Mohon maaf cerita ini dalam tahap revisi. Jika menemukan judul dengan tanda (#), harap dilewati dulu karena isinya pasti ngacoh.
***
"Len, besok aku jemput jam enam ya," ucap Dadang, manajer pribadi Allen sejak awal karirnya. Pria ini jugalah menemukan dan mengasah bakat Allen sebagai aktor. Bagi Allen, Dadang sudah seperti pengganti ayahnya. Berkat pria itulah, Allen bisa melewati masa-masa sulit di dalam hidupnya.
"Ya, Kak," angguk Allen tanpa minat sambil memandangi jalanan menuju rumahnya yang padat merayap. Pak Dadang berusia lebih tua dua puluh tahun darinya, tapi Allen lebih nyaman memanggilnya kakak.
Akhirnya mereka bisa pulang dari acara gala premier setelah acara minum-minum dengan produser yang tak dapat ditolak. Allen merasa kepalanya sedikit berat. Padahal dia cuman minum segelas untuk kesopanan.
"Kenapa kamu?" tanya Pak Dadang yang peka. Pria itu mengawasi Allen yang duduk di jok belakang melalui spion.
Wajah Allen seketika mewek saat ditanya begitu. Pak Dadang tertawa kecil. Di dunia ini hanya satu orang yang bisa membuat seorang Allen berekspresi demikian.
"Sherina lagi?" tebaknya.
"Dia kayaknya marah lagi. Masak bales chat aku cuman satu huruf. Betapa kejamnya. Kakak tahu nggak aku bikin salah apa?" tanya Allen.
"Nggak tahu, mungkin dia lagi PMS aja," kekeh Pak Dadang.
"Nggak, dia itu menstruasinya udah lewat minggu kemarin. Sekarang ini pra ovulasi. Harusnya moodnya dia sedang dalam kondisi prima," jawab Allen yakin.
Pak Dadang merinding. Sedekat apa hubungannya mereka sampai Allen bahkan hapal tanggal menstruasi Sherina? Mereka kayak suami istri aja. Pak Dadang aja nggak hapal kalender haid istrinya dan sering kena omel.
"Sherina mungkin lagi fase rebel." Pak Dadang memberikan alasan lain yang masuk akal. Usia Sherina memang usia di mana anak-anak biasa menjadi pemberontak.
Allen mendesah frustrasi. "Sherina emang jadi sering ngambek setelah masuk SMA. Dia nggak mau tidur bareng aku lagi. Nggak mau dicium dan dipeluk lagi. Aku kesepian banget. Hik hik!"
Pak Dadang melotot mendengar ucapan artis papan atas itu. "Apa? Kamu masih tidur bareng Sherina? Masih suka peluk dan cium-cium dia juga?"
"Emang kenapa? Kakak nggak pernah cium dan peluk anaknya Kakak?" Allen malah balik nanya dengan tampang innocent.
Pak Dadang menghela napas. Allen sama sekali tidak mengerti atau dia pura-pura tidak mengerti? Yah, sepertinya sih Allen itu tidak peduli aja. Dia memang suka bersifat egois dan seenaknya pada Sherina. "Ya jelas aja dia marah. Sherina itu bukan anak kecil lagi, Len."
Allen berdecak-decak. "Kenapa sih dia harus tumbuh besar?" Jujur saja Allen sangat serius dengan pertanyaannya ini. Seandainya saja Sherina tetap anak TK bau pesing yang dia rawat dulu. Allen pasti akan sangat bahagia jika waktunya berhenti pada masa itu. Walaupun saat itu kehidupannya sangat susah. Setidaknya dia dan Sherina selalu bersama dan tidak terpisahkan. Itu saja sudah cukup untuk Allen.
"Kamu harus beri dia jarak, Len. Dia itu sudah remaja. Dia perlu ruang untuk dirinya sendiri," senyum Pak Dadang.
"Kalau kamu kesepian harusnya kamu pacaran aja. Aisa yang jadi lawan mainmu, pemeran utama film hari kan lumayan tuh? Dia kayaknya juga naksir sama kamu," usul Pak Dadang.
Allen memberengut. Selama mengasuh Sherina Allen sadar bahwa pacaran itu hanya menambah beban hidupnya saja. Dan waktunya bersama Sherina akan semakin berkurang karena harus dibagi dengan pacarnya yang hanya sementara itu. Padahal tidak pacaran saja waktunya bersama Sherina sudah sangat sedikit.
"Iyalah, semua cewek di Bumi Pertiwi ini naksir sama aku, Kak," ucap Allen penuh percaya diri.
"Kecuali Sherina ya?" sindir Pak Dadang tepat sasaran.
"Hik! Iya...." Wajah Allen mendadak mendung lagi.
