“Even if you have to use violence, the world will surrender to it.”
-Mont Saint - Michel, Paris | 08.30 pm-
Suasana di dalam ruangan terkesan hening. Hening yang senyap tak tersentuh. Bunyi kicauan burung menemani malam. Sesekali terdengar geraman seseorang yang menahan rasa sakit.
"To-tolong, lepaskan kami." Lirihnya. "Kami hanya menjalankan perintah." Lanjutnya.
Ucapan itu tak dihiraukan sama sekali oleh orang - orang sekitar. Mereka menatap para tahanan dalam diam.
"Bungkam dia." Titah Mike dingin. Thomas menganggukkan kepala tanda melaksanakan perintah. Lalu anak buahnya melakukan apa titahnya. “Mereka terlalu berisik untuk orang yang hidup diambang kematian.” Lanjutnya.
"Tid-dak. To-tolmmmppp." Sebelum sempat mereka meneruskan kalimatnya, mulut ketiga tahanan itu telah dibungkam.
Mike melangkahkan kakinya maju mendekati mereka. Ia sedikit menundukkan wajah untuk melihat mereka satu per satu. Mata tajam nan dingin Mike sepeti menusuk langsung ke dalam mata mereka saat menatap.
Mike menyeringai. "Kalian mencari masalah dengan orang yang salah." Ujarnya dingin. "Bersiaplah untuk scene selanjutnya."
Setelahnya, Mike berbalik dan kembali ke tempatnya semula. Ia duduk di kursi yang telah disediakan oleh Thomas. Lalu memberi kode pada Thomas untuk melanjutkan apa yang seharusnya mereka lakukan.
Thomas mengangguk dan dengan segera menjalankan perintah itu. Tak lupa ia mengajak anak buahnya. Dengan senang hati mereka mengangguk semangat. Berbeda dengan ketiga tahanan itu, mereka yang melihat Thomas dan yang lain mulai merasakan hawa yang kurang menyenangkan. Sepertinya, hidup mereka akan berakhir disini.
"Mmmppp.." suara geraman dari ketiga tahanan itu. Tak lupa dengan gelengan kepala mereka. Kini, rasa ketakutan mereka datang. Malaikat maut sudah tiba. Mereka terlambat untuk melarikan diri.
Thomas melangkah mendekati mereka dengan diikuti anak buahnya. "Bersiaplah. Kau tidak akan bisa lari dari maut." Mendengar kalimat itu, ketiga tahanan semakin gemetaran. Ditambah, keadaan mereka yang telanjang membuat tubuh semakin gemetaran.
Mike duduk bak seorang raja di singgasana dengan kaki saling menopang dan kedua lengan berada di siku kanan kiri kursi. Tak lupa wajah dingin dengan sudut bibir yang menyeringai.
Aku menyukainya. Pertunjukkan yang bagus.
Thomas dan anak buahnya mulai melancarkan aksinya. Masing - masing dari mereka memegang benda yang dijadikan alat untuk menyiksa mereka. Kejadian itu dimulai dari Thomas. Ia mendatangi pria pertama. Pria itu seolah pasrah dengan keadaan. "Sepertinya kau sudah menyerah." Ujar Thomas.
Thomas berdecak, “Ini kurang menyenangkan, bukan begitu, Tuan?” Mike mengangguk, “Si Tuan dan si anjing, sama – sama sampah. Melakukan hal berguna pun, tak bisa. Dan, yah, mereka menjadi tawanan kita.” Balas Mike.
Thomas mengangkat sebuah tongkat besi lalu ia arahkan besi kearah kepala pria itu. Dengan secepat kilat, besi itu menghantam kepalanya. Suara teriakan menggema diiringi dengan lelehan darah dari kepala pria itu. Hal itu, Thomas lakukan berkali - kali hingga sang pria tak sadarkan diri. Entah pingsan atau mati. Tak ada yang peduli.
Selanjutnya giliran pria kedua dan ketiga. Sama - sama dalam keadaan yang mengenaskan. Anak buahnya melakukan persis seperti yang ia lakukan. Pasti Tuan mereka bangga dengan hasil kerja mereka. Dan tentunya, mereka akan mendapatkan bonus lebih.
Pemandangan di depannya sangat menghiburnya. Sudah lama ia tak melihat seperti ini. Haruskan ia berterima kasih pada musuhnya, karena mengirim orang – orang bodoh itu untuk ia siksa dan dijadikan eksperimen? Well, akan ia ucapkan nanti.
“Jangan berikan ampun untuk mereka, Thomas.” Mike memperbaiki duduknya, menyesap minuman alkoholnya. Setiap tetesan air yang mengalir di tenggorokannya, memberikan sensasi yang pas, apalagi dengan pemandangan yang – yah, dapat dikatakan sangat menyeramkan ini. Tak masalah, ia sudah terbiasa dengan itu. Ketika orang tuanya masih hidup, ia juga menyaksikan hal itu. seperti makanan setiap hari, itulah kesannya.
