“It is natural for a worry to be present without permission in the heart”
-Antonio's Mansion, Capital City – Paris | 05.00 pm-
Mike dan Alina telah sampai di Mansion mereka. Setelah acara yang 'sangat romantis' itu, Alina tak henti - hentinya tersenyum. Ia bahkan tak menyadari bahwa Mike melihatnya dan tersenyum geli.
Bagi Mike, apa yang ia lakukan pada istrinya itu bukanlah apa-apa. Ia bisa saja memberikan hal yang lebih. Bahkan, isi dunia bisa ia berikan pada istrinya. Beda hal dengan Alina, menurutnya yang dilakukan oleh Mike sangatlah romantis. Ia merasa diistimewakan. Tentu saja. Ia adalah istri sahnya. Dalam hukum dan agama.
"Aku suka." Gumam Alina. Mike menoleh. Ia mengangkat sebelah alisnya bermaksud menanyakan apa maksud istrinya.
Alina juga menoleh pada Mike dan tersenyum. Ia berhenti berjalan yg diikuti juga oleh Mike. Kini, mereka berdiri saling berhadapan dan berada di ruang tengah Mansion tersebut.
"Thank you so much. I'm so happy today. It's an amazing day." Ucap Alina pada Mike. Mike tersenyum lalu mengangkat tangannya dan mengelus pipi kiri Alina pelan. "You're welcome. Anytime, Sweetheart." Balas Mike.
Alina semakin melebarkan senyuman kala mendengar Mike juga menyetujuinya. Alina masih memandang wajah tampan suaminya. Begitu juga Mike yang masih terpaku pada wajah cantik istrinya.
“Lain kali, aku akan membawamu ke tempat – tempat yang lebih menarik dan, tentunya tak pernah kau kunjungi.” Alina mengernyit, “Apa itu sebuah tempat rahasia?” Mike tersenyum tipis – mengangguk singkat sebelum membalas, “Yah, katakan saja seperti itu.”
“Well, if it’s like that, I can’t wait anymore.” Ujar Alina dengan senyumnya. Pandangannya menerawang ke depan – membayangkan hal itu benar – benar terjadi.
Tangan Mike masih mengelus pipi lembut nan halus milik Alina. Setelahnya, Mike menurunkan tangannya dan berganti menggenggam tangan Alina.
"Istirahatlah dikamar. Aku ada urusan. Aku akan segera kembali." Ujar Mike. Sejujurnya, ia tidak ingin pergi meninggalkan istrinya di Mansionnya yang besar itu, walau di setiap sudut Mansion terdapat pengawal tak membuat rasa khawatir Mike berkurang. Rasanya, ia ingin setiap detik Alina berada di dalam pandangannya.
Tangan Alina yang tidak digenggam Mike, kini menggenggam tangan mereka yang bertautan. Ia tersenyum mencoba memahami suaminya. Walau pun, entah perasaan apa yang hinggap dihatinya namun ia berusaha untuk menepisnya. "Pergilah. Aku tidak apa - apa. Aku akan baik - baik saja. Bukankah disini banyak pengawal yang akan menjagaku?" Mike mengangguk.
"So, don't worry, okay?" Lanjut Alina. Mike mengalihkan pandangannya pada sekeliling dan menghembuskan nafas kasar. Berusaha meredakan rasa gusar dalam hatinya. Lalu, kembali menatap pada Alina yang masih tersenyum. Pada akhirnya, Mike mengangguk. Tak tahan dengan tatapan wajah istrinya itu.
"Baiklah. Sekarang, masuk ke kamar. Jangan tunggu aku. Aku akan pulang larut malam." Alina mengangguk dan membalikkan badannya menuju lantai atas. Tepatnya kearah kamar mereka.
Mike tersenyum memandang istrinya yang berlalu menuju ke kamar mereka. Setelah sang istri menghilang dari pandangannya, Mike berbalik. Dan saat itu juga senyuman yang ada di wajahnya seketika tergantikan dengan raut wajah dingin.
Mike melangkahkan kakinya keluar menuju parkiran mobil. Ia mengendarai mobil yang ia gunakan bersama istrinya. Mike akan pergi ke suatu tempat untuk menyelesaikan sedikit urusan. Urusan yang menyangkut hidup dan mati.
Tangan kanan Mike menekan layar monitor di dalam mobilnya. Menekan nomer yang akan ia hubungi. "Siapkan semuanya. Aku segera tiba. Jangan lakukan apapun sampai aku memberimu perintah." Ujarnya pada seseorang. Setelahnya ia memutuskan sambungan.
Sambungan telepon itu menggunakan earphone yang dipasang ditelinga Mike dan sudah terhubung langsung dengan monitor mobil.
