“Simple sentences are full of surprises. Simple treatment is full of meaning. "
-Antonio’s Mansion, Capital City – Paris | 06.00 pm-
Setelah berbenah diri Alina pergi keluar dari ruang kamar menuju ke ruang makan. Ia berjalan menuruni tangga. Ruang kamarnya dengan suaminya berada di lantai tiga. Sedangkan dapur berada di lantai satu. Butuh beberapa waktu baginya untuk sampai dilantai satu.
Di mansion yang mewah nan megah tersedia fasilitas yang sangat lengkap. Di setiap lantai terdapat berbagai macam fasilitas. Di setiap lantai pula terdapat lebih dari empat ruangan. Setiap ruangan memiliki fungsi masing – masing.
Semua ini didesain langsung oleh arsitek terkenal. Semua tertata begitu rapi dan indah. Alina selalu terkagum – kagum dengan keindahan setiap sudut mansion ini.
Para pengawal dan pelayan pun terlihat berkelas. Menggunakan pakaian yang didesain khusus untuk mereka.
Alina masih setia berjalan menapaki setiap anak tangga. Tangannya memegang tiang penyangga tangga. Kakinya melangkah pelan menuruni tangga dengan sesekali melihat sekitar ruangan.
Sejujurnya, Alina dapat menggunakan lift yang tersedia di mansion itu. Hanya saja, ia lebih memilih untuk berjalan kaki menggunkan tangga daripada menggunakan lift. Hitung – hitung, ia bisa menikmati setiap sudut ruang mansion itu.
Tiba di lantai satu, Alina disambut oleh Emma, kepala pelayan. Emma tersenyum ramah yang diambut senyuman ramah pula oleh Alina. Emma menuntun Alina menuju ruang makan.
"Apa dia tidak makan juga?" tanya Alina.
"Tuan mungkin akan makan setelah ini. Tuan memang seperti jika menyangkut tentang pekerjaan. Walau disiplin, tetapi beliau lebih fokus pada pekerjaannya." Perjelas kepala pelayan itu. Alina hanya menganggukkan kepala tanda mengerti.
Saat sampai di ruang makan, Alina melihat sebuah meja yang panjang dengan kursi yang berjajar rapi mengelilingi meja itu. Meja makan yang diatasnya sudah terdapat berbagai macam makanan tersedia disana. Dari makanan sederhana hingga makanan yang mewah.
Alina melongo melihat semua makanan yang tersaji disana. Mendadak rasa lapar menyerangnya. Perutnya sedikit keroncongan. Refleks, ia memegang perutnya. Namun yang lebih penting lagi, siapa yang akan memakan semua makanan ini.
"Bibi, apakah ini tidak terlalu berlebihan? Maksudku, ini terlalu banyak jika hanya aku yang memakannya." Lirih Alina kepada kepala pelayan itu. Ia menjadi bingung sendiri setelah melihat begitu banyak makanan yang tersedia.
Kepala pelayan itu tersenyum. "Ini semua atas perintah Tuan. Tuan ingin memberikan yang terbaik bagi istrinya. Oleh sebab itu, kami para pelayan yang disini menyajikan semua makanan yang menurut kami pantas dihidangkan untuk Nyonya."
Alina diam mendengarnya. Pikirannya melayang tentang bagaimana caranya menghabiskan semua makanan yang tersedia di atas meja yang panjang itu.
"Kalau begitu, undang semua pelayan yang ada disini. Kita makan bersama – sama." Ujar Alina. Emma dan para pelayan yang berada di sana tersentak kaget mendengar penuturan Alina.
Selama bekerja di bawah pimpinan Jonathan Mike Antonio, tidak ada seorang pun yang makan di meja makan itu. Hanya pimpinan mereka yang dapat makan ditempat itu. Namun kali ini, istri dari pimpinan mereka sendiri yang meminta para pelayan yang disana untuk makan bersama.
