Perjuangan panjang untuk menghabiskan sepiring nasi goreng untuk sarapan pagi ini akhirnya selesai juga. Setelah beberapa kali terhenti dan harus Devan yang menyuapkannya. Dan dia tidak keberatan sama sekali melakukannya. Dengan telaten dia menyendokkan isi piring hingga habis tak bersisa.
Beruntung saat minum s**u ibu hamil -yang dibelikan bi Eni pagi tadi- tidak masalah sama sekali. Bahkan aku sangat menyukainya. Kalau diminta minum dua atau tiga gelas mungkin biasa saja.
Hari ini kami habiskan dengan quality time berdua di ruang tv. Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Kami hanya menonton, sesekali bermesraan tanpa harus hubungan intim. Ditemani coklat yang kemarin kami beli jauh-jauh, hingga butuh perjuangan yang luar biasa.
Penampilan d'Earth yang hanya empat orang, tanpa drummer menarik perhatianku. Devan sudah menggantinya ke channel lain, tapi aku merebut remot dan menampilkannya lagi. Aku hanya ingin menyaksikan bagaimana mereka tanpa Devan.
Tidak terlalu buruk memang walau sangat terasa ada yang kurang. Biasanya penampilan mereka selalu diiringi tabuhan drum yang membuat semakin enak didengar. Dan kali ini terasa hampa.
Saat para penonton terlihat, beberapa di antara mereka terlihat memegang spanduk bertuliskan nama Devan. Mungkin mereka ada penggemar setia Devan yang menginginkan sosok idolanya kembali. Mereka pasti sangat merindukan Devan -aku tau-, walau kadang membuatku berang. Beberapa diantaranya bahkan menitikkan air mata yang memang sesuai karena sedang menyanyikan lagu dengan tema yang sedih. Ugh, berlebihan sekali.
"Kenapa sih harus menonton itu? Memangnya tidak ada siaran lain yang lebih penting?" tanya Devan gerah.
"Cuma pengen lihat aja," balasku enteng hingga penampilan itu selesai.
"Kamu ada masalah apa sih sama Bastian?" tanyaku saat teringat kejadian pagi tadi. Sikap Devan seperti menunjukkan kalau keduanya sudah ada masalah bahkan sebelum pernikahan kami terkuak. Sorot kebencian ada di matanya saat menatap pria itu.
Devan bergerak gusar. "Tidak apa-apa," balasnya.
Aku tau dia berbohong. Dia bukan pembohong yang baik, sama sepertiku. "Tidak perlu mengelak. Wajah kamu sangat menunjukkan," desakku.
"Tidak ada apa-apa, Lea. Aku hanya tidak suka caranya terakhir kali."
Terakhir kali bertemu saat manggung yang terakhir bersama Devan, aku memang tidak tau apa yang terjadi di backstage. Aku memilih untuk menonton di rumah saja, karena memang keamananku juga terancam karena berita besar itu. Aku juga tidak mau diberondong banyak kamera dan mic.
"Memangnya apa yang terjadi?" tanyaku.
Devan menghela nafas. "Mereka sudah kuberitau sejak awal kalau kita sudah menikah. Tidak ada protes atau apa sama sekali. Mereka bahkan mendukung kita. Kalau mereka mengatakannya sejak awal kan bisa dipikirkan baik-baik caranya. Dan saat terbuka kemarin, dia bersikap seolah-olah aku tidak pernah memberitahukan mereka sebelumnya. Sangat tidak dewasa." Kepalanya menggeleng, menyayangkan keadaan itu.
"Hanya itu?"
"Sudah sejak lama memang sikapnya sedikit tidak mengenakkan."
Aku mengernyit. Selama ini, sepenglihatanku, dia orang yang sangat baik dan ramah. Tidak ada tanda-tanda kalau dia ada niatan lain di balik sikap baiknya.
"Benarkah?"
"Tidak perlu dibahas lagi. Mengingatnya membuatku kesal."
Ternyata seorang Devan juga bisa merasa kesal. Aku tersenyum geli.
Dia mendelik sebal. "Tertawakan saja sepuasmu. Dan setelah itu aku tidak akan mengampunimu. Aku akan membuatmu memohon sepanjang hari," ancamnya disertai seringaian khas miliknya. Aku tau betul kemana arah pembicaraannya ini.