Kapan terakhir kali ia menikmati semua ini? entahlah. Rasa – rasanya, ia selalu menikamtinya. Setiap detik, menit, hingga jam, Mike akan menikmatinya.
Kehidupannya yang sudah tenggelam dalam kegelapan, semakin merasuk ke dasar hingga tak mungkin baginya untuk menggapai permukaan. Menyesalinya? Tentu saja, Tidak. Sudah tahu, ini adalah takdirnya – maka, dengan senang hati, ia menerimanya.
Ingin melihat seperti apa dirinya dan kehidupannya? Well, let him say ‘Ladies and Gentlemen, Welcome to My World’
****
10.00 pm
Satu setengah jam telah berlalu. Kegiatan yang mereka lakukan telah selesai. Mayat-mayat ketiga tahanan itu akan mereka buang ke dalam hutan dan dibakar untuk meninggalkan jejak.
Banyak yang berpikir bahwa membuang bangkai ke dalam hutan pasti akan meninggalkan jejak? Namun tidak untuk mereka. Mereka melakukannya secara bersih dan tanpa jejak. Itulah hebatnya orang - orang Antonio. Semua terkendali.
Mike masih setia duduk di kursinya. Dan selama itu pula ia duduk menyaksikan bawahannya membereskan masalah.
Thomas mendekat dan membungkuk. "Semua sudah beres, Tuan." Mike mengangguk sekali. "Urus semuanya. Aku akan kembali. Pastikan, tak ada jejak apapun atau kau akan mati ditangani." Ujar Mike seraya menatap tajam Thomas. Thomas mengangguk mengerti lalu memberi kode kepada anak buahnya.
“Langkah selanjutnya, kita lakukan secara perlahan – lahan. Biarkan dia menikmati permainan ini. Untuk sementara, dia akan kubiarkan menang.” Melirik Thomas tajam, seolah – olah memberi sesuatu yang ultimatum, “Namun diakhir cerita, Sang Raja yang akan tetap menjadi pemenang.”
“Tentu saja, Tuan. Sesuai dengan yang Anda inginkan.”
Mike meliriknya, “Kau yang paling tahu tentang diriku, Thom. Semua yang terjadi, memang sudah sewajarnya.” Tanpa dijelaskan pun, Thomas paham hal itu. Tahu kemana arah pembicaraan, Thomas diam mendengarkan. “Aku menukar hidupku dengan dunia ini. Mengorbankan segala hal untuk mendapatkannya.” Lanjutnya.
Tanpa kata, Mike berlalu dari ruangan itu dan keluar meninggalkan Thomas untuk mengurus semuanya. Ia berjalan menuju mobilnya yang terparkir. Setelahnya, ia masuk dan mulai menyalakan mobil.
Sesekali, matanya melirik jam yang tertera di layar monitor mobil. Waktu yang menunjukkan hampir tengah malam membuatnya harus buru - buru untuk istirahat. Tidak. Lebih tepatnya, ingin bertemu dengan istrinya.
Ia naikkan kecepatan laju mobil di atas rata-rata. Dengan kecepatan itu, ia akan sampai dengan cepat. Ditambah suasana malam dan jalanan sedikit sepi mendukung keadaan Mike.
****
11.00 pm
Mike sampai di Mansion. Mobilnya ia parkir sembarang, karena akan ada yang mengurusnya. Setelahnya, ia melangkah memasuki Mansionnya yang sangat luas. Langkah kaki yang tegas dan badan yang tegap membuat aura kepemimpinan menguat. Bahkan para pelayan yang melintas sempat terpana namun buru - buru mengalihkan pandangan. Mereka masih ingin hidup. Dilarang bagi mereka untuk menatap terang - terangan sang pemilik rumah.
Di jam malam seperti ini, para pelayan masih bekerja. Mereka harus menyiapkan segala sesuatu untuk esok harinya. Jika ditanya kapan mereka tidur dan beristirahat, tentu saat semua sudah beres. Dan jika belum beres, mereka tidak diperbolehkan untuk istirahat.
"Apa istriku sudah tidur?" Tanya Mike pada kepala pelayan - Emma - saat ia akan naik ke lantai atas.
Kepala pelayan mengangguk. "Ya, Tuan. Nyonya sudah tidur semenjak Tuan pergi 2 jam yang lalu."
Mike mengerti dan berlalu tanpa mengatakan apapun. Kepala pelayan itu undur diri. Itu sudah biasa baginya jika Mike pergi tanpa mengatakan sepatah kata apapun.
Langkah kaki Mike membawanya melewati tangga. Dirinya sedang malas menggunakan lift. Kedua tangannya ia masukkan di dalam kedua saku celananya.