Mereka semua yang tidak tahu apa yang harus dilakukan. "Kenapa hanya diam saja? Ayo panggil para pelayan. Dan temani aku makan." Ujar Alina. Mereka masih berdiam diri. Di satu sisi mereka ingin melakukan karena perintah Nyonya mereka, sedangkan disisi lain mereka tidak bisa melakukan karena itu akan melanggar perintah Tuan mereka sendiri. Para pelayan merasa serba salah.
Alina yang melihat para pelayan yang hanya berdiam diri mulai mengerti. Mereka takut jika suaminya akan memarahi mereka. Atau lebih tepatnya memberi mereka hukuman.
"Apa kalian takut jika dia akan memerahi kalian?" pertanyaan Alina dijawab oleh para pelayan dengan anggukan.
Alina mengembuskan napas. "Kalian jangan khawatir. Dia tidak akan marah pada kalian semua. Aku yang akan bertanggung jawab jika dia menghukum kalian. Lupakan sejenak pekerjaan kalian dan temani aku makan. Ayo." Ajak Alina sekali lagi.
Para pelayan yang awalnya bingung harus melakukan apa, akhirnya mereka memilih untuk menuruti kemauan istri Tuan mereka. Mereka mulai duduk di masing – masing kursi yang tersedia. Mereka sedikit gugup. Ini adalah kali pertama mereka makan dimeja makan khusus itu.
Banyak pikiran – pikiran yang mereka pikirkan. Dimulai bagaimana jika tiba – tiba Tuan mereka datang dan memarahi mereka, terlebih memberi mereka hukuman. Seketika, hal itu membuat seluruh tubuh para pelayan mulai bergidik ngeri.
"Kenapa masih diam saja? Ayo ambil makanan yang kalian suka. Ambillah." Ujar Alina dengan senyumannya.
Sedikit demi sedikit mereka mulai mengambil makanan itu. Untuk sejenak mereka akan melupakan pikiran – pikiran buruk mereka. Biarlah itu menjadi urusan mereka nanti. Yang terpenting mereka makan menemani istri Tuannya.
"Bibi, ayo ambil. Jangan sungkan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Biar nanti dia yang akan menjadi urusanku. Aku yang akan bertanggung jawab." Kata Alina. Kepala pelayan itu tersenyum sambil mengambil beberapa makanan yang menurutnya ia sukai.
Keadaan ruang makan menjadi sedikit ramai akibat dari ulah Alina. Para pelayan yang biasanya hanya menunduk hormat dan melakukan pekerjaan, mulai sedikit santai. Semua karena istri Tuannya. Alina Sallyandra. Ralat, Alina Antonio.
"Bagaimana? Apa kalian suka dengan makanannya?" tanya Alina dengan memperhatikan para pelayan yang sangat lahap memakan makanan yang tersedia diatas meja.
"Tentu Nyonya. Kami sangat menyukainya. Ini pertama kalinya kami makan dengan makanan mewah dan lezat. Ditambah lagi, makan dengan satu meja dengan Anda." Ujar salah satu pelayan.
Alina senang mendengarnya. "Bailklah jika begitu. Nikmati makanan kalian. Habiskan."
Selama beberapa waktu mereka sangat menikmati kebersamaan mereka dengan menyantap makanan mereka. Suasana sangat menyenangkan. Hal inilah yang selalu Alina inginkan. Makan dengan kumpulan banyak orang, seperti keluarga.
Alina yang hidup sendiri setelah ditinggal keluarganya selama – lamanya, selalu makan dengan ditemani oleh sepi. Tak ada yang menemani. Semua dijalaninya setiap hari. Bahkan ketika ia sedang bekerja, ia jarang makan. Alina akan makan jika hanya di rumah saja.
Meski begitu, ia tidak merasa tubuhnya kurus. Alina sendiri juga bingung. Ia jarang makan, tetapi bentuk tubuhnya tidak kurus sama sekali. Banyak teman kerjanya yang berkata demikian. Alina pikir mereka hanya ingin menyenangkannya, ternyata apa yang dikatakan mereka memang benar.
