucap Sasya sembari menggenggam kedua tangan Dimas kemudian digoyangkannya ke kanan dan ke kiri.
Mau tak mau Dimas mengikuti joged dandut ala Sasya, keduanya tertawa keras terutama Sasya seakan melupakan permasalahannya tadi siang.
"Udah ah capek!" ucap Sasya sembari meninggalkan lantai dansa hendak menuju tempat yang didudukinya tadi. Namun, saat berbalik pemandang di depannya membuat hatinya berdenyut nyeri.
Rendy sedang berciuman dengan seorang perempuan, buka Vira!