"A must if it involves someone loved."
-Antonio’s Mansion, Capital City – Paris | 08.00 am-
Saat ini Alina dan Mike tengah menikmati sarapan mereka. Keduanya duduk diam. Hanya suara dentingan alat makan saja yang terdengar. Sesekali, Alina melirik kearah Mike. Ia memperhatikan bagaimana pria itu memakan makanannya. Sangat berkelas. Gayanya pun sangat sexy.
Mike sendiri hanya diam saja. Ia tahu bahwa istrinya itu diam-diam memperhatikannya. Walau tak menoleh sekalipun, ia tahu.
Mike meletakkan alat makannya. Ia selesai dengan sarapannya. Ia mengambil tisu lalu mengelap bagian bibirnya yang ternoda. Gerakan itupun tak luput dari lirikan Alina. Sontak Alina segera menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran-pikiran dalam otaknya.
Sekarang, giliran Mike yang memperhatikan segala gerak gerik Alina. Ia menyandarkan punggung tegapnya di sandaran kursi lalu tangan kirinya ia topangkan pada lengan kursi. Gaya yang sangat tegas dan manly.
Alina melanjutkan sarapannya. Hanya tersisa beberapa sendok saja lalu selesai. Ia kembali melirik ke arah suaminya. Ternyata, pria itu telah selesai dengan sarapannya, dan kini pria itu memperhatikan dirinya.
Kedua pipi Alina merona. Mendadak ia gugup dan gemetar. Berbeda dengan Mike yang santai saja ketika Alina memperhatikannya.
"Habiskan sarapanmu." Ujar Mike. Alina mengangguk dan melanjutkannya.
Alina selesai dan meminum s**u yang disediakan oleh pelayan. Semua itu atas perintah Mike sendiri. Pria itu ingin istrinya sehat dari segala penyakit. Oleh sebab itu, setelah sarapan dan sebelum tidur mulai sekarang Alina harus terbiasa minum s**u. Alina sendiri tidak keberatan sama sekali. Ia justru menyukai s**u apalagi yang rasanya vanilla.
"Sudah." Mike mengangguk dan berdiri. Ia menghampiri Alina yang masih duduk dan mengulurkan tangannya. Alina menerimanya tanpa keberatan sama sekali. Mike menggenggamnya dan membawa Alina keluar Mansion.
Di luar Mansion sudah ada sebuah mobil mewah terparkir cantik di sana. Seorang penjaga menghampiri keduanya. Ia memberikan kunci mobil kepada Mike. Lalu undur diri.
Sambil tetap menggandeng tangan Alina, Mike membuka pintu penumpang di samping kemudi. Lalu menyuruh Alina untuk masuk. Alina menurutinya.
Mike berjalan memutar dan membuka pintu kemudi. Mesin mobil ia nyalakan dan segera menjalankan kendaraan itu keluar dari lingkungan Mansion.
Alina sedikit penasaran kemana pria itu akan membawanya. Ingin bertanya namun takut, jika tidak bertanya ia sangat penasaran.
"Katakan sesuatu jika ingin sesuatu." Ujar Mike seakan tahu apa yang ingin Alina katakan.
Sebelum bertanya, Alina sedikit berdehem untuk menetralkan suaranya. "Bukan 'mengatakan', tapi memang ingin bertanya." Menarik napas dan menghembuskan. "Sebenarnya, kita akan pergi kemana?"
Mike melirik sekilas. "Ke suatu tempat." Ujar singkatnya. Alina menoleh lalu mengernyit bingung. Tanda tak puas dengan jawaban pria itu.
Mike kembali mengatakan sesuatu. "Rahasia."
Dan sudah Alina duga, pria itu takkan memberitahunya. Hal itu membuat Alina mengerucutkan bibirnya kesal. Ia cemberut. "Aku salah jika bertanya. Jika ujungnya tak ada jawaban."