"Musuh mulai datang, singa siap menerkam. Kita lihat, siapa yang akan menang. Musuh atau singa?" Desis Mike. Tak lama, seringai muncul di sudut bibirnya. Kali ini ia takkan memberi ampun pada musuhnya. Semua akan ia habisi tak tersisa.
Mereka yang mengusiknya, seharusnya tahu dengan siapa mereka berhadapan. Jika tahu, tak seharusnya mencari masalah. Harusnya mereka juga sadar, kemampuan mereka tak seberapa dengan kemampuannya yang ia miliki, pun dengan kekuasaan dan kekuatannya. Ck! Terlalu meremehkannya, rupanya.
****
-Osvanov’s Mansion, Paris | 05.00 pm-
"Sial. Kenapa mereka bisa tertangkap? Apa saja yang mereka lakukan sampai bisa tertangkap?" Desis Caleb dengan amarah yang menyelimutinya.
Saat sedang 'berpesta', anak buah Caleb menghubunginya jika beberapa orang mereka tertangkap. Seketika itu juga membuat amarah Caleb tiba-tiba memuncak. Ia tidak suka jika ada yang bekerja padanya namun tidak becus sama sekali. Ia merasa rugi.
Berpesta yang Caleb maksud adalah acara bercintanya dengan Victoria. Wanita bayarannya itu masih menemaninya hingga mereka berada di mansion seperti saat ini.
Mereka masih dalam keadaan seperti keadaan mereka di kantor Caleb. Telanjang namun masih mengenakan beberapa helai pakaian. Bahkan saat keluar dari kantornya, Caleb menggunakan lift khusus yang membawanya menuju parkiran. Ia sedang tidak ingin menimbulkan skandal di lingkungan kantornya. Walau itu hal yang sia - sia karena hampir seluruh karyawannya sudah mengetahui tabiat atasannya. Dan seperti biasa, Caleb tak peduli dan tak ambil pusing.
"Ada apa?" Tanya Victoria pada Caleb dengan posisi kepala wanita itu diatas d**a bidang Caleb. Wanita itu telanjang bulat dan gaya tertutupi selimut milik Caleb. Mereka masih di ranjang yang sama. Caleb yang hanya mengenakan boxer dan Victoria yang berbalut selimut.
Caleb melirik sekilas pada Victoria. Lalu kembali menatap layar ponselnya yang tertera sebuah pesan dari ana buahnya.
Victoria memberengut kesal karena diabaikan oleh Caleb. Sontak, ia merebut ponsel itu lalu bangun dan duduk. Otomatis selimut yang ia gunakan merosot dan memperlihatkan kedua payudaranya yang indah. Victoria tak peduli. Ia lempar ponsel itu ke lantai yang sedikit menimbulkan bunyi dentuman.
Caleb yang masih diliputi rasa amarah, menarik wanita itu ke hadapannya dan mencengkeram rahang wanita itu dengan keras. Victoria meringis. "Berani sekali kau mengambilnya? Kau cari mati?!" Desis Caleb di depan wajah Victoria. Desisan itu membuat Victoria memajamkan matanya secara reflek. Sedikit rasa takut hinggap dihatinya saat melihat nada suara pria itu. Namun, dengan cepat Victoria menahannya.
"A-aku hanya tidak suka di-a-abaikan." Gumam Victoria. Caleb masih belum meredakan amarahnya. Cengkeramannya tangannya tak ia kendurkan. Malah semakin kuat.
"Le-lepaskan. Saki-t." Lirih Victoria. Tangannya berusaha menyingkirkan tangan Caleb. Dengan kasar Caleb melepaskannya. Hal itu, membuat wajah Victoria terhempas ke kiri.
Victoria masih meringis dan memegangi kedua pipinya yang ia yakini akan lebam keesokannya. Caleb masih dengan tatapan matanya yang tajam menatap Alina. "Ingatlah siapa dirimu dan siapa diriku. Kita hanya sebatas saling mencari kepuasan. Urusi urusanmu sendiri." Ujar Caleb dengan tajam. Victoria tertegun sejenak dengan penuturan Caleb.
Ia sedikit menunduk. Apa yang dikatakan Caleb memang benar. Mereka hanya sebatas 'teman diatas ranjang' tidak lebih. Apalagi, pria itu bukanlah tipe yang menetap pada satu wanita saja.
"Bersihkan dirimu lalu keluar." Setelah mengatakan itu, Caleb berdiri dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia meninggalkan wanita itu yang masih terdiam. Caleb tak peduli apa yang dipikirkannya. Seorang Caleb Osvanov tidak akan pernah peduli pada yang namanya wanita. Tak akan pernah. Baginya, mereka hanya 'alat pemuas nafsu' setelah pakai, lalu dibuang.
Bukankah hidup bagi seorang pria sepertinya memang seperti itu?
