Aku menatap Devan tidak percaya. Jadi beberapa hari ini masalah yang dimaksud ada di perusahaan papa adalah ini? Om Bara berusaha mengambil yang bukan hak miliknya? Sudah baik dia diijinkan oleh papa bekerja di sana, selalu diberikan uang tambahan selain gajinya, tapi nyatanya dia tidak tau terima kasih.
"Bukannya di surat wasiat papa perusahaan itu menjadi milikku? Itu kan murni hasil rintisan papa sendiri. Tidak ada hubungannya dengan keluarga manapun. Papa bahkan tidak pernah meminta bantuan mereka sama sekali."
Om Bara bukan saudara kandung papa. Dia adalah sepupu papa. Saudara kandung papa hanya tante Luna.
"Iya, aku tau. Bukannya aku juga takut melawannya. Tapi anggap saja membantu mereka."
"Membantu? Itu bukan bantuan namanya. Tapi membiarkan dia menjadi pemeras. Mudah sekali sepertinya."
Suamiku menghela nafas panjang. "Om Bara sedang mengalami masalah. Tante Lesti melakukan suatu kesalahan fatal dan mengakibatkan mereka terlibat dengan rentenir. Bukan hanya ada satu, tapi beberapa."
Ya, aku tau bagaimana gaya hidup mewah seorang tante Lesti, yang juga menurun ke ketiga putrinya. Tidak diragukan lagi. Hal itu juga yang membuat bisnis kecil-kecilan milik om Bara tergadaikan beberapa tahun yang lalu, hingga akhirnya papa menampungnya bekerja di kantor papa.
"Dan memberikan perusahaan pada om Bara tidak akan membantunya sama sekali. Dia hanya akan membuat perusahaan papa hancur, dan itu sama saja bunuh diri namanya. Apalagi dia sedang banyak pikiran seperti sekarang ini, aku tidak percaya dia bisa menjaganya."
Devan terdiam. "Dan jangan bilang kalau om Bara sudah melakukan sesuatu yang buruk untuk perusahaan papa?"
"Tidak. Tidak sampai seperti itu. Dia memang berniat awalnya, tapi berhasil dicegah oleh pak Arman sebelum dia berhasil melakukannya. Itu makanya pak Arman menelefonku waktu itu. Dan akhirnya, dia hanya meminjam uang kantor, dan katanya memang belum menutupi semuanya."
Seberapa banyak sebenarnya hutang tante Lesti? Aku tidak habis pikir.
"Berapa?"
"Lima puluh juta."
Inilah akibat hidup tanpa mengenali bagaimana kondisi suaminya. Aku hanya bisa mendesah. Selama ini juga tidak ada kabar dari keluarga yang lain kalau memang om Bara sedang mengalami masalah.
"Tidak perlu terlalu memikirkannya. Aku akan memastikan kalau dia tidak akan melakukannya. Perusahaan papa akan aku pertahankan bagaimanapun caranya. Dan bukankah harus mendapat persetujuanmu kalau memang dia berniat melakukannya?"
Seharusnya memang seperti itu. Tapi aku tidak akan pernah tau apa yang akan direncanakan olehnya.
Hari-hari berlalu semakin cepat, masalah itu coba aku lepaskan dari otakku. Menjaga kondisi bayiku tetap aman dan sehat. Dan hari ini adalah hari pertama Devan untuk memasuki kuliah. Kalau saja aku juga bisa ikut, pasti akan menyenangkan.
"Tidak pelu cemberut seperti itu. Tahun depan kamu bisa ikut," bujuknya melihatku memanyunkan bibir saat dia masih bersiap-siap.
Sebuah kecupan sayang diberikan di keningku dan mencuri ciuman singkat di sudut bibirku. "Aku pergi dulu. Kalau ada apa-apa, jangan lupa mengabariku."
Aku mengangguk patuh. See, bukankah aku seorang istri yang baik?
Seperginya Devan, aku jadi merasa bosan di rumah. Bi Eni masih sibuk dengan segala pekerjaannya. Aku memutuskan untuk pergi ke minimarket yang tidak jauh dari rumah. Membeli beberapa persediaan makanan untuk disantap sambil menunggu Devan pulang. Untuk disantap sepanjang hari berarti. Tidak masalah, selera makanku belakangan ini sudah seperti orang yang tidak pernah makan.
Es krim, coklat, chiki, ... apa lagi yah?
Aku berjalan menyusuri rak-rak berisi berbagai jenis makanan ringan. Hm, sepertinya beli buah saja. Kebetulan stok buah di kulkas sudah menipis. Kecintaanku dengan buah semakin meningkat sejak beberapa hari yang lalu. Apalagi bi Eni sangat bisa diandalkan membuat sambal rujak. Aku jadi menginginkannya lagi.
Nenas, bengkoang, jambu, hm...mangga.
Usai membayar di kasir, aku beranjak pulang. Tapi ternyata belanjaanku cukup berat juga. Baru beberapa langkah, aku sudah kelelahan. Mungkin ada baiknya aku telefon bi Eni untuk membantuku atau pak Bowo.
Sambil menunggu pak Bowo, aku duduk di pinggir jalan, layaknya seorang anak hilang. Membuatku tersenyum pedih.