Ia berbelok ke arah kiri menuju kamarnya dan istrinya.
Ceklek
Bunyi pintu terbuka. Mike langsung masuk lalu menutup kembali pintu. Ia berbalik dan melangkah mendekati ranjang. Sebelumnya, ia berhenti sejenak untuk memperhatikan seseorang itu. Istrinya tengah tertidur dengan tubuh yang dibalut baju tidur yang terbuat dari kain satin yang halus tentunya sedikit transparan. Seketika Mike meneguk ludahnya kasar. Pemandangan seperti itu membuatnya hilang kendali.
Buru - buru ia pergi dan menuju kamar mandi. Ia harus mandi air dingin untuk meredakan hawa panas tubuhnya.
****
Alina yang tengah tertidur sedikit terusik saat mendengar bunyi pintu yang terbuka lalu tertutup. Ia mengerjakan matanya. Telinganya mendengar bunyi gemericik air dari arah kamar mandi. Alina menebak bahwa itu adalah Mike, suaminya.
Ia sedikit bangkit dari tidurnya. Lengannya mencari saklar lampu di meja samping. Mulutnya menguap tanda masih mengantuk. Ia lirik jam dinding yang menunjukkan waktu hampir tengah malam.
"Apa dia baru saja pulang?" Gumam Alina.
Ia berinisiatif mengambilkan pakaian untuk Mike. Dengan susah payah ia bangkit dan turun dari ranjang. Langkah kakinya sedikit gontai. Sesekali mulutnya masih menguap. Matanya mengerjap menyesuaikan untuk melihat.
Ia membuka pintu walk in closet yang terhubung antara pintu kamar mandi dan pintu kamarnya. Di sana terdapat banyak pakaiannya dan pakaian milik Mike. Ia mendengar pintu kamar mandi terbuka. Artinya, suaminya telah selesai membersihkan diri.
"Mencari apa?" Suara Mike membuat Alina mengalihkan pandangan ke arahnya. Mike berdiri di belakangnya tak jauh darinya.
Hal yang terduga terjadi. "Aaaaahhh." Teriak Alina sembari menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.
Mike menaikkan sebelah alisnya. Ia tersenyum geli melihat istrinya. "Ada apa? Mengapa menutup wajahmu?" Ujar Mike.
Alina menggelengkan kepala. "T-tidak. Ak-aku hanya-" Alina tak melanjutkan kata - katanya. Ia tak sanggup mengatakannya.
"Buka tanganmu." Kata Mike. Reflek, Alina menggelengkan kepala tak ingin menuruti perintah Mike.
Mike tetap tersenyum. Ia melangkah mendekati Alina dan berhenti tepat didepannya. Ia menundukkan kepala dan menyejajarkan wajahnya dengan Alina. "Buka." Ujarnya.
Alina tersentak. Ia kaget mendengar suara Mike yang terkesan seksi. Wajahnya mendadak terasa panas. Hawa disekitar pun panas. Dari suaranya pun Alina tahu, bahwa suaminya ini tepat berada di depannya. Ia tetap menggeleng dan tak mau membuka kedua tangan yang menutupi wajahnya.
Mike menyeringai. "Ingin buka sendiri atau dengan caraku?" Alina terdiam. Ia berpikir jika membuka sendiri, pasti ia akan malu. Namun, jika dipaksa oleh suaminya, dirinya akan bertambah malu dan tak nyaman. Mungkin juga, suaminya akan melakukan sesuatu yang tak Alina duga.
Dengan perlahan, Alina menurunkan kedua tangannya. Mike tersenyum dan masih setia menatap istrinya. Kedua tangan Alina sudah tak menutupi wajahnya, namun kedua matanya masih terpejam erat. Ia takut jika saat membukanya, sang suami masih didepannya.
Dan demi apapun yang ada di dunia ini, alasan kenapa Alina menutup wajahnya adalah dikarenakan Mike keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang bertengger manis di pinggangnya, dan memperlihatkan otot - otot perut yang terbentuk sempurna.
Astaga,apa yang harus ia lakukan?
"Buka matamu. Apa kau tidak ingin melihat suamimu?" Mike rasanya ingin tertawa melihat tingkah istrinya. Mereka sudah berstatus suami istri namun istrinya masih terkesan malu - malu.
"T-tapi-" gugup Alina. Lidahnya kelu untuk mengatakan. "Buka saja." Paksa Mike. Ingin tau bagaimana reaksi Alina saat melihatnya yang masih mengenakan handuk.
Alina sedikit demi sedikit membuka kedua matanya. Ia mengerjap dan sedikit kaget saat melihat wajah Mike yang berada tepat di depannya. Tepat seperti dugaannya. Sejenak ia terpaku dengan wajahnya. Memang, suaminya ini sangatlah tampan. Berkali - kali Alina katakan tentang suaminya. Ia rapatkan dalam hati dan otaknya.