"Dan kamu akan menyiksa dedek bayi. Padahal tadi kamu sudah berjuang keras biar dia bisa mendapatkan asupan giji."
"Darimana kamu bilang kalau aku akan menyiksanya? Aku bahkan dengan baik hati ingin mengunjunginya. Bukankah itu hal yang positif? Bahkan kalau seorang ayah tidak melihat anaknya, maka dia bukan ayah yang baik."
Ish, selalu saja ingin menang sendiri.
Dia menciumi wajahku dengan gemas. "Aku hanya bercanda. Aku juga tidak ingin membuat kamu kelelahan," katanya. "Dan itu artinya kamu harus istirahat lagi sekarang."
"Aku bosan istirahat terus. Aku ini bukan orang penyakitan dan sekarat hingga harus berada di kasur terus," gerutuku. Sebenarnya masih sebal juga karena masalah antara suamiku dengan Bastian masih tidak kumengerti sama sekali. Hanya clue kalau Devan tidak menyukainya sejak awal, membuatku tidak bisa menebak apa-apa.
"Tidak baik membantah suami. Masih ingat kan dengan janji untuk patuh pada suami?"
Selalu mengandalkan posisi untuk meraih kemenangan saat berdebat. Sangat menyebalkan. Tapi aku tetap mencintainya.
"Tidurlah, sayang. Bukan hanya kamu yang berjuang saat ini, tetapi aku juga. Kamu tidak tau kan bagaimana rasanya menahan dia yang ingin sekali merasakan dirimu? Itu sangat menyiksa," rintihnya seolah memang sedang menahan sakit yang luar biasa sekarang.
Oh, astaga! Dia memang sudah terbangun. Aku baru menyadarinya.
Dengan patuh aku menyelinap ke dadanya yang menjadi tempat bersandar paling favorit. Ini akan membantu untuk tidur lebih cepat. Mencoba mengabaikan dia.
Aku terbangun saat hari sudah sore. Tapi aku tidak menemukan sosok Devan di sebelahku seperti sebelum tidur.
Kemana perginya?
Aku menemui bi Eni yang sedang menyiapkan makan malam di dapur. "Devan kemana bi?" tanyaku masih dengan wajah baru bangun tidurku.
"Tadi mas Devan dapat telepon dari kantor, katanya penting. Jadinya mas Devan pergi."
"Udah lama bi?"
"Dari sekitar jam tiga, non."
Aku mengangguk. Ada masalah penting apa di kantor?
Kuputuskan untuk kembali ke kamar. Mencari ponselku untuk menghubungi Devan. Aku sudah merindukannya. Ternyata dia memang ada di kantor. Tapi tidak menceritakan apa yang terjadi di sana sekalipun aku sudah membujuknya.
"Tunggu sebentar ya, aku sudah mau pulang. Kamu ada yang mau dititip?" tanyanya.
Aku menggeleng. Seolah dia bisa melihatnya. Dan kemudian tersadar saat mendengar panggilannya dari seberang. "Tidak ada. Aku hanya ingin kamu cepat pulang," balasku.
Hanya menunggu setengah jam hingga dia tiba di rumah. Tidak mempedulikan apa-apa, aku langsung berhambur dalam pelukannya. Sampai-sampai membuatnya heran, bingung dengan apa yang terjadi padaku. Elusan tangannya di punggungku yang mampu menenangkanku. Entahlah, aku sendiri bingung dengan apa yang terjadi padaku.
"Sudah makan malam?" tanya Devan.
Gelengan kepala yang menjadi jawabanku -lagi. Tanpa kata, Devan membawaku ke meja makan. Segala sesuatunya sudah disiapkan oleh bi Eni.
"Ada masalah apa di kantor?" tanyaku pada Devan saat sudah di kamar.
"Bukan masalah yang penting. Mereka butuh kehadiranku disana."
Hanya itu? Aku tidak percaya.
Meski sangat ingin tahu, aku menahan diriku untuk tidak bertanya terus. Bisa-bisa aku malah menaikkan emosi Devan. Kuredam rasa ingin tahu itu sedalam-dalamnya.
"Ah, aku ngantuk banget," keluhku yang membuat Devan ikut membaringkan tubuhnya di sebelahku. Tangannya yang setiap malam bekerja mengelus punggungku mulai beraksi yang mau tidak mau membuatku semakin cepat menutup mata. Di akhir kesadaranku, aku masih merasakan Devan mengecup puncak kepalaku.
