Aku membuka mata saat merasakan genggaman erat di tanganku disertai kecupan-kecupan. Apa yang terjadi? Aku sangat kenal dengan bau khas ini. Dimana lagi kalau bukan di rumah sakit.
"Kamu sudah bangun? Apa yang kamu rasakan?" Suara itu juga sudah sangat aku kenali. Setiap hari mendengarnya. Devan. Sorotnya sangat khawatir, menatap dalam ke arahku. Terlihat juga dia sedang menahan emosinya.
"Pusing," keluhku dan memijat pelipisku.
"Sebentar, aku panggilkan dokter," katanya dan beranjak.
Hanya dalam hitungan menit, Devan kembali dengan sorang pria berjas putih yang menandakan dia seorang dokter. Dia memeriksaku dengan cepat.
"Sebaiknya ibu jangan kelelahan dan banyak pikiran. Bahaya buat janin ibu yang masih rentan," pesan dokter yang aku lihat di tag namanya dokter Benny. "Saat ini kondisi bayinya masih aman, dia baik-baik saja. Sepertinya dia memang kuat, mengingat usia ibu yang juga masih muda," lanjutnya.
Seperginya dokter itu dari ruangan, Devan kembali ke posisinya semula. Meraih tanganku dalam genggamannya. "Memangnya kamu mikirin apa sih? Dan kenapa tiba-tiba ada di kantor?" cercanya.
"Aku merindukanmu," dalihku.
Devan menarik nafas dan membuangnya kasar. "Tidak perlu memikirkan apa-apa selain kondisi dedek bayi. Kalau memang seperti itu kan bisa lewat telepon. Bahkan ada banyak cara yang bisa dilakukan. Tidak perlu memaksakan diri." Nadanya dipaksa tetap rendah.
"Tapi aku maunya meluk kamu." Sifat manjaku keluar lagi.
Tanpa beban, Devan memposisikan dirinya dalam pelukanku. Tangannya yang kokoh memeluk perutku -sesekali mengelusnya lembut- dan wajahnya tanpa malu menyelinap di ceruk leherku. Nafas hangat miliknya berhasil membuatku kegelian hingga terkikik. Bahkan membuatku bergidik geli. Tapi kesempatan ini tak kubuang begitu saja. Kedua tanganku melingkar sempurna di lehernya. Membalas perbuatannya dengan melakukan hal yang sama, sengaja membuang nafas di lehernya. Juga mencuri-curi kecupan.
"Puas?" tanyanya setelah melepas pelukannya beberapa menit kemudian.
Aku menggeleng. Tidak akan mungkin aku bisa puas untuk itu. Akan selalu dan selalu kurang. Sampai kapanpun aku pastikan seperti itu.
"Istirahatlah sebelum makan siang datang. Jangan hanya memikirkan dirimu. Ingat dedek bayi." Dia mengingatkanku lagi.
Sekalipun sedikit tidak suka dan ingin menentangnya, karena di calon buah hati kami, kuurungkan niat itu. Benar kata Devan, aku tidak boleh egois. Mencoba membuang masalah apapun dari kepalaku dan hanya memikirkan kandunganku. Kejadian hari ini tidak ingin terulang kembali.
Baru beberapa langkah keluar dari lift, pandanganku tiba-tiba menggelap. Aku bertopang pada dinding dan terus mencoba melangkah.
Seseorang -yang mungkin melihat keadaanku- datang menghampiri.
"Anda baik-baik saja bu?" tanyanya.
Aku hanya mengangguk, tanpa membalas ucapannya.
"Tapi wajah ibu sangat pucat. Sepertinya ibu sedang sakit. Mari saya bantu." Nadanya penuh dengan kekhawatiran. Aku bersyukur dia melihatku tadi.
Dia memapahku menuju taksi yang tadi kupesan. Tapi saat terus melangkah, pandanganku semakin menggelap dan kesadaranku hilang.
Entah apa yang terjadi selanjutnya, kata Devan seseorang menelefonnya, memberitahukan kalau aku sedang dibawa ke rumah sakit. Membuatnya tidak berpikir lagi untuk meninggalkan segala pekerjaannya.
Sorenya, aku sudah diijinkan pulang oleh dokter, karena memang tidak ada masalah yang serius. Aku hanya butuh istirahat. Wajah Devan sangat tidak percaya untuk meninggalkanku lagi. Akhirnya dia memutuskan untuk menemaniku di rumah.
"Apa yang terjadi dengan perusahaan papa?" tanyaku tak bisa menahan kekepoanku.
"Aku kan sudah bilang jangan memikirkan apapun selain kandungan kamu. Tidak perlu mengkhawatirkan masalah perusahaan. Ada banyak kepercayaan papa yang bisa menanganinya." Dan dia tetap pada pendiriannya untuk tidak memberitahuku. Dia sepertinya sudah sangat kenal dengan diriku. Aku pasti akan kepikiran terus jika tau apa yang terjadi. Tapi seperti ini juga tidak membantu. Aku tetap kepo!