Tiba-tiba mulutku dibekap oleh seseorang dengan sapu tangan. Sepertinya sudah dibasahi dengan obat bius, karena hanya beberapa detik sudah membuatku cukup pusing.
Oh Tuhan, lindungi anakku.
Devan POV
Berita kehamilan Lea membuatku kaget sekaligus bahagia. Di usia pernikahan kami yang masih tiga bulan sudah diberi kepercaaan untuk merawat seorang anak, yang meskipun itu masih delapan bulan lagi. Usianya saat ini masih empat minggu. Pantas saja sikap Lea sedikit berubah menjadi lebih manja belakangan ini. Bagaimana teganya dia memaksa kami untuk pergi ke Malaysia hanya untuk membelikan coklat. Dan perjalanan itu berlangsung dengan Lea yang mual dan pusing sepanjang perjalanan.
Kehadiran calon buah hati kami juga membuat Lea harus merelakan untuk tidak melanjutkan kuliahnya tahun ini. Aku bisa mengerti bagaimana perasaannya. Tapi ini adalah keputusan yang paling tepat untuknya saat ini. Fokus pada perkembangan janin dalam perutnya.
Di tengah kebahagiaan itu, aku mendapat kabar dari perusahaan kalau ada masalah yang ditimbulkan oleh om Bara, sepupu papa mertuaku. Memang berhasil dicegah oleh pak Arman yang adalah orang kepercayaan papa mertuaku sejak lama. Tapi tetap saja hal itu membuatku lebih waspada. Jika kali ini dia berani melakukannya, maka ke depannya dia akan semakin berani lagi.
Membawa-bawa nama papa mertuaku untuk melancarkan aksinya, padahal sudah sangat jelas dibacakan oleh pengacara kalau perusahaan itu adalah milik Lea seorang.
Bahkan dia memojokkanku kalau aku ini bukan keluarga Atmajaya.
Sejak saat itu, aku selalu memantau apa yang terjadi di kantor. Meski hanya seorang amatir, aku akan memastikan kalau semuanya berjalan dengan baik.
Oh ya, teringat masalah band, aku resmi keluar beberapa hari lalu setelah sedikit perdebatan karena status pernikahanku dengan Lea. Mereka memojokkanku, mengatakan kalau popularitas band kami menurun karena para fans mengetahui pernikahanku. Tidak masalah untukku hanya untuk keluar dari grup itu. Lagipula, ada calon anakku yang butuh kehadiranku.
Hari ini adalah hari pertama untukku memasuki bangku kuliah. Sedikit kasihan pada Lea yang cemberut melihatku. Sejak sarapan pagi, dia sudah terlihat bad mood. Belum lagi karena hormon wanita hamil yang memang dengan mudahnya memporak-porandakan suasana hatinya.
"Tidak perlu cemberut seperti itu. Tahun depan kamu bisa ikut," bujukku saat bibirnya maju beberapa senti ke depan. Dia memandangiku yang sedang bersiap.
Kuraih bahunya dengan kedua tanganku, memberikan kecupan di keningnya. Dan satu kesempatan untuk mencuri ciuman di bibirnya. Aku sangat merindukannya. Hampir dua minggu tidak olahraga ranjang dengannya karena ketakutanku akan menyakiti janinnya.
Dan itu bukanlah sesuatu yang mudah untukku, karena sebelumnya hampir setiap malam mendapatkan jatah. Hm, bukan hanya malam, kadang saat siang atau sore kalau memang ada kesempatan, selalu kumanfaatkan.
"Aku pergi dulu. Kalau ada apa-apa, jangan lupa mengabariku," perintahku sebelum akhirnya meninggalkannya di rumah.
Tepat setelah jam pertama perkuliahan selesai, ponselku berdering.
Pak Bowo? Ada hal penting apa pak Bowo menelefonku?
"Hallo."
"Hallo, mas. Maaf ganggu, tapi ini... ini penting mas," katanya dengan nada gusar.
"Ada apa, pak?" tanyaku. Perasaanku tiba-tiba menjadi sangat cemas. Apakah Lea sakit lagi? mengingat minggu lalu dia jatuh pingsan di kantor karena kelelahan dan banyak pikiran.
"Tadi..tadi pagi non Lea pergi belanja ke minimarket di ujung komplek. Tidak bilang memang sebelumnya, makanya saya tidak antarkan. Dan sepuluh menit yang lalu, non Lea menelefon saya untuk menjemputnya di ujung jalan. Ini saya sudah sampai, tapi non Lea tidak ada padahal ada barang belanjaan disini," jelasnya dengan terbata.
Jantungku seolah berhenti berdetak. Kemana dia?
"Saya kesana sekarang, pak." Kututup telefon itu setelah mendapat balasan pak Bowo.
Jam kuliah selanjutnya ada di siang nanti. Rencananya waktu kosong ini akan aku gunakan untuk memantau kembali keadaan di kantor. Tapi ternyata, ada urusan yang lebih penting lagi.
Sambil melajukan mobil, aku menyalakan GPS untuk mencari tau dimana keberadaan Lea. Semoga saja ponselnya dibawa. Saat menemukannya, ternyata letak ponsel itu ada di sekitar komplek.
Nyatanya, ponsel itu ada di dalam barang belanjaan Lea yang tertinggal di ujung jalan. Ini pasti ada yang tidak beres. Tidak mungkin Lea pergi begitu saja.
Lea, kamu dimana?