Sasya terpaku di tempatnya berdiri memandang dua orang yang sedang beradu mulut tanpa mempedulika suasana sekitar. Pandangan Sasya memburam oleh air mata yang menggenang di pelupuk matanya, ia menyentuh d**a kirinya yang berdenyut sakit.
Butiran kristal itu berjatuhan di pipi Sasya ketika ia mengedipkan matanya. Rendy yang merasa diperhatikan oleh seseorang menghentikan aksi panasnya, ia menolehkan kepalanya memandang seorang gadis yang terpaku di tempatnya, suasana remang-remang dengan keadaan sedikit mabuk membuatnya tak bisa melihat dengan jelas perempuan itu.
Sasya berlari melewati tubuh Rendy, aroma minyak telonnya menusuk indra penciuman Rendy membuat laki-laki itu menggumamkan nama Sasya tanpa sadar.
Dimas yang tidak mengerti dengan keadaan mengerutkan keningnya bingung ketika melihat tubuh Sasya menegang. Namun, tak beberapa lama melesat berlari meninggalkannya.
"Sasya?!" panggil Dimas sembari berlari menyusul Sasya.
Sasya berlari sekuat tenaga untuk meninggalkan gedung ruangan dunia gemerlap itu, tak dipedulikannya seberapa banyak orang yang ditambrak dan mengumpatinya karena berlarian di tempat seperti ini yang dipedulikannya hanya satu berlari menjauh dari tempat ini.
Sembari menangis Sasya terus berlari tanpa mempedulika seseorang tengah mengejar dan meneriaki namanya. "Sasya?!" panggil orang itu.
Dimas mengejar Sasya yang tengah berlari sangat cepat di depannya, ia menambah laju kecepatan berlarinya dengan gampang sampai bisa menyusul gadis itu. Ia berlari bersisian dengan gadis itu sekarang.
"Sasya?" panggil Dimas sembari menyentuh tangan Sasya. Namun, segera ditepis oleh perempuan itu.
"Hei kamu kenapa?!" tanya laki-laki itu yang sama sekali tak dihiraukan oleh Sasya.
Mereka berlari hingga cukup jauh dari kawasan night club yang mereka datangi. Dimas yang kesal akhirnya maju ke depan tubuh Sasya yang terus berlari hingga Sasya menabrak tubuhnya hingga jatuh terduduk.
Bokong Sasya mencium aspal dengan cantiknya membuat sang pemilik mengaduh kesakitan, ia yang sedang menangis kini kian menangis ketika rasa sakit menjalari bokongnya.
"Dasar ceroboh!" gerutu Dimas sembari bersimpuh di hadapan Sasya.
"Kamu itu hobi banget jatoh ya?" Dimas mengulurkan tangannya hendak membantu Sasya berdiri namun segera ditepis oleh gadis itu.
"Hhhuuuaaa! Huhuhuhu! Inikan salah Om, kenapa Om berhenti di depan Sasya!" Sasya menangis histeris membuat Dimas meringis. "Sasya jadi jatohkan! p****t Sasya sakit tau!"
"Salah kamu sendiri pakai lari-larian segala, kamu kenapa sih, mau olahraga malam, hah?!"
"Sasya, Sa-Sasya, Sa-Sa-Sasya-- hhhuuuaaaa." ia menangis histeris tak sanggup melanjutkan ucapannya teringat apa yang sedang Rendy lakukan tadi.
Dimas mengerutkan keningnya memandang Sasya yang kini tengah duduk bersila di atas aspal sembari menutup wajah dengan kedua tangannya, tubuh gadis itu bergetar hebat dengan suara tangisan yang terdengar memilukan.
Dimas ikut bersila di atas aspal di hadapan tubuh Sasya, perlahan ia menarik tangan Sasya agar tak menutupi wajahnya. Gadis itu terisak-isak dengan air mata yang terus mengalir ke kedua pipinya.
Dimas mendudukan tubuhnya lebih dekat dengan tubuh Sasya, ia menangkup wajah Sasya dengan kedua tangannya, kedua ibu jarinya mengusap air yang mengalir di pipi mulus Sasya.
"Kamu kenapa hmm? Cerita sama Saya!" ucap Dimas lembut sembari menatap lekat wajah cantik di hadapannya.
Mata Sasya bergerak menatap wajah Dimas, ragu-ragu ia membuka mulutnya. "Ta-tadi Sasya ngeliat Rendy ciuman sama orang lain," bisiknya air matanya mangalir kembali yang segera dihapus oleh Dimas.
"Bukannya kamu udah bilang kalau laki-laki itu mau nembak perempuan yang disukainya, mungkin saja mereka sekarang sudah jadian terus mereka berciuman tadi."
