“Trying something new. But, this is the beginning of a tragedy "
-Antonio’s Mansion, Capital City – Paris | 06.30 pm-
Pikiran Alina seketika buntu ketika mendengar penuturan suaminya. Sang suami memintanya untuk memanggil dirinya. Hal itu membuat Alina berpikir dengan keras. Selama ini setelah pernikahan mereka, Alina sama sekali belum pernah memanggil pria itu dengan namanya, malahan ia hanya menggunakan kata pengandaian 'dia'. Ia sendiri lupa nama pria itu.
"Aku.. Aku lupa namamu." Lirih Alina yang tentu masih didengar oleh Mike.
Mike terkekeh dan mengusap lembut kepala Alina. "Baiklah. Dengar baik – baik. Aku hanya akan mengucapkannya sekali." Ujar Mike.
Alina mengerutkan keningnya dan hendak protes. Namun sebelum itu, Mike sudah menyelanya dengan cepat. "Jonathan Mike Antonio." Ujar Mike singkat dan cepat.
Alina mendengarkan apa yang pria itu katakan, hanya saja itu sangat cepat. Itu semakin membuat dirinya bingung dan kesal. Tak bisakah ia sedikit memberikan kelonggaran padaku, istrinya sendiri?
"Bagaimana?" Ujar Mike disertai seringai di sudut bibirnya. Ia berhasil membuat istri kecilnya terintimidasi dengan penuturan. Mike masih menunggu. Dengan sabar ia tetap menunggu kata panggilan yang akan istri kecilnya panggil untuk dirinya.
Alina gugup. Kegugupannya membuat dirinya memilin jari jemari lentiknya. Ia berusaha untuk menormalkan detak jantungnya dan mengingat – ingat nama pria itu. Ia melirik kesamping dimana pria itu duduk dengan masih menatap dirinya dan menunggu tuturan yang keluar dari mulutnya.
Alina menghembuskan napas dan menoleh pada Mike. Ia memberanikan diri untuk menatap pria itu. Mike mengangkat alisnya melihat apa yang dilakukan istri kecilnya. "M..Mike." lirih Alina. Suaranya sangat lirih. Sehingga hanya dirinya yang dapat mendengarnya.
Mike mendengarnya walaupun suara Alina sangat lirih. Mirip seperti bisikan. "Ulangi. Lebih keras." Ujar Mike. Mata tajamnya menatap Alina. Tatapan itu semakin membuat Alina gugup setengah mati.
Lagi – lagi berusaha memberanikan diri dan mengeluarkan suaranya yang lebih keras. "Mike." Ujar Alina.
Senyum Mike berkembang ketika ia mendengar dengan jelas panggilan Alina untuknya. Walau di awal, harus dia paksa terlebih dahulu. Jika tidak dipaksa, maka selamanya gadis itu tidak akan memanggilnya.
"Bagus. Mulai sekarang panggil aku dengan sebutan itu. Kau bisa juga memanggilku dengan sebutan lain." Jelas Mike. Alina masih mendengarkan pria itu saat berbicara.
"Mungkin dengan sebutan honey, baby, atau sweetheart. Kedengaran sangat romantis." Lanjut Mike.
Mendengar itu, sontak saja Alina kaget dan malu. Ia menundukan wajahnya. Ia merasa pipi memerah dan panas. Entah mengapa, mendengar pria itu berbicara tentang panggilan, Alina merasa malu. Selama ini ia tidak pernah memanggil seseorang seperti itu. Terutama lawan jenis.
Namun ini berbeda. Pria yang disampingnya sekarang ini adalah suaminya. Mau tidak mau ia harus memanggilnya.
"Tidak mau." Lirih Alina. Ia masih dalam keadaan wajah yang menunduk.
Mike mengernyitkan dahi. "Kenapa?"
Alina bingung harus menjawabnya. Ia memilih diam saja. Tak mau menyahut ucapan pria itu.
"Apa kau malu?" ujar Mike. Alina sedikit kaget dan sedetik kemudian ia dapat mengendalikan diri. Namun itu terlambat, Mike melihatnya. Dan itu membuat Mike tertawa. Tawa Mike membuat Alina mendongakan wajahnya dan melihat pria itu tertawa.
Ini kali pertama Alina mendengar dan melihat pria itu tertawa. Biasanya hanya senyum tipis yang tak begitu terlihat dan wajah datar nan dingin yang menghiasi wajah Mike. Keajaiban yang dapat ia nikmati seorang diri.
"Mengapa tertawa?" Ujar Alina bingung. Lantas Mike menghentikan tawa itu dan merubah wajahnya menjadi datar dan dingin. Lalu menoleh dan menatap Alina. Mike diam dan memperhatikan Alina. Ia tahu bahwa gadis didepannya ini sedang menahan gugup dan takut.
"Kau lucu." Ujar datar dan singkat Mike.
"Lucu?" tanya Alina.
"Ya."