Mike terkekeh. "Memang."
"Lebih baik, kau diam dan nikmati perjalanannya."
Alina berdecak dan sedikit memiringkan badan menghadap Mike. "Bagaimana bisa menikmati perjalanan jika tujuannya pun aku tak tahu?"
Mike mengeremkan laju mobilnya saat berada di lampu merah. Ia menoleh dan menatap intens Alina. "Ini rahasia. Bukan kejutan, jika aku beritahu."
Alina membuang wajahnya dengan wajah memerah. Bukan karena tatapan intens Mike, tetapi ia kesal. Belum beberapa hari menjadi sepasang suami istri, namun pria itu sudah membuatnya kesal. Bagaimana nanti jika sudah bertahun - tahun?
Mike kembali menghadapkan tubuhnya ke depan. Ia abaikan acara 'merajuk' istrinya. Biarkan istrinya penasaran. Itu lebih baik.
Lampu merah berubah menjadi hijau, Mike menancapkan pedal gas dan mulai melaju dengan kecepatan sedang.
Suasana hening melingkupi mereka berdua. Bahkan tak ada suara musik. Alina sesekali menguap karena rasa kantuk yang datang. Perjalanan yang mereka tempuh lebih dari 2 jam lamanya. Alina enggan bertanya seberapa jauh mereka pergi. Jika bertanya pun, pasti tak akan terjawab. Hanya jawaban 'Tunggu saja' dan 'rahasia'.
Ingin rasanya kutenggelamkan pria itu ke dalam laut. Batinnya.
"Tidurlah. Perjalanan masih sangat jauh." Ujar Mike. Ia tahu jika istrinya mulai mengantuk terlihat beberapa kali Mike tangkap Alina menguap. Mungkin sepanjang perjalanan.
Alina menoleh sedikit. "Seberapa jauh lagi perjalanan ini?".
"Sedikit lagi sampai. Tidurlah. Akan aku bangunkan nanti." Sahut mike, meliriknya. Istrinya sangat tidak sabaran. Atau ini...salah satu dari sifatnya yang baru ia ketahui?
Alina tak bertanya lagi. Karena dirinya sudah sangat mengantuk. Ia pejamkan matanya dan tertidur. Mike melirik dan melihat istrinya tertidur. Ia tersenyum. Ia tak sabar untuk memberikan kejutan kepada istri mungilnya. Mungkin kejutan ini, tak seberapa untuknya, tetapi – dibalik kejutan ini ia berharap Alina senang.
Sebisa mungkin juga, akan ia lakukan apapun meski seluruh dunia akan ia berikan dan pertaruhkan. Selama dirinya masih menghirup udara dan masih bernafas, jantungnya berdetak keras, semua akan ia dapatkan dan berikan padanya. Itu hal yang kecil untuknya.
****
11.30 am
Alina mengerjakan matanya saat merasakan pipinya dielus - elus dengan pelan. Kedua matanya perlahan terbuka dan melihat pria itu ada didepannya, dengan jarak yang sangat dekat. Bahkan aroma mint dari nafas pria itu tercium oleh Alina.
Mike tersenyum. "Bangun. Kita sudah sampai." Alina tersenyum tipis lalu membenarkan posisi duduknya. Sedikit merenggangkan badan dan otot-ototnya yang kaku karena terlalu lama tidur dalam posisi duduk.
Mike menyodorkan sebotol minuman kepada Alina. Alina menerimanya dengan diam. Jujur, ia sangat kehausan.
Setelahnya, ia berikan kembali botol itu pada Mike. "Kapan kau membelinya?" Mike menerimanya dan meminum juga air minum dalam botol itu. "Saat kau tidur, aku berhenti sebentar dan membeli minuman botol di sebuah toko."
