Aku masih tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengarkan. Aku hamil?
Tanganku bergerak menyentuh perut yang masih rata. Di dalam perut ini ada anakku dan Devan? Aku harus bahagia apa sedih?
Sudut hatiku mengatakan kalau aku sangat bahagia, tapi tidak bisa dipungkiri kalau masih saja ada ketakutan dalam diriku. Aku merasa kalau aku belum cocok menjadi seorang ibu. Lalu bagaimana aku bisa mengurus anakku nanti kalau mengurus diriku saja aku masih kelimpungan?
Kuedarkan pandanganku pada sosok Devan yang sedang mengambil obat sementara aku duduk di kursi tunggu. Gelagat Devan memang sangat menunjukkan kalau dia bahagia saat ini.
Selama ini memang tidak ada pembicaraan kami mengenai anak selain hari itu, setelah malam pertama kami. Tidak secara mendetail, aku hanya mengungkapkan kalau aku belum siap menerima kehadiran anak di antara kami dalam waktu dekat. Dan dia menyanggupinya.
Aku mendesah panjang. Siap tidak siap, aku harus siap. Dia sudah bertumbuh di dalam tubuhku. Dan sama sekali tidak ada niat untuk membuangnya. Aku tidak sejahat itu, aku sangat menyayanginya.
"Lea?" panggilan dari seseorang menyentakku.
"Soffie? Kamu ngapain ada disini?" tanyaku sambil mengedarkan pandangan. Ah, aku merindukan sahabatku satu ini. Sudah sangat lama kami tidak bertemu.
Kami berdua berpelukan layaknya teletubbies, hingga Devan menginterupsi kami. Dia sudah selesai ternyata mengambil obatnya.
"Lagi nganterin mami check up. Biasalah, mami-mami," jawab Soffie akan pertanyaanku sebelumnya. "Kalian berdua? Siapa yang sakit?" tanyanya kemudian.
Aku menoleh dengan cepat pada Devan. Dia tidak menjawab seperti kode yang aku berikan padanya. "Hanya periksa, tapi ternyata butuh beberapa obat," balasku dengan senyuman dipaksakan.
Wajah Soffie malah tidak percaya dengan jawabanku. Dia memicingkan matanya, curiga.
"Kenapa?" dalihku. Sepertinya dia memang sedang menerka-nerka.
"Lo hamil?" tanyanya serius. "Tidak baik loh menolak kehadiran calon anak," lanjutnya.
Hanya anggukan kepala yang menjadi balasanku. Tidak masalah kalau hanya Soffie yang mengetahuinya. Yang tidak kuduga, dia malah berteriak kesenangan dan memelukku girang. Membuat bayiku kaget saja!
"Selamat, Lea. Selamat buat lo berdua. Akhirnya gue akan punya keponakan," katanya senang.
"Lo gimana sama Dennis? Masih lanjut?" tanyaku mengalihkan.
Sorot wajahnya berubah lesu. "Gue malas bahas dia," katanya singkat dan kedua tangannya bersidekap di d**a. Hm, sepertinya mereka sedang ada masalah.
Terakhir kali aku dengar, Dennis memang akan melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Sedangkan Soffie, bukan tidak mampu melakukan seperti yang pacarnya lakukan, tapi dia anak tunggal yang tidak akan pernah diijinkan berada jauh dari kedua orang tuanya. Sekalipun dia bukan anak mami, tapi orang tuanya tidak pernah setuju akan hal itu. Jangankan di luar negeri, luar kota saja tidak dibolehkan.
"Tapi nggak putus kan?" tanyaku lagi.
"Nggak sih, tapi bete aja. Dia nggak ngerti sama keadaanku. Kan universitas yang bagus nggak cuma di luar negeri aja. Di sini juga ada banyak kok yang bagus. Bilang aja dia memang mau jauh-jauh dari gue. Mau cari cewek lain kayaknya," gerutunya.
"Dennis nggak seperti itu orangnya. Sekali dia suka sama seseorang, dia akan bertahan. Setau gue, dia memang sudah sangat lama menginginkan kuliah di sana," jawab Devan.
"Ah, udahlah. Lo mentang-mentang udah jadi artis," sebal Soffie.
Aku menatap Devan yang air mukanya berubah seketika. "Hm, yaudah deh, gue balik dulu ya Sof. Salam buat tante."
Soffie mengangguk. "Oke, bye."
Kutarik lengan Devan keluar dari bangungan rumah sakit. Memasuki mobil yang sudah menunggu di depan. Hari sudah semakin malam. Dan aku butuh istirahat secepatnya. Demi kesehatan janinku.
