"Two people who are stuck with each other to drink pleasure."
-Director's Office,CaOs's Corp, Paris | 09.00 pm-
Masih berkutat dengan berlembar – lembar kertas di atas mejanya, Caleb sama sekali belum merasakan rasa lelah. Ia seakan – akan kebal dengan pekerjaannya. Mungkin, lebih pada menikmatinya. Pria yang memiliki jabatan dan posisi seperti dirinya, pasti akan melakukan hal yang sama. Hanyut dalam kerjaan.
Caleb tak ambil pusing akan hal itu. Disela – sela ia bekerja, akan ada yang menemaninya. Seorang jalang. Tentu saja. Semua pria akan dengan senang hati menerima mereka. Berapa pun biayanya, pasti akan mereka penuhi. Selain karena kebutuhan batin, juga karena penghibur dikala rasa lelah hadir.
Kriteria wanita bayaran tentu saja ada. Dimulai dari yang paling handal, cantik, hingga seksi. Poin plus yang sangat menggiurkan. Seperti saat ini, Caleb ditemani oleh wanita bayarannya. Victoria Christine.
Wanita berdarah campuran Jerman – Rusia yang memiliki wajah cantik yang khas itu biasa di panggil dengan sebutan Vic. Wajah yang lebih cenderung khas Rusia. Memiliki tinggi sekitar 175 – an. Dengan beberapa bagian yang menonjol seperti d**a dan pantatnya. Seksi. Jelas saja. Apalagi kaki jenjangnya yang membuat setiap pria meneguk ludah mereka.
Baju ketat yang digunakan semakin memperlihatkan lekuk tubuhnya. Baju dengan belahan d**a rendah dan bagian punggung yang terekspos. Kulit putihnya semakin terlihat. Berkilau dan mulus. Tanpa ada bekas luka apapun.
Ia berprofesi sebagai model kelas atas. Pekerjaan sampingannya adalah menjadi pemuas nafsu para lelaki yang membutuhkan kehangatan. Tak sembarang orang bisa dilayani olehnya. Hanya pria – pria tertentu yang dapat menikmati tubuhnya.
Victoria datang atas perintah Caleb sendiri beberapa menit yang lalu. Ia menghubungi wanita itu langsung dan tanpa basa – basi, wanita langsung menerima tawaran Caleb. Dengan harga tinggi, Caleb menyetujuinya. Tak masalah baginya jika wanita meminta bayaran yang tinggi. Toh, dirinya tak kan bangkrut hanya karena satu wanita bayaran. Selama ia berhati – hati dalam memilih wanita, semua terkendali. Ia sendiri juga tidak terlalu sering memanggilnya untuk menemani.
"Apa kau memanggilku hanya untuk menemanimu bekerja dengan lembar – lembar kertas sialan ini?" tanya Vic dengan nada suara yang manja. Dirinya tengah duduk mengangkang dipangkuan Caleb. Berhadapan dengan pria itu. Tangannya sibuk membuka dasi dan kancing kemeja pria itu satu persatu.
Caleb diam membiarkan wanita itu melakukan apa pun yang ia mau. Itulah kegunaan wanita bayaran. "Tunggu sebentar lagi, Sweety. Aku harus menyelesaikannya sekarang agar kita bisa bersenang – senang setelahnya." Sebelah tangan pria itu memegang pinggul wanita itu lalu meremasnya.
Vic melenguh pelan dan badannya sedikit ia condongkan kearah Caleb. Caleb menyeringai melihatnya. Dasar jalang. Caleb sengaja menggodanya. Remasan tangan Caleb makin lama makin keras dan kasar. Vic semakin gelisah. Birahinya semakin tinggi. Tak jarang, sesekali badannya ia liuk – liukan, berusaha menggoda Caleb.
Senjata makan tuan. Pepatah itu cocok untuk Caleb. Ia yang hanya menggoda sedikit wanita itu, menjadi bumerang baginya. Dirinya menjadi b*******h dan panas. Pintar sekali wanita itu menggodanya. Tepat pada titik terlemahnya.
Nafasnya memburu seiring dengan gerakan wanita yang berada dipangkuannya semakin liar. Kini, kedua tangan Caleb sudah berada di pinggang serta pinggul wanita itu. Ia mengusap – usap dengan lembut. Vic memejamkan mata dengan bibir bawah yang ia gigit.