Alina hanya ber 'oh' ria. Seakan baru tersadar, ia melihat sekeliling. Ia mengernyitkan dahi dan menoleh pada Mike. Mike mengangguk dan tersenyum. Pria itu membuka pintu kemudi dan keluar. Berjalan menuju pintu penumpang dan membuka pintu.
Seperti biasa, ia ulurkan tangannya kepada Alina yang disambut dengan senang hati oleh istrinya. Alina tersenyum dengan semua perlakuan itu. Mereka berjalan beriringan dengan bergandengan tangan.
Mereka meninggalkan mobil yang terparkir disana. Alina menoleh ke kanan dan ke kiri memperhatikan sekeliling. Meraka seperti berada di tengah - tengah hutan yang rimbun. Banyak burung berkicauan, pepohonan yang rimbun dan menjulang tinggi.
Ia eratkan genggaman tangannya pada Mike. Seketika rasa takut muncul dalam dirinya. Pikiran - pikiran buruk mulai berdatangan. Bagaimana jika ada hewan buas yang tiba - tiba datang dan menerkam mereka? Atau Bagaimana jika ada penjahat yang datang?
Bulu romanya berdiri. Ia merinding. Tubuhnya semakin ia rapatkan pada Mike. Matanya pun, dengan liar melihat kesana kemari – memastikan jika ada sesuatu yang akan mendekati mereka.
Mike yang menyadari ketakutan Alina, mengeratkan genggaman tangannya. Alina mendongak dan melihat pria itu tersenyum seperti menenangkannya. Dan mengatakan bahwa semua akan baik - baik saja.
Mereka melanjutkan perjalanannya. Lalu Alina perlahan melepaskan genggaman tangan Mike. Ia terkejut dengan pemandangan yang berada di depan matanya. Sebuah taman bunga yang luas dan indah.
"Come on." Ujar Mike. Alina mengangguk antusias dan menggenggam tangan pria itu erat. Seakan akan menunjukkan bahwa dirinya sangat bahagia. Mereka berjalan melewati berbagai jenis bunga - bunga yang sangat cantik. Dari bunga yang sering ia temui hingga bunga yang sangat langka. Semua ada disini.
Tak jarang Alina menyentuh dan memetik beberapa dari bunga - bunga itu. Mike yang melihatnya juga ikut bahagia. Semua sengaja ia lakukan untuk istrinya, Alina. Ia tidak ingin Alina sedih atas pernikahan paksa yang ia lakukan. Maka, ia berharap dengan cara ini Alina dapat menerimanya. Mungkin, mencintainya juga.
Alina tersenyum dan menghampiri Mike dengan beberapa tangkai bunga yang berada di genggamannya. "Lihat, bunga - bunganya sangat cantik." Mike tersenyum dan mengelus kepala Alina dengan sayang. "Bagiku, kaulah yang paling cantik." Kedua pipi Alina merona, ia malu dengan perkataan Mike.
"Kita lanjutkan perjalanannya. Ada yang lebih dari ini". Alina tersenyum dan kembali menggandeng tangan pria itu. Menuruti kemanapun pria itu membawanya. Ia akan dengan senang hati ikut bersama Mike jika tempat yang mereka tuju adalah taman bunga seindah ini.
Selanjutnya, mereka melewati jalan setapak yang hanya bisa di lewati satu per satu orang saja. Di kanan kiri jalan setapak itu, tumbuh indah juga berbagai bunga.
Tangan kanan Alina menyentuh mereka dengan antusias. Bahkan bunga - bunga yang sebelumnya ia petik di bawa oleh Mike yang berada di tangan kirinya. Tangan kanan Mike menggenggam tangan kiri Alina.
Kedua mata Alina berbinar. Tak henti - hentinya ia terkagum dengan keindahan di depan matanya.
Tak lama setelah itu, mereka lewati tangga batu yang berwarna ungu. Yang ternyata, tangga batu itu juga ditumbuhi oleh bunga - bunga yang berwarna ungu.
