Mohon maaf cerita ini dalam tahap revisi. Jika menemukan judul dengan tanda (#), harap dilewati dulu karena isinya pasti ngacoh.
***
Allen menguap. Dia ngantuk sekali tapi matanya tidak bisa terpejam. Saat seperti ini hanya ada satu obat tidur paling mujarab baginya. Allen sempoyongan menuju kamar Sherina lalu membuka pintu.
Kamar Sherina yang mungil diterangi pencahayaan remang-remang dari lampu tidur. Sosok Sherina yang terlelap di atas ranjang dibalut oleh selimut membuat hati Allen terasa hangat.
Dia berbaring begitu saja di samping Sherina dan memeluk anak gadis itu erat-erat dari belakang. Kasurnya sempet karena memang hanya berukuran untuk satu orang. Kaki Allen bahkan mencuat karena dia terlalu tinggi bagi rata-rata orang pribumi. Sherina jelas saja terbangun dengan gusar karena merasakan entitas lain di kasurnya.
"Allen! Kan aku udah bilang, kita tidur sendiri-sendiri!" amuk Sherina sembari membalikkan punggungnya. Dia berusaha mendorong Allen menjauh, tapi lelaki itu sama sekali tidak bergerak.
Allen hanya tertawa saja. Dia malah menempelkan telapak kakinya yang dingin ke kaki Sherina. Allen benar-benar sengaja melakukannya padahal tahu Sherina benci itu.
"Tante Celi anget banget. Allen butuh kehangatan," kekeh Allen. Sherina menutup hidung dan mulutnya karena bau alkohol dari mulut lelaki itu.
"Kamu mabuk?" tanya Sherina walaupun dia sudah tahu apa jawabannya.
"Allen cuman minum segelas aja kok," dalih Allen sambil mengacungkan jari tengahnya. Sudah jelas dia mabuk.
Sherina mendengus. "Padahal kamu sama sekali nggak kuat minum. Kenapa nekat terus sih!" Setengah gelas saja sudah membuat Allen tersiksa. Ini malah dia minim segelas.
Sherina membenci pekerjaan Allen. Pekerjaan yang memaksa pria itu terus-menerus memakai topeng dan bersikap baik. Orang-orang yang memperkerjakannya tidak semuanya menyenangkan. Kadang ada yang suka memaksa Allen minum seperti ini. Bahkan semua yang ada diri Allen itu bohong. Ulang tahun, latar belakang keluarga dan pendidikannya, semua informasi pribadi tentang Allen yang tersebar di internet dipalsukan oleh manajemennya. Semua itu hanya demi mendapatkan simpatik dari para penggemarnya. Kecuali nama panggungnya saja yang sesuai dengan nama depannya yang asli. Sherina tidak bisa membayangkan bagaimana Allen bisa bertahan hidup dalam dunianya yang penuh sandiwara selama lebih dari satu dekade.
Allen menjadi artis beberapa saat setelah mereka tinggal bersama. Allen bilang modal yang dia miliki hanya wajah saja. Allen masih remaja yang bahkan tak lulus SMA. Makanya wajah itulah yang akan dia jual. Tentu saja Allen tidak langsung terkenal seperti sekarang. Pemuda itu banyak mengikuti casting tetapi gagal. Kadang hanya jadi cameo orang lewat saja yang di shooting kakinya. Pernah juga jadi tokoh penjahat yang muncul untuk dipukuli saja. Seperti kata pepatah, usaha keras itu tidak akan mengkhianati. Dalam lima tahun namanya menjadi sangat populer setelah bermain di suatu sitkom. Dia menjadi terkenal dan mendapatkan tawaran iklan dan film hingga berada di puncak karirnya seperti sekarang.
"Ini bagian dari pekerjaan, Sher. Pak Produser yang tuang minumannya buat aku, mana bisa aku tolak," dalih Allen.
"Mestinya kamu tolak kalau nggak mau," decak Sherina.
"Aduh, Tante. Tante khawatir sama Allen yak." Allen menirukan suara anak kecil dan menggesekkan hidungnya di pipi Sherina. "Tapi Tante tadi tinggalin Allen sendirian. Makanya Allen sedih. Tante jahat banget sama Allen."
"Keluar dari kamarku! Aku udah bilang kan, kita tidur sendiri-sendiri!" ketus Sherina.
"Hari aja," lirih Allen sendu. "Aku nggak bisa tidur kalau nggak ada kamu, Sher."