Setelah Mike menjawab seperti, keadaan menjadi hening. Mike dengan mata nya yang tajam menatap Alina, sedangkan Alina menatap Mike dengan tatapan polos dan bingung. Ada apa?
Hal itu membuat Mike menjadi gemas. Ingin rasanya ia mencium seluruh wajah istrinya, terutama bibir ranum yang menggoda itu. Namun, itu tidak akan ia lakukan sekarang. Ia akan mendekati istrinya itu perlahan – lahan. Setelah istrinya luluh dan percaya, saat itu ia akan memiliki istrinya seutuhnya.
Ia akan berusaha sampai waktu itu tiba. Dan ia akan memastikan bahwa, hanya dirinya yang akan menjadi pria pertama dan terakhir untuk istrinya. Bukan pria lain atau mantan kekasih istrinya.
"Kembalilah kekamar. Aku akan menyusul. Masih ada beberapa urusan yang harus kuselesaikan." Ujar Mike setelah beberapa lama mereka terdiam.
Alina menganggukan kepala dan berdiri. Tak lupa ia membereskan peralatan makan yang berserakan dimeja. Setelahnya, ia berjalan menuju pintu keluar tanpa menoleh kebelakang.
Mike memperhatikannya dalam diam. Ia menyandarkan punggungnya disandaran sofa dengan menyilangkan kedua kakinya. Ia menyeringai membayangkan kejadian – kejadian yang akan terjadi dimasa depan dengan istrinya.
"Bersiap – siaplah. Aku tak kan melepaskanmu. Walau kau pergi sekalipun, aku akan tetap mencari dan menemukanmu. Jika perlu, aku akan mengurungmu dikamar." Gumam Mike.
Ia berdiri dari duduknya dan berjalan menuju meja kerjanya. Ia mengambil ponsel yang tergeletak dimeja dan menghubungi Tomy.
"Siapkan jadwal untuk besok." Setelah mengatakan itu, ia memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban Tomy. Ia masukan ponsel itu kedalam saku celananya. ia berjalan menuju jendela dan menyibakkan tirai. Terlihat pemandangan yang indah. Hamparan taman yang mengelilingi mansion itu.
Mike memperhatikannya dalam diam. Ia mengeratkan rahangnya sehingga terlihat otot – otot disekitar rahang tegasnya. Ia tak sabar menunggu untuk hari esok.
I'll play this games slowly. I wanna enjoy these. And I wanna see, how long you'll survive under my control
Mike menyeringai dan membalikkan badan berjalan menuju meja kerjanya dan membuka beberapa lembar dokumen. Ia akan menuntaskan ini semua dan beristirahat. Istirahat yang cukup untuk hari yang ditunggu besok.
****
-Bedroom, Antonio’s Mansion, Capital City – Paris | 07.30 pm-
Setelah kejadian yang terjadi antara dirinya dan Mike diruang kerja, Alina diperbolehkan Mike untuk kembali kekamar dan beristirahat.
Saat ini yang dilakukan Alina hanya diam duduk dipinggi ranjang dengan tangan kanan menggenggam ponselnya. Beberapa kali ia mendengar bunyi notifikasi dari ponselnya. Ia sengaja mengabaikannya. Terlalu takut untuk membuka.
Sudah ia tebak dari siapa notifikasi itu berasal tanpa harus membukanya. Mantan kekasih. Itu sudah jelas. Alina ingin sekali memblokir kontak mantan kekasihnya. Namun ia merasa tak sanggup.
Hatinya masih menginginkan pria itu. Pikirannya masih memikirkan pria itu. Ia sangat mencintai kekasihnya. Segala upaya Alina lakukan untuk menghindar darinya. Bahkan ponsel yang biasanya ia gunakan, sekarang sudah jarang ia gunakan. Lantaran, hanya demi menghindarinya.
Alina menunduk dan memandangi ponsel yang ia genggam. Kebimbangan mulai melanda dirinya. Berusaha tegar untuk mengabaikan, namun apa daya jika hati masih terpaut. Sekali lagi, ia harus memutuskan keputusan yang terbaik. Walau harus menyakiti orang yang ia sayangi dan ia cintai.
Ia membuka ponselnya. Dan tepat dengan dugannya, semua notifikasi yang muncul di layar ponselnya berasal dari mantan kekasihnya. Ia menscroll layar dan terlihat lebih dari dua puluh notifikasi darinya.
Alina membukanya mulai dari bawah. Ia melihat dan membacanya. Pesan singkat namun berarti.
"I still loved you. Why did you leave me? You don't love me anymore? Tell me. Don't make me feel frustated. I'm sick."
Itu adalah pesan pertama yang Alina buka dari mantan kekasihnya. Jantungnya berdetak kencang seakan – akan melompat keluar dari tempatnya setelah membacanya. Tangannya gemetar dan keringat dingin meluncur di pelipisnya. Ia ingin menangis. Menangisi kisah cintanya.