Caleb semakin liar gerakan tangannya. Ia masih berusaha untuk tetap terkendali. Walau kejantanannya sudah mengeras di bawah sana. Tepat dimana Victoria duduk mengangkanginya. Kedua tangan Victoria berpindah dari pundak pria itu menuju kepala. Ia meremas – remas rambut pria itu. seakan – akan menyalurkan rasa gelisahnya.
"Kau menggodaku?" bisik Vistoria tepat disebalah telinga kanan Caleb. Caleb hanya diam dengan mata menatap badan depan Victoria. s**t. Makinya.Tak urung, bagian depan tubuh Victoria sedikit ia majukan. Memberikan godaan lebih terhadap Caleb.
"Kau tahu? Kau memang selalu handal dalam hal apapun. Bahkan seperti saat ini. selain di atas ranjang, kau juga handal diatas pangkuanku."
"Bagaimana? Masih ingin lanjut?" tanya Caleb. Kini kedua tangan pria itu berada dipundak wanita itu. menurunkan satu persatu tali dress yang di pundaknya. "Uh.." Victoria melenguh saat belaian halus tangan pria itu menuruni kedua lengannya.
"Apa?" tanya Caleb. Victoria membuka matanya menatap kedua mata Caleb dengan mata kabutnya yang b*******h. "Berhenti menggodaku." Lenguh Victoria. Lalu dengan tiba – tiba ia sudah mendaratkan bibirnya ke arah bibir Caleb. Mengecupnya, melumatnya, menyesapnya bahkan menjilatnya.
Semua ia lakukan dengan pria itu. Caleb sendiri dengan senang hati menerima setiap sentuhan bibir dari wanita itu. ia juga turut melakukan hal yang sama. Tak ada jarak diantara mereka. d**a sintal Vic menyatu dengan Caleb. Saling menempel. Sesekali saling menggerakan satu sama lain.
"Ah.." desah Vic ketika ciuman mereka terlepas. Napasnya memburu. Ia dengan rakus menghirup oksigen sebanyak – banyaknya. "Lanjutkan." Setelahnya, mereka berciuman kembali. Lipstik merah Vic berpindah ke bibir Caleb. Tak beraturan. Tak jarang ada yang menempel di pipi, karena ciuman liar yang mereka lakukan.
Kini, pria itu sudah bertelanjang d**a. Memperlihatkan d**a dan perutnya yang terbentuk sempurna. Ia bahkan tak ingat sejak kapan kemeja yang melekat ditubuhnya terbuang sembarangan. Fokusnya hanya pada kegiatan yang mereka lakukan. Saling menyalurkan nafsu. Victoria pun semakin keras suara desahannya. Ia tak sungkan – sungkan menyuarakannya. Tak peduli jika orang luar mendengar kegiatan mereka. Walau ia tahu bahwa ruangan itu kedap suara.
Caleb dengan tergesa – gesa melorotkan dress Vistoria sehingga hanya bra hitamyang terpampang jelas di depan matanya. Matanya berkilat oleh gairah. Tanpa menunggu lama, ia mengecupinya dan menyesapnya. Memberikan tanda – tanda kemerahan yang sangat jelas. Victoria semakin belingsatan. Tangannya meremas kuat rambut Caleb. Mulutnya tak berhenti untuk mendesah.
"Hisap dengan kuat." Desahnya. Caleb hanya menggeram tanpa mau mendongakan kepala untuk melihat wajah wanita itu. Ia mengecupi d**a Vic dari kanan lalu beprindah ke kiri. Tangan kanannya merambat menuju punggung mulus wanita itu. Menemukan apa yang dicarinya, segera ia melepaskan pengait bra, meloloskannya dari tubuh Vic dan membuangnya sembarang. Vic tetap menikmatinya tanpa protes dengan apa yang dilakukan pria itu.
Payudara yang tak tertutupi apapun itu menjadi santapan buas Caleb. Ujung p******a yang keras seakan memanggilnya untuk dipermiainkan. Tangan kirinya meremas p******a kanan Vic, sedangkan tangan kanannya bekerja sama dengan mulutnya pada p******a kiri Vic.
"Aku sudah tak tahan. Cepat bawa aku!" pinta Vic pada Caleb. Sebab, wanita sudah berada di ujung kenikmatan. Tak tahan rasanya jika ia hanya duduk mengangkang tanpa melanjutkan sesi utama mereka.