Allen tidak bohong. Keberadaan Sherina memang membuatnya tidur lebih lelap. Bertahun-tahun dia sudah tidur sekamar dengan Sherina. Dia merasa sangat hampa kalau gadis itu tidak ada di sebelahnya. Allen sungguh tidak mengerti kenapa mereka harus tidur di kamar yang terpisah. Toh mereka hanya tidur bersebelahan saja tidak melakukan hal lain.
Sherina tak kuasa menatap mata abu-abu Allen yang berkaca-kaca. Gadis itu akhirnya menghela napas. "Ya udah, hari ini aja."
Allen tersenyum riang. Masalah hari ini terselesaikan. Besok dia akan mencari alasan lain supaya bisa tidur sekamar dengan Sherina lagi.
"Tante, nyanyiin lagu dong biar Allen cepat bobo!" pinta Allen.
Sherina mendengkus. Aktor papan atas itu bersifat manja seperti ini hanya padanya saja. Yah, itu mungkin satu kelebihannya. Sherina mengusap rambut Allen yang kecoklatan kemudian mulai bersenandung.
"Abdi teh ayeuna gaduh hiji boneka...."
Jelas Allen malah merinding bukannya tidur gara-gara Sherina yang menyanyikan soundtrack film horor yang meledak tahun kemarin.
"Jangan lagu itu, Tante!" teriak Allen.
Sherina tertawa lepas. Melihat wajah Allen yang ketakutan membuatnya puas. Allen memang takut hantu. Meskipun sudah malang melintang di dunia perfilman, tidak pernah sekalipun Allen memainkan genre horor. Alasannya adalah karena dia penakut. Allen melengkungkan bibir melihat Sherina yang tertawa lepas. Rasanya sudah berhari-hari dia tidak melihat senyuman itu.
"Akhirnya Tante senyum juga. Jangan marah-marah lagi ya, Tante. Allen janji jadi anak baik," ucap Allen sembari merengkuh Sherina lebih erat. Syukurlah, Sherina tidak melawan lagi. Hatinya terasa sakit setiap kali Sherina menolak pelukannya. Rasanya gadis itu tidak akan membutuhkannya lagi setelah tumbuh dewasa. Bagaimana Allen bisa hidup tanpa Sherina di sisinya? Allen hanya punya Sherina.
"Emangnya kapan aku marah?" ucap Sherina sok polos. Dia tidak menyangka Allen peka terhadap amarahnya. Namun yang membuatnya dia lebih jengkel adalah Allen tidak tahu kenapa Sherina marah. Ataukah Allen berpura-pura tidak tahu? Ya, bisa saja dia begitu.
"Oh, Tante nggak mau ngaku ternyata. Ya udah. Lagunya mana, Tante?" tegur Allen tak ingin melanjutkan perdebatan.
"Allen bobo ... Oh Allen bobo ... Kalau tidak bobo, nanti Tante gigit."
Allen tergelak mendengar aresemen lirik karya Sherina itu. "Kalau begitu Allen nggak mau bobo--"
Belum selesai perkataan Allen, dia sudah merasakan nyeri yang amat sangat di lengannya. Sherina benar-benar menggigitnya. Allen spontan berteriak dan menarik lengannya yang memeluk Sherina.
"Tante jahat! Dasar Tante tiri! Tante durhaka!" kecam Allen jengkel sembari mengelus lengannya yang kini dihiasi bekas gigitan.
"Bobo nggak! Anak nakal!" ancam Sherina sambil mendelik. Allen menciut. Tantenya mirip almarhum Suzana kalau sudah melotot begitu. Terutama tahi lalat di pipi kirinya yang chubby. Apalagi di pencahayaan kamar yang remang-remang. Sungguh horor.
"Iya, iya. Ini bobo, Tante," lirihnya ketakutan.
Beberapa menit kemudian. Sherina mendengar dengkuran halus. Allen benar-benar tertidur. Wajah Allen yang tertidur itu terlihat sangat damai. Sherina mengelus rambut Allen lalu mengecup puncak kepala laki-laki itu.
"Yang jahat itu kamu, Allen," lirihnya. Dia merengkuh Allen dalam dekapannya kemudian memejamkan mata.
***
Halo Kakak-kakakku yang baik hatinya. Terima kasih sudah menemukan dan membaca cerita ini. Jangan lupa di love dan komen ya, biar diriku semangat nulisnya. Mampir juga ke cerita aku yang lainnya yak. Jika sudi, silakan follow i********: aku @shietadm
***