Sekarang semua sudah berlalu. Alina memiliki kehidupan baru. Kehidupan setelah pernikahannya dengan Jonathan Mike Antonio. Ia tidak akan merasa kesepian seperti dulu. Ia sekarang akan makan selalu ditemani dengan para pelayan atau suaminya. Merekalah keluarga Alina yang sekarang.
Alina dan para pelayan yang tengah menikmati makanan mereka tidak menyadari satu hal. Seseorang sedang mengamati mereka. Dia mengamati apa saja yang dilakukan Alina dan para pelayan itu.
Awalnya ia bingung apa yang maksud Alina memberi ijin para pelayan untuk ikut makan bersamanya. Namun, sekarang ia paham. Alina hanya tidak ingin makan sendirian. Ia ingin ditemani.
Ia masih diam memperhatikan kegiatan yang Alina lakukan. Sampai pada beberapa saat, seseorang menegurnya.
"Tuan, mengapa Anda hanya berdiri disini?" Ujar Thomas kepada Mike.
Mike masih diam tidak menyahut Thomas. Ia masih memperhatikan Alina. Ada getaran yang menjalar di hati Mike ketika melihat senyum Alina yang merekah. Kebahagiaan Alina terpancar hanya karena makan ditemani dengan para pelayan.
"Ada apa menemuiku?" tanya Mike bukannya menjawab pertanyaan yang terlontar dari Thomas. Namun, Thomas hanya memakluminya. Ia sudah tahu bagaimana watak Tuannya itu.
"Hanya ingin menyampaikan beberapa hal." Ujar Tomy.
Mike diam sebentar. "Hal apa?" ujar Mike. Matanya masih memandang Alina. Seolah dia enggan untuk mengalihkan barang sedetik pun.
"Ini mengenai kerjasama Anda dengan Tuan Caleb Osvanov." Ujar Thomas. Mendengar nama itu, Mike mengalihkan pandangannya ke arah Tomy. Ia tentu tahu siapa Caleb Osvanov. Ingatannya masih jelas. Seorang pria yang umurnya tidak jauh dari dirinya menemuinya beberapa waktu lalu.
"Apa dia ingin membatalkan kerjasama?" tanya Mike langsung. Sekarang ia berdiri dengan tegak. Kedua tangan ia masukkan ke dalam sakunya. Matanya menatap Thomas tajam.
Thomas membawa beberapa berkas, lalu memberikannya pada Mike. "Ini adalah berkas dari sekertaris Tuan Caleb Osvanov.". Mike mengambilnya tanpa berniat membukanya. Ia melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya diikuti oleh Thomas
"Apa ada hal lain lagi?" tanya Mike. Ia berjalan menuju meja kerjanya dan duduk dikursi kebesarannya. Tangannya membuka berkas itu lalu membacanya. Setiap huruf yang tertulis disana, Mike membacanya dengan teliti.
"Tidak ada lagi Tuan." Ujar Thomas. Mike menganggukkan kepala tanda mengerti. Dan setelah itu Thomas mengundurkan diri dan keluar dari ruangan itu. Tak lupa ia menutup pintu ruang kerja Mike.
Mike mengernyitkan dahi ketika membaca tulisan itu. Ia tersenyum menyeringai. Kini ia tahu maksud dan tujuan dari kerjasama yang diajukan oleh pria itu.
Dare to play a fire with me.
Setelah membacanya, ia membuang berkas itu ke sembarang tempat. Ia tak peduli lagi dengan kerjasama yang diajukan pria itu. Sebelum pria itu melancarkan tujuannya, Mike sudah tahu akal busuk dari pria itu. Pria itu bermaksud ingin bekerjasama dan mengambil keuntungan sendiri dari kerjasama itu. Mike tidak akan membiarkan itu terjadi. Ia akan membuat pria itu tahu, dengan siapa dia bermain – main.
****
Selesai dengan kegiatan makan bersamanya dengan para pelayan, Alina meminta Emma menyiapkan makanan untuk Alina berikan pada Mike. Walaupun ia tahu bahwa Mike tidak akan makan, setidaknya ia bisa melayani suaminya dengan membawakan makanan untuknya.