"Disini saja." Ucap Caleb. Vic tahu maksud dari pria itu. Pria itu ingin melakukannya disini, saat ini, di tempat inni, dan pada posisi ini. Vic sendiri tak menolaknya, karena ini bukanlah pertama kalinya dirinya melakukan hubungan intim dalam posisi seperti ini.
Caleb menyudahi kegiatannya pada kedua p******a Victoria. Lalu tanpa basa – basi, ia menurunkan sisa penutup tubuh wanita itu. Dalam keadaan sudah telanjang bulat, ia menyuruh Vic untuk memberikan dirinya kepuasan. Vic paham dan melakukannya. Ia membuka gespes pria itu, membuka pengait celana dan menurunkannya beserta dalamannya. Kini, terlihatnya kejantanan pria itu terpampang jelas dimatanya.
Vic meneguk ludahnya kasar. "Wow." Gumamnya. Tanpa menunggu perintah, ia melaksanakan tugas itu. Ia genggam benda itu lalu ia arahkan pada mulut seksinya. Mengecupi, menjilat dan mengulumnya. Ukurannya yang besar membuat Vic kewalahan. Ia beberapa kali tersedak. Tak muat pada seluruh mulutnya.
Caleb menggeram dalam posisi duduk. "Damn it!" umpatnya. Ia menyudahi kegiatan wanita itu lalu sedikit kasar membawa wanita itu untuk duduk dipangkuannya. Dalam posisi mengangkang, Vic berusaha memasukikan benda itu. Ia dan Caleb sama – sama melenguh sarat akan kenikmatan.
"Ah..." teriak keduanya saat benda itu sudah masuk sepenuhnya pada surga kenikmatan Vic. "Bergeraklah." Titah Caleb. Vic menggerakan pinggulnya naik turun. Kedua tangannya di tumpukan pada bahu tegap pria itu. Besarnya benda itu membuat dirinya terasa penuh. Sedikit kesulitan, memang. Namun ia tak mau menyerah. Ia harus mendapatkan pelepasan. Ia memulai dengan tempo pelan. Namun, lama kelamaan dirinya semakin cepat. Caleb pun juga ikut andil.
"Cepat!" teriak Caleb. Kedua p******a Vic ikut berguncang seiring gerakannya yang semakin liar. Sesekali Caleb menjilat dan mengulumnya. Tangannya juga tak ia biarkan menganggur.
"A-aku.. sampai!" Teriakan Vic tanda bahwa ia mencapai Orgasmenya. Hal itu juga disusul oleh Caleb. "s**t. I'm coming!" Caleb menggeram dan menumpahkan cairannya pada surga kenikmatan Vic. Karena terlalu banyak, cairan itu bahkan sampai mengalir di kedua paha merea. Menetes ke arah lantai. Vic tak masalah akan hal itu. Ia takkan khawatir jika hamil, karena sebagai wanita bayaran dirinya harus berhati – hati dan selalu meminum obat pencegah kehamilan. Ia selalu membiarkan para pria yang menikmati tubuhnya agar menumpahkan cairannya di dalam tubuhnya.
Mereka berdua telah mencapai puncak o*****e. Napas keduanya memburu. Berlomba – lomba menghirup udara. Vic menyandarkan tubuh depannya pada d**a bidang dan berotot Caleb. "It's Amazing. I like it." Gumam Vic.
"Hmm.." hanya gumaman yang dibalas oleh Caleb. Ia masih berusaha menetralkan napasnya. Bahkan, kejantanannya ia biarkan tetap di dalam diri wanita itu. Membiarkan tetap di sarangnya.
Vic mendongak menatap Caleb. "Lagi?" Caleb balas menatapnya. Ia menyeringai lalu menggendong wanita itu dalam posisi masih menyatu menuju ruangan pribadinya. Mereka menghabiskan sepanjang malam hari untuk menuntaskan gairah mereka. Melupakan hari – hari yang mungkin terjadi nanti.
****
-Antonio's Mansion, Capital City – Paris | 10.00 pm-
Mike memasuki kamarnya dengan istrinya itu. Ia menutup pintu pelan nyaris tak terdengar. Tak ingin mengganggu tidur seseorang. Ia membalikkan badan dan berjalan menuju ranjang. Matanya menatap lekat pada seseorang yang tertidur di atas ranjang mereka. Posisinya meringkuk seperti bayi di dalam kandungan. Seperti kedinginan.
