Aku terbangun dan mendapati diriku ada di dalam sebuah kamar mewah penuh dengan boneka hello kitty.
Dimana ini?
Aku memijat pelipis karena masih merasa pusing. Aku sangat yakin kalau tadi itu adalah obat bius hingga membuatku tertidur.
"Hei, udah bangun sayang? Ternyata lo cepat juga bangunnya. Gue hampir saja membunuh cecunguk itu karena menaruh obat bius kebanyakan."
Soffie?
Ini sangat tidak lucu.
Hei, bagaimana bisa aku ada di rumah Soffie? Berarti yang menculikku itu adalah suruhan sahabatku ini?
Astaga, aku tidak habis pikir.
"Apa yang lo rencanain Sof?" tanyaku bingung sembari mencoba duduk. Aku tau betul, gadis ini pasti tidak akan melakukan sesuatu yang buruk untukku. Dan ini bukan ulang tahunku hingga harus mendapatkan kejutan.
"Ya elah, tenang aja kali. Gue cuma ngelakuin sesuatu buat suami lo itu. Sorry ya," kekehnya.
"Sof, dia bisa panik dan berpikir yang bukan-bukan. Apalagi dia lagi kuliah sekarang. Jangan buat pikirannya terbagi."
"Lo tenang aja. Gue udah atur semuanya. Sekarang mendingan lo istirahat aja, tidak perlu memikirkan apa-apa. Kalau lapar, itu ada makanan. Tetap di sini. Jagain keponakan gue." Soffie menepuk pipiku pelan sebelum meninggalkanku sendirian di kamar. Masih terdengar kalau dia mengunci pintu kamar.
Dia takut aku kabur?
Dia masih waras kan? Aku takut dia jadi sedikit aneh karena Dennis meninggalkannya.
Dan apa itu tadi? Dia memperlakukanku seperti anjing peliharaan? Astaga Soffie, aku akan membalasmu segera.
Dengan sedikit tertatih, aku merangkak turun dari kasur empuk milik Soffie dan berjalan menuju kamar mandi.
Merasa bosan dan lapar melanda setelah beberapa jam aku ditinggal sendiri di ruangan ini. Aku mengambil beberapa jenis makanan yang memang disiapkan oleh Soffie untukku.
Jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Tapi belum ada tanda-tanda kalau Soffie akan muncul lagi.
Apa yang dia rencanakan sebenarnya? Aku jadi penasaran juga.
"Sof..." Kuketuk pintu kamar dari dalam. Tidak ada balasan apa-apa.
"Soffie...!" teriakku lebih kencang.
Berkali-kali berteriak, tidak ada balasan juga, bahkan tidak ada tanda-tanda kalau ada orang lain selain diriku di bangunan ini. Sepertinya mereka ada di ruangan lain yang cukup jauh dari kamar ini.
Lelah menggedor pintu, aku kembali ke kasur. Merebahkan tubuhku, dan mengelus perutku. Syukurlah dek, kita tidak apa-apa. Hanya permainan kecil dari tante Soffie.
Sekitar setengah jam kemudian, seseorang membukakan pintu. Ternyata Soffie.
"Lo kemana aja, Sof? Gue teriakin dari tadi nggak denger? Gue udah berasa kayak jadi apaan aja," kataku.
"Sst, tenanglah. Sekarang semuanya sudah beres dan waktunya lo keluar." Soffie menarikku pelan keluar dari kamar mewahnya. Berjalan masih dengan menarik pergelangan tanganku, yang aku tau menuju halaman belakang rumahnya. Tidak ada penjelasan yang dia berikan untukku. Hanya dengan bahasa isyarat menyuruhku untuk tetap diam.
Langkahnya tiba-tiba berhenti sebelum sampai di tempat tujuan. Bisa kulihat di halaman belakang ada beberapa hiasan yang membuatku mengernyit bingung.