Saat hari sudah malam, Aldi muncul lagi di rumah kami bersama ayahnya. Sangat tidak terduga. Dan hanya berselang beberapa menit, teman-teman band d'Earth juga muncul, tak terkecuali.
"Dev, tolong pikirkan ulang. Bastian benar-benar sudah menyesal dengan apa yang telah diucapkan dan diperbuatnya." Kalimat bujukan dari Aldi.
"Aku benar-benar minta maaf, Dev. Kamu juga merasakan bagaimana hormon seorang remaja beranjak dewasa. Dan aku sudah ikhlas kok. Aku tidak ingin menjadi pengganggu rumah tangga kalian. Rasa itu sudah aku kubur dalam-dalam. Aku turut bahagia dengan pernikahan kalian."
Apaan maksudnya itu?
Jadi Devan membenci Bastian karena pria itu menaruh rasa padaku? Tidak terduga!
"Aku sudah maafin soal itu, dan semuanya sudah aku maafin. Tapi untuk bergabung kembali, maaf, aku tetap tidak bisa," tolak Devan.
"Dev, kami tau gimana obsesi kamu dengan dunia musik. Tidak mungkin kamu bisa melepaskannya begitu saja. Bukankah sejak dulu juga kamu tidak pernah menyukai bisnis? Dan masalah kuliah, kita semua juga lanjut kuliah kok, kita bisa atur jadwalnya untuk tidak mengganggu kuliah," kata Reno dengan pelan.
"Bukan hanya itu yang menjadi alasanku. Aku hanya perlu memberikan perhatianku secara penuh untuk keluarga kecilku. Mereka membutuhkanku."
Aldi mengernyit seolah menangkap sesuatu yang aneh. "Maksudmu, Lea hamil?" tebaknya yang membuatku kaget.
Devan menunduk sejenak, kemudian memamerkan senyumannya. "Iya, Lea sedang mengandung anakku. Jadi aku tidak bisa jauh-jauh dari mereka. Aku harus selalu ada menjaganya," kata Devan dengan merangkulkan tangannya ke pundakku.
Keadaan di dalam rumah seketika menjadi riuh, penuh suara tawa saat Aldi memulainya dan berdiri dari kursinya. Bangkit untuk memberikan selamat padaku. Tapi tangannya yang hendak memelukku melayang di udara. Devan menghentikannya.
"Baiklah. Selamat untuk kalian berdua," ulang Aldi. "Akhirnya aku akan mendapatkan seorang keponakan. Keponakan yang lucu pastinya. Aku bertaruh kalau dia adalah seorang putri kecil karena berhasil membuat ayahnya seperti ini. Membuat ayahnya menghentikan kegilaannya dan... dan bertahan di dunia yang tidak disukainya." Aldi berhenti sejenak dan tertawa kecil. "Aku akan menceritakan hal ini padanya kelak saat dia sudah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik. Akan aku pastikan kalau kelak dia akan mencari seseorang yang juga seperti ayahnya ini."
Semuanya ikut tertawa. Teman-teman yang lain, juga om Arif ikutan memberikan ucapan selamat.
"Benar itu alasan kamu?" tanyaku pada Devan yang sedang asik dengan laptopnya. Dengan menyandar di kepala ranjang, dia membuka beberapa email yang masuk untuknya. Saat seperti ini, dia terlihat bagaikan seorang CEO handal yang selalu memantau perusahaannya. Kuharap dia akan seperti itu kelak.
"Lalu apa lagi?" balasnya tanpa menoleh. Kedua tangannya masih sibuk dengan keyboard.
"Mana aku tau."
Hening.
Karena merasa bosan, aku memutar tubuhku memunggunginya. Menarik selimut menutupi tubuhku hingga bahu. Aku juga tidak ingin mengganggunya melakukan tugasnya, sekalipun merasa bete.
Di sisa-sisa kesadaranku, aku merasakan tangan yang memeluk perutku. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Devan. Tapi kondisiku sudah sangat enggan untuk membuka mata. Memilih melanjutkan tidurku.
***
"Lea."
"Hm?" Aku menggumam. Mulutku masih dipenuhi dengan spagethi masakan bi Eni. Pagi ini aku sangat menginginkannya, membalas mual saat bangun tadi. Dan anehnya, ini sudah piring kedua untukku tapi belum merasa puas.
Devan mendesah ragu. "Tidak apa, lanjutkan saja makanmu."
Aku menggeser piringku. "Selera makanku hilang karena kamu menggangguku," balasku cemberut. Mengambil jus jeruk yang disiapkan bi Eni dan meneguknya hingga tandas. Lalu menatap balik padanya.
"Hanya karena seperti itu?" tanya Devan tak percaya.
"Hm."
"Maafkan aku. Aku tidak bermak..."
"Sudahlah. Lagipula itu sudah piring kedua. Sepertinya aku juga sudah kenyang. Apa yang ingin kamu katakan?"
Devan terdiam sesaat, sedikit ragu untuk mengatakannya. "Bagaimana kalau kita melepaskan perusahaan papa untuk om Bara?"
Kenapa?