Mike berdiri di samping ranjang, dimana posisi istrinya tidur. Ia membungkuk dan mengamati setiap lekuk wajah Alina. Tatapan matanya berhenti pada satu titik. Ia mengernyitkan dahi. Meneliti sekali lagi namun, hasilnya tetap sama.
Mata itu membengkak seperti habis menangis. Mike tak suka melihatnya. Ia tak suka melihat gadis yang menjadi istrinya itu menangis. Hanya ia sendiri yang boleh membuatnya menangis. Bukan orang lain.
Rahangnya mengetat dan giginya saling bergemelutuk. Tangan terkepal. Ia takkan membiarkan siapapun membuatnya istri mungilnya menangis. Ia akan melihat dari rekaman CCTV yang terpasang dikamarnya untuk melihat siapa yang membuatnya menangis hingga mata cantik itu membengkak.
Mike sengaja memasang CCTV di kamarnya. Bahkan setiap sudut mansionnya, ia pasang CCTV. Memiliki musuh yang berkeliaran di luar sana, membuatnya harus meningkatkan kewaspadaan terutama jika di kediamannya sendiri. Apalagi, kini ia sudah meningkat. Artinya, ia harus melindungi orang lain selain dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa setelah menikah, Alina akan ikut terseret. Para musuhnya akan melibatkannya dan menjadikannya kelemahannya.
Ia harus ekstra memperketat penjagaan. Jika perlu, ia akan menambah para pengawal untuk berjaga di setiap sudut mansionnya.
Mike berdiri tegak kembali. Matanya melirik ke arah nakas samping ranjang tidur. Tepat pada istrinya tidur. Sebuah ponsel. Ia mengambilnya dan membukanya. Jari – jarinya yang lincah membuka satu persatu aplikasi. Lalu ia membuka aplikasi pesan.
Ia membuka dan melihat banyak notifikasi pesan masuk. Beberapa sudah terbuka, yang memang ternyata sudah dibuka oleh Alina. Lalu ia membuka pesan yang lain. Matanya menyorot tajam saat membacanya. Sebuah pesan singkat namun bermakna mendalam. Sebuah ungkapan penyesalan disertai ungkapan cinta.
Mike menggenggam erat ponsel itu. Ia ingin meremukan ponsel itu. Namun, ia urungkan. Ia hanya mematikan ponsel itu lalu membawanya untuk ia simpan. Tujuan adalah ia tidak ingin siapapun mengusik miliknya. Terutama, Istrinya.
Melangkahkan kakinya menuju ruangan lain di dalam kamarnya. Sebuah kamar rahasia. Kamar rahasia yang hanya ia dan Tommy yang tahu. Ruangan yang terletak di balik tempat walk in closet. Ruangan itu hanya bisa dibuka dengan sebuah tombol. Tombol itu pun tersamar dengan dinding. Harus teliti jika ingin menemukannya. Dan itu pun hanya Mike dan Tommy yang tahu.
Ia menyimpan ponsel itu di lemari khususnya dengan sistem keamanan tinggi. Seperti sebuah brangkas. "Takkan kubiarkan kau mengganggunya. Hanya diriku yang pantas atas dirinya. Bukan dirimu atau orang lain." seringaian dari mulutnya terlihat. Sisi iblisnya terlihat.
Ia menutup ruangan itu. Kembali berjalan menuju ranjangnya. Ia mendudukan dirinya disamping istrinya yang terlelap tidur. Kemudian ia merebahkan dirinya tanpa mengganti pakaian. Ia sedang malas. Pikirannya melayang – layang pada pesan singkat ponsel istrinya. ia memiringkan tubuhnya menghadap istrinya yang juga menghadap padanya.
Beautiful.
Berulang kali ia mengucapkan kata itu. Tak pernah ada kata bosan saat mengucapkan kata itu. Ia lingkarkan tangan kanannya untuk memeluk istri mungilnya. Berusaha mendekatkan diri dan merapatkan diri. Seolah – olah mencari kehangatan.
"Kau miliku Alina. Selamanya akan seperti itu. Tak akan ada yang mengubahnya bahkan kematian dan takdir pun. Aku akan tetap membuatmu untuk tetap disisiku." Gumam Mike.