"Nanti pas Devan datang, lo harus manggil dia tapi jangan ngeluarin suara yang seperti biasanya. Lo pura-pura sedang di bekap dan sebisa mungkin harus meyakinkan kalau lo emang lagi disiksa," katanya penuh penekanan.
"Buat apa?" tanyaku polos.
"Udah deh, lo nurut aja. Ini bagian dari rencana. Mengerti?"
Aku mengangguk mengiyakan. Entah rencana apa yang dimaksudkan oleh sahabatku ini. Baiklah, aku menurutinya.
Dia kembali menarikku menuju halaman belakang. Saat melihat keseluruhan dekorasi yang ada, barulah aku mengerti apa yang sedang direncakan oleh sahabatku ini. Dan aku sangat berterima kasih untuknya. Bagaimana bisa aku lupa akan hal itu?
Soffie memintaku duduk di salah satu kursi yang sudah dia sediakan. Mengambil sapu tangan kecil untuk berpura-pura membekapku.
Beberapa menit kemudian, seseorang menyeret Devan yang masih saja melakukan perlawanan. Kepalanya ditutup kain berwarna hitam yang membuatnya terlihat seperti penculikan yang nyata.
"Lo mau istri sama anak lo gue bunuh?" tanya pria yang menyeretnya dengan nada tinggi yang benar-benar terdengar menyeramkan. Devan akhirnya menurut saja ditarik oleh pria itu.
Dengan sekali dorong, Devan terjatuh bersimpuh di rerumputan yang menjadi alas di taman belakang. Kedua tangannya yang terikat ke belakang membuat langkahnya tidak seimbang dan dengan mudahnya terjatuh.
Astaga, kasihan sekali suamiku.
"Angkat dia!" kata seseorang. Pria yang ada di belakang Devan membantunya untuk bangun, tapi tidak sampai berdiri. Dia dibiarkan berlutut.
Soffie memberikan kode untukku tanpa suara.
"Devan!" rintihku seperti apa yang telah diperintahkan oleh Soffie sebelumnya. Berharap tidak ketahuan olehnya kalau ini hanyalah acting belaka. Keberadaan sapu tangan tadi ternyata memperindah semuanya. Dan kalau ini berhasil, sepertinya aku sudah cocok untuk masuk ke dunia entertain, menjadi aktris terkenal.
"Lea? Lea, kamu baik-baik saja kan?" tanya Devan yang menegakkan kepalanya dengan cepat dan bergerak ke kanan-kiri seolah sedang mencari posisiku. Dia mengenali suaraku ternyata. "Lea, bilang kalau kamu baik-baik saja. Aku tidak akan membiarkan mereka melukaimu, sayang," lanjutnya dengan yakin.
"Wow, pahlawan kesiangan, huh?" tanya seorang pria suruhan Soffie.
Soffie menunjukkan selembar kertas berisikan tulisan yang ingin aku ucapkan. "Devan, tolong! Ini sakit," ulangku dengan suara yang tak kalah menyedihkannya. Bahkan berpura terisak. Padahal dalam hati sudah sangat ingin tertawa.
Nafas Devan semakin memburu. Emosinya semakin terpancing. "Lea, aku akan menyelamatkanmu, sayang. Aku janji. Aku akan membawamu keluar dari tempat ini, jangan menangis lagi. Jaga anak kita baik-baik." Apaan itu? Memangnya dia mau apa?
Lagi-lagi aku merintih dan menangis sesenggukan -aku harus mendaftarkan diri secepatnya ke salah satu PH untuk mengembangkan bakat yang baru kusadari ini sebelum menghilang-.
"Hei, siapapun kalian, bersikaplah gentle. Jangan bisanya main keroyokan. Kalau memang berani, satu lawan satu. Jangan kira kalian hebat kalau bisanya hanya seperti ini," teriaknya frustasi.
Soffie memberikan kode dan memanfaatkan waktu yang ada untuk persiapan terakhirnya.
