Mohon maaf cerita ini dalam tahap revisi. Jika menemukan judul dengan tanda (#), harap dilewati dulu karena isinya pasti ngacoh.
***
Allensexie
Tante, kamu di mana? Aku cariin di hatiku nggak ada. ??
Tante Celi
Balik naik KRL.
Allensexie
Kenapa nggak bareng ponakanmu sih. Padahal udah ditungguin! ☹️☹️
Tante Celi
G mau.
Allen mendesah membaca chat dari Sherina yang singkat. Ah, Sherina makin lama makin dingin aja. Padahal waktu kecil dulu dia nempel terus sama Allen. Allen nggak merasa pernah buat salah. Apa Sherina lagi ngambek? Ya, dia emang lagi di usia rebel.
"Tante Celi, kamu jahat banget," keluh Allen sambil mengusap rambutnya.
"Siapa itu Tante Celi?"
Sebuah suara dari balik punggung Allen membuatnya terkejut. Allen terpana melihat sosok seorang gadis berambut coklat terang yang berdiri di sebelahnya. Laura, putri Sutradara Jay. Orang yang paling Allen hindari. Fans beratnya yang udah kayak stalker.
Laura itu sebenarnya cantik. Kalau dia lebih tuaan dikit pasti udah dipacarin sama Allen. Masalahnya, dia masih SMA, seumuran sama Tante Celi. Ntar dikira Allen p*****l dong!
"Tante yang aku kenal," kata Allen dengan senyuman terpaksa. "Kamu ternyata dateng, Ra."
"Ya, dong Kak, aku pasti nonton filmnya Kak Allen. Kakak tadi kiss bye sama aku, kan? Duh, aku deg-degan banget."
Apa? Allen bahkan nggak tahu kalau makhluk ini ada. Jadi dia berdiri di dekat Sherina dan jadi geeran? Mampus! Kenapa sih tadi dia pake kiss bye segala! Allen sangat menyesal.
Allen melirik ke kanan-kiri. Bagaimana caranya dia bisa kabur dari bocah ini? Dia males berhubungan sama Laura. Lalu Allen pun menyapa siapa saja yang ada di ruang istirahat artis itu. Yang kebetulan lewat itu si Damian. Aktor pendatang baru yang jadi figuran di film kali ini.
"Dam!" sapa Allen.
Damian pun menoleh. Bocah bermata amberq itu tersenyum manis dan menghampiri seniornya. Damian ini ganteng, bertalenta dan masih muda. Kelihatan nggak beda jauhlah umurnya sama Laura. Harusnya Laura lebih tertarik sama cowok model begini, kan daripada Allen yang bongkotan? Seharusnya begitu, tapi tatapan Laura sama sekali nggak lepas dari Allen dan bikin merinding.
"Ada apa, Kak?" sapa cowok manis bergigi kelinci itu.
"Dam, lo udah kenalan sama Laura? Ini anaknya Pak Jay."
Damian menoleh pada Laura dan mengulurkan tangan. "Hai, Laura, gue Damian," sapanya.
"Hai juga," sapa Laura seadanya. Dia lalu ngajakin Allen ngobrol lagi. "Kak, akting Kak Allen tadi bagus banget. Terutama bagian waku kejar-kejaran sama mafia itu."
"Ya bener keren banget! Aku paling suka bagian kebut-kebutan naik motor itu. Lihatin Kakak waktu take adegan itu kemarin itu bikin aku deg-degan," senyum Damian menimpali. Pasalnya Allen adalah aktor yang totalitas dan nggak pernah memakai stunman.
Laura melirik si Damian dengan tatapan kesel. Ngikut aja nih orang!
"Ya, itu editannya aja yang bagus," dalih Allen.
Damian tersenyum. Allen memang seperi itu. Ketika dia dipuji, cowok itu akan balik memuji kontribusi para sineas. "Film adalah hasil kerja sama tim." Itulah kalimat andalan Allen saat dirinya mendapat sanjungan atas bakat aktingnya. Allen tak pernah melupakan kerja keras orang di belakang layar. Itulah yang membuat Damian menghormati seniornya itu.
"Kakak beneran keren. Kapan, aku bisa sekeren Kakak," puja Damian.
"Lo pasti bisa, ntar kalau udah seumuran gue." Allen mengelus rambut Damian untuk menyemangati. Eh, nggak tahunya tuh cowok malah merona. Allen jadi ngeri. Damian yang belok, kan?
Sementara Laura jadi berapi-api. Nggak terima karena kepala Damian dielus-elus. Dia kan juga pengen dielus begitu.