Alina sedikit bergerak setengah terusik oleh gerakan Mike. Ia bergumam tak jelas. "Ssshh.." lirih Mike menenangkan Alina untuk tertidur kembali. Tangan kanannya mengelus punggung Alina pelan. Wajahnya ia tenggelamkan di lekukan leher Alina. Menghirup wangi vanila dan lily pada diri Alina. Sedangkan Alina, ia menenggelamkan wajahnya di d**a Mike. Dan menikmati kenyamanan dan kehangatan d**a itu.
"Sleep tight, my little wife." Gumam Mike menyusul Alina menuju alam mimpi. Dan berdoa, semoga hari esok yang baik akan menyambutnya.
****
07.00 am
Matahari mulai menyingsingkan diri. Embun – embun mencair seiring tampaknya sang raja siang. Cahanya menyinari ruangan lewat celah – celah tirai. Bahkan sinarnya mengenai wajah seseorang yang tengah terlelap.
Alina mengerjapkan matanya berusaha untuk membuka mata. Sinar matahari menerpanya ketika kedua bola mata cantiknya terbuka sempurna. Ia mengankat tangan kiri untuk menghalau sinarnya. Posisinya yang menghadap jendela, membuatnya terkena sinar matahari secara langsung. Ia bahkan tak menyadari jika dirinya masih dalam pelukan seseorang.
Saat ia mencoba untuk menggerakkan tangannya yang satu lagi, ternyata terhalang oleh tubuh seseorang. Mike. Pria itu tidur dengan memeluk dirinya. Menghadap dirinya dan membelakangi sinar matahari. Tampak terlelap dan tak terganggu sama sekali.
Ia mencoba sedikit demi sedikit untuk menggerakan badannya. Namun hal itu justru membuat Mike terganggu dan terbangun. Mata pria itu bergerak dan perlahan terbuka. Mata tajamnya langsung menatap kearah istri mungilnya. Alina sempat menahan napas saat Mike menatapnya intens.
"P-pagi, Mike." Sapa Alina dengan suara serak khas seseorang bangun tidur. Mike tersenyum tipis lalu menunduk dan mencuri ciuman singkat di bibir Alina. Alina terkesiap karena kaget. "Morning Kissed." Tuturnya. Mike mengeratkan kembali pelukannya. Ia merasa nyaman.
Alina merasakan debar jantungnya mulai menggila. Ia menahan napas untuk beberapa saat, sampai ia merasakan pelukan Mike yang bertambah erat. Ia menggerakan tubuhnya berusaha untuk bangun.
"Bangunlah. Sudah pagi." Ujar Alina. Mike membuka matanya kembali lalu mengangkat sebelah alisnya. Oh My God. Tindakan yang Mike buat membuat kadar ketampanannya semakin jelas. Rambut acak – acakan dengan wajahnya yang khas bangun tidur membuat Alina semakin berdebar.
"Kenapa?" Alina semakin bingung ketika Mike bertanya seperti itu. Sejujurnya, ia ingin segera bangun dan keluar dari ruangan ini. Ia masih belum terbiasa dengan kehadiran pria itu.
Alina berdeham dan merapatkan tangannya didepan dadanya. "Tidak apa – apa. Aku pikir jika kau tidak segera bangun dan bersiap – siap, kau akan terlambat bekerja." Jelas Alina.
Sontak Mike tertawa. Ia sedikit merasakan rasa geli mendengar jawaban Alina. "Kau tahu Alina, sayang? Mau aku pergi atau tidak, itu sama sekali tidak berpengaruh. Karena aku adalah pemimpinnya. Itu terserah padaku." Jelas Mike. Alina merona ketika mendengar sebutan 'sayang' yang Mike sematkan dalam tuturnya.
Mata Mike masih setia menatap wajah cantik istrinya. Lalu berhenti di kedua mata cantik istrinya. Masih membengkak. Pikirnya.
Ia masih ingat dengan jelas tentang isi pesan yang disampaikan oleh seseorang yang mengirim pesan pada istri cantiknya. Ia akan membuat perhitungan dengan orang itu. Berani mengganggu miliknya, itu artinya ia berurusan dengan pemiliknya.
"Bersiap – siaplah. Aku tunggu di meja makan, setelah itu aku akan mengajakmu keluar." Mike mengusap kepala Alina dengan sayang, tak lupa mengecup dahinya dengan lembut. Alina hanya mengangguk kepala dan Mike tersenyum. Lalu, Mike bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk bersiap – siap. Alina masih diam memperhatikan Mike yang hilang dibalik pintu.