"Dev..."
"Tidak apa. Bukan masalah yang berarti. Bukankah kita sudah lama melupakannya?" jawab Devan yang sepertinya mengerti arah pembicaraanku. "Jalan pak," perintahnya pada pak Bowo yang langsung diangguki pria paruh baya itu.
Kusandarkan tubuhku di dadanya saat mobil mulai melaju. Mencoba menutup mata, menghindari rasa mual lagi. Apalagi ini perjalanannya sedikit lebih jauh dibanding sebelumnya.
Saat aku membuka mata, aku sudah berada di tempat yang berbeda. Terakhir aku ingat aku masih dalam perjalanan dari rumah sakit.
Ruangan ini, aku sangat mengenalinya. Ini adalah kamarku dan Devan. Kupalingkan wajahku ke samping saat mendengar bunyi ketikan di keyboard, dan aku menangkap sosok Devan yang sedang asik dengan laptopnya di meja belajar. Aku kenal tampilan itu, Google Chrome. Dia sedang berselancar di dunia maya ternyata.
Perlahan aku bangkit dari tidurku, menyingkap selimut kesukaanku yang menutup tubuhku. Kemudian melangkah pelan mendekati Devan.
Kedua tanganku kulingkarkan di bahunya dan meletakkan dagu di bahunya.
Devan tersentak kaget. "Hei, kenapa malah bangun? Aku berisik ya?" tanyanya diiringi sebuah kecupan di pipiku.
"Maunya tidur sama kamu," pintaku dengan nada manja. Aku tidak yakin kalau itu benar-benar diriku. Terlalu manja menurutku. Hm, bawaan bayi mungkin.
"Sepertinya anak kita perempuan. Kamunya kelewat manja seperti ini," bisik Devan.
Aku tidak menyangkal. Bisa saja memang. Dan sama sekali tidak masalah untukku. Perempuan atau laki-laki, selama masih baik-baik saja maka tidak akan mengurangi kebahagiaanku.
Laptop yang menampilkan tentang tips menjaga kandungan, dimatikan oleh Devan. Dan dia menuntunku kembali ke kasur.
"Tidurlah, kamu masih butuh istirahat," perintahnya.
Sayangnya mataku tidak terasa mengantuk lagi. Yang ada aku malah memainkan jemariku di dadanya hingga membuatnya sesekali menggeram.
Tak tahan dengan sentuhanku, dia menangkap jemariku yang nakal. "Jangan mengundangku, sayang. Kamu butuh istirahat," bisiknya dengan suara serak.
"Nggak ngantuk lagi," jawabku dengan mudah.
Dia menghela nafas. Sedikit memutar tubuhnya hingga menghadap ke arahku. Satu tangannya mulai mengelus punggungku, memberikan rasa nyaman. Sesekali mengecupi wajah dan puncak kepalaku.
"Kamu butuh banyak istirahat. Jangan sampai membahayakan bayi kita. Apalagi hari ini sudah sangat melelahkan," bisiknya.
"Kuliahku gimana dong jadinya?" Aku tiba-tiba teringat akan hal itu. Dua minggu lagi perkuliahan akan dimulai. Kalau aku hamil, pasti akan menghambat semuanya.
"Diundur saja setahun. Nanti kalau dedek bayi sudah lahir, kamu bisa lanjut kalau mau."
"Terus kamu nanti digodain sama cewek-cewek disana, gitu?" Dan rasa cemburu itu juga muncul seketika. Bahkan perkuliahan itu belum dimulai, memikirkannya saja sudah membuatku panas.
Devan tersenyum penuh kemenangan, membuatku semakin memberengut. "Tidak akan ada yang bisa nandingin kamu," balasnya. Tapi tetap saja hal itu membuatku memikirkannya. "Tidurlah," pintanya sambil mengeratkan pelukannya.
Aku tidak bisa memahami apa yang terjadi pagi ini. Usai morning sickness yang sangat menyiksaku bahkan sejak ayam belum berkokok, keempat teman band Devan dalam d'Earth beserta mbak Netta, juga om Arif yang tidak lain adalah ayah Aldi, produser band mereka mendatang rumah kami. Sungguh tak terduga akan terjadi seperti ini.
Pembicaraan serius pun terjadi di antara mereka. Yang intinya, teman-temannya meminta maaf telah memojokkan Devan, demikian juga dengan mbak Netta. Dan kali ini kedatangan mereka adalah untuk mengajak kembali Devan untuk ikut bergabung sebagaimana sebelumnya.