Alina menunggu Emma di meja makan. Ia tersenyum bahagia karena ia bisa makan bersama dengan para pelayan. Ingin sekali Alina melakukan ini setiap hari. Ia akan meminta suaminya untuk mengabulkan keinginannya. Jika diijikan, tentunya.
"Nyonya, ini makanan yang Anda minta." Ujar Emma.
Alina tersenyum lalu berdiri dan mengambil nampan yang berisi beberapa makanan. "Terima kasih bibi. Kalau begitu aku akan menemuinya." Emma tersenyum tanda membalas perkataan Alina.
Alina melangkahkan kakinya menuju lift. Kali ini ia akan menggunakan lift. Jika ia menggunakan tangga, bisa ia yakini kakinya akan patah sebelum sampai di tempat suaminya berada. Dan ia tidak ingin mengambil resiko dengan menjatuhkan makanan yang sudah disiapkan.
Ruang kerja Mike terletak di lantai tiga. Satu lantai dengan ruang kamar mereka. Alina memasuki lift dan memencet tombol angka tiga.
Tak berselang lama, lift terbuka. Alina melangkahkan kakinya keluar dan berjalan menuju ruang kerja dimana suaminya berada. Ia melihat – lihat sekitar. Banyak ruangan yang terdapat di lantai itu.
Sebenarnya, seberapa luas mansion ini? Ini bukan mansion. Ini lebih seperti istana.
Alina tiba di ujung lorong lantai tersebut. Terdapat sebuah pintu yang Alina yakini ruang kerja suaminya. Sebelum memasukinya, Alina mengetuk pintu terlebih dahulu. Ia harus mengutamakan sopan santun. Itu penting dilakukan.
"Masuk." Sahut suara didalam.
Alina menghembuskan napas untuk menetralkan jantungnya yang berdetak kencang. Entah mengapa ia merasa sangat gugup. "Tenanglah Alina." Ujarnya. Alina membuka pintu dengan tangan kanan secara perlahan, sementara tangan kiri memegang nampan makanan.
Ia sedikit mengintip sebelum melangkah masuk. Disana terlihat seorang pria yang berstatus sebagai suaminya sedang duduk di depan meja kerja dengan tangan sibuk membolak balikkan kertas. Kertas yang Alina tahu adalah kertas penting. Dengan pelan, ia memasuki ruangan itu. Tak lupa menutup pintu.
Bunyi pintu tertutup mengalihkan perhatian Mike dari pekerjaannya. Ia melihat istrinya datang dengan membawa senampan makanan. Ia tersenyum tipis melihat perhatian Alina padanya.
"Maaf menunggu lama. Tadi aku makan bersama para pelayan." Ujar Alina dengan berjalan pelan menghampiri Mike yang masih duduk diam memperhatikan Alina.
"Aku tahu." Ujar Mike.
Alina tersentak kaget mendengarnya. "Kau tahu?" Alina mulai gugup dan takut jika suaminya akan marah.
"Ya. Aku melihatmu dan para pelayan itu." Mike masih duduk diam dan sesekali menimpali ucapan Alina.
Sedangkan Alina, ia berjalan menuju depan meja kerja Mike. Ia diam memikirkan dan merangkai kata yang cocok untuk menjelaskan apa yang terjadi. Matanya tak berani menatap pria itu. Ia hanya menatap makanan yang diatas nampan.
Alina mendongakkan wajah dan memberanikan diri menatap pria itu. "A..Apa kau marah?" tanya Alina sedikit tergagap karena gugup.
Mike mengangkat sebelah alisnya kemudian ia terkekeh pelan. Alina yang melihatnya heran. Kekehan Mike sedikit mengurangi rasa gugup Alina terhadap pria itu.
Mike menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan melihat Alina. Cantik. Itulah yang selalu Mike lihat dalam diri Alina. "Untuk apa aku marah? Kau bisa melakukan sesuatu sesuka hatimu. Ini rumahmu. Kau tak perlu khawatir. It's okay." Ujar Mike.