Ia teringat kejadian semalam. ponselku. Pekik Alina. Sontak ia bangun dan mencarinya. Alhasil, ia tak menemukan ponselnya. Tentu saja, ia mengingatnya bahwa ia meletakkannya di atas nakas. Lalu sekarang, ponsel itu hilang.
"Apa Mike yang menyimpannya?" gumamnya. Ia akan menanyakannya nanti ketika Mike selesai. Ia sangat membutuhkan ponsel itu. Bukan karena apa, hanya saja ia masih sulit untuk melupakan mantan kekasihnya.
Lalu tiba – tiba ia menjadi ingat tentang perlakuan Mike padanya pagi ini. Wajahnya seketika merona. Refleks, ia memegang pipinya yang memanas. "Ayolah, berhentilah memanas. Kendalikan dirimu Alina." Ia memutuskan turun ranjang dan menyiapkan keperluannya dengan Mike. Ia akan pergi keluar dengan suaminya, tentu ia harus bersiap – siap.
Ia harus tampil memuaskan agar tidak membuat pria itu merasa malu. Ia menyandang seorang istri dari pria terkenal. Mungkin diluar sana, akan ada orang mengenal mereka.
"It's gonna be okay. Remember, your husband is a famous one." Gumamnya dan melanjutkan aktivitasnya.
****
07.45 am
Mike selesai dengan ritual mandinya. Kini, giliran istrinya yang harus membersihkan diri. Mike keluar dengan hanya mengenakan handuk sebatas pinggang dan lututnya. Memperlihatkan perut kota – kotaknya. Bahkan otot – otot di kedua lengannya terlihat. Alina mengalihkan pandangannya dari memilih baju menuju kearah Mike.
Sontak ia berteriak dan menutup mata. Mike menoleh dan terkekeh geli. Ia berjalan santai menghampiri Alina dan berdiri di hadapan Alina. "Kenapa kau menutup matamu? Bukalah." Ujar Mike dengan suara seksinya.
Alina menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau menodai mata cantiknya dengan melihat keadaan tubuh Mike. "Tidak mau." Cicitnya. Mike terkekeh. Ia meraih tangan Alina berusaha menyingkirkan tangan imut itu.
Alina mengencangkan tangannya menepis tangan Mike. "Buka atau aku yang memaksanya? Kau tidak ingin bukan, jika aku memaksa?" dengan berat hati Alina menurunkan kedua tangannya. Namun, matanya tetap tertutup.
"Buka, Al." Perlahan kedua mata cantik itu terbuka. Saat terbuka sempurna, ia berteriak dan menutup mata lagi. Ternyata, Mike masih mengenakan handuk dan berdiri dihadapannya.
Mike tertawa. Tawa merdunya membuat Alina membuka mata dan melihat pria itu. Sangat tampan. Wajahnya yang tampan semakin tampan ketika pria itu tertawa. "Apa aku harus tertawa setiap saat, agar kau mau menatapku dengan keadaan seperti ini?" ujar Mike.
Ucapan Mike membuat Alina langsung merona. Dan matanya menatap langsung kehadapannya. Ia disuguhi oleh pemandangan yang sangat luar biasa. d**a bidang dan perut kotak – kotak suaminya yang terlihat. Tinggi Alina yang hanya sebatas d**a pria itu, memudahkannya untuk melihat ciptaan Tuhan yang sangat sempurna itu.
"Menikmati pemandangan, Bebe?" ujar Mike dengan seringainya. Wajah Alina semakin merona dan panas. Ia menggigit bibir bawahnya untuk mengalihkan rasa gugupnya. Hal itu tak luput dari pendangan Mike. Ia mengecup bibir itu. Alina kaget dan melototkan matanya.
"Jangan gigit bibirmu. Aku tidak ingin asetku terluka." Ujar Mike. “Dan jika kau menyukainya, lihatlah sepuasmu. Aku milikmu. Kau milikku. Dan... kita berdua telah menikah. Takkan ada yang melarangmu untuk melakukan hal yang lebih.”
Alina menoleh, sedikit tersentak, pun dengan kedua pipinya yang memerah tomat. Astaga, pria ini...!
****