Mike tersenyum melihatnya. Wajah istrinya yang polos setelah bangun dari tidurnya walau bukan saatnya untuk bangun - sangat cantik - dan natural. Ia tahu bahwa istrinya terbangun karena mendengar dirinya yang sedang mandi dan istrinya berniat mengambilkannya pakaian. Mike tersenyum akan hal itu.
"Mengagumiku, eh?" Alina tersadar dan mengalihkan pandangan. Saat pandangannya tertuju ke bawah, ia kaget dan sedikit memundurkan tubuhnya. Ia menelan salivanya saat melihat dengan jelas bagian tubuh suaminya yang tak tertutupi handuk. Alina sedikit gugup dan berkeringat. Ingin rasanya ia menyentuhnya dan mengelusnya. Namun, tak berani melakukannya.
Buru - buru Alina menggeleng dan kembali menatap Mike. "Aku siapkan pakaian untukmu. Tunggulah di luar." Lirih Alina. Mike tersenyum dan menegakkan kembali badannya. "Baiklah. Aku akan keluar."
Mike melangkahkan kakinya keluar. Baru beberapa langkah, ia berbalik dan menatap Alina. "Aku lupa mengatakannya." Alina mengernyitkan dahi bingung. "Kau sangat lucu." Lalu Mike pergi meninggalkan Alina setelah mengatakan itu. Tak perlu melihat bagaimana reaksi Alina, karena ia tahu jika Alina pasti merona.
Seketika, Alina mengangkat kedua tangannya dan menepuknya dikedua pipi. "Astaga. Jangan seperti ini. Kenapa pipiku panas sekali?" Lalu menggelengkan kepala.
Ia menepuk jidatnya. Ia lupa bahwa harus mengambilkan pakaian untuk Mike. Segera ia memilihkannya. Pilihannya jatuh pada celana boxer berwarna biru gelap dengan kaus polos berwarna putih gading. Ia keluar dan melihat Mike sudah menunggunya dengan duduk di sofa. Mata tajamnya, setajam elang, menatap Alina.
Alina gugup. Dengan keberaniannya, ia mendekati Mike. "Ini. Pakailah. Jika tidak, kau akan kedinginan." Ujarnya seraya menyerahkan pada Mike. Mike mengambilnya dan berdiri. Alina memundurkan badan dan berbalik menuju tempat tidurnya mereka. Berniat untuk kembali tidur.
"Kau tidak ingin memakaikannya untukku?" Ujar jahil Mike. Alina berhenti dan sedikit menoleh pada Mike. Lalu menggeleng. "Kau yakin?" Ujar Mike dengan senyuman geli. Lagi - lagi Alina mengangguk sebagai jawaban.
"Tapi, aku ingin kau yang memakaikannya." Lirih Mike yang dibuat - buat. Ia senang sekali menggoda istrinya. Mungkin ini akan menjadi hobi barunya mulai sekarang. "Kau masih punya tangan yang bisa digunakan." Sahut Alina saat akan merebahkan diri.
"Tapi-" Alina seketika mendelik saat Mike akan mengatakan lagi kalimat yang menyuruhnya untuk memakaikan baju. Mike diam sebentar lalu tertawa terbahak - bahak. Melihat reaksi istrinya mengundang tawa bagi Mike. Sungguh, istrinya ini sangat lucu.
Alina termangu saat melihat Mike tertawa. Pemandangan yang sangat indah di malam hari. Ia tak pernah melihat suaminya tertawa seperti itu. Yang ia tahu bahwa suaminya hanya tersenyum tipis dan terkadang tak pernah tersenyum. Namun kali ini, pria itu tertawa keras seakan terbebas dari sesuatu.
Lalu Alina tersadar bahwa Mike tengah menggodanya. Ia meruntuki dirinya sendiri yang malah meladeni godaan Mike dengan alasan memakaikan baju. Sial sekali dirinya.
Ia abaikan tawa Mike dan kembali merebahkan dirinya. Ia tak peduli dengan Mike yang masih tertawa. Yang ia inginkan saat ini adalah tidur dengan nyenyak. Mengingat sekarang waktu masih menunjukkan tengah malam. Tak lama ia memasuki alam mimpi.
Setelah puas tertawa, Mike melihat Alina yang sudah tertidur. Lalu segera memakaikan pakaiannya dan menyusul Alina tidur.
Ia memeluk pinggang Alina dengan erat. Tak lupa ia memberikan kecupan di dahi dan bibir Alina sebagai ucapan selamat tidur.
"Sleep tight, wifey." Lalu ikut terpejam dan menyusul istrinya ke dunia mimpi.
****