Sasya menggeleng tegas. "Enggak Om, Dia ciuman sama cewek lain bukan sama cewek yang dia sukai!"
"Kamu salah liat kali!"
Sasya kembali menggeleng tegas. "Om! Sasya itu selalu dijejelin sayur-sayuran sama Bunda otomatis mata Sasya itu anti rabun-rabun club, jadi enggak mungkinlah Sasya salah liat!"
Dimas menarik napas kemudian mengembuskannya secara perlahan. "Memang apa bedanya kalau laki-laki itu berciuman dengan perempuan yang disukainya dengan perempuan yang tidak disukainya, apa itu berpengaruh untuk kamu?!" tanyanya sembari menatap wajah Sasya lekat-lekat.
Sasya terdiam seketika, ditundukan kepalanya dalam-dalam. Apa yang dikatakan Dimas memang benar, mau Rendy berciuman dengan Vira atau pun perempuan lain semuanya sama saja akan membuatnya sakit hati.
Air mata kembali mengalir di pipi Sasya.
Hiks! Hiks!
"Sudah-sudah jangan menangis!" Dimas menegakan wajah Sasya. "Kamu tau apa yang harus kamu lakukan sekarang?"
Gadis itu menggeleng.
"Move on!"
Sasya menatap wajah Dimas tak mengerti. "Kamu harus move on dari laki-laki itu!" ulang Dimas.
"Ta-tapi Sasya enggak bisa!"
"Kamu pasti bisa! Memangnya kamu sanggup seumur hidup memendam perasaan kepada orang yang enggak pernah memandang kamu sama sekali?!"
"Ja-jadi Sasya harus move on?"
"Ya!!" jawab Dimas tegas. "Kamu masih muda dan cantik, akan ada banyak laki-laki yang menyukaimu, laki-laki yang sedang duduk bersila di hadapanmu misalnya?"
Ucapan Dimas tak urung membuat senyuman terbit di wajah Sasya. "Sa ae ni Om-Om!"
"Apa kamu bilang?!" tanya Dimas sembari memelototkan matanya membuat Sasya tertawa.
"Enggak kok!"
"Hhh, ya sudah ayo kita pulang!" ucap Dimas sembari bangkit dari duduknya lalu menepuk-nepuk celananya dari kotoran.
"Enggak mau bangun, udah PW!" Sasya menampilkan wajah memelasnya. "Kaki Sya juga sakit Om, pasti gara-gara lari jauh nih!"
Dimas berdecak sebelum ia berjongkok membelakangi Sasya. "Ayo naik!"
"Digendong?!"
"Iya, cepat sebelum Saya berubah pikiran!"
Sasya buru-buru meloncat ke punggung Dimas sedangkan Dimas langsung berdiri ketika Sasya sudah berada di gendongannya dan mulai melangkahkan kakinya.
"Badan kamu itu keliatannya aja kecil, pas diangkat kayak gini ternyata berat juga!"
"Enak aja! Sasya enggak gendut ya?!"
"Emangnya siapa yang ngatain kamu gendut?!"
Sasya mengerucutkan bibirnya kemudian ia menepuk-nepuk bahu Dimas begitu ia teringat akan sesuatu. "Inikan bukan arah ke kambing Om!"
"Saya tahu!"
"Kalau udah tahu kenapa enggak puter balik, mobil Omkan masih ada di sana, kita mau ke mana sih?!"
"Mobil saya udah ada yang jagain! Kita mau ke sana." tunjuk Dimas ke gedung berlantai banyak di hadapannya.
Mata Sasya mengikuti arah telunjuk Dimas. "Mau ngapain ke sana, kan jauh Om!"
"Jalan kaki sepuluh menit juga sampai. Apartemen saya ada di sana, malam ini kita nginep di sana dulu ya?"
Sasya bergumam. "Seterah Om aja deh, Sasya mah pasrah."
Hening.
"Om?"
"Hmm?"
"Jadi cowok tuh enak ya Om, bisa nembak cewek yang disukainya kapan pun dan di mana pun seenaknya. Coba kalau cewek, cuma bisa diem sukur-sukur di tembak cowok yang disukainya, mau nembak duluan takut dikatain murahan."
"Sya?"
"Hmm?"
"Jadi cewek itu enak ya, bisa nolak cowok pas ditembak kalau enggak suka."
"Dih, apaan!" Sasya mengalungkan kedua tangannya di leher Dimas, ia menguap lebar, dirapatkannya tubuh bagian depannya ke punggung Dimas lalu merebahkan kepalanya di pundak Dimas, sungguh ia sangat mengantuk, kesadarannya kurang dari lima watt lagi.
"Apa tuh yang empuk-empuk?!"
"Appaaaaa? Bolu buatan Bunda?"