Dimas membungkukan sedikit tubuhnya ketika mengetikan komdinasi password apartementnya agar gadis yang tengah tertidur di punggungnya tidak terjatuh.
Setelah pintu itu terbuka Dimas dengan perlahan menurunkan tubuh Sasya dari punggungnya lalu membopong tubuh lemah itu di depan tubuhnya, gadis itu tak terusik sedikit pun ketika tubuhnya terombang-ambing.
Dimas meletakan tubuh Sasya dengan hati-hati di atas ranjangnya kemudian melucuti pakaiannya sendiri hingga tersisa kolornya saja, sudah menjadi kebiasaan Dimas kalau tidur suka bertelanjang d**a.
Dimas bergabung dengan Sasya berbaring di samping gadis itu, ia mengangkat sedikit kepala Sasya lalu menjulurkan tangannya meletakan kepala Sasya di lengannya, menjadikan lengannya sebagai bantalan.
"Good night princess," bisik Dimas kemudian menempelkan bibirnya dengan bibir Sasya yang sedikit membuka cukup lama, anggap saja ia sudah gila karena telah mencuri ciuman dari seseorang yang sedang tidak dalam keadaan sadar, ia tak pernah berhasrat sebesar ini untuk mengecup bibir seseorang sebelumnya.
Laki-laki itu mematikan lampu kamar digantikan dengan lampu tidur yang menciptakan cahaya temaram. Dimas tertidur dengan sebelah tangan sebagai bantalan Sasya dan sebelah tangannya lagi memeluk pinggang gadis itu, sepertinya ia akan tidur nyenyak malam ini.
***
Sasya mengerjap-ngerjapkan matanya ketika sebuah cahaya panas menerpa wajahnya, ia mengucek pelan kedua mata dengan kedua tangannya dengan sedikit menguap mengumpulkan nyawanya yang belum sepenuhnya terkumpul.
Ia terdiam sesaat sebelum menyadari ada benda berat menimpa perut dan udara hangat terasa menerpa lehernya. Sasya membalikan tubuhnya ke arah sumber udara tersebut hidung mancungnya langsung bersentuhan dengan hidung mancung milik Dimas membuatnya membulatkan mata sedikit terkejut.
Deg!
Jantung Sasya berdentum keras tatkala mata hitam pekat milik Dimas terbuka dan langsung bertatapan dengan mata berbinar coklat miliknya.
"Selamat pagi," sapa Dimas memecah keheningan dengan suara serak yang terdengar seksi di telinga Sasya membuat Sasya malu.
"Selamat pagi," balas Sasya berbisik dengan wajah semerah kepiting rebus Sasya melepaskan sentuhan hidung mereka memandang langit-langit kamar Dimas, gadis itu malu mengingat ini kali kedua ia terbangun dalam kungkungan tangan besar nan hangat milik Dimas, semakin malu lagi ketika ia mengingat alasan kenapa ia bisa terbangun di ranjang laki-laki itu.
Sasya mengingat semalam Dimas mengajaknya ke club untuk menghiburnya yang tengah patah hati lalu setelah itu ia meminum sirup yang rasanya sangat enak lalu mengajak Dimas berjoged dan berakhir menangis di pinggir jalan, di hadapan wajah Dimas. Karena melihat Rendy tengah berciuman dengan perempuan lain, astaga, setelah itu ia curhat dengan Dimas berakhir dengan Dimas yang menggendongnya karena ia yang malas berjalan lalu tanpa sadar ia ketiduran dalam gendongan punggung Dimas, astaga-astaga, pasti ia sangat menyusahkan laki-laki itu.
Dimas tengah asyik memperhatikan wajah Sasya yang menampilkan berbagai macam ekspresi terutama ekspresi malu, ini kali pertama ia melihat wajah Sasya yang memerah merona seperti ini, ia tak tahu gadis itu tengah memikirkan apa sampai-sampai bisa merubah-rubah ekspresinya dalam sepersekian detik.
Asyik melamun Sasya terlonjak ketika mengingat ia harus pergi ke kampus sekarang membuat Dimas yang melihatnya mengerutkan kening bingung.
"Ken—"
"Astaga jam berapa sekarang?!" potong Sasya buru-buru sembari memandang Dimas.
Dimas menunjuk jam yang tertempel di dinding kamarnya Sasya mengikuti arah telunjuk Dimas seketika membelalakan matanya. "Jam delapan lebih tiga puluh menit," ucap Dimas.
"Astaga Om, Sasya telat nih!!" Sasya beranjak dari ranjang Dimas, saking terburu-burunya kakinya tersandung selimut hingga berakhir tubuhnya terhempas keras ke lantai.
Dimas buru-buru menghampiri Sasya yang tengah mengaduh ia buru-buru mengangkat tubuh Sasya mendudukannya di atas ranjang. "Makanya hati-hati, dasar ceroboh!"
"Mana yang sakit?" tanya Dimas sembari meneliti kedua tangan mulus Sasya.