Hidup seperti di dunia game. Hidup dan mati ditentukan oleh sang pembunuh. Nama ‘Tuhan’ seakan – akan ditiadakan. Ingin hidup, harus bergantung pada orang lain. Mati? Juga, bergantung pada yang berkuasa. Menyedihkan. Caleb juga menikmatinya. Baginya memang seperti game online. Saling kerjar mengejar, bunuh membunuh.
Pernah dengar hukum alam rimba yang mengatakan bahwa; yang lemah dimakan oleh yang kuat, dan yang kuat memangsa yang lemah – yang kuat menjadi yang berkuasa.
Dan caleb, akan menggunakan hal itu. Siapa diantara dirinya dan Mike – yang akan bertahan.
****
-Mont Saint - Michel, Paris | 08.00 pm-
Setelah mengendarai selama lebih dari 2 jam, Mike sampai di tujuannya. Ia berada di sebuah tempat yang sangat terkenal di negara itu. Mont Saint - Michel. Sebuah tempat seperti gereja yang terletak dipinggir kota.
Ia memarkirkan mobilnya di tempat khusus. Ia keluar dari mobil dan menutupnya. Mata tajamnya melihat sekeliling untuk memastikan tak ada orang yang mengikuti atau melihatnya.
Tak lama, ia melihat tangan kanannya, Thomas, berjalan ke arahnya. "Tuan, Semua sudah menunggu kedatangan Anda." Ujarnya setelah membungkuk memberi tanda hormat pada Mike.
Mike mengangguk sekali dan berjalan memasuki gedung. Bukan gedung gereja yang ia masuki, namun gedung lain yang hampir menyerupai seperti gereja. Mike sengaja membangunnya serupa hanya untuk mengelabui musuhnya. Dan juga untuk memudahkannya dalam menjalankan bisnis. Seperti sekarang.
Thomas membukakan pintu dan mempersilahkan Tuannya untuk masuk. Thomas mengikutinya dari belakang setelah menutup pintu.
Mereka berjalan menyusuri sebuah ruangan yang gelap. Di ruangan itu hanya terdapat beberapa meja dan kursi. Serta alat - alat yang digunakan mereka dalam berbisnis. Sesekali Mike melirik ke sekitar untuk memantau sesuatu. Walau ia berada di wilayahnya, ia tak boleh lengah. Bisa saja, musuhnya menyamar menjadi salah satu dari bawahannya dan berusaha membunuhnya.
Sampai pada akhirnya, mereka tiba di ujung ruangan dan terdapat sebuah pintu berwarna coklat gelap. Mike berdiri menunggu Thomas membukakan pintu untuknya. Dengan segera, Thomas melakukannya. Dan setelah pintu terbuka, Mike melangkahkan kakinya memasuki ruangan tersebut.
Mata tajamnya melihat para bawahannya sedang berdiri dengan beberapa orang terikat di depan mereka. Ada tiga orang yang terikat. Bahkan kepala mereka ditutup dengan kain hitam.
Mike berhenti dan menatap para tahanan itu tajam dan memasukan sebelah tangannya di saku celana.
"Buka." Perintah Mike pada bawahannya.
Dengan serempak mereka membukanya. Setelah terbuka, para tahanan itu langsung mengangkat kepalanya dan melihat - lihat sekitar. Mereka sebetulnya tak terkejut sama sekali jika tertangkap.
Namun yang tak mereka sangka adalah mereka ditangkap dalam keadaan bugil. Atau bisa dikatakan telanjang. Dan setelah itu, mata mereka bertubrukan dengan mata seseorang yang memandangnya tajam. Yang mereka yakini adalah seorang pemimpin.
"Menikmati keadaan, eh?" Ejek Mike. Ujaran Mike membuat ketiga tahanan itu tersadar. Dan dengan susah payah mereka menetralkan rasa takut. Matilah kalian!
“Tikus tidak berguna memang pantas untuk diburu oleh kucing. Dan beruntungnya si kucing mendapat 3 mangsa sekaligus. Pastinya, ia akan makan dengan kenyang.” Berjalan mendekat, menendang salah satu dari mereka. “Kita lihat, sampai dimana kalian akan bertahan. Satu hari? Satu jam? Atau...satu menit? Well, itu tergantung dengan jawaban kalian. Bagaimana?” Mike menyeringai dingin – menatap ketiga orang itu yang sudah tak berkutik.
Salah? Sudah jelas. Mereka tengah memburu kematian mereka sendiri.
"Well, it's interesting. Now, time to play the game." Ujar Mike dengan seringainya. Yang tentu saja bukan hal yang baik mereka. Ketiga tahanan itu hanya bisa pasrah menunggu ajal. Dan say goodbye to the world.
****