Pak Dadang menahan senyum. Karena pekerjaannya, Allen terbiasa mengenakan topeng. Bahkan ketika dia tidak sedang berakting. Dia harus selalu tampak sempurna di hadapan kamera. Hanya saat membicarakan Sherina saja, Pak Dadang bisa melihat Allen menjadi diri sendiri.
"Tapi Sherina itu kan bukan cewek," dalih Allen.
"Kalau bukan cewek dia apa?" kejar Pak Dadang.
"Dia itu Tante-tante! Tante-tante bawel!" gerutu Allen.
Pak Dadang hanya melirik artisnya itu dan tersenyum. Dia paham apa maksud Allen. Itu artinya, Allen tidak akan pernah menganggap Sherina sebagai perempuan. Hubungan Allen dan Sherina memang terlalu rumit. Bukan hubungan darah, bukan juga keluarga, tapi mereka menghabiskan waktu lebih banyak daripada keluarga. Bukan hubungan romantis, tapi terlalu banyak skin ship. Satu hal yang pasti hanyalah mereka saling menyayangi.
Terus membicarakan Sherina, tanpa sadar. Van yang dikendarai Pak Dadang sampai juga di depan Allen. Allen menggeser pintu dan keluar. Dia menguap dan melambaikan tangan pada manajernya.
"Besok jangan ngaret! Aku sudah chat Sherina sih buat bangunin kamu," pesen Pak Dadang.
"Ya, iya. Sampai besok."
Mobil Pak Dadang melaju pergi. Allen masuk ke dalam rumah dan menutup pagar. Rumahnya adalah sebuah rumah sederhana dengan dua kamar. Siapa yang menyangka artis sekelas Allen tinggal di tempat seperti ini? Padahal biasanya artis hidup di apartemen atau rumah mewah. Rumah sederhana ini adalah kamuflase yang tepat.
Allen sangat menikmati hidup di rumah peninggalan ayahnya ini. Allen suka privasi jadi dia tidak ingin memperkerjakan banyak orang. Itu tidak akan bisa dilakukan jika rumahnya terlalu besar. Dia juga tidak bisa membocorkan pada publik tentang keberadaan Sherina yang selama ini dia rawat. Dia takut pendapat publik dan fasnya akan melukai Sherina. Siapa yang bisa menerima laki-laki dan perempuan yang bukan keluarga dan tidak ada hubungan darah tinggal bersama di negara beradab timur seperti ini? Bisa-bisa dia digrebek warga dianggap pasangan kumpul kebo. Padahal mereka seperti ini karena tidak punya pilihan lain. Apalagi netijen +62 itu jempolnya suka gatel. Sherina adalah orang yang paling penting bagi Allen melibihi apa pun. Allen tidak bisa hidup jauh dari gadis itu barang sebentar saja.
Tak terasa sudah sepuluh tahun sejak hari yang sendu itu berlalu. Ayah dan calon ibu tirinya tewas dalam kecelakaan mobil ketika dalam perjalanan seusai dari mengukur baju pengantin. Sungguh ironi. Allen dan Sherina mereka tinggalkan begitu saja. Allen berusaha menghubungi pihak keluarga Sherina, tapi tak ada hasil. Dia tidak tahu siapa yang seharusnya merawat Sherina. Maka Allen pun memutuskan untuk merawat anak itu seperti adiknya sendiri. Tidak bisa disebut adik juga, karena harusnya gadis itu menjadi tantenya. Bahkan sampai hari ini tak ada seorang pun yang mencari Sherina. Gadis itu telah dibuang oleh keluarga besarnya seperti halnya Allen. Karena itulah mereka bisa cocok dan saling membutuhkan.
Allen menatap deretan bingkai foto yang menghiasi ruang tamu. Di sana ada foto Allen bersama almarhum ayahnya, dan almarhum ibu kandungnya. Ada juga fotonya bersama ayah dan calon ibu tirinya. Ada foto Sherina dengan kakaknya dan terakhir fotonya bersama Sherina yang berumur enam tahun. Memandangi foto-foto itu menyejukan jiwanya.
"Aku hidup dengan baik, Dad, Mom, Mami. Sherina juga tumbuh dengan sehat," gumam Allen.
Allen menguap lagi. Dia ngantuk sekali tapi matanya tidak bisa terpejam. Saat seperti ini hanya ada satu obat tidur paling mujarab baginya. Allen sempoyongan menuju kamar Sherina lalu membuka pintu.
Kamar Sherina yang mungil diterangi pencahayaan remang-remang dari lampu tidur. Sosok Sherina yang terlelap di atas ranjang dibalut oleh selimut membuat hati Allen terasa hangat.
***
Halo Kakak-kakakku yang baik hatinya. Terima kasih sudah menemukan dan membaca cerita ini. Jangan lupa di love dan komen ya, biar diriku semangat nulisnya. Mampir juga ke cerita aku yang lainnya yak. Jika sudi, silakan follow i********: aku @shietadm
***