Jawaban yang Devan berikan sungguh mengejutkanku. "Maaf, tapi aku sudah memutuskan untuk fokus dengan kuliahku juga perusahaan ayah dan papa. Apalagi dua minggu lagi kuliahku akan dimulai. Aku tidak ingin merusak konsentrasiku di awal perkuliahan," jawabnya dengan lantang.
Bukan hanya aku yang melongo mendengar jawabannya, tetapi semua orang di ruangan ini sama sepertiku. Jawaban itu sangat tidak terduga.
Berbagai bujukan yang mereka lakukan, juga ucapan maaf yang aku tau memang benar-benar tulus tidak juga mengubah keputusan Devan. Dia kekeuh dengan apa yang dia ucapkan sejak awal. Hal itu bahkan sempat membuat Bastian naik darah dan hampir membuat kekacauan jika tidak ditenangkan oleh Aldi dan Reno. Keduanya yang duduk di kiri dan kanan Bastian langsung menahan lengan pria tampan itu saat akan bangkit dari duduknya.
"Tenanglah, Bas!" perintah om Arif.
"Bukannya ingin menjelekkan atau bagaimana. Tapi dari sini saja sudah terlihat," kata Devan tajam.
Aku bingung dengan apa yang terjadi. Bukankah selama ini mereka bersahabat dengan sangat baik? Kenapa sekarang malah jadi seperti ini? Benar-benar tidak disangka.
Kuelus lengan Devan, menenangkannya supaya tidak terpancing emosi. Sembari menatap wajahnya penuh harap. Aku yang tidak pernah melihatnya dengan sorot setajam itu selama aku mengenalnya tentu saja sedikit membuatku takut, apalagi kalau sampai dia marah. Aku tidak ingin menyaksikannya.
"Tidak apa," bisiknya seakan mengerti ketakutanku dan balas mengelus punggung tanganku.
"Kami tetap berharap kamu akan kembali, Devan. Kami sangat mengharapkannya. Bahkan selama ini kami tidak pernah berpikir untuk mencarikan penggantimu. Kami masih menginginkan kamu untuk kembali," kata om Arif lagi entah keberapa kalinya.
"Maaf, om. Keputusanku tetap sama." Devan benar-benar tegas menjawabnya.
Om Arif mendesah panjang. "Baiklah. Kami mengerti akan kekecewaan kamu. Kami pamit, dan kami akan menunggu berita baik darimu." Om Arif berdiri diikuti teman-teman yang lain. Aku dan Devan juga ikut berdiri, hingga om Arif menyalami Devan dan menepuk pundaknya dengan tangannya yang bebas.
"Kami menunggu, Dev," bisik Aldi.
Devan memejamkan mata dan menelan ludah seakan sedang meredam amarah dalam dirinya. Kedua tangannya bahkan mengepal kuat.
"Dev..."
Dia menoleh dengan cepat. Menarik tanganku untuk duduk di sebelahnya. "Tidak apa," bisiknya sambil mengelus pundakku.
Aku menatap -meneliti- wajahnya. Tidakkah dia akan menyesal suatu saat nanti dengan keputusannya kali ini? Karena semua orang tau kalau penyesalan selalu datang terakhir. "Kamu serius?" tanyaku pelan.
"Tidak ada yang harus dipikirkan lagi, Lea. Bukankah aku sudah berkali-kali mengatakannya? Sekali aku menolak, maka seterusnya juga akan sama. Tidak akan ada yang berubah. Dan kita juga sudah membahasnya. Kita akan fokus pada kuliah dan perusahaan. Belum lagi sekarang ada dedek bayi yang harus kita pikirkan juga."
Ya, aku ingat bayiku.
"Kamu yakin tidak akan menyesal?" lanjutku.
Dia menyelipkan anak rambut yang menjuntai ke belakang telinga. Ibu jarinya mengelus pipiku. "Akan ada saat yang tepat untuk segala sesuatunya. Dan untuk yang satu itu, sudah pasti bukan sekarang. Masih ada banyak hal yang harus kita dahulukan sekarang. Memastikan dedek bayi sehat dan tidak kekurangan kasih sayang, salah satunya."
Aku tidak bisa menahan tangis haru. Dia kelihatan sangat menyayangi calon anak kami.
Tubuhku diraihnya dalam pelukannya. "Kenapa malah menangis?" tanyanya heran yang hanya kubalas dengan gelengan kepala. "Kita sarapan dulu," ajaknya.
Dan aku juga tau kalau bayiku butuh gizi seimbang. Aku tidak akan melewatkan sarapan, sekalipun sedikit sulit. Mencium aroma masakan saja tadi membuat isi perutku bergejolak.