"Oh My God!" Pekik Alina. Dengan tergesa - gesa ia menaiki tangga itu dan lupa untuk menjaga keselamatannya jika tidak diingatkan oleh Mike.
"Berhati - hatilah." Alina hanya menyengir dan melanjutkannya namun dengan langkah yang lebih pelan. Mike menyusulnya di belakang dengan mata tetap mengawasi setiap gerak gerik Alina.
Di atas sana, mereka telah sampai. Alina berhenti dan menoleh kebelakang untuk melihat Mike. Mike mendekati Alina dan meraih jemarinya untuk ia genggam.
"Ikuti aku." Alina mengikutinya. Semilir angin dan wewangian dari serbuk bunga tercium di indera penciuman Alina. Ia memejamkan mata dan menikmatinya. Ia buka matanya dan mendongak ke arah Mike. Ia tersenyum dan menyandarkan kepala pada lengan dan bahu Mike.
Mike tersenyum. "Kenapa?" Alina menggeleng. "Tidak ada."
Mike menunduk dan melihat Alina. "Lalu?". Alina mendongak dan melihat ke arah Mike. Tepat pada kedua mata Mike. "Aku hanya bahagia." Mike mengangguk. Mereka sampai di sebuah tempat.
Tempat itu terdapat sebuah bangku panjang yang di depannya ada sebuah meja. Di atas meja terdapat minuman dan makanan. Mike menuntun Alina ke arah tempat itu.
Ia dudukan Alina di bangku tersebut lalu ia duduk disampingnya.
"Wow. Ini sangat indah. Bagaimana kau menyiapkannya?" Tanya Alina penasaran.
"Kemarin. Aku menyuruh anak buahku untuk menyiapkannya." Sahut Mike. Ia mengambil minuman dan memberikannya pada Alina. Alina berterima kasih dan dijawab anggukan ramah oleh Mike.
"Aku bahagia." Alina menoleh pada Mike. "Dan terima kasih." Tersenyum. "Untuk semuanya."
Hal itu membuat Mike tersenyum bahagia juga. "Apapun untukmu." Ujarnya sembari mengangkat tangannya dan mengelus kepala Alina dengan sayang. Ia dekatkan kepalanya ke arah Alina. Ia kecup kening Alina lama – meresapi setiap rasa yang menyeruak di dalam d**a. "Aku mencintaimu." Ujarnya lalu sedikit menjauhkan kepalanya. “Aku mencintaimu, Al. Itu adalah sebauh kalimat yang harus kau dengar dariku. Bukan dari orang lain.” Tegasnya.
Alina kaget dengan aksi pria itu. Sontak mendadak ia merasa kosong dan bingung. Mike yang tahu pikiran Alina hanya tersenyum.
"Tak perlu kau jawab sekarang. Kau hanya perlu tahu bahwa aku mencintaimu. Itu saja. Mengenai jawabanmu, aku akan menunggumu."
"Lagi pula, kau adalah istriku. Sudah sepantasnya suami istri saling mencintai." Lanjutnya.
Alina masih diam. Lalu matanya menatap wajah Mike. Lalu menatap pada kedua mata pria itu. Dari tatapan mata Mike, Alina tahu bahwa pria itu tidak berbohong. Pria itu jujur dan tulus saat mengucapkan kalimat sakral itu. Alina masih bingung dengan perasaannya. Di satu sisi ia mulai merasa nyaman dengan pria yang berstatus suaminya namun, di sisi lain dirinya masih mencintai mantan kekasihnya.
Apa yang harus ia lakukan? Ia tidak setega itu membunuh perasaan seseorang. Dengan menghembuskan napas perlahan, Alina hanya mengangguk dan tersenyum. Itu adalah satu - satunya cara untuk menyampaikan perasaannya pada Mike.
Mike juga tersenyum. Ia akan menunggu jawaban istrinya. Tak peduli selama apapun, ia akan tetap menunggu.
****