"Dia memang pemberani. Oke, kita lakukan seperti keingiannya. Buka ikatan tangannya dan penutup kepalanya!" perintah pria yang sebelumnya selalu memberikan komando.
Pria di belakang Devan melepaskan ikatan tangannya lebih dulu. Tidak sabar, Devan langsung menarik kain hitam yang menutupi seluruh kepalanya. Wajahnya benar-benar terlihat sangat ganas. Dia ingin serius bertarung sepertinya.
"Happy birthday to you."
Kami menyanyikan lagu itu saat dia menyadari siapa yang ada di depannya. Aku dan Soffie. Pandangannya berputar ke segala arah, melihat ke sekeliling.
"Happy birthday to you."
"Happy birthday, dear Devan."
"Happy birthday to you."
Matanya sudah memerah dan berair, berjalan dengan cepat ke arahku dan memelukku dengan erat, sembari memberikan ciuman-ciuman di wajahku tanpa malu dengan keberadaan orang-orang di sekitar kami.
"I love you," bisiknya di telingaku yang bisa kudengar dengan jelas sekalipun riuh orang-orang di sekitar sedikit berisik.
Sekali lagi lagu itu dinyanyikan dan suara bertambah dari sekeliling. Ternyata bukan hanya kami yang tadi ada di sini, sekarang bertambah teman-teman sekolah yang lain walau tidak seluruhnya. Ternyata Soffie benar-benar telah merencanakannya.
Mataku beralih pada kue tart ukuran besar itu. Lilin berbentuk angka delapan belas terpasang indah di atasnya. Angka yang menunjukkan usiaku dan suami tercintaku ini.
Kue itu, bukan hanya nama Devan yang tertulis disana, tetapi juga namaku. Itu berarti ulang tahunku juga dirayakan sekarang oleh sahabatku ini. Disatukan dengan Devan.
"Make a wish dulu," kata Soffie yang meletakkan kue berukuran cukup besar itu di hadapan kami.
Bersamaan dengan Devan, kami meniup lilin-lilin di atasnya usai mengucapkan doa dan keinginan. Sorakan dan tepuk tangan langsung memenuhi pendengaran.
Devan kembali merengkuhku ke dalam pelukannya. Sangat erat hingga membuatku sedikit sesak. Tapi aku sangat menyukainya. Aku menyukai dirinya yang posesif seperti ini. Entahlah. Air mata haru yang jatuh di wajahnya bahkan tidak berhenti. "Aku tidak percaya ini. Kamu merencanakannya?" tanyanya.
Aku menggeleng dalam pelukan hangatnya. Kedua tanganku juga membalas pelukan itu. "Aku juga sama sekali tidak tau. Aku pikir aku benar-benar diculik. Tapi ternyata pelakunya adalah Soffie."
"Ekhm." Suara deheman Soffie membuat Devan merenggangkan pelukannya. "Mesra-mesraannya nanti saja setelah di rumah kalian. Jangan mengotori rumah gue dengan percintaan kalian, yaa...sekalipun udah sah sih," lanjut Soffie. "Sekarang masih waktunya untuk menuntaskan acara ini."
"Dan lo, sekali lagi lo buat acara kayak beginian, gue akan laporin lo ke pihak berwajib karena mengganggu ketenangan jantung gue," balas Devan.
"Makasih ya Sof," kataku tulus dan diangguki olehnya.
Acara berlangsung hingga hari benar-benar sore. Waktu yang ada dimanfaatkan oleh semua yang datang untuk melepas rindu pada teman-teman yang lain karena selama empat bulan ini sudah tidak bertemu lagi padahal sebelumnya setiap hari selalu bertemu walau berisi dengan perdebatan. Justru itu yang membuat semakin kangen.
Oh iya, mereka bahkan mengatakan kalau ini acara untuk penyambutan calon buah hatiku. Berita kehamilanku terbongkar karena adegan tadi -yang hanya untuk mendramatisir keadaan.