Untuk sejenak ia meninggalkan pekerjaannya yang diatas meja. Mike berdiri dan menghampiri Alina yang terdiam mendengar penuturan pria itu. Ia bahkan tak sadar jika Mike sudah berdiri disampingnya.
Mike mengelus kepala Alina dengan sayang. Hal itu sukses membuat Alina tersentak kaget dan mengalihkan perhatiannya pada Mike.
Sejak kapan ia berdiri disampingku?
"Ada apa?" tanya Mike dengan tangan masih setia mengelus kepala Alina.
Alina hanya menggeleng sebagai jawaban. Kini ia paham maksud perkataan pria itu. Pria itu tidak marah sama sekali. Ia bahkan memberi ijin padanya untuk melakukan sesuatu yang ia sukai. Tentu dalam hal yang wajar.
Alina tersentak dan seketika ia lupa dengan tujuannya datang kemari. "Kau menyuruhku datang kesini. Jadi aku membawakanmu makan. Aku tahu kau belum makan, meskipun kau berkata tidak lapar."
"Makanlah walau hanya sedikit." Lanjut Alina.
Mike tersenyum mendengarnya. Alina penuh dengan perhatian. Itu adalah salah satu yang Mike sukai dari Alina. Selain cantik di luar, Alina juga cantik didalam. Paket komplit untuknya.
"Baiklah. Tapi temani aku disini. Setelah itu aku ingin membericarakan sesuatu padamu." Ujar Mike dengan tangan yang tadinya berada dikepala Alina lalu beralih ke tangan Alina dan menggenggamnya menuju sofa yang tersedia disana.
Mereka duduk. Alina memberikan nampan makanan pada Mike. Mike menurutinya dan memakan makanan itu.
Mereka duduk dalam diam. Mike yang makan dengan sesekali mata menatap Alina. Sedangkan Alina, menatap isi dari ruangan itu. Banyak buku yang berjejer di rak buku coklat. Rak buku yang tertata rapi disepanjang dinding bahkan hampai seperti perpustakaan kecil.
"Al?" panggil Mike.
Alina menoleh menatap Mike. Ia mendengar pria itu memanggilnya dengan sebutan 'Al'. Ia mengernyitkan dahi tanda bingung. Baru kali ini ada orang yang memanggilnya dengan sebutan 'Al'.
Biasanya, orang – orang memanggilnya dengan sebutan lengkap. Alina. Bukan yang lain. Namun kali ini, pria itu memanggilnya dengan sebutan yang berbeda. Alina merasa seperti jantungnya berdetak lebih kencang.
"Al, ada apa? Kau tidak suka aku memanggilmu dengan sebutan itu?" Mike sengaja memanggil Alina dengan sebutan 'Al'. Karena menurutnya itu adalah panggilan yang bagus dan cocok untuk dirinya. Hanya dirinya yang boleh memanggil Alina dengan panggilan seperti itu.
Alina menggeleng. "Tidak. Aku...suka. Hanya saja, sedikit aneh karena biasanya orang – orang memanggilku dengan panggilan nama lengkap." Jelas Alina.
Mike tersenyum. Ia mengangkat tangannya dan mengusap pipi kiri Alina pelan. Sangat lembut dan halus. "Bagaimana denganmu?"
"Maksudnya?" tanya Alina.
"Apa kau akan memanggil namaku juga?." Pertanyaan Mike sukses membuat Alina kaget. Ia lupa bahwa setelah pernikahan mereka, Alina sama sekali belum pernah memanggil nama pria itu. Bahkan ia hanya menyebut pria itu dengan sebutan 'dia'. Karena ia bingung harus memanggil dengan panggilan seperti apa.
"Bagaimana? Aku menunggumu." Ujar Mike. Ia masih menikmati tangannya yang mengusap pelan pipi Alina. Mungkin ini akan menjadi kebiasaan barunya. Sementara Alina sendiri ia tidak sadar dengan perlakuan Mike padanya. Pikirannya masih terfokus dengan pertanyaan pria itu padanya.
Apa yang harus kulakukan? Ujar Alina lirih.
****