"Udah Om Sasya enggak apa-apa kok, ayo Om antar Sasya pulang!"
"Tunggu, saya juga harus bersiap-siap!"
"Bersiap-siapnya nanti dulu, sekarang anterin Sasya pulang!"
"Mending kamu mandi dulu di sini nanti begitu kamu sampai di rumah bisa tinggal langsung ganti baju!"
"Ta—"
"Itu lebih efektif!" Dimas menarik tangan Sasya dan mendorongnya ke kamar mandi yang ada di kamarnya.
Sasya dengan pasrah menjadikan kamar mandi laki-laki itu untuk ajang bersih-bersihnya, untung saja di kamar mandi Dimas banyak barang-barang serba baru, ada sikat gigi baru pasta gigi baru sabun baru handuk baru semuanya lengkap.
Begitu menyelesaikan ritual mandi dan tubuhnya sudah dibalut dengan handuk, Sasya membuka sedikit pintu kamar mandi Dimas dan mengintipnya sedikit, masih ada Dimas yang sedang merapikan ranjangnya.
"Om Dimas bisa keluar dulu dari kamarnya enggak Sasya udah selesai mandi," ucap Sasya tiba-tiba membuat Dimas sedikit terkejut. Dimas membalikan tubuhnya memandang kepala Sasya yang menyembul dari pintu kamar mandi.
"Kamu enggak mungkin pakai baju kamu lagikan? Pakai baju itu saja, dijamin bersih kok," ucap Dimas sembari menunjuk pakaian di atas ranjang ia kemudian keluar dari kamarnya untuk mandi di kamar mandi lain.
Begitu Dimas keluar dari kamar Sasya keluar dari kamar mandi, ia mengambil pakaian yang Dimas tunjuk sebuah dress beserta celana dalam dan bra.
"Om Dimas pakai bra sama CD cewek?" Sasya menertawakan ucapannya sendiri lalu mulai memakai pakaian itu.
Sasya keluar dari kamar Dimas bertepatan saat Dimas keluar dari kamar sebelahnya. "Sudah?"
"Sudah Om ayo anterin Sasya!"
"Memangnya masuk jam berapa sih?" tanya Dimas.
"Kelas siang, jam sepuluh!"
Dimas membelalakan matanya terkejut dengan penuturan Sasya. "Astaga itu masih lama Sya!"
"Udah deh Om, jangan bawel deh!"
***
"Sya!" teriak seseorang memanggil Sasya yang tengah berjalan sendirian.
Sasya berbalik ke sumber suara memandang seorang gadis yang tengah berlari ke arahnya. Begitu sampai di depan Sasya gadis itu langsung memeluk sebelah tangannya.
Gadis itu Vira, temannya.
"Capek Sya!" keluh gadis itu.
"Unfaedah banget sih keluhan lo Vir, jelaslah capeklah lokan lari-lari." Vira tersenyum memperlihatkan gigi-gigi rapinya.
"Eh kampus kita ngadain acara ya, Kok rame banget?" tanya Sasya sembari mengedarkan pandangannya ke aula kampus yang dihiasi dengan nuansa pink dan banyak sekali orang-orang yang berlalu lalang.
"Oh itu, gue juga enggak tau sih Sya, tapi menurut gosip yang gue denger ada yang bakal nembak gitu di hadapan semua anak kampus sini, makanya tuh liat hiasannya love-love semua."
Sasya mengangguk-anggukan kepalanya mendengar penuturan Vira. "Sweet banget enggak sih Vir ditembak kayak gitu?" tanya Sasya sembari menerawang bagaimana kalau ia yang ditembak seperti itu, pasti rasanya bahagia.
"Sweet apaan sih Sya, gue sih ogah! Hiiiwh, kampungan!"
"Ish romantis tau Vir!"
"Cek cek cek satu dua tiga!"
Tiba-tiba seseorang berbicara menggunakan alat pengeras suara membuat kedua gadis itu menoleh ke sumber suara, dua orang perempuan menghampiri Sasya dan Vira lebih tepatnya menghampiri Vira.
Salah seorang dari mereka memasangkan sebuah mahkota bunga ke kepala Vira membuat Vira mengerutkan keningnya tak mengerti memandang kedua orang itu yang kini tengah memegang kedua tangannya masing-masing.
"Loh-loh ada apa ini?" tanya Vira kepada kedua orang itu yang kini tengah membawanya ke kerubungan orang-orang yang entah sejak kapan sudah berformasi melingkar dengan seseorang berada di tengah-tengah seperti ini.
"Savira Andini!"
"Kita udah sama-sama saling tahu, udah sama-sama saling mengenal, lo tau kalau gue bukan orang yang romantis, lo juga udah tau kalau gue bukan tipe orang yang bisa basa-basi
tapi di sini gue cuma mau bilang kalau gue cinta banget sama lo, entah sejak kapan gue enggak tau tiba-tiba rasa ini bisa jadi milik lo
Savira Andini
lo maukan jadi pacar gue?"