Aku hanya bisa berharap kalau ini akan bertahan lama.
Pagi ini sama seperti pagi-pagiku yang terakhir. Bangun dengan mual yang luar biasa. Kloset menjadi tempat pertama yang kukunjungi. Beginikah rasanya hamil muda?
Saat ini aku butuh teh mint, seperti yang dilakukan Devan sebelumnya. Berhubung di sudah tidak ada di kamar sejak aku bangun, aku putuskan untuk langsung ke dapur, dan bi Eni bisa membantuku.
"Eh, non Lea. Ini teh mint-nya udah disiapin sama mas Devan tadi. Sama sarapannya juga. mas Devan pesan, non habiskan sarapannya." Bi Eni langsung menyambutku dengan kalimat-kalimat itu.
"Devan kemana bi, sepagi ini?" tanyaku sembari mendudukkan diriku di kursi.
"Ke kantor, non. Katanya lagi banyak urusan, makanya mas Devan nggak bangunin non."
Dan ini semakin mendukung dugaanku kalau sepertinya ada masalah yang serius di kantor. Tidak akan mungkin Devan pergi secepat ini kalau memang tidak serius. Tidur saja semalam dia tidak tenang. Berkali-kali terdengar helaan nafas. Lalu, apa yang harus aku lakukan?
Usai menghabiskan sarapanku, disertai s**u ibu hamil, aku bersiap untuk pergi ke kantor. Aku memang tidak tau kalau kehadiranku bisa membantu, atau mungkin malah akan memperburuk keadaan. Tapi aku sangat ingin mengunjungi kantor.
"Jangan nakal ya dek," bisikku sambil mengelus perutku yang masih rata.
Reaksi bi Eni yang melarangku untuk pergi tidak mengubah niatku. Bi Eni juga terlihat sangat khawatir denganku. Tapi aku akan tetap pergi dengan menaiki taksi yang aku hentikan di depan rumah.
Saat tiba di kantor, tidak ada yang menghalangi jalanku, karena mereka memang sudah tau jelas kalau aku ini adalah istri pemilik perusahaan tempat mereka bekerja. Bahkan beberapa dari mereka yang berpapasan denganku menundukkan kepala dengan sopan. Padahal aku tau betul kalau usia mereka semua jauh lebih tua dariku. Aku hanya membalas mereka dengan senyuman tipis. Aku hanya ingin bertemu dengan Devan. Mencari tau masalah apa yang sedang terjadi.
Ting!
Bunyi lift yang tiba di lantai dimana ruangan Devan berada, menandakan kalau aku sudah tiba di tujuanku.Thomas yang sedang duduk di tempatnya langsung menyadari kehadiranku, berdiri dengan semangat menyambutku tak lupa dengan senyuman manisnya.
"Devan ada?" tanyaku.
Pria yang manis di hadapanku memasang raut bingung. Senyumannya hilang saat itu juga. "Sudah beberapa hari ini pak Devan tidak datang ke kantor. Ya, semenjak ibu dan bapak pergi ke Malaysia."
Devan tidak ada di kantor? Lalu kemana?
"Oh, seperti itu. Kamu tau dia kemana?"
"Bapak hanya bilang kalau ingin menjaga ibu di rumah. Apakah ada masalah, bu? Mungkin saya bisa bantu," tawarnya.
Aku menggigit bibir dalamku. "Hm... Ah, kamu telepon saja dia, tolong tanyakan ada dimana."
Thomas bebalik dengan cepat ke mejanya. Meraih gagang telepon dan menempelkannya di telinga setelah menekan deretan angka. Dia hafal nomor Devan?
Pembicaraan yang Thomas lakukan tidak sepenuhnya aku dengarkan.
"Bapak ada di perusahaan Atmajaya, bu."
Ah, aku lupa kalau Devan juga menangani perusahaan papa.
Tunggu, itu berarti masalah yang dimaksudkan sedang ditangani oleh Devan berarti ada di peusahaan papa?
Setelah mengucapkan terima kasih, aku balik badan dan meninggalkan Thomas dengan langkah cepat. Aku harus kesana. Secepatnya.
Perasaanku jadi tidak enak. Jantungku berpacu cepat dan tubuhku terasa gemetaran. Lift yang aku naiki terasa sangat lambat untuk mencapai lantai bawah.
Ada apa denganku?