Devan yang sejak awal tidak melepaskan tangannya dari tubuhku, sampai sekarang pun demikian. Masih terus menempel denganku, seolah takut aku pergi darinya. Atau mungkin kejadian tadi masih membuatnya sedikit takut.
Terdengar helaan nafas panjang darinya. "Aku masih tidak percaya ini. Pikiranku tadi terlalu kalut. Aku takut terjadi apa-apa dengan kalian berdua."
"Ekhm!" Kami menoleh pada Soffie yang mendekati kami. "Gue turut bahagia ya Lea. Gue udah buktiin kalau Devan benar-benar cinta sama lo. Gue ikut senang, setidaknya dia nggak nikahin lo gara-gara wasiat orang tua doang," kata Soffie. "Gue nggak ada kado kali ini, anggap aja itu kado gue," lanjutnya.
"Pelit lo."
Soffie mengendikkan bahu. "Terus gue mau ngasih apa lagi? Gue bingung. Lo udah punya Devan yang bisa ngasih lo apa aja. Bahkan anak aja udah dikasih. Gue mah apa atuh."
Tiba-tiba Soffie mengacungkan telunjuknya ke d**a Devan. Wajahnya begitu serius. "Dan lo, tega banget sih lo ngelupain ulang tahun istri lo sendiri? Suami macam apa itu? Awas aja kalau sampai lo nyakitin sahabat gue, gue sunat lo sampe habis," ancamnya yang membuatku tersenyum geli.
"Tapi kan udah dirayain sama lo," dalih Devan.
"Oh, berani lo ya," tantang Soffie.
Devan mengangkat kedua tangannya dengan cepat. "Peace," katanya dengan cengiran di wajahnya.
Soffie memberikan kode kalau dia akan mengawasi Devan -telunjuk dan jari tengahnya mengarah ke kedua matanya kemudian mengarahkannya pada Devan, dengan kedua mata menyipit-. Hal itu membuatku tidak bisa menahan tawa.
Setelah kepergian Soffie, Devan menjadi lebih posesif lagi. Terlebih karena ada beberapa orang yang sejak tadi memandangi kami. Bukan memandangiku tentunya. Melainkan suami tampanku ini. Kedua tangan Devan memelukku erat. Sesekali mendaratkan kecupan-kecupan ringan di wajah dan puncak kepalaku. "Happy birthday," bisiknya pelan.
Aku melepaskan diri dari pelukannya. Menatap tajam dalam bola mata indahnya. Kedua tanganku terbuka di depan wajahnya, membuat dahinya berkerut -bingung. "Kadonya mana?" tuntutku.
Ia mengamati sekitar, dan dalam waktu cepat mencuri ciuman di sudut bibirku. "Udah," katanya dengan senyuman jahil.
"Kado apaan itu? Udah biasa juga," kesalku memukul pelan sisi dadanya. Tapi tak bisa dipungkiri kalau wajahku terasa memanas sekarang. Bahkan jantungku berpacu lebih cepat. Dia memang selalu mampu membuatku dalam keadaan seperti sekarang ini.
"Tapi selalu suka," celutuknya saat menyadari wajahku yang -pastinya- merona. "Nanti di rumah kita lanjut lagi. Di sini ada banyak orang," lanjutnya.
"Dasar om-om m***m!"
Devan tertawa kecil dan meraih kembali tubuhku seperti sebelumnya. Hm, kuhirup dalam-dalam aroma tubuhnya yang selalu kusukai. Terlebih setelah mengetahui kehadiran calon buah hati kami, aku semakin menyukai bau itu. Kadang sampai membuat Devan bingung.
"I love you." Tiga kata yang membuatku merasa jadi orang paling bahagia di dunia. Terdengar dari orang yang juga aku cinta. Ah, dunia ini hanya milik kami berdua. Ehm, bertiga dengan bayi kami.