"Kak, aku mau ikut latihan di Sanggar Pak Jo!" seru Laura semangat. "Aku udah bilang sama Papa. Aku juga ikut jadi artis kayak Kakak."
"Oh ya, bagus juga," ucap Allen. "Aku juga dulu ikut di sana sebelum dapat peran."
"Iya, Kak. Aku tahu itu dari buku biografi Kak Allen. Makanya aku pengen latihan di sana juga," ujar Laura semangat. Tapi kenapa Allen cuman senyum-senyum aja. Kenapa kepalanya nggak dielus!
"Eh, aku juga latihan di sana lo," sahut Damian nyerobot aja. "Pasti nanti kita jadi sering ketemu ya."
Laura tertawa kering, sementara di dalam hati mengumpat-umpat. b******k banget sih nih cowok. Ngapain sih dia? Gangguin PDKT-nya Laura sama Allen aja.
"Aku ke toilet dulu ya," pamit Allen akhirnya. Dia tersenyum gembira saat Laura diem aja. Ya nggak mungkin kan dia ikutan masuk ke toilet cowok. Allen tersenyum kecil melihat Damian yang sekarang jadi ngajakin Laura ngobrol. Laura menjawab dengan seadanya aja. Kelihatan banget dia males.
"Kalian itu harusnya bergaul sama yang seumuran," gumam Allen sembari mendorong pintu toilet. Om-om itu jadi teringat sama chatnya sama Sherina yang terputus tadi. Diraihnya ponselnya untuk mengetikkan pesan pada cewek itu.
Allensexie
Udah naik KRL?
Tante Seli
Udah.
Allensexie
Penuh ga KRL nya? Hati-hati ya pulangnya.
Tante Celi
Y.
Mata Allen melotot melihat balasan Sherina yang makin sedikit sampai jadi satu huruf aja. Apa Sherina beneran ngambek? Kenapa? Gara-gara apa?
Seumur hidupnya Allen nggak peduli ada cewek yang ngambek sama dia. Malahan kadang-kadang dia sengaja bikin mereka kesel. Walaupun sok pura-pura marah, biasanya mereka akan baik-baikin Allen lagi setelah hari ketiga. Tapi Sherina nggak begitu. Kalau dia beneran mengamuk, Allen bisa nggak diajakin ngomong sampai seminggu. Dan selalu berakhir dengan Allen yang minta maaf sampai sujud walaupun dia nggak tahu apa salahnya. Allen sangat tersiksa jika Sherina mengabaikannya.
Sementara itu Laura melirik ke arah pintu toilet tempat Allen masuk tadi dari kejauhan dengan jengkel. "Damian, lo kenal Tante Celi?" tanya Laura.
"Tante Celi? Belum pernah denger," ucap Damian sambil memegangi dagunya.
Laura termenung. Tante Celi? Siapa cewek bernama Tante Celi itu? Potek banget hati Laura pas baca chat Allen dengan orang itu dari belakang tadi. Allen sampai senyum-senyum begitu hanya karena membalas chat. Laura tidak pernah dengar nama Tante Celi sebelum di industri perfilman Indonesia. Siapa sebenarnya Tante Celi itu?
Allen sangat tertutup dengan kehidupan pribadinya. Di biografinya, cowok itu hanya menceritakan hal-hal yang berhubungan dengan karirnya. Di sosial medianya pun, isinya hanya promosi seputar dunia kerja saja. Tidak ada yang pernah tahu seperti apa kehidupan pribadi seorang Allen. Di mana dia tinggal, siapa nama keluarganya, siapa yang jadi pacarnya, semua itu top secret. Satu-satunya yang tahu mungkin hanya Om Dadang, manajernya, tapi pria itu juga selalu tutup mulut.
Laura berspekulasi dan benaknya. Kalau Allen saja memanggilnya Tante berarti Tante Celi itu udah tua, kan? Minimal 10-15 tahun lebih tua dari Allen mungkin. Kata-kata yang diketikkan Allen terlihat seperti gombalan. Apakah Allen emang tipenya cewek yang lebih tua? Laura meremas tangannya dia nggak boleh kalah sama nenek-nenek yang sudah bau tanah. Allen pasti akan terpikat padanya nanti.
***
Halo Kakak-kakakku yang baik hatinya. Terima kasih sudah menemukan dan membaca cerita ini. Jangan lupa di love dan komen ya, biar diriku semangat nulisnya. Mampir juga ke cerita aku yang lainnya yak. Jika sudi, silakan follow i********: aku @shietadm
***