Lalu ia membuka pesan kedua. Pesan kedua yang ia baca semakin membuatnya merasa bersalah pada mantan kekasihnya
"Lina, Sweety, please! I'm begging you. Tell me if you don't love me anymore. Don't leave me like you don't know me."
Lagi. Pasokan oksigen dalam paru – parunya seakan menipis. Jantungnya semakin berdetak kencang. Ia memegangi dadanya yang berdenyut nyeri. Sakit. Baru kali ini ia merasakan cinta yang sangat menyakitkan.
Jika ia bisa memilih, ia akan memilih untuk hidup selamanya dengan mantan kekasihnya selamanya. Bukan dengan pria itu. Pria yang sama sekali tidak ia kenal. Bahkan dalam mimpi sekalipun ia tak kenal.
Namun itu hal yang mustahil, semua sudah terjadi. Semua tidak dapat kembali seperti sedia kala. Tuhan menciptakan kehidupan untuk terus maju, bukan untuk melangkah atau menengok ke belakang. Mau tidak mau ia harus menerimanya.
Semua bisa berubah jika ada kata 'andai'.
Alina melihat lagi kearah ponselnya. Ia bersiap – siap akan membuka notifikasi berikutnya. Namun, gerakan ibu jarinya terhenti. Ia berpikir kembali untuk membukanya. Apakah ia siap untuk hal yang lebih menyakitkan selanjutnya?.
Ia melempar ponselnya diatas nakas samping ranjang. Ia tidak peduli jika nanti ponsel kesayangannya hancur. Yang terpenting baginya adalah lepas dari masa lalu yang sulit ia lepas. Mengapa hidupnya sangat rumit? Jika dipikirkan sekali lagi, ini adalah salahnya. Salahnya karena yang memberikan penjelasan dan jawaban untuk laki – laki itu.
Ia mematikan lampu kamarnya. Yang hanya diterangi lampu kecil diatas meja nakas. Ia menaiki tempat tidur dan menguburkan dirinya didalam selimut tebal. Cukup menghangatkan dirinya dari suhu AC ruangan itu.
Mata indahnya tak terpejam sama sekali. Ia menatap langit – langit kamar dengan pencahayaan remang – remang. Pikirannya kosong. Seperti mayat hidup. Tak lama, sudut matanya mengeluarkan cairan bening. Mengalir melalui pelipis dan terjatuh diatas bantal.
Makin lama cairan bening itu semakin deras mengalir. Ia tak berniat menghapusnya. Ia biarkan saja. Ia ingin merasakan cairan itu mengering seperti hatinya. Kering lalu hancur dan tak tersisa.
Air mata yang ia keluarkan merupakan wujud dari rasa frustasinya yang tak dapat memperjuangkan cintanya. Ia terlalu lemah untuk itu. Bahkan belum memulai pun, ia akan menyerah. Jiwanya sangat rapuh.
Tubuhnya bergetar seperti menggigil. Tangannya menggenggam erat selimut hingga jati jemarinya memutih. Sekuat tenaga ia mengendalikan diri agar tak terlalu lama terlarut dalam kubangan masa lalu.
Ia memutuskan untuk memejamkan mata berharap bahwa kegelapan malam ini akan menuntunnya pada mimpi yang indah. Lebih indah dari kenyataan yang ia hadapi.
****
-Director’s Office, CaOs Corp, Paris| 07.45 pm-
Malam semakin larut tak membuat seorang pria yang tengah duduk dikursi kebesarannya terganggu. Ia masih sibuk membereskan beberapa lembar dokumen. Sesekali ia melirik jam tangan ditangan kirinya.
Lembar dokumen yang ia kerjakan merupakan lembar kerja yang akan ia gunakan untuk bekerjasama dengan Mike. Pria yang ia temui beberapa waktu lalu untuk meminta kerja sama. Ia sudah meminta sekertarisnya untuk mengirim sebagian lembar dokumen kepada Mike.
Caleb tahu bahwa tidak mudah memulai kerjasama dengan pria itu. Butuh usaha keras untuk memulainya. Walaupun pertemuan mereka terkesan canggung dan dingin, tak lantas membuat Caleb menyerah. Ia akan tetap terus berusaha.
Caleb mengambil dokumen selanjutnya dan menandatanginya. Ia menghentikan sejenak pekerjaannya dan meletakan pena diatas meja kerjanya. Mendongakan wajah dan matanya memandang kedepan. Jari – jari bergemelutuk diatas meja. Seolah – olah seang berpikir keras.
"I got it." Ujar Caleb. Ia tahu apa yang harus ia lakukan untuk langkah selanjutnya. Sudur bibirnya menyeringai. Lalu menyandarkan punggung pada sandaran kursi dibelakangnya dan duduk dengan menyilangkan kakinya.
Dirinya tak sabar untuk hari esok yang menegangkan.
Just wait